
Seminar Series Farmasi: Pendekatan Terpadu dalam Pharmaceutical Care Infeksi Cacing dan Inovasi Terapi Cacing Berbasis Bahan Alam
Program Studi Farmasi Universitas Telogorejo Semarang menyelenggarakan kegiatan Seminar Series Farmasi dengan tema “Pendekatan Terpadu dalam Pharmaceutical Care Infeksi Cacing dan Inovasi Terapi Cacing Berbasis Bahan Alam.” Kegiatan ini menjadi wadah ilmiah untuk memperkuat pemahaman mahasiswa dan tenaga kesehatan mengenai infeksi cacing, penatalaksanaan terapeutik yang rasional, serta pengembangan terapi berbasis bahan alam sebagai alternatif yang potensial.
Seminar ini dilaksanakan pada Sabtu, 29 November 2025. Kegiatan berlangsung dengan antusias dan diikuti oleh total 409 peserta, baik secara luring di Auditorium Universitas Telogorejo Semarang maupun daring melalui zoom meeting. Seminar tidak hanya dihadiri oleh sivitas akademika Universitas Telogorejo Semarang, tetapi juga peserta dari berbagai perguruan tinggi luar, seperti UNIKAL, UNIKA, STIFERA, dan STIFAR Yayasan Pharmasi Semarang. Kehadiran peserta lintas institusi ini mencerminkan tingginya perhatian terhadap isu infeksi cacing dan inovasi terapi antelmintik.
Untuk memperluas jangkauan publikasi dan manfaat kegiatan, panitia juga menjalin kerja sama dengan beberapa universitas, yaitu Universitas Diponegoro (UNDIP), Universitas Negeri Semarang (UNNES), dan Universitas Katolik Soegijapranata (UNIKA). Kolaborasi ini diharapkan dapat mendorong penyebaran informasi ilmiah yang lebih luas sekaligus mempererat jejaring akademik di bidang farmasi dan kesehatan.
Sambutan Pembuka
Pada sesi pembukaan, sambutan yang semula dijadwalkan disampaikan oleh Rektor Universitas Telogorejo Semarang tidak dapat terlaksana karena beliau berhalangan hadir. Sambutan kemudian digantikan oleh Dekan Universitas Telogorejo, yaitu Ibu Ns. Sri Puguh Kristiyawati, M.Kep., Sp.MB. Dalam sambutannya, beliau menyampaikan apresiasi atas terselenggaranya seminar ini dan menekankan pentingnya kolaborasi antara ilmu klinik, farmasi, dan penelitian bahan alam dalam menjawab persoalan infeksi cacing yang masih banyak dijumpai di masyarakat.
Beliau juga berharap kegiatan ini mampu memperkaya wawasan peserta sekaligus mendorong kontribusi nyata farmasis dalam pelayanan kesehatan berbasis bukti.
Sesi Pertama: Penguatan Pemahaman Klinis dan Farmakoterapi
Sesi pertama menghadirkan dua narasumber yang membahas aspek klinis serta pendekatan farmakoterapi dalam penanganan infeksi cacing.
- Andre Damardana Tahitoe, Sp.PD, FINASIM, AIFO-K – Patofisiologi dan Manifestasi Klinis Infeksi Cacing pada Tubuh Manusia
Andre memaparkan secara komprehensif mengenai patofisiologi serta manifestasi klinis dari berbagai jenis infeksi cacing pada manusia. Beliau menjelaskan bahwa infeksi cacing dapat disebabkan oleh beragam spesies, dengan gejala yang tidak selalu terbatas pada gangguan saluran cerna.
Pada bagian penutup, beliau menegaskan bahwa infeksi cacing, termasuk infeksi multipel, masih ditemukan di masyarakat dan perlu mendapat perhatian serius. Untuk mencapai target pengendalian penyakit, masyarakat harus meningkatkan kewaspadaan melalui penjagaan higienitas dan sanitasi lingkungan. Kasus-kasus infeksi cacing dapat dicegah dengan pola hidup bersih dan sehat agar tidak terjadi infeksi ulang. dr. Andre juga mengingatkan bahwa infeksi cacing bukan hanya menimbulkan keluhan perut, tetapi dapat menyebabkan komplikasi berat seperti meningitis, radang otak, serta sekuela yang berkelanjutan. Dengan demikian, infeksi cacing dapat menjadi kondisi berbahaya jika tidak ditangani secara tepat.
- Yovita Dwi Arini, M.Sc – Pendekatan Farmakoterapi dalam Penatalaksanaan Infeksi Cacing: Kombinasi, Dosis Optimal, dan Resistensi Obat
apt. Yovita menjelaskan strategi farmakoterapi yang rasional dalam penatalaksanaan infeksi cacing, termasuk pilihan obat, kombinasi terapi, pertimbangan dosis optimal, durasi, serta frekuensi penggunaan yang tepat. Beliau menyoroti pentingnya kewaspadaan terhadap resistensi obat akibat penggunaan yang tidak sesuai aturan.
Beliau menegaskan bahwa pencegahan jauh lebih baik dibandingkan pengobatan. Peserta diingatkan untuk selalu memastikan bahwa obat antelmintik digunakan sesuai dosis, durasi, frekuensi, dan indikasi yang tepat. Penggunaan obat yang tidak rasional berisiko meningkatkan kejadian resistensi, baik pada pasien maupun di lingkungan sekitarnya. Dalam konteks ini, peran apoteker sangat penting untuk memastikan terapi diberikan secara benar, terutama pada penyakit tropis, melalui pendekatan pelayanan farmasi yang terintegrasi.
Sesi Kedua: Farmakoepidemiologi dan Inovasi Berbasis Bahan Alam
Sesi kedua melanjutkan pembahasan dari perspektif populasi dan pengembangan terapi alternatif, dengan dua narasumber ahli.
- Pramitha Esha Nirmala Dewi, M.Sc, Ph.D – Tinjauan Farmakoepidemiologi terhadap Penggunaan Obat Anthelmintik: Pola, Efektivitas, dan Tantangan Resistensi di Populasi
apt. Pramitha menyampaikan bahwa prevalensi penyakit akibat infeksi helminth masih tinggi di Asia Tenggara. Obat antelmintik tetap menjadi pilihan utama terapi dalam penanganan kondisi ini, namun efektivitasnya perlu terus dievaluasi melalui kajian farmakoepidemiologi.
Beliau menekankan bahwa tenaga kesehatan mempunyai peran penting dalam memantau keberhasilan terapi di tingkat populasi. Fokus utama meliputi evaluasi efek samping, tingkat
keparahan pasien, pola penggunaan obat, serta efektivitas terapi yang dihasilkan. Upaya ini menjadi kewajiban baik bagi praktisi maupun akademisi, terutama karena Indonesia termasuk salah satu negara dengan kasus tinggi di kawasan Asia Tenggara. Beliau berharap penelitian dan pengembangan terkait terapi antelmintik terus dilakukan secara berkelanjutan.
- Madyo Adrianto, M.Farm – Potensi Bahan Alam sebagai Alternatif atau Pendukung Terapi Anthelmintik: Bukti Ilmiah dan Arah Pengembangan
Sebagai narasumber terakhir, Apt. Madyo memaparkan peluang besar pengembangan bahan alam sebagai alternatif ataupun pendukung terapi antelmintik. Beliau menjelaskan bahwa berbagai tanaman, khususnya yang mengandung minyak atsiri, berpotensi dikembangkan menjadi terapi antelmintik yang efektif berdasarkan bukti ilmiah.
Beliau menegaskan bahwa sebagai seorang farmasis, penting untuk terus mengembangkan senyawa aktif dari tanaman sebagai sumber obat antelmintik yang lebih aman dan terjangkau. Potensi ini sangat relevan untuk wilayah pedesaan yang kaya keanekaragaman hayati, sehingga pengembangannya dapat memberikan dampak nyata bagi masyarakat.
Penutup
Seminar Series Farmasi ini memberikan pemahaman yang menyeluruh mengenai infeksi cacing, mulai dari aspek klinis, farmakoterapi rasional, kajian populasi, hingga inovasi terapi berbahan alam. Diskusi yang berlangsung aktif menunjukkan tingginya perhatian peserta terhadap isu kesehatan tropis dan peran strategis farmasis dalam pelayanan kesehatan.
Melalui seminar ini, Universitas Telogorejo Semarang berharap peserta tidak hanya memperoleh wawasan akademik, tetapi juga terdorong untuk menerapkan prinsip pelayanan pharmaceutical care yang tepat serta aktif mendukung riset pengembangan terapi antelmintik berbasis bahan alam di masa mendatang.




