
DISFAGIA PADA PASIEN STROKE: GANGGUAN MENELAN YANG SERING TERJADI TETAPI SERING TERABAIKAN
Oleh: Ns. Sri Puguh Kristiyawati, M.Kep, Sp.MB ( Dekan Fakultas Ilmu Kesehatan dan Teknologi Universitas Telogorejo Semarang )

Stroke masih menjadi salah satu penyebab utama kecacatan dan kematian di dunia. Banyak masyarakat mengenal stroke sebagai penyakit yang menyebabkan kelemahan anggota gerak, gangguan bicara, atau kelumpuhan. Namun, tidak banyak yang mengetahui bahwa lebih dari separuh pasien stroke juga mengalami disfagia, yaitu gangguan menelan makanan atau minuman. Kondisi ini justru dapat menimbulkan komplikasi serius apabila tidak dikenali sejak dini.
Apa itu Disfagia?
Disfagia adalah gangguan pada proses menelan sehingga makanan, minuman, bahkan air liur sulit berpindah dari mulut menuju lambung. Gangguan ini dapat terjadi karena kerusakan saraf dan otot yang mengatur proses menelan, salah satunya akibat stroke. Pada pasien stroke, bagian otak yang mengendalikan koordinasi menelan mengalami kerusakan sehingga refleks menelan menjadi lambat atau tidak efektif. Akibatnya, makanan dapat masuk ke saluran napas (aspirasi) tanpa disadari oleh pasien.
Mengapa Disfagia Sering Terjadi Setelah Stroke?
Gangguan menelan merupakan salah satu komplikasi paling sering ditemukan pada fase akut stroke. Berbagai penelitian menunjukkan bahwa lebih dari 50% pasien stroke mengalami disfagia pada awal kejadian stroke, bahkan angka kejadiannya dapat mencapai 65–78% apabila dilakukan pemeriksaan menggunakan alat diagnostik yang lebih sensitif. Sebagian besar pasien memang akan mengalami perbaikan dalam waktu satu minggu, namun sekitar 11–15% masih mengalami disfagia hingga enam bulan setelah stroke.
Apa Bahayanya?
Disfagia bukan sekadar kesulitan makan. Kondisi ini dapat menyebabkan berbagai komplikasi serius, antara lain: aspirasi (makanan atau minuman masuk ke paru-paru), pneumonia aspirasi, malnutrisi, dehidrasi, penurunan kualitas hidup, peningkatan lama perawatan di rumah sakit, meningkatnya angka kematian. Beberapa pasien bahkan mengalami silent aspiration, yaitu makanan masuk ke paru-paru tanpa batuk sehingga kondisi ini sering tidak disadari oleh pasien maupun keluarga.
Gejala yang Perlu Diwaspadai
Keluarga perlu segera berkonsultasi dengan tenaga kesehatan apabila pasien stroke menunjukkan gejala berikut: sering batuk saat makan atau minum, suara berubah menjadi serak setelah makan, makanan tertinggal di dalam mulut, waktu makan menjadi sangat lama, tersedak berulang, keluar air liur terus-menerus, penurunan berat badan, demam berulang tanpa penyebab yang jelas.
Pentingnya Skrining Dini
Salah satu langkah paling penting adalah melakukan skrining disfagia sebelum pasien diperbolehkan makan atau minum. Pemeriksaan awal ini dapat dilakukan oleh tenaga kesehatan yang telah mendapatkan pelatihan, kemudian dilanjutkan dengan pemeriksaan lebih lengkap oleh terapis wicara apabila ditemukan gangguan menelan. Penelitian menunjukkan bahwa skrining disfagia oleh perawat mampu menurunkan angka infeksi paru dan meningkatkan keselamatan pasien stroke. Adanya pedoman penanganan disfagia di rumah sakit juga terbukti menurunkan angka kematian pasien.
Bagaimana Penanganannya?
Penanganan disfagia harus dilakukan secara multidisiplin, melibatkan dokter, perawat, ahli gizi, dan terapis wicara. Beberapa upaya yang dapat dilakukan meliputi: modifikasi tekstur makanan dan kekentalan cairan; latihan menelan sesuai kondisi pasien; pengaturan posisi duduk tegak saat makan; pemberian makan secara perlahan dalam porsi kecil; menjaga kebersihan mulut untuk mencegah pneumonia aspirasi; pemantauan status gizi dan kecukupan cairan; rehabilitasi menelan secara bertahap. Pada kasus tertentu, pasien mungkin memerlukan bantuan nutrisi melalui selang makan hingga kemampuan menelannya membaik.
Peran Keluarga Sangat Penting
Keberhasilan rehabilitasi disfagia tidak hanya bergantung pada tenaga kesehatan, tetapi juga pada dukungan keluarga. Keluarga perlu memahami cara memberikan makanan yang aman, memperhatikan posisi pasien saat makan, serta mengenali tanda-tanda aspirasi. Pendampingan yang baik akan membantu pasien memperoleh nutrisi yang cukup, mencegah komplikasi, dan mempercepat proses pemulihan setelah stroke.
Kesimpulan
Disfagia merupakan komplikasi yang sangat sering terjadi setelah stroke, namun masih sering tidak dikenali. Padahal, gangguan menelan dapat menyebabkan pneumonia, malnutrisi, dehidrasi, hingga meningkatkan risiko kematian. Oleh karena itu, setiap pasien stroke sebaiknya menjalani skrining disfagia sedini mungkin. Penanganan yang tepat melalui kerja sama dokter, perawat, terapis wicara, ahli gizi, pasien, dan keluarga dapat meningkatkan keselamatan, kualitas hidup, serta keberhasilan rehabilitasi pasien stroke.
Referensi
All-Wales Special Interest Group in Special Care Dentistry. Dysphagia and Oral Health: A Clinical Guideline. 2025. https://www.sigwales.org/wp-content/uploads/Dysphagia-and-Oral-Health.-A-Clinical-Guideline-from-the-All-Wales-Special-Interst-Group-2025.final_.pdf
American Speech-Language-Hearing Association (ASHA). Adult Dysphagia Practice Portal. 2024. https://www.asha.org/practice-portal/clinical-topics/adult-dysphagia/?srsltid=AfmBOooZlzPvoO9TSrpBRaNUU64s5-tNJDsubrilHwb3TlqMeLx1c32k
Fang WJ, Zheng F, Zhang LZ, Wang WH, Yu CC, Shao J, Wu YJ. Research progress of clinical intervention and nursing for patients with post-stroke dysphagia. Neurol Sci. 2022 Oct;43(10):5875-5884. doi: 10.1007/s10072-022-06191-9. Epub 2022 Jun 4. PMID: 35661279; PMCID: PMC9166186.
Hines S, Kynoch K, Munday J. Nursing Interventions for Identifying and Managing Acute Dysphagia are Effective for Improving Patient Outcomes: A Systematic Review Update. J Neurosci Nurs. 2016 Jul-Aug;48(4):215-23. doi: 10.1097/JNN.0000000000000200. PMID: 27224683.
Palmer JL, Metheny NA. Preventing aspiration in older adults with dysphagia. Am J Nurs. 2008 Feb;108(2):40-8; quiz 49. doi: 10.1097/01.NAJ.0000308961.99857.33. PMID: 18227668.
Vose A, Nonnenmacher J, Singer ML, González-Fernández M. Dysphagia Management in Acute and Sub-acute Stroke. Curr Phys Med Rehabil Rep. 2014 Dec 1;2(4):197-206. doi: 10.1007/s40141-014-0061-2. PMID: 26484001; PMCID: PMC4608439.
