Back

Artikel

HomeArtikel
Abu Vulkanik Bukan Debu Biasa:Mitigasi Risiko Kesehatan di Tengah Erupsi
Artikel 09 Sep 2026

Abu Vulkanik Bukan Debu Biasa:Mitigasi Risiko Kesehatan di Tengah Erupsi

Oleh: dr. Dito Anurogo, M.Sc., Ph.D. ( Dosen S-1 Fisioterapi Universitas Telogorejo Semarang )

Ketika gunung api erupsi, perhatian biasanya tertuju pada kolom letusan, awan panas, radius bahaya, dan jalur evakuasi. Sementara itu, ancaman lain turun hampir tanpa suara. Abu menutupi atap rumah, jalan, kendaraan, halaman sekolah, sumber air, hingga pakaian. Warnanya kelabu dan sepintas menyerupai debu biasa. Justru di situlah masalahnya: abu vulkanik bukan debu biasa.

Secara geologis, abu vulkanik tersusun atas fragmen batuan, mineral, dan kaca vulkanik berdiameter kurang dari dua milimeter. Ia bukan sisa pembakaran seperti abu kayu. Partikelnya dapat keras, abrasif, dan sebagian cukup halus untuk terhirup ke saluran pernapasan. Angin dapat membawa partikel halus jauh dari pusat erupsi. Yang tampak di halaman adalah endapannya; yang paling relevan bagi kesehatan justru bagian halus yang masih dapat beterbangan dan terhirup.

Badan Geologi mencatat Indonesia memiliki 127 gunung api aktif. Hidup di negeri cincin api berarti masyarakat bukan hanya perlu mengetahui kapan harus mengungsi, tetapi juga bagaimana mengurangi paparan ketika abu turun dan sesudah erupsi mereda.

Ketika partikel bertemu tubuh

Dampak kesehatan abu vulkanik dipengaruhi ukuran partikel, konsentrasi di udara, lama paparan, komposisi kimia dan mineral, kondisi cuaca, serta kerentanan seseorang. Karena itu, efeknya tidak sama pada setiap orang. Pada kebanyakan orang sehat, paparan singkat lebih sering menimbulkan hidung dan tenggorokan kering atau perih, batuk, rasa tidak nyaman di dada, atau napas terasa lebih berat.

Risiko meningkat pada orang dengan asma, bronkitis kronis, penyakit paru obstruktif kronis, atau penyakit kardiovaskular. Mengi, batuk, sesak, atau kebutuhan menggunakan obat pelega dapat meningkat. Anak-anak, lansia, serta orang dengan penyakit paru dan jantung perlu memperoleh perhatian lebih karena kemampuan menghindari paparan dan mengakses layanan kesehatan tidak selalu sama.

Mata sering menjadi organ yang paling cepat memberi tanda paparan. Partikel halus dapat menimbulkan rasa mengganjal, kemerahan, berair, dan iritasi, bahkan menggores permukaan kornea. Karena itu, lensa kontak sebaiknya dihindari saat hujan abu. Kacamata pelindung lebih aman ketika seseorang harus berada di luar rumah atau ikut membersihkan lingkungan. Organisasi Kesehatan Dunia mengingatkan bahwa erupsi juga dapat mengganggu kualitas air dan pangan, transportasi, komunikasi, serta layanan kesehatan. Beban kesehatan akibat erupsi lebih luas daripada sekadar batuk dan mata perih.

Bahaya yang muncul setelah langit kembali cerah

Salah satu kekeliruan yang sering terjadi adalah menganggap ancaman berakhir ketika hujan abu berhenti. Abu yang telah mengendap dapat terangkat kembali oleh angin, kendaraan, sapu, atau aktivitas pembersihan. Akibatnya, paparan dapat berulang bahkan ketika erupsi mulai mereda.

Cara membersihkan abu karena itu menjadi bagian penting mitigasi kesehatan. Menyapu kering dapat membuat partikel kembali melayang. Endapan abu dapat dilembapkan secara ringan sebelum dikumpulkan, tanpa membanjiri permukaan. Pada atap rumah, penggunaan air berlebihan harus dihindari karena abu basah menjadi lebih berat dan dapat menambah beban struktur. Orang yang membersihkan abu sebaiknya mengenakan pelindung pernapasan, kacamata, pakaian yang menutup kulit, dan alas kaki yang aman.

Mengemudi di tengah abu tebal juga dapat mengangkat kembali partikel dan menurunkan jarak pandang. Bila perjalanan tidak mendesak, menundanya dan mengikuti arahan otoritas setempat merupakan pilihan yang lebih aman.

Masker penting, tetapi bukan satu-satunya jawaban

Dalam banyak bencana, pembagian masker menjadi salah satu respons yang terlihat. Langkah ini berguna, tetapi mudah menimbulkan kesan bahwa persoalan selesai setelah wajah tertutup. Padahal perlindungan pertama adalah mengurangi paparan.

Jika situasi memungkinkan, masyarakat sebaiknya tetap berada di dalam bangunan yang aman, menutup pintu dan jendela, serta mengurangi aktivitas luar ruang. Ketika harus keluar atau membersihkan abu, respirator partikulat seperti N95 atau standar ekuivalen yang sesuai ukuran dan terpasang rapat pada wajah memberikan perlindungan lebih baik terhadap partikel. Namun respirator partikulat tidak dirancang untuk menyaring gas dan uap beracun. Jika otoritas memerintahkan evakuasi karena ancaman gas, awan panas, lahar, atau bahaya lain, masker bukan alasan untuk tetap tinggal.

Pada anak, respirator untuk orang dewasa tidak otomatis memberikan perlindungan memadai karena efektivitasnya bergantung pada ukuran dan kerapatan di wajah. Pada penderita penyakit jantung atau paru tertentu, hambatan bernapas saat memakai respirator juga perlu dipertimbangkan. Karena itu, pesan kesehatan tidak cukup berhenti pada seruan “semua orang memakai N95”.

Rumah, air, pangan, dan obat rutin

Mitigasi yang baik dimulai dari rumah tangga. Keluarga di kawasan rawan dapat menyiapkan pelindung pernapasan yang sesuai, kacamata, obat rutin, air minum, bahan pangan, serta kontak layanan kesehatan. Penderita asma sebaiknya memastikan obat pengontrol dan pelega tersedia. Dokumen kesehatan dan daftar obat perlu ditempatkan di lokasi yang mudah dibawa bila evakuasi diperlukan.

Sumber air perlu dilindungi dari masuknya abu, terutama penampungan air hujan dan wadah terbuka. Bila air tampak keruh atau diduga terkontaminasi abu, informasi dari dinas kesehatan dan pengelola air setempat harus menjadi acuan sebelum dikonsumsi. Bahan pangan yang terkena abu perlu dibersihkan menggunakan air bersih sebelum diolah.

Apa yang sudah dilakukan pemerintah?

Pemerintah sebenarnya tidak memulai dari nol. Indonesia memiliki Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi atau PVMBG, unit Badan Geologi yang memantau aktivitas gunung api, memberikan peringatan dini, menganalisis risiko, dan menyusun rekomendasi teknis. Informasi itu diperkuat oleh MAGMA Indonesia, singkatan dari Multiplatform Application for Geohazard Mitigation and Assessment in Indonesia, platform digital Badan Geologi yang menyajikan informasi dan rekomendasi kebencanaan geologi secara terintegrasi dan mendekati waktu nyata.

Di lapangan, respons mencakup penetapan zona bahaya, evakuasi, pembagian masker, pemantauan dampak, dan koordinasi lintas instansi. Pada erupsi Gunung Sinabung awal September 2026, misalnya, BPBD Kabupaten Karo bersama lintas instansi di wilayah Karo dan Berastagi membagikan masker kepada masyarakat terdampak abu dan mengimbau warga keluar dari zona bahaya, sementara BNPB berkoordinasi dengan pemerintah daerah.

Dari sisi kesehatan, Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 1 Tahun 2026 mengatur Klaster Kesehatan di tingkat nasional, provinsi, dan kabupaten/kota. Cakupannya meliputi pelayanan medis, penanggulangan penyakit, kesehatan lingkungan, kesehatan jiwa, gizi, promosi kesehatan, logistik, serta data dan surveilans. Dalam berbagai respons erupsi, pemerintah juga menyiagakan puskesmas, pos kesehatan, air bersih dan sanitasi, tenaga kesehatan, serta logistik.

Apakah langkah tersebut sudah memadai? Untuk respons awal, fondasinya cukup kuat. Namun untuk mitigasi risiko kesehatan abu vulkanik yang proaktif, seragam, dan berbasis data dari sebelum paparan hingga pemulihan, jawabannya belum sepenuhnya. After-action review Kementerian Kesehatan bersama WHO pada 2026, meski bukan khusus erupsi, menemukan persoalan sistemik yang relevan: fungsi Health Emergency Operation Center belum seragam, pelaporan data awal belum sepenuhnya terintegrasi, dan penempatan persediaan masih cenderung reaktif. Yang perlu diperbaiki bukan hanya jumlah masker, tetapi cara sistem bekerja sebelum krisis membesar.

Puskesmas sebagai radar kesehatan

Di sinilah puskesmas dapat mengambil peran yang kerap luput dibicarakan: bukan hanya tempat berobat, melainkan juga “radar” kesehatan masyarakat setelah hujan abu. Puskesmas dapat memantau peningkatan batuk, mengi, sesak napas, iritasi mata, dan kekambuhan penyakit kronis. Pencatatan cepat dan terstandar dapat menunjukkan peningkatan beban kesehatan suatu wilayah.

Inilah inti surveilans sindromik: mendeteksi perubahan pola gejala bahkan sebelum diagnosis lengkap ditegakkan. Jika keluhan pernapasan meningkat setelah hujan abu, intervensi dapat diprioritaskan, misalnya distribusi pelindung pernapasan, edukasi pembersihan, kunjungan kepada kelompok rentan, atau penguatan stok obat. Data gejala akan lebih bermakna bila dibaca bersama informasi sebaran abu dan pemantauan partikulat udara.

Sekolah juga perlu memiliki protokol yang jelas. Keputusan tentang kegiatan luar ruang tidak cukup hanya melihat apakah halaman tampak bersih. Guru dan orang tua perlu mengetahui kapan aktivitas luar ruang dibatasi, bagaimana melindungi mata dan saluran napas, serta gejala apa yang membutuhkan pertolongan medis.

Dari komunikasi bencana menuju komunikasi risiko

Saat erupsi terjadi, arus informasi dapat bergerak hampir secepat abu menyebar. Sebagiannya benar, sebagian tidak lengkap, dan sebagian lagi menyesatkan. Karena itu, komunikasi risiko bukan pelengkap respons bencana; ia merupakan bagian dari perlindungan kesehatan masyarakat.

Informasi mengenai status gunung api, zona bahaya, dan rekomendasi teknis perlu merujuk pada PVMBG dan MAGMA Indonesia. Informasi evakuasi mengikuti pemerintah daerah dan badan penanggulangan bencana. Untuk aspek kesehatan, pesan dari dinas kesehatan, puskesmas, rumah sakit, dan tenaga kesehatan perlu diselaraskan agar masyarakat tidak menerima instruksi yang bertentangan.

Pesan pun harus konkret. “Hindari abu” terlalu umum. Masyarakat memerlukan panduan yang dapat langsung dikerjakan: tetap di dalam rumah bila aman, tutup jendela, kurangi perjalanan, gunakan pelindung pernapasan saat harus keluar, pakai kacamata, hindari lensa kontak, jangan menyapu abu secara kering, amankan obat rutin, dan cari pertolongan bila sesak memburuk.

Mitigasi kesehatan sebelum abu turun

Perbaikan berikutnya perlu dibuat nyata. Pertama, peringatan geologi dari PVMBG dan MAGMA perlu memiliki pemicu yang jelas bagi aktivasi protokol kesehatan di daerah terdampak abu. Kedua, surveilans keluhan pernapasan dan mata perlu dipadukan dengan data sebaran abu dan kualitas udara. Ketiga, pelindung pernapasan, kacamata, obat esensial, dan kebutuhan kelompok rentan sebaiknya ditempatkan lebih dekat ke wilayah risiko sebelum krisis.

Keempat, sekolah, fasilitas lansia, tempat pengungsian, dan puskesmas perlu memiliki prosedur khusus menghadapi hujan abu, termasuk perlindungan air bersih, kelanjutan obat penyakit kronis, dan jalur rujukan. Kelima, data kebencanaan dan data kesehatan perlu masuk dalam satu gambaran operasional bagi pengambil keputusan. Setelah keadaan mereda, evaluasi harus menjadi rutinitas agar pengalaman lapangan mengubah prosedur berikutnya.

Mitigasi kesehatan semestinya bergerak selangkah lebih awal: dari menunggu keluhan muncul menuju mengurangi paparan sebelum orang jatuh sakit. Erupsi memang tidak dapat dijadwalkan manusia. Namun tingkat paparan, kualitas perlindungan, kecepatan mengenali gejala, dan ketepatan komunikasi masih dapat dipengaruhi oleh keputusan manusia.

Di negeri dengan 127 gunung api aktif, kemampuan membaca status gunung api perlu berjalan beriringan dengan kemampuan membaca sinyal tubuh. Batuk setelah hujan abu, mata yang terus nyeri, mengi pada penderita asma, atau sesak yang memburuk tidak semestinya dinormalisasi sebagai “bagian dari bencana”. Mitigasi kesehatan berarti tetap waspada tanpa panik, melindungi diri tanpa meremehkan risiko. Sebab abu yang tampak tipis di halaman tidak selalu berarti risikonya ikut tipis. (Dokter Dito Anurogo, M.Sc., Ph.D., alumnus PhD dari IPCTRM Taipei Medical University Taiwan, WWPO Peace Ambassador untuk Indonesia, dokter riset, dosen di UNTS, peneliti, penulis puluhan buku, kolumnis, reviewer jurnal internasional terindeks Scopus Q1, trainer berlisensi BNSP, komunikator sains, founder ILI, pelopor NiBTM)

Ketika Gunung Menulis Sejarah: Abu Vulkanik, Tubuh, Iklim, Budaya, dan Ketahanan Bangsa
Artikel 08 Sep 2026

Ketika Gunung Menulis Sejarah: Abu Vulkanik, Tubuh, Iklim, Budaya, dan Ketahanan Bangsa

Oleh: dr. Dito Anurogo, M.Sc., Ph.D.( Dosen S-1 Fisioterapi Universitas Telogorejo Semarang )

Alumnus PhD dari IPCTRM Taipei Medical University Taiwan, WWPO Peace Ambassador untuk Indonesia, Diploma in Project Management from International Business Management Institute Berlin Germany, dokter riset, dosen UNTS, peneliti IMI, penulis puluhan buku, kolumnis, reviewer jurnal internasional terindeks Scopus Q1, trainer berlisensi BNSP, komunikator sains, founder ILI, pelopor NiBTM.

Gunung api tidak pernah hanya berbicara kepada ahli geologi. Ketika ia erupsi, pesannya sampai ke paru-paru manusia, layanan pusat kesehatan masyarakat, langit penerbangan, sawah dan laut, pasar pangan, meja diplomasi, ingatan kolektif, bahkan ruang batin. Abu yang jatuh dari langit memang dapat diukur melalui ketebalan endapan, konsentrasi partikel, dan arah angin. Namun dampaknya tidak berhenti pada angka. Ia mengubah cara sebuah masyarakat bernapas, bergerak, bekerja, berdoa, mengingat masa lalu, dan membayangkan masa depan.

Aktivitas Anak Krakatau pada awal September 2026 kembali memperlihatkan bahwa erupsi di negara kepulauan seperti Indonesia dapat segera berkembang menjadi persoalan lintas sektor. Gangguan penerbangan, kekhawatiran kesehatan, pembatasan aktivitas masyarakat, dan pergerakan material vulkanik di atmosfer menunjukkan satu hal penting: gunung api adalah simpul yang mempertemukan proses alam dengan sistem sosial modern. Membaca erupsi hanya sebagai letusan magma berarti kehilangan sebagian besar ceritanya.

Tubuh menjadi garis depan pertama

Dalam perspektif kedokteran, abu vulkanik bukan sekadar debu yang mengotori halaman. Ia terdiri atas fragmen batuan, mineral, dan kaca vulkanik berdiameter kurang dari dua milimeter. Sebagian partikelnya cukup halus untuk terhirup dan mengiritasi hidung, tenggorokan, serta saluran pernapasan. Mata dapat terasa perih, merah, berair, atau seperti kemasukan benda asing. Pada orang dengan asma, penyakit paru obstruktif kronis, atau penyakit jantung dan paru, paparan dapat memperburuk keluhan yang sudah ada.

Namun sisi kesehatan erupsi jauh lebih luas daripada urusan paru. Abu dapat mencemari sumber air dan pangan, mengganggu pelayanan kesehatan, menghambat akses jalan, dan memaksa keluarga meninggalkan rumah. Pengungsian menghadirkan persoalan lain: kepadatan, sanitasi, kesinambungan ketersediaan dan penggunaan obat, kesehatan ibu dan anak, kebutuhan lansia, serta dukungan bagi orang dengan penyakit kronis. Dalam keadaan darurat, pasien hipertensi tetap membutuhkan obatnya, penderita diabetes tetap memerlukan terapi, bayi tetap perlu nutrisi, dan ibu hamil tetap membutuhkan pemeriksaan.

Ada pula luka yang tidak terlihat pada foto satelit: tekanan psikologis. Kehilangan rumah, ternak, pekerjaan, sekolah, atau rasa aman dapat menimbulkan tekanan mental dan emosional. Sebagian orang cepat pulih, sementara sebagian lainnya membutuhkan dukungan lebih panjang. Kesehatan jiwa dan dukungan psikososial tidak seharusnya datang belakangan setelah logistik fisik selesai dibagikan. Dalam bencana, rasa aman, informasi yang jernih, keberadaan keluarga, ruang untuk berduka, serta akses ke pertolongan psikologis merupakan bagian dari pelayanan kesehatan.

Di titik ini, kedokteran bertemu dengan kemanusiaan. Dokter dapat mengobati sesak, iritasi mata, atau luka bakar. Kesehatan masyarakat bertanya lebih jauh: siapa yang paling rentan, siapa yang tidak memiliki kendaraan untuk mengungsi, siapa yang kehilangan obat rutin, dan siapa yang hidup sendirian ketika peringatan bahaya berbunyi? Pertanyaan-pertanyaan itu menentukan apakah mitigasi benar-benar melindungi masyarakat atau hanya menyediakan prosedur di atas kertas.

Belerang, aerosol, dan suhu Bumi

Dalam klimatologi, gunung api mempunyai skala cerita yang berbeda. Tidak setiap erupsi akan mengubah iklim global. Ini penting ditegaskan agar masyarakat tidak mencampuradukkan hujan abu lokal dengan pendinginan planet. Efek iklim yang besar terutama dapat terjadi ketika erupsi eksplosif menyuntikkan gas sulfur dioksida dalam jumlah besar ke stratosfer. Di lapisan atmosfer tersebut, gas ini dapat membentuk aerosol sulfat, yaitu partikel sangat halus yang memantulkan sebagian energi Matahari kembali ke angkasa dan untuk sementara mengurangi pemanasan permukaan Bumi.

Indonesia menyimpan salah satu contoh paling dramatis dalam sejarah: letusan Tambora pada 1815. Letusan raksasa di Sumbawa menghasilkan dampak atmosfer yang terasa jauh dari Nusantara. Tahun berikutnya kemudian dikenal di Eropa dan Amerika Utara sebagai tahun tanpa musim panas. Anomali suhu, hujan, embun beku, dan gagal panen ikut memperberat kelangkaan pangan di berbagai tempat. Sebuah letusan di sebuah pulau di Indonesia ternyata dapat bergaung hingga pasar gandum, kesehatan masyarakat, migrasi, dan keresahan sosial ribuan kilometer jauhnya.

Kisah Tambora mengajarkan bahwa atmosfer tidak mengenal paspor. Gas sulfur dioksida dan aerosol sulfat yang mencapai stratosfer tidak berhenti pada batas provinsi, zona ekonomi eksklusif, atau garis diplomatik. Dalam pengertian itu, vulkanologi dan klimatologi memiliki dimensi geopolitik: suatu kejadian lokal dapat menciptakan konsekuensi regional bahkan global ketika bersentuhan dengan sistem pangan, perdagangan, transportasi, dan ketahanan ekonomi.

Geopolitik langit

Abu vulkanik juga memperlihatkan betapa rentannya infrastruktur global yang tampak sangat canggih. Pesawat jet modern dapat melintasi benua dalam hitungan jam, tetapi tetap harus menghormati partikel mineral yang dilepaskan gunung api. Abu dapat merusak mesin dan berbagai sistem pesawat. Karena itu, pergerakan awan abu dipantau melalui sistem pengawasan gunung api bagi penerbangan internasional serta jaringan pusat penasihat abu vulkanik.

Di kawasan kita, pusat penasihat abu vulkanik yang berkedudukan di Darwin, Australia, berperan mendeteksi, melacak, dan memprakirakan pergerakan awan abu di wilayah tanggung jawabnya, termasuk banyak kejadian vulkanik di Indonesia. Hal ini menarik secara geopolitik. Keselamatan penerbangan Indonesia bergantung pada ekosistem informasi yang melibatkan pengamatan nasional, satelit, pusat meteorologi, pengendali lalu lintas udara, maskapai, dan institusi lintas negara.

Kedaulatan pada zaman sekarang tidak berarti sebuah negara harus bekerja sendirian. Kedaulatan justru terlihat dari kemampuan menghasilkan data yang dapat dipercaya, membagikannya tepat waktu, dan menghubungkannya dengan sistem keselamatan regional maupun global. Abu vulkanik mengajarkan bahwa keamanan nasional modern juga dibangun melalui kerja sama ilmiah. Angin yang membawa awan abu tidak mengenal perbatasan negara.

Dampaknya menjalar pula ke ekonomi. Ketika penerbangan berubah rute atau berhenti, wisatawan tertunda, kargo terlambat, jadwal bisnis berubah, dan rantai pasok ikut menyesuaikan diri. Di wilayah pesisir, pembatasan melaut dapat memengaruhi pendapatan keluarga nelayan. Di daerah pertanian, endapan abu dapat menjadi beban pada fase awal. Dalam kondisi tertentu dan setelah mengalami pelapukan jangka panjang, material vulkanik dapat ikut menyumbang mineral bagi pembentukan tanah yang subur. Gunung api adalah paradoks: ia dapat menghancurkan penghidupan hari ini sekaligus ikut membentuk lanskap produktif untuk generasi berikutnya.

Ketika sejarah ditulis oleh teknologi komunikasi

Historiografi bencana menarik karena tidak hanya mempertanyakan apa yang terjadi, tetapi juga bagaimana suatu peristiwa diingat. Dalam ingatan populer global, Tambora lama tidak sekuat Krakatau, meskipun skala letusannya jauh lebih besar. Salah satu penjelasannya terletak pada teknologi komunikasi. Berita Tambora bergerak pada zaman ketika informasi masih bergantung pada kapal dan surat. Krakatau meletus pada 1883 ketika jaringan telegraf telah menghubungkan banyak wilayah dunia.

Krakatau kemudian menjadi peristiwa global bukan hanya karena dampak fisiknya, melainkan juga karena cara kabarnya menyebar. Laporan, pengamatan, dan kesaksian dapat beredar lebih cepat. Royal Society di Inggris membentuk komite untuk mengumpulkan catatan tentang erupsi Krakatau dan akibatnya. Fenomena langit kemerahan yang terlihat jauh dari Indonesia dicatat dan dilukis. Bencana berubah menjadi arsip ilmiah internasional.

Pelajarannya sangat kontemporer. Media ikut menentukan bagaimana sebuah bencana masuk ke dalam ingatan kolektif. Pada abad kesembilan belas, telegraf membantu menjadikan Krakatau peristiwa global. Pada abad kedua puluh satu, media sosial dapat mengubah erupsi menjadi video yang beredar luas dalam hitungan menit. Namun kecepatan informasi membawa risiko lain. Video lama dapat diunggah kembali seolah-olah kejadian baru. Suara letusan dapat dilebih-lebihkan. Narasi mistik dapat dipelintir menjadi klaim prediksi. Ketakutan kemudian bergerak lebih cepat daripada abu.

Literasi bencana karena itu tidak cukup berarti mampu membaca peta bahaya. Ia juga berarti mampu membedakan informasi resmi, interpretasi, rumor, pengalaman personal, dan konten yang sengaja dibuat untuk mengejar perhatian.

Gunung dalam kosmologi budaya

Jauh sebelum satelit, seismograf, dan kamera termal, masyarakat Nusantara telah hidup berdampingan dengan gunung api. Mereka mengembangkan cerita, ritual, larangan, penanda alam, dan tata hubungan sosial sebagai cara memberi makna pada lanskap yang tidak sepenuhnya dapat mereka kendalikan.

Di sekitar Merapi, misalnya, tradisi Labuhan menjadi bagian dari warisan budaya Yogyakarta. Tradisi tersebut berkaitan dengan rasa syukur, penghormatan terhadap alam, serta gagasan keselarasan hubungan manusia dengan Tuhan, alam, dan sesama. Kosmologi Merapi juga hidup dalam berbagai kisah tentang kekuatan dan penjaga gunung. Bagi antropologi, narasi semacam itu bukan data seismik, melainkan data budaya: cara suatu komunitas menata rasa takut, rasa hormat, identitas, dan keberlanjutan hidup di wilayah rawan.

Di sinilah sikap dewasa diperlukan. Mitos tidak perlu direndahkan, tetapi juga tidak boleh digunakan untuk menolak bukti ilmiah. Tradisi tidak harus dimatikan atas nama modernitas, tetapi keselamatan tidak boleh dipertaruhkan atas nama simbolisme. Ketika Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi menetapkan zona bahaya atau pemerintah memerintahkan evakuasi, keputusan keselamatan harus mengikuti pengetahuan kebencanaan yang terukur.

Justru adat dapat menjadi mitra mitigasi. Tokoh budaya, pemuka agama, tetua kampung, guru, dan pemimpin komunitas sering memiliki kepercayaan masyarakat yang kuat. Jika mereka memahami informasi risiko, pesan evakuasi dapat diterjemahkan ke dalam bahasa lokal yang lebih diterima. Budaya kemudian tidak menjadi lawan ilmu pengetahuan, melainkan jembatan sosial agar ilmu pengetahuan dapat benar-benar bekerja.

Belajar dari pepatah Nusantara

Paremiologi, ilmu yang mempelajari peribahasa dan ungkapan tradisional, menawarkan pintu lain untuk memahami hubungan manusia dan bencana. Minangkabau mengenal falsafah “alam takambang jadi guru”, alam yang terbentang menjadi guru. Ungkapan ini sangat relevan bagi negeri vulkanik. Gunung bukan hanya objek yang ditakuti atau dieksploitasi; ia adalah sumber pelajaran tentang batas, perubahan, siklus, dan konsekuensi.

Menjadikan alam sebagai guru tidak berarti menerima semua bencana secara pasif. Justru seorang murid yang baik belajar dari pola. Jika jalur lahar pernah melewati suatu lembah, pengetahuan itu harus masuk ke perencanaan ruang. Jika abu berulang kali bergerak mengikuti pola angin tertentu pada musim tertentu, sekolah dan fasilitas kesehatan harus menyiapkan skenario. Jika masyarakat berulang kali kehilangan obat rutin ketika mengungsi, tas siaga kesehatan harus menjadi kebiasaan rumah tangga.

Dari Bugis, kita mengenal ungkapan “Resopa temmangingngi, namalomo naletei pammase Dewata”, yang secara makna menempatkan kerja keras dan ketekunan sebagai jalan yang berjalan bersama rahmat Tuhan. Dalam konteks bencana, ungkapan ini menawarkan keseimbangan penting: doa tidak meniadakan kerja, dan kerja tidak menghapus kesadaran bahwa manusia memiliki keterbatasan.

Spiritualitas tanpa fatalisme

Bencana hampir selalu memunculkan pertanyaan religius. Mengapa ini terjadi? Apakah ini hukuman? Apakah ini ujian? Pertanyaan semacam itu sangat manusiawi, tetapi ilmu kedokteran dan vulkanologi tidak memiliki instrumen untuk menentukan maksud ilahi di balik sebuah erupsi. Mengklaim dengan pasti bahwa korban bencana sedang dihukum Tuhan bukan hanya tidak dapat dibuktikan secara ilmiah, tetapi juga berpotensi melukai mereka yang sedang kehilangan keluarga dan rumah.

Dalam tradisi Islam, alam dapat dibaca sebagai ayat kauniyah, yakni tanda-tanda kebesaran Tuhan yang terbentang di semesta dan mengundang manusia untuk berpikir. Tasawuf memperkaya respons itu melalui tafakur, muhasabah, sabar, tawaduk, ikhtiar, tawakal, dan kepedulian kepada sesama. Spiritualitas semacam ini tidak melahirkan kepasrahan tanpa tindakan. Tawakal berjalan bersama ikhtiar.

Seseorang dapat berdoa sambil mengenakan pelindung pernapasan. Ia dapat berzikir sambil mengungsi ke luar zona bahaya yang ditetapkan otoritas. Masjid dan tempat ibadah lainnya dapat menjadi ruang doa sekaligus simpul informasi, pelayanan kemanusiaan, distribusi obat, dapur umum, dan dukungan psikososial. Doa dan data tidak harus dipertentangkan. Yang satu memberi orientasi makna dan keteguhan batin; yang lain membantu menentukan tindakan yang paling aman.

Tasawuf juga mengingatkan tentang tawaduk, yakni kerendahan hati. Peradaban modern mudah merasa telah menaklukkan alam karena memiliki satelit, kecerdasan buatan, pesawat jet modern, dan kota berbasis teknologi cerdas. Gunung api mengoreksi kesombongan itu. Teknologi dapat memperkirakan, memantau, dan mengurangi risiko, tetapi tidak menjadikan manusia penguasa mutlak proses geologi Bumi.

Dari ritual menuju ketangguhan

Indonesia membutuhkan model mitigasi yang tidak memaksa masyarakat memilih antara laboratorium dan kebudayaan, antara sensor dan surau, antara dokter dan tokoh adat. Yang dibutuhkan adalah integrasi yang cerdas. Ilmu menentukan batas aman, budaya membantu membangun kepatuhan sosial, agama menguatkan solidaritas, dan pemerintah memastikan sistem bekerja sebelum krisis datang.

Dalam praktiknya, daerah rawan gunung api dapat mengembangkan pendidikan kebencanaan yang menggunakan peta modern sekaligus cerita lokal. Sekolah dapat mengajarkan bagaimana abu memengaruhi paru, bagaimana arah angin menentukan sebaran, mengapa pelindung pernapasan harus dipakai dengan benar, sekaligus bagaimana leluhur membaca lanskap dan menamai wilayah. Pusat kesehatan masyarakat dapat memasukkan kelompok rentan dalam rencana kesiapsiagaan darurat. Pengelola tempat ibadah dapat dilatih agar tempat ibadah berfungsi sebagai simpul komunikasi risiko. Festival budaya dapat menjadi ruang edukasi kesiapsiagaan, bukan sekadar atraksi wisata.

Pendekatan semacam ini membantu mencegah konflik pengetahuan. Dalam banyak bencana, kegagalan komunikasi bukan terjadi karena masyarakat sama sekali tidak tahu, tetapi karena pesan ilmiah tidak masuk ke dalam bahasa kepercayaan mereka. Jika petugas hanya datang dengan grafik tanpa memahami struktur sosial desa, pesan dapat berhenti di balai pertemuan. Sebaliknya, jika kearifan lokal digunakan tanpa verifikasi risiko modern, masyarakat dapat merasa aman ketika sebenarnya berada di zona berbahaya.

Negara cincin api membutuhkan kecakapan berlapis: kemampuan pemantauan untuk membaca perubahan aktivitas gunung api, kecakapan kesehatan untuk melindungi tubuh, pengetahuan iklim untuk memahami atmosfer, kemampuan diplomasi untuk menjaga konektivitas regional, kesadaran sejarah untuk belajar dari Tambora dan Krakatau, kecakapan budaya untuk memahami masyarakat, serta kedalaman spiritual untuk merawat makna tanpa jatuh pada fatalisme.

Gunung api mengingatkan bahwa manusia hidup di atas Bumi yang dinamis, bukan panggung yang diam. Abu dapat turun di sebuah desa lalu memasuki saluran napas seseorang; sulfur dioksida dapat mencapai stratosfer, membentuk aerosol sulfat, lalu memengaruhi suhu dan sirkulasi atmosfer jauh dari sumber erupsi; sebuah letusan dapat mengubah jalur penerbangan; sebuah ritual dapat menjaga ingatan kolektif; sebuah peribahasa dapat menyimpan etika ekologis; dan sebuah doa dapat menguatkan orang yang kehilangan rumah.

Jika “alam takambang jadi guru”, maka tugas manusia bukan sekadar mengagumi atau takut kepada gunung, melainkan belajar menjadi murid yang lebih cerdas: membaca tanda dengan ilmu, menjaga tubuh dengan kedokteran, mengelola risiko melalui kebijakan, menghormati warisan budaya tanpa mencampuradukkan mitos dengan fakta, bekerja keras tanpa kehilangan doa, serta menyadari bahwa di hadapan Bumi yang terus bergerak, kerendahan hati adalah bagian dari keselamatan. (Dokter Dito Anurogo, M.Sc., Ph.D., alumnus PhD dari IPCTRM Taipei Medical University Taiwan, WWPO Peace Ambassador untuk Indonesia, Diploma in Project Management from International Business Management Institute Berlin Germany, dokter riset, dosen UNTS, peneliti IMI, penulis puluhan buku, kolumnis, reviewer jurnal internasional terindeks Scopus Q1, trainer berlisensi BNSP, komunikator sains, founder ILI, pelopor NiBTM.)

REHABILITASI INTENSIF: KUNCI MENGEMBALIKAN KEMANDIRIAN PENYINTAS STROKE ISKEMIK DI USIA PRODUKTIF
Artikel 11 Aug 2026

REHABILITASI INTENSIF: KUNCI MENGEMBALIKAN KEMANDIRIAN PENYINTAS STROKE ISKEMIK DI USIA PRODUKTIF

Oleh: Ns. Sri Puguh Kristiyawati, M.Kep, Sp.MB ( Dosen S-1 Keperawatan Universitas Telogorejo Semarang )



Stroke Tidak Lagi Identik dengan Lansia

Ketika mendengar kata stroke, sebagian besar orang mungkin langsung membayangkan penyakit yang hanya menyerang usia lanjut. Faktanya, stroke kini semakin banyak terjadi pada kelompok usia produktif, yaitu mereka yang berusia 15–64 tahun. Kondisi ini menjadi perhatian serius karena bukan hanya kesehatan yang terganggu, tetapi juga produktivitas kerja, kondisi ekonomi keluarga, hingga kualitas hidup penyintas. Di Indonesia, hampir 70% pasien stroke yang menjalani rehabilitasi berada pada usia produktif. Jika pemulihan tidak berlangsung optimal, dampaknya dapat berlangsung seumur hidup, mulai dari kesulitan berjalan, kelemahan anggota gerak, hingga kehilangan kemampuan bekerja.

Mengapa Stroke Menyebabkan Kelumpuhan?

Stroke iskemik terjadi ketika aliran darah menuju otak tersumbat oleh bekuan darah. Akibatnya, sel-sel otak kekurangan oksigen dan nutrisi sehingga mengalami kerusakan dalam waktu singkat. Bagian otak yang mengatur gerakan tubuh menjadi salah satu area yang paling sering terdampak. Tidak heran apabila banyak penyintas stroke mengalami: kelemahan pada tangan atau kaki, gangguan keseimbangan, sulit berjalan, kesulitan melakukan aktivitas sehari-hari seperti makan, berpakaian, atau mandi sendiri. Namun, kerusakan tersebut bukan berarti tidak dapat diperbaiki. Otak memiliki kemampuan luar biasa yang disebut neuroplastisitas, yaitu kemampuan membentuk kembali jaringan saraf untuk menggantikan fungsi yang hilang melalui latihan yang tepat dan berulang.

Apa Itu Rehabilitasi Intensif?

Rehabilitasi intensif merupakan program latihan yang dilakukan dengan: frekuensi terapi lebih sering, durasi latihan lebih lama, latihan yang berulang dan berorientasi pada aktivitas sehari-hari, dimulai sedini mungkin setelah kondisi pasien stabil. Berbeda dengan rehabilitasi standar, pendekatan ini memberikan rangsangan motorik yang lebih banyak sehingga otak memperoleh kesempatan lebih besar untuk membangun jalur saraf baru. Ibarat seseorang yang sedang belajar memainkan alat musik, semakin sering berlatih maka kemampuan akan semakin cepat berkembang. Prinsip yang sama berlaku pada proses pemulihan setelah stroke.

Semakin Cepat Dimulai, Semakin Besar Peluang Pulih

Salah satu pesan terpenting dari penelitian ini adalah pentingnya memulai rehabilitasi sedini mungkin. Masa dua minggu pertama setelah stroke sering disebut sebagai golden period atau periode emas rehabilitasi. Pada fase ini, kemampuan otak untuk beradaptasi dan memperbaiki fungsi masih berada pada tingkat tertinggi. Penelitian menunjukkan bahwa pasien yang mulai menjalani rehabilitasi dalam periode ini memperoleh: peningkatan kemampuan berjalan lebih cepat, fungsi tangan dan kaki yang lebih baik, peningkatan kemampuan melakukan aktivitas sehari-hari, peluang kembali mandiri yang lebih besar dibandingkan pasien yang terlambat memulai rehabilitasi.

Bukti Ilmiah Mendukung Rehabilitasi Intensif

Berbagai penelitian yang dianalisis dalam artikel menunjukkan hasil yang konsisten. Pasien yang mengikuti rehabilitasi intensif mengalami peningkatan fungsi motorik yang lebih tinggi dibandingkan rehabilitasi standar. Bahkan, pada minggu ke-4 maupun minggu ke-12 setelah terapi, skor kemampuan gerak mereka jauh lebih baik. Grafik yang ditampilkan dalam artikel memperlihatkan bahwa rehabilitasi intensif tidak hanya mempercepat pemulihan, tetapi juga mempertahankan peningkatan fungsi motorik dalam jangka pendek.

Tidak Semua Pasien Memiliki Kecepatan Pemulihan yang Sama

Keberhasilan rehabilitasi dipengaruhi oleh berbagai faktor. Pasien usia produktif umumnya memiliki peluang pemulihan yang lebih baik karena: kemampuan neuroplastisitas otak masih tinggi, kondisi fisik relatif lebih baik, penyakit penyerta lebih sedikit, motivasi untuk kembali bekerja lebih besar. Sebaliknya, pasien dengan stroke berat, diabetes yang tidak terkontrol, hipertensi, atau penyakit jantung memerlukan program rehabilitasi yang lebih individual karena proses pemulihannya cenderung lebih lambat.

Mengapa Latihan Harus Dilakukan Berulang?

Setiap gerakan yang dilakukan secara berulang akan mengirimkan sinyal ke otak untuk membangun kembali koneksi antarsel saraf. Semakin sering latihan dilakukan, semakin kuat jalur saraf baru yang terbentuk. Oleh karena itu, latihan seperti: berjalan, berdiri, menggerakkan tangan, menggenggam benda, naik turun tangga, tidak sekadar meningkatkan kekuatan otot, tetapi juga membantu "mengajarkan kembali" otak bagaimana mengendalikan tubuh.

Rehabilitasi Tidak Berakhir Saat Pulang dari Rumah Sakit

Salah satu temuan penting dalam artikel ini adalah bahwa manfaat rehabilitasi intensif dapat berkurang apabila latihan tidak dilanjutkan setelah pasien pulang. Karena itu, kesinambungan terapi menjadi sangat penting melalui: latihan mandiri di rumah, pendampingan keluarga, kontrol rutin, fisioterapi berkelanjutan, pemanfaatan tele-rehabilitasi atau konsultasi daring. Pendekatan berkelanjutan inilah yang membantu mempertahankan kemampuan yang telah dicapai selama perawatan di rumah sakit.

Peran Keluarga Sangat Menentukan

Kesuksesan rehabilitasi bukan hanya bergantung pada tenaga kesehatan, tetapi juga dukungan keluarga. Keluarga dapat membantu dengan cara: memberikan motivasi kepada pasien, mendampingi latihan setiap hari, memastikan jadwal terapi dipatuhi, menciptakan lingkungan rumah yang aman, memberikan dukungan emosional selama proses pemulihan.

Banyak penelitian menunjukkan bahwa pasien yang memperoleh dukungan keluarga memiliki kepatuhan terapi yang lebih baik dan hasil rehabilitasi yang lebih optimal.

Harapan Baru bagi Penyintas Stroke

Dahulu, banyak orang menganggap kelumpuhan akibat stroke sebagai kondisi permanen. Kini, ilmu pengetahuan menunjukkan bahwa dengan penanganan yang cepat, rehabilitasi yang intensif, dan latihan yang dilakukan secara konsisten, banyak penyintas stroke mampu kembali berjalan, bekerja, bahkan menjalani kehidupan yang produktif. Pesan utama dari penelitian ini sangat jelas: waktu adalah otak. Semakin cepat rehabilitasi dimulai dan semakin baik kualitas latihan yang diberikan, semakin besar peluang pasien untuk kembali mandiri dan meningkatkan kualitas hidupnya.

Pesan untuk Masyarakat

Stroke bukanlah akhir dari segalanya. Pemulihan yang optimal membutuhkan kolaborasi antara tenaga kesehatan, pasien, keluarga, dan sistem pelayanan kesehatan. Jangan menunda rehabilitasi setelah stroke. Manfaatkan periode emas pemulihan dengan mengikuti program rehabilitasi yang terstruktur, intensif, dan berkesinambungan. Dengan langkah yang tepat, penyintas stroke memiliki kesempatan besar untuk kembali menjalani kehidupan yang aktif, produktif, dan bermakna.

Referensi

Kristiyawati, S. P., Dharmani, I. G. A. A. N., Ruhdiat, R., Siregar, H. K., & Montolalu, I. A. (2025). Effectiveness of Intensive Rehabilitation on Motor Recovery After Ischemic Stroke in Productive Age Patients. Journal of the American Institute2(9), 1340-1349. https://doi.org/10.71364/zyayxg61

Wei, X., Sun, S., Zhang, M., & Zhao, Z. (2024). A systematic review and meta-analysis of clinical efficacy of early and late rehabilitation interventions for ischemic stroke. BMC neurology24(1), 91. https://doi.org/10.1186/s12883-024-03565-8

Wu, W. X., Zhou, C. Y., Wang, Z. W., Chen, G. Q., Chen, X. L., Jin, H. M., & He, D. R. (2020). Effect of Early and Intensive Rehabilitation after Ischemic Stroke on Functional Recovery of the Lower Limbs: A Pilot, Randomized Trial. Journal of stroke and cerebrovascular diseases : the official journal of National Stroke Association29(5), 104649. https://doi.org/10.1016/j.jstrokecerebrovasdis.2020.104649

DISFAGIA PADA PASIEN STROKE: GANGGUAN MENELAN YANG SERING TERJADI TETAPI SERING TERABAIKAN
Artikel 10 Jul 2026

DISFAGIA PADA PASIEN STROKE: GANGGUAN MENELAN YANG SERING TERJADI TETAPI SERING TERABAIKAN

Oleh: Ns. Sri Puguh Kristiyawati, M.Kep, Sp.MB ( Dekan Fakultas Ilmu Kesehatan dan Teknologi Universitas Telogorejo Semarang )

Stroke masih menjadi salah satu penyebab utama kecacatan dan kematian di dunia. Banyak masyarakat mengenal stroke sebagai penyakit yang menyebabkan kelemahan anggota gerak, gangguan bicara, atau kelumpuhan. Namun, tidak banyak yang mengetahui bahwa lebih dari separuh pasien stroke juga mengalami disfagia, yaitu gangguan menelan makanan atau minuman. Kondisi ini justru dapat menimbulkan komplikasi serius apabila tidak dikenali sejak dini.

Apa itu Disfagia?

Disfagia adalah gangguan pada proses menelan sehingga makanan, minuman, bahkan air liur sulit berpindah dari mulut menuju lambung. Gangguan ini dapat terjadi karena kerusakan saraf dan otot yang mengatur proses menelan, salah satunya akibat stroke. Pada pasien stroke, bagian otak yang mengendalikan koordinasi menelan mengalami kerusakan sehingga refleks menelan menjadi lambat atau tidak efektif. Akibatnya, makanan dapat masuk ke saluran napas (aspirasi) tanpa disadari oleh pasien.

Mengapa Disfagia Sering Terjadi Setelah Stroke?

Gangguan menelan merupakan salah satu komplikasi paling sering ditemukan pada fase akut stroke. Berbagai penelitian menunjukkan bahwa lebih dari 50% pasien stroke mengalami disfagia pada awal kejadian stroke, bahkan angka kejadiannya dapat mencapai 65–78% apabila dilakukan pemeriksaan menggunakan alat diagnostik yang lebih sensitif. Sebagian besar pasien memang akan mengalami perbaikan dalam waktu satu minggu, namun sekitar 11–15% masih mengalami disfagia hingga enam bulan setelah stroke.

Apa Bahayanya?

Disfagia bukan sekadar kesulitan makan. Kondisi ini dapat menyebabkan berbagai komplikasi serius, antara lain: aspirasi (makanan atau minuman masuk ke paru-paru), pneumonia aspirasi, malnutrisi, dehidrasi, penurunan kualitas hidup, peningkatan lama perawatan di rumah sakit, meningkatnya angka kematian. Beberapa pasien bahkan mengalami silent aspiration, yaitu makanan masuk ke paru-paru tanpa batuk sehingga kondisi ini sering tidak disadari oleh pasien maupun keluarga.

Gejala yang Perlu Diwaspadai

Keluarga perlu segera berkonsultasi dengan tenaga kesehatan apabila pasien stroke menunjukkan gejala berikut: sering batuk saat makan atau minum, suara berubah menjadi serak setelah makan, makanan tertinggal di dalam mulut, waktu makan menjadi sangat lama, tersedak berulang, keluar air liur terus-menerus, penurunan berat badan, demam berulang tanpa penyebab yang jelas.

Pentingnya Skrining Dini

Salah satu langkah paling penting adalah melakukan skrining disfagia sebelum pasien diperbolehkan makan atau minum. Pemeriksaan awal ini dapat dilakukan oleh tenaga kesehatan yang telah mendapatkan pelatihan, kemudian dilanjutkan dengan pemeriksaan lebih lengkap oleh terapis wicara apabila ditemukan gangguan menelan. Penelitian menunjukkan bahwa skrining disfagia oleh perawat mampu menurunkan angka infeksi paru dan meningkatkan keselamatan pasien stroke. Adanya pedoman penanganan disfagia di rumah sakit juga terbukti menurunkan angka kematian pasien.

Bagaimana Penanganannya?

Penanganan disfagia harus dilakukan secara multidisiplin, melibatkan dokter, perawat, ahli gizi, dan terapis wicara. Beberapa upaya yang dapat dilakukan meliputi: modifikasi tekstur makanan dan kekentalan cairan; latihan menelan sesuai kondisi pasien; pengaturan posisi duduk tegak saat makan; pemberian makan secara perlahan dalam porsi kecil; menjaga kebersihan mulut untuk mencegah pneumonia aspirasi; pemantauan status gizi dan kecukupan cairan; rehabilitasi menelan secara bertahap. Pada kasus tertentu, pasien mungkin memerlukan bantuan nutrisi melalui selang makan hingga kemampuan menelannya membaik.

Peran Keluarga Sangat Penting

Keberhasilan rehabilitasi disfagia tidak hanya bergantung pada tenaga kesehatan, tetapi juga pada dukungan keluarga. Keluarga perlu memahami cara memberikan makanan yang aman, memperhatikan posisi pasien saat makan, serta mengenali tanda-tanda aspirasi. Pendampingan yang baik akan membantu pasien memperoleh nutrisi yang cukup, mencegah komplikasi, dan mempercepat proses pemulihan setelah stroke.

Kesimpulan

Disfagia merupakan komplikasi yang sangat sering terjadi setelah stroke, namun masih sering tidak dikenali. Padahal, gangguan menelan dapat menyebabkan pneumonia, malnutrisi, dehidrasi, hingga meningkatkan risiko kematian. Oleh karena itu, setiap pasien stroke sebaiknya menjalani skrining disfagia sedini mungkin. Penanganan yang tepat melalui kerja sama dokter, perawat, terapis wicara, ahli gizi, pasien, dan keluarga dapat meningkatkan keselamatan, kualitas hidup, serta keberhasilan rehabilitasi pasien stroke.

Referensi

All-Wales Special Interest Group in Special Care Dentistry. Dysphagia and Oral Health: A Clinical Guideline. 2025. https://www.sigwales.org/wp-content/uploads/Dysphagia-and-Oral-Health.-A-Clinical-Guideline-from-the-All-Wales-Special-Interst-Group-2025.final_.pdf

American Speech-Language-Hearing Association (ASHA). Adult Dysphagia Practice Portal. 2024. https://www.asha.org/practice-portal/clinical-topics/adult-dysphagia/?srsltid=AfmBOooZlzPvoO9TSrpBRaNUU64s5-tNJDsubrilHwb3TlqMeLx1c32k

Fang WJ, Zheng F, Zhang LZ, Wang WH, Yu CC, Shao J, Wu YJ. Research progress of clinical intervention and nursing for patients with post-stroke dysphagia. Neurol Sci. 2022 Oct;43(10):5875-5884. doi: 10.1007/s10072-022-06191-9. Epub 2022 Jun 4. PMID: 35661279; PMCID: PMC9166186.

Hines S, Kynoch K, Munday J. Nursing Interventions for Identifying and Managing Acute Dysphagia are Effective for Improving Patient Outcomes: A Systematic Review Update. J Neurosci Nurs. 2016 Jul-Aug;48(4):215-23. doi: 10.1097/JNN.0000000000000200. PMID: 27224683.

Palmer JL, Metheny NA. Preventing aspiration in older adults with dysphagia. Am J Nurs. 2008 Feb;108(2):40-8; quiz 49. doi: 10.1097/01.NAJ.0000308961.99857.33. PMID: 18227668.

Vose A, Nonnenmacher J, Singer ML, González-Fernández M. Dysphagia Management in Acute and Sub-acute Stroke. Curr Phys Med Rehabil Rep. 2014 Dec 1;2(4):197-206. doi: 10.1007/s40141-014-0061-2. PMID: 26484001; PMCID: PMC4608439.

Tips Menjaga Kesehatan Ibu Hamil dan Janin Dalam Kandungan
ArtikelNews 28 Apr 2026

Tips Menjaga Kesehatan Ibu Hamil dan Janin Dalam Kandungan

Menjaga kesehatan ibu hamil dan janin dalam kandungan merupakan hal yang sangat penting untuk memastikan kehamilan berjalan dengan baik serta menghasilkan bayi yang sehat. Salah satu upaya utama yang perlu dilakukan adalah memenuhi kebutuhan nutrisi secara seimbang. Ibu hamil dianjurkan mengonsumsi makanan yang mengandung protein, zat besi, asam folat, dan kalsium. Nutrisi tersebut berperan penting dalam mendukung pertumbuhan dan perkembangan janin serta mencegah terjadinya anemia pada ibu.

Selain itu, kecukupan cairan juga tidak boleh diabaikan. Ibu hamil perlu mengonsumsi air putih yang cukup setiap hari untuk menjaga keseimbangan cairan tubuh, membantu sirkulasi darah, serta mendukung pembentukan cairan ketuban. Aktivitas fisik ringan seperti berjalan kaki, senam hamil, atau yoga juga sangat dianjurkan karena dapat membantu menjaga kebugaran tubuh, meningkatkan sirkulasi darah, dan mempersiapkan tubuh menghadapi proses persalinan.

Pemeriksaan kehamilan secara rutin atau antenatal care (ANC) menjadi langkah penting dalam memantau kondisi kesehatan ibu dan janin. Melalui pemeriksaan ini, tenaga kesehatan dapat mendeteksi secara dini kemungkinan adanya komplikasi serta memberikan edukasi yang tepat kepada ibu hamil. Selain itu, istirahat yang cukup juga sangat diperlukan untuk menjaga stamina dan kesehatan ibu, sekaligus mendukung perkembangan janin yang optimal.

9 Tips Menjaga Kesehatan Ibu Hamil dan Janin Dalam Kandungan :

  1. Makan makanan bergizi


      Kondisi kesehatan selama kehamilan sangat bergantung pada pola hidup sehat yang diterapkan ibu hamil. Isilah piring makan Anda dengan variasi makanan sehat yang bergizi tinggi untuk mendukung kesehatan diri sendiri juga janin dalam kandungan. Bagi ibu, makan makanan bergizi dapat membantu menambah stamina, menghindari risiko komplikasi kehamilan, mengontrol berat badan saat hamil tetap sehat. Dengan menerapkan pola makan yang sehat, kesehatan ibu hamil akan jauh lebih baik.

     Selain itu, ibu hamil yang menerapkan pola makan sehat juga cenderung terhindar dari depresi saat hamil. Pasalnya, makanan bergizi membantu menstabilkan mood ibu sepanjang kehamilan. Makan makanan bernutrisi sejak kehamilan muda juga bantu mempersiapkan kesehatan ibu hamil secara maksimal menjelang persalinan.

     Asupan gizi yang bervariasi tapi tetap seimbang juga mendukung kelancaran proses tumbuh kembang bayi dan kesehatan ibu hamil. Tidak lupa, asupan makanan bergizi dapat membantu menjaga berat janin tetap sehat serta mencegah risiko bayi mengalami cacat lahir.

Makanan bernutrisi yang wajib dikonsumsi agar kesehatan ibu hamil tetap terjaga adalah:

  • Makanan berprotein, seperti telur yang dimasak matang, dada ayam, dan gandum utuh (roti gandum dan beras merah).
  • Makanan yang mengandung vitamin C, seperti buah jeruk, jambu biji dan stroberi.
  • Makanan dan minuman mengandung kalsium, seperti susu yang dipasteurisasi dan sayuran berwarna hijau.
  • Makanan kaya zat besi, seperti brokoli dan kacang-kacangan.
  • Makanan yang mengandung lemak sehat, misalnya ikan salmon (dimasak matang) dan buah alpukat.
  • Makanan yang mengandung asam folat, seperti kuning telur dan bayam.


       Sementara itu, agar kesehatan ibu hamil tetap terjaga, hindari makan daging setengah matang, jeroan hewan, dan makanan cepat saji yang tinggi lemak trans selama ibu hamil menjalani pola hidup sehat. Hindari juga makan ikan yang mengandung tinggi merkuri selama hamil, seperti ikan tuna, ikan makarel, dan ikan pedang agar kesehatan ibu hamil tetap terjaga.

  • Minum vitamin prenatal


      Minum vitamin prenatal dianjurkan untuk menjaga kesehatan ibu hamil sebagai salah satu usaha dalam menjalani pola hidup sehat. Asupan nutrisi untuk ibu hamil sebetulnya banyak tercukupi dari makanan sehari-hari. Namun, vitamin dapat membantu memenuhi sekaligus memberikan nutrisi tambahan yang dibutuhkan janin dalam kandungan.

     Vitamin hamil pada umumnya mengandung asam folat dari vitamin B. Asam folat berperan penting dalam perkembangan otak dan sumsum tulang belakang bayi. Asam folat juga bermanfaat untuk mencegah risiko bayi lahir cacat dan menjaga kesehatan ibu hamil. 

    Vitamin ini baiknya wajib diminum mulai sejak sebelum hamil. Konsultasikan dengan dokter tentang vitamin prenatal apa yang Anda benar-benar butuhkan. Jika minum vitamin hamil bikin ibu mual, coba minum di waktu malam hari atau kunyah permen karet ketika mulai merasa mual.

  • Olahraga rutin


      Hamil bukan menjadi alasan untuk tidak berolahraga. Olahraga masih menjadi bagian penting dari pola hidup sehat ibu hamil untuk menjaga kesehatan selama kehamilan. Olahraga membantu melancarkan sirkulasi darah serta oksigen dalam tubuh, memperkuat otot, dan mengurangi stres saat hamil. Olahraga juga mendukung kecerdasan bayi sejak dalam kandungan.

      Usahakan menyempatkan waktu 30 menit setiap hari untuk berolahraga demi kebaikan kesehatan ibu hamil. Ada banyak pilihan olahraga yang aman untuk ibu hamil. Namun, Anda tidak perlu berolahraga yang berat. Kegiatan fisik ringan seperti jalan santai, renang, atau bahkan yoga, umumnya aman dilakukan sepanjang usia kehamilan.

  • Berhenti merokok dan minum alcohol


      Demi menjaga kesehatan ibu hamil dan kandungannya selama 9 bulan ke depan, hindari merokok dan minum minuman beralkohol. Merokok dan/atau minum alkohol saat hamil dapat meningkatkan risiko keguguran. Dua kebiasaan buruk ini juga dapat meningkatkan risiko bayi lahir prematur, lahir mati, lahir cacat, atau lahir dengan berat badan rendah. Maka, pastikan menjalani pola hidup sehat ibu hamil yang bebas rokok dan alkohol.

  • Menjaga berat badan tetap ideal


      Setiap wanita yang sedang mengandung dianjurkan untuk makan makanan bergizi demi kesehatan ibu saat hamil. Selain untuk menjaga kesehatan, makan teratur juga bertujuan untuk menambah berat badan ibu hamil agar ideal.

      Ibu yang punya berat badan normal sebelum hamil disarankan untuk menaikkan berat badan hingga 11,5-16 kg selama hamil. Sementara jika Anda bertubuh sangat kurus sejak sebelum hamil, berat badan harus ditambah 13-18 kg selama hamil. Kenaikan berat badan sangat berpengaruh pada kesehatan ibu hamil dan bayi. Menurut Kementerian Kesehatan Indonesia, pertambahan berat badan menunjukkan kebaikan status gizi ibu hamil dan perkembangan janin di dalam kandungan. Idealnya, Anda disarankan untuk menambah 300 kalori per hari guna menambah berat badan dan menjaga kesehatan ibu hamil.

      Namun, bukan berarti ibu hamil bisa makan sebanyak-banyaknya. Frekuensi waktu makan, porsi, dan jenis makanannya harus benar-benar diperhatikan agar tidak sampai kelebihan berat badan dan mengganggu kesehatan ibu hamil.

      Kelebihan berat badan saat hamil dapat mengacaukan pola hidup sehat Ibu yang telah dijalankan. Maka, sebaiknya konsultasi ke dokter kandungan untuk mendapatkan rekomendasi bagaimana cara menjaga berat badan ideal saat hamil. Dokter dapat membantu menyusun rencana pola makan sehat yang benar sekaligus mencegah Anda dari komplikasi seperti diabetes gestasional.

  • Cukup minum air putih


       Untuk menjaga kesehatan ibu hamil, dianjurkan cukup minum air putih cukup setiap hari. Asupan cairan yang mencukupi bantu melancarkan aliran darah dari jantung ke seluruh tubuh, termasuk ke dalam rahim untuk diterima janin. Selain itu, menjaga pola hidup sehat ibu hamil dengan rajin minum air putih juga bisa meningkatkan sistem imun kesehatan.

       Tak hanya itu, kebiasan ini juga bantu mencegah berbagai macam masalah kesehatan pada ibu hamil. Adapun berbagai masalah yang bisa dicegah yaitu, dehidrasi, kelelahan, anemia, sembelit, wasir, dan infeksi saluran kencing.

        Usahakan minum air 8 sampai 10 gelas sehari. Agar tidak bosan minum air putih yang terasa hambar, coba tambahkan potongan lemon, stroberi, atau jeruk nipis untuk menambah kesegarannya.

  • Rajin cuci tangan


      Mencuci tangan pakai sabun adalah kebiasaan yang wajib dimasukkan ibu hamil saat menerapkan pola hidup sehat untuk menjaga kesehatan tubuhnya. Selalu cuci tangan setelah dari toilet, sebelum dan sesudah makan, sebelum dan setelah masak, serta sesudah memegang barang atau fasilitas umum.

      Rajin cuci tangan dapat membantu membunuh kuman dan bakteri penyebab penyakit yang rawan menyerang selama kehamilan. Berbagai bakteri yang rentang menyerang yaitu, streptokokus Grup B, cytomegalovirus, hingga toksoplasmosis.

      Infeksi serius tertentu yang dialami ibu saat hamil dapat meningkatkan risiko komplikasi serta risiko bayi lahir cacat. Hal ini tentu dapat mengganggu kesehatan tak hanya pada ibu hamil tetapi juga janin. Jika tidak ada sumber air bersih, Anda bisa siap sedia menggunakan gel cuci tangan (hand sanitizer) yang mengandung etil alkohol agar kesehatan ibu hamil tetap terjaga.

  • Tidur cukup


       Salah satu bagian penting dari pola hidup sehat ibu hamil yang sering terlupakan adalah cukup tidur. Sayangnya selama hamil, Anda akan lebih mudah ngantuk di siang hari dan sulit tidur di malam hari akibat perubahan hormon.

      Masalah ini kemudian membuat Anda jadi kurang tidur akibat jadwal tidur yang tidak menentu. Parahnya lagi, kurang tidur selama kehamilan dikaitkan dengan komplikasi seperti preeklampsia dan berisiko lahir caesar. Solusinya, segera tidurlah begitu Anda merasa capek atau ngantuk. Sering-seringlah tidur siang untuk mencukupi waktu tidur Anda.

      Ibu hamil sebenarnya malah dianjurkan untuk tidur malam lebih lama dari biasanya selama trimester pertama kehamilan. Banyak tidur juga dianjurkan untuk membantu proses persalinan lebih lancar dan membuat kesehatan ibu hamil terjaga dengan baik. Menurut American Pregnancy Association, ada beberapa hal yang bisa dilakukan agar ibu hamil tidur cukup sehingga kesehatan tubuhnya tetap terjaga:

  • Mencoba posisi tidur baru.
  • Sebelum tidur, coba mandi air hangat dan minta pasangan memijat tubuh Anda yang pegal-pegal.
  • Atur suhu ruangan dan cahaya di kamar senyaman mungkin
  • Cobalah teknik relaksasi, seperti yang mungkin telah Anda pelajari di kelas persalinan.
  • Apabila masih sulit tidur, coba untuk membaca buku, makan makanan kecil seperti buah, atau minum susu hangat
  • Berolahraga secara teratur di siang hari juga dapat membuat tidur malam jadi tidak sulit
  • Sempatkan tidur siang sebentar sekitar 15 menit per hari. Tidur siang terlalu lama malah bisa bikin ibu hamil jadi sulit tidur di malam hari.
  • Hindari stres berlebih


      Alasan kenapa tidur sangat penting dalam menjaga kesehatan ibu hamil karena salah satu manfaat pentingnya yaitu meredakan stres. Stres berat yang mengganggu pikiran dan batin ibu hamil dapat memengaruhi perkembangan bayi di dalam kandungan.

       Untuk itu, coba cari tahu dulu apa yang menyebabkan Anda stres. Curahkan uneg-uneg Anda pada orang terdekat atau pasangan agar semua beban pikiran dapat berkurang.  Setelahnya, Anda bisa mencoba teknik pernapasan dalam atau meditasi untuk menghilangkan stres. Yoga saat hamil juga sama baiknya untuk membunuh rasa penat dalam jiwa, lho!

       Sempatkanlah waktu untuk melakukan hal yang Anda suka dan baik untuk kesehatan agar Ibu tidak stres selama hamil. Menonton TV, mendengarkan musik, jalan-jalan bersama pasangan atau teman, hingga merajut bisa jadi pilihan kegiatan untuk mengatasi stres yang mengganggu.

      Jika stres Anda tidak tertahankan, carilah terapis atau psikolog untuk membantu Anda mencari akar masalah dan menyelesaikannya. Jika Anda merasa kesulitan menerapkan pola hidup sehat yang telah disebutkan, mintalah dukungan dari pasangan agar semuanya terasa lebih ringan untuk dijalani.

Kesimpulannya, menjaga kesehatan ibu hamil dan janin dalam kandungan memerlukan perhatian yang menyeluruh, baik dari aspek fisik maupun mental. Pemenuhan nutrisi seimbang, kecukupan cairan, aktivitas fisik yang sesuai, serta istirahat yang cukup merupakan faktor penting dalam mendukung kehamilan yang sehat. Selain itu, pemeriksaan kehamilan secara rutin, konsumsi suplemen sesuai anjuran, serta menghindari zat berbahaya menjadi langkah preventif untuk mencegah komplikasi.

Di sisi lain, kesehatan psikologis ibu dan kemampuan mengenali tanda bahaya kehamilan juga berperan penting dalam menjaga keselamatan ibu dan janin. Dengan menerapkan pola hidup sehat dan melakukan pemantauan secara teratur, diharapkan ibu hamil dapat menjalani kehamilan dengan optimal serta melahirkan bayi yang sehat dan berkualitas.

Anda tertarik lebih jauh mengenai pengetahuan di atas? Cukup satu langkah, klik pmb.universitastelogorejo.ac.id, daftarkan diri anda di jurusan Kebidanan Universitas Telogorejo Semarang, disana akan diajarkan ilmu kebidanan secara lengkap disertai praktik laboratorium dan praktik klinik yang detail, sehingga nantinya dapat mengembangkan jenis-jenis jasa yang berkaitan dengan kebidanan, dengan begitu masyarakat dengan mudah terfasilitasi dengan baik.

 Universitas Telogorejo Semarang berkomitmen mendidik mahasiswa nya untuk menjadi tenaga kesehatan yang profesional dan berkarakter, sehingga dapat bersaing dan menyesuaikan diri dengan perkembangan yang terjadi di masyarakat.

Ditunjang dengan gedung megah yang terletak di jalan Arteri Yos Sudarso/ Puri Anjasmoro dan peralatan laboratorium yang lengkap, dosen yang berkualitas serta kurikulum pendidikan terkini, menjadikan bidan-bidan lulusan  Universitas Telogorejo Semarang dapat mudah bersaing menjadi enterpreneur yang handal dan berkembang.

Tips GIZI SEimbang PADA IBU HAMIL

Tips GIZI SEimbang PADA IBU HAMIL

Disusun Oleh : Sri Lestari ( Dosen S1 Kebidanan Unibersitas Telogorejo Semarang )

Kehamilan merupakan suatu proses faali yang menjadi awal kehidupan generasi berikut. Pencegahan masalah gizi pada ibu hamil merupakan hal penting dilaksanakan mulai dari menjaga kesehatan dan status gizinya saat sebelum dan selama kehamilan, dilanjutkan dengan setelah melahirkan dan masa menyusui. Salah satu kebutuhan esensial untuk proses reproduksi sehat adalah terpenuhinya kebutuhan energi, protein, karbohidrat, vitamin, mineral dan cairan (termasuk air) serta serat yang cukup baik kuantitas maupun kualitas.

Standar kebutuhan zat gizi berdasarkan angka kecukupan gizi yang dianjurkan bagi masyarakat Indonesia pada kelompok perempuan usia 19-49 tahun berkisar 2150 - 2250 kkal dan protein 60 gram per hari. Pada ibu hamil normal diperlukan tambahan energi sebesar 180 – 300 kkal dan protein mencapai 30 gram per hari. Untuk memperoleh penambahan berat badan sebesar 0.5 kg/minggu, termasuk untuk ibu hamil KEK, dibutuhkan tambahan asupan energi sebesar 500 kkal/hari dari asupan energi hariannya, dimana kurang dari 25% kandungan energi dalam makanan tambahan berasal dari protein.

Pemenuhan gizi seimbang pada ibu hamil merupakan faktor penting dalam menunjang kesehatan ibu serta pertumbuhan dan perkembangan janin secara optimal. Selama masa kehamilan, kebutuhan nutrisi meningkat karena tubuh tidak hanya memenuhi kebutuhan ibu, tetapi juga janin yang sedang berkembang. Oleh karena itu, ibu hamil perlu mengonsumsi makanan yang beragam, bergizi, dan seimbang setiap hari.

Asupan karbohidrat sebagai sumber energi utama tetap diperlukan, seperti nasi, roti, atau umbi-umbian. Selain itu, protein memiliki peran penting dalam pembentukan jaringan tubuh janin dan plasenta, sehingga ibu hamil dianjurkan mengonsumsi sumber protein baik hewani seperti ikan, telur, dan daging, maupun nabati seperti tahu dan tempe. Lemak sehat juga dibutuhkan untuk perkembangan otak janin, yang dapat diperoleh dari alpukat, kacang-kacangan, dan ikan berlemak.

Mikronutrien tidak kalah penting dalam kehamilan. Asam folat berperan dalam mencegah cacat tabung saraf pada janin, sehingga sangat dianjurkan dikonsumsi sejak awal kehamilan melalui sayuran hijau dan suplemen. Zat besi dibutuhkan untuk mencegah anemia dan mendukung peningkatan volume darah ibu, sedangkan kalsium penting untuk pembentukan tulang dan gigi janin. Vitamin dan mineral lain seperti vitamin C, vitamin D, dan zinc juga mendukung daya tahan tubuh ibu serta perkembangan janin.

Selain memperhatikan jenis makanan, pola makan juga perlu diatur. Ibu hamil dianjurkan makan dalam porsi kecil tetapi sering untuk mengurangi keluhan seperti mual dan menjaga kestabilan energi. Kebersihan makanan harus dijaga dengan menghindari makanan mentah atau setengah matang guna mencegah infeksi. Konsumsi air putih yang cukup juga sangat penting untuk menjaga keseimbangan cairan tubuh.

Dengan menerapkan pola gizi seimbang yang mencakup variasi makanan, kecukupan zat gizi makro dan mikro, serta pola makan yang teratur, ibu hamil dapat menjaga kesehatannya sekaligus mendukung pertumbuhan dan perkembangan janin secara optimal hingga masa persalinan.

Panduan Gizi Seimbang Ibu Hamil

  1. Melakukan pemeriksaan kehamilan/ANC rutin
  2. Selama hamil makan 3 kali makanan utama ditambah dengan 1-2 kali makanan selingan dalam sehari sesuai dengan anjuran porsi makan ibu hamil
  3. Konsumsi Tablet Tambah Darah (TTD) atau suplementasi zat gizi mikro lainnya selama masa hamil
  4. Cukup konsumsi air putih
  5. Mengonsumsi garam beriodium
  6. Pada kondisi tertentu seperti mual pada trimester pertama dan mudah kenyang pada trimester akhir, maka konsumsi makanan dalam porsi kecil tapi sering. Buah dan sayur harus masuk dalam menu sehari-hari ibu.
  7. Mengonsumsi makanan tambahan
  8. Membatasi konsumsi kopi atau minuman berkafein lainnya
  9. Membatasi konsumsi makanan yang mengandung tinggi gula, garam, dan lemak
  10. Menghindari konsumsi makanan yang merangsang pencernaan
  11. Rutin memantau pertambahan berat badan
  12. Cukup istirahat
  13. Disiplin dalam penerapan hidup bersih dan sehat

 Beragam Tips Diet Ibu Hamil yang Dianjurkan

Selama ibu hamil mengonsumsi makanan dan minuman yang bergizi seimbang secukupnya, maka kenaikan berat badan tidak perlu dikhawatirkan. Bahkan, ibu hamil dianjurkan makan 3 kali sehari dengan 3 kali konsumsi camilan sehat secara teratur untuk memastikan kebutuhan gizi Bumil dan janin terpenuhi.

Namun, Bumil tidak boleh asal makan. Nutrisi dan kebutuhan kalori harian harus dipenuhi. Baru kemudian Bumil dapat menyesuaikannya dengan menu makanan Bumil sehari-hari. Pastikan diet atau pola makan yang Bumil jalani tetap mengandung nutrisi yang Bumil butuhkan.

Berikut adalah asupan nutrisi yang perlu diperhatikan dalam diet ibu hamil:

Asam folat

Asupan asam folat yang cukup sangat penting untuk tumbuh kembang janin. Asam folat juga dapat menurunkan risiko janin mengalami bibir sumbing dan cacat tabung saraf, seperti spina bifida. Sajian diet ibu hamil yang kaya asam folat antara lain adalah telur, bayam, brokoli, pisang, dan susu.

Zat besi

Tidak hanya asam folat, makanan yang mengandung zat besi juga penting bagi ibu hamil. Hal ini karena kebutuhan zat besi selama kehamilan akan meningkat, seiring dengan pertambahan volume darah untuk menyalurkan nutrisi dan oksigen ke janin.

Bumil bisa mengonsumsi bayam, daging ayam, daging sapi, dan kacang-kacangan untuk mencukupi asupan zat besi. Jangan lupa pula untuk memastikan asupan vitamin C terpenuhi, guna memaksimalkan penyerapan zat besi.

Yodium

Yodium merupakan mineral yang berperan penting dalam mendukung pertumbuhan dan perkembangan janin. Kurangnya asupan yodium dapat meningkatkan risiko janin mengalami gangguan perkembangan mental dan hipotiroidisme kongenital. Contoh makanan yang kaya akan yodium adalah daging sapi, telur, susu, rumput laut, dan garam.

Selain tiga nutrisi penting di atas, Bumil juga perlu mengonsumsi makanan lainnya yang kaya akan protein, vitamin, dan mineral. Bila perlu, dokter kandungan dapat merekomendasikan suplemen kehamilan untuk mendukung kesehatan Bumil dan janin.

Diet ibu hamil bukan hanya berarti menurunkan berat badan, tetapi memperbaiki asupan nutrisi demi memastikan kehamilan berlangsung dengan sehat. Timbang berat badan dan IMT sebelum hamil, agar Bumil dapat mengetahui berapa pertambahan berat badan yang disarankan selama kehamilan.

Jika Bumil memiliki kondisi medis tertentu, termasuk tekanan darah tinggi atau diabetes, sebaiknya konsultasikan dengan dokter untuk memastikan cara diet ibu hamil yang sesuai. Pemeriksaan kehamilan rutin sesuai dengan jadwal yang telah ditetapkan oleh dokter juga penting untuk memantau tumbuh kembang janin dan memastikan kehamilan berjalan dengan lancar serta sehat.

Kesimpulannya, pemenuhan gizi seimbang pada ibu hamil sangat penting untuk menjaga kesehatan ibu dan mendukung pertumbuhan serta perkembangan janin secara optimal. Asupan zat gizi makro seperti karbohidrat, protein, dan lemak, serta zat gizi mikro seperti asam folat, zat besi, dan kalsium harus terpenuhi melalui pola makan yang beragam dan bergizi. Selain itu, pengaturan pola makan, menjaga kebersihan makanan, serta mencukupi kebutuhan cairan juga menjadi bagian penting dalam menjaga kondisi kehamilan.

Dengan menerapkan gizi seimbang secara konsisten, ibu hamil dapat mencegah berbagai risiko komplikasi serta meningkatkan peluang melahirkan bayi yang sehat dan berkualitas.

Anda tertarik lebih jauh mengenai pengetahuan di atas? Cukup satu langkah, klik pmb.universitastelogorejo.ac.id, daftarkan diri anda di jurusan Kebidanan Universitas Telogorejo Semarang, disana akan diajarkan ilmu kebidanan secara lengkap disertai praktik laboratorium dan praktik klinik yang detail, sehingga nantinya dapat mengembangkan jenis-jenis jasa yang berkaitan dengan kebidanan, dengan begitu masyarakat dengan mudah terfasilitasi dengan baik.

 Universitas Telogorejo Semarang berkomitmen mendidik mahasiswa nya untuk menjadi tenaga kesehatan yang profesional dan berkarakter, sehingga dapat bersaing dan menyesuaikan diri dengan perkembangan yang terjadi di masyarakat.

Ditunjang dengan gedung megah yang terletak di jalan Arteri Yos Sudarso/ Puri Anjasmoro dan peralatan laboratorium yang lengkap, dosen yang berkualitas serta kurikulum pendidikan terkini, menjadikan bidan-bidan lulusan  Universitas Telogorejo Semarang dapat mudah bersaing menjadi enterpreneur yang handal dan berkembang.

Tips CEGAH BABY BLUES PASCA PERSALINAN
ArtikelNews 07 Apr 2026

Tips CEGAH BABY BLUES PASCA PERSALINAN

Disusun Oleh : dr. Edi Wibowo , SpOG ( Dosen S1 Kebidanan Unibersitas Telogorejo Semarang )

Baby blues merupakan kondisi perubahan suasana hati yang sering dialami ibu setelah melahirkan, ditandai dengan perasaan sedih, cemas, mudah menangis, dan kelelahan. Kondisi ini umumnya terjadi akibat perubahan hormon, kelelahan fisik, serta adaptasi terhadap peran baru sebagai seorang ibu. Oleh karena itu, pencegahan baby blues sangat penting dilakukan sejak masa kehamilan hingga setelah persalinan.

Salah satu cara utama untuk mencegah baby blues adalah dengan menjaga kondisi fisik ibu tetap baik. Ibu perlu mendapatkan istirahat yang cukup, meskipun hal ini sering menjadi tantangan setelah melahirkan. Mengatur waktu tidur saat bayi tidur dapat membantu mengurangi kelelahan. Selain itu, pemenuhan nutrisi yang seimbang juga sangat penting untuk menjaga energi dan kestabilan emosi ibu.

Dukungan dari suami, keluarga, dan lingkungan sekitar memiliki peran yang sangat besar dalam mencegah baby blues. Ibu membutuhkan bantuan dalam merawat bayi maupun dalam pekerjaan rumah tangga agar tidak merasa terbebani. Komunikasi yang baik dengan pasangan juga dapat membantu ibu mengekspresikan perasaan dan mengurangi tekanan emosional.

Selain itu, ibu dianjurkan untuk tidak memendam perasaan. Berbagi cerita dengan orang terdekat atau tenaga kesehatan dapat membantu mengurangi stres dan kecemasan. Melakukan aktivitas ringan yang menyenangkan, seperti berjalan santai atau melakukan hobi, juga dapat membantu meningkatkan suasana hati.

Penting juga bagi ibu untuk memahami bahwa perasaan tidak nyaman setelah melahirkan adalah hal yang wajar dan bersifat sementara. Namun, jika perasaan sedih berlangsung lama, semakin berat, atau mengganggu aktivitas sehari-hari, ibu perlu segera berkonsultasi dengan tenaga kesehatan untuk mendapatkan penanganan yang tepat.

Dengan dukungan yang optimal, pemenuhan kebutuhan fisik dan emosional, serta kesiapan mental dalam menghadapi peran baru, risiko terjadinya baby blues dapat diminimalkan sehingga ibu dapat menjalani masa nifas dengan lebih sehat dan bahagia.

Ragam Penyebab Baby Blues

Meski penyebab baby blues belum diketahui secara pasti, kondisi ini diduga berkaitan dengan dampak dari perubahan fisik dan emosional setelah melahirkan. Nah, beberapa riset sejauh ini juga menemukan bahwa ada beberapa faktor yang mungkin bisa menyebabkan seorang ibu lebih berisiko mengalami baby blues, yaitu: 

1. Perubahan hormon 

Setelah melahirkan, tubuh akan mengalami perubahan kadar hormon yang cukup drastis, termasuk penurunan hormon estrogen dan progesteron. Hal ini dapat memicu terjadinya perubahan suasana hati atau mood swing serta perasaan lelah dan tertekan, sehingga menyebabkan baby blues. 

Biasanya, hormon akan kembali normal dalam waktu beberapa minggu setelah melahirkan. Hal ini kemudian akan membuat mood ibu menjadi lebih stabil setelahnya.

2. Sulit beradaptasi

Sulit beradaptasi dengan perubahan yang ada dan tanggung jawab baru sebagai ibu juga bisa menjadi salah satu penyebab baby blues. Banyak ibu baru yang merasa kewalahan untuk mengurus segalanya sendiri, termasuk mengurus kebutuhan buah hati.

3. Kurang tidur

Siklus tidur bayi baru lahir yang belum teratur menyebabkan ibu harus terjaga sepanjang malam dan akhirnya menyita banyak waktu tidurnya. Terus-menerus kurang tidur akan membuat ibu kelelahan yang bisa memicu munculnya gejala baby blues, seperti perasaan sedih dan mudah tersinggung.

4. Riwayat gangguan kesehatan mental

Penyebab baby blues lainnya adalah riwayat gangguan kesehatan mental. Ibu yang memiliki riwayat gangguan kesehatan mental, seperti depresi, bipolar, atau gangguan kecemasan, lebih berisiko mengalami baby blues setelah melahirkan. 

Menurut Kementerian Kesehatan RI (Kemenkes), para ibu dapat melakukan beberapa langkah berikut untuk membantu mencegah baby blues:

Persiapkan sebelum melahirkan.


Salah satu persiapan yang paling penting adalah finansial. Persiapan yang matang sebelum melahirkan dapat mengurangi tekanan finansial yang mungkin terjadi pasca kelahiran bayi. Selain keuangan, persiapkan juga kesehatan fisik dan mental. Melalui perencanaan yang matang, para ibu dapat fokus pada kesejahteraan dirinya dan anak-anaknya tanpa menimbulkan beban yang tidak semestinya.

Komunikasi dan pembagian tugas


Melalui komunikasi yang terbuka, suami dapat memberikan dukungan emosional yang penting kepada ibu pasca melahirkan. Bersedia mendengarkan dapat membantu mengurangi stres pemicu baby blues.

Istirahat yang cukup


Ibu membutuhkan banyak waktu luang untuk memperlancar proses pemulihan pasca melahirkan. Cara ini dapat memulihkan tenaga, mengurangi rasa lelah dan mempercepat proses penyembuhan. Istirahat yang cukup juga dapat membantu menjaga keseimbangan hormonal. Dengan menjaga kestabilan hormonal, cara ini bisa mengurangi kemungkinan terjadinya perubahan suasana hati yang memicu baby blues.

Makanlah makanan yang bergizi


Cara berikutnya adalah dengan mengonsumsi makanan bergizi, sehat dan seimbang. Ibu bisa mengonsumsi makanan kaya protein, seperti susu, keju, daging, ikan, yogurt, dan kacang-kacangan. Makanan kaya protein dapat mempercepat proses pemulihan dan menjaga bentuk tubuh. Protein juga dapat menunjang keseimbangan hormonal dan memberikan energi yang cukup bagi ibu menyusui.

Minta bantuan ahlinya, Jika langkah di atas tidak dapat mencegah timbulnya gejala postpartum blues pada ibu menyusui, konsultasikan dengan psikolog atau psikiater untuk mencari cara terbaik untuk mengatasinya.

Kesimpulannya, kesehatan psikologis ibu nifas merupakan aspek penting yang harus diperhatikan selain kesehatan fisik. Ibu yang mendapatkan dukungan emosional, istirahat yang cukup, serta lingkungan yang nyaman cenderung memiliki kondisi mental yang lebih stabil dan mampu beradaptasi dengan peran barunya sebagai seorang ibu.

Perasaan tenang, bahagia, dan merasa didukung akan membantu ibu dalam merawat bayi dengan optimal serta membangun ikatan yang kuat dengan bayinya. Oleh karena itu, peran keluarga, terutama suami, serta tenaga kesehatan sangat penting dalam menjaga kesejahteraan psikologis ibu nifas agar terhindar dari gangguan seperti baby blues maupun depresi postpartum.

Anda tertarik lebih jauh mengenai pengetahuan di atas? Cukup satu langkah, klik pmb.universitastelogorejo.ac.id, daftarkan diri anda di jurusan Kebidanan Universitas Telogorejo Semarang, disana akan diajarkan ilmu kebidanan secara lengkap disertai praktik laboratorium dan praktik klinik yang detail, sehingga nantinya dapat mengembangkan jenis-jenis jasa yang berkaitan dengan kebidanan, dengan begitu masyarakat dengan mudah terfasilitasi dengan baik.

 Universitas Telogorejo Semarang berkomitmen mendidik mahasiswa nya untuk menjadi tenaga kesehatan yang profesional dan berkarakter, sehingga dapat bersaing dan menyesuaikan diri dengan perkembangan yang terjadi di masyarakat.

Ditunjang dengan gedung megah yang terletak di jalan Arteri Yos Sudarso/ Puri Anjasmoro dan peralatan laboratorium yang lengkap, dosen yang berkualitas serta kurikulum pendidikan terkini, menjadikan bidan-bidan lulusan  Universitas Telogorejo Semarang dapat mudah bersaing menjadi enterpreneur yang handal dan berkembang.

BPLT (Basic Pharmaceutical Leadership Training) Kepemimpinan Mahasiswa Farmasi di Era Transformasi Digital dan Globalisasi : Pemimpin Farmasi yang Adaptif Terhadap Inovasi dan Perubahan
ArtikelBeritaNews 07 Apr 2026

BPLT (Basic Pharmaceutical Leadership Training) Kepemimpinan Mahasiswa Farmasi di Era Transformasi Digital dan Globalisasi : Pemimpin Farmasi yang Adaptif Terhadap Inovasi dan Perubahan

Himpunan Mahasiswa Farmasi (HIMAFA) Universitas Telogorejo Semarang
menyelenggarakan Latihan Kepemimpinan 1 (LK 1) yaitu BPLT (Basic Pharmaceutical
Leadership Training) dengan tema “Kepemimpinan Mahasiswa Farmasi di Era
Transformasi Digital dan Globalisasi : Pemimpin Farmasi yang Adaptif Terhadap
Inovasi dan Perubahan”. Kegiatan ini bertujuan untuk memberikan pemahaman dasar
mengenai kepemimpinan dan manajemen organisasi, serta meningkatkan wawasan peserta
tentang strategi kepemimpinan yang efektif dan adaptif di era digital. Selain itu, peserta
dibekali kemampuan pengelolaan organisasi secara sistematis serta didorong memanfaatkan
teknologi digital, sekaligus mengembangkan keterampilan kepemimpinan, kerja sama tim,
dan manajerial.
Kegiatan ini diselenggarakan pada 4 April 2026 oleh HIMAFA Universitas
Telogorejo Semarang yang wajib diikuti oleh Mahasiswa Program Studi S-1 Farmasi Tingkat
I (Semester 2) yang dihadiri oleh 155 peserta yang hadir secara luring (offline) di
Auditorium Lantai 4 Universitas Telogorejo Semarang serta ada pula peserta yang hadir
secara daring (online) melalui media Zoom Meeting, sehingga memungkinkan untuk
diakses oleh peserta dimanapun dan diunggah pada kanal Youtube HIMAFA Telogorejo
Semarang. Kegiatan Latihan Kepemimpinan 1 (LK 1) ini diselenggarakan sebagai salah satu
upaya untuk memenuhi ketentuan dan kesepakatan yang telah ditetapkan dalam proses
pengkaderan, guna memperoleh status sebagai anggota penuh ISMAFARSI.
BPLT dibuka secara resmi oleh Rektor Universitas Telogorejo Semarang, dr. Swanny
Trikajanti Widyaatmadja, M. Kes., Ph.D. Dalam sambutannya, beliau menyampaikan
bahwa menjadi mahasiswa farmasi bukan hanya soal belajar teori dan praktik di
laboratorium, tetapi bagaimana mahasiswa dapat berani berorganisasi, berprestasi, dan
menyiapkan diri menghadapi dunia yang terus berubah. Lebih dari itu mahasiswa juga sedang
membanguun jati diri sebagai calon pemimpin di bidang kesehatan. Pemimpin yang tidak
hanya cerdas secara akademik tetapi juga tangguh dalam berorganisasi, mampu bekerja sama,
dan adaptif terhadap perubahan zaman. Beliau berharap bahwa semua peserta dapat

mendalami segala yang disampaikan dengan narasumber dengan baik sehingga berguna
sebagai bekal wawasan organisasi mahasiswa.
Ten Stars of Pharmacist
apt. Dra. Tunik Saptawati, M. Si, Med.
apt. Dra. Tunik Saptawati, M. Si, Med memaparkan materi mengenai Ten Stars of
Pharmacist, yaitu sepuluh peran utama yang harus dimiliki oleh seorang apoteker dalam
menjalankan profesinya. Dalam pemaparannya dijelaskan bahwa apoteker tidak hanya
berfokus pada obat, tetapi juga memiliki tanggung jawab dalam pelayanan kesehatan secara
menyeluruh, mulai dari care giver, decision maker, communicator, manager, life-long learner,
teacher, leader, researcher, entrepreneur, hingga agent of positive change. Melalui
peran-peran tersebut, apoteker diharapkan mampu memberikan pelayanan yang optimal,
mengambil keputusan berbasis bukti, berkomunikasi dengan baik, terus mengembangkan diri,
serta berkontribusi dalam meningkatkan kualitas pelayanan kesehatan dan kesejahteraan
masyarakat.

Wawasan ISMAFARSI
Nabila Salzabil
Nabila Salzabil selaku SK Kastrad ISMAFARSI JOGLOSEPUR membahas tentang
Wawasan ISMAFARSI sebagai organisasi nasional mahasiswa farmasi di Indonesia yang
berbentuk konfederasi dari berbagai lembaga eksekutif mahasiswa farmasi. Organisasi ini
bertujuan untuk menyatukan mahasiswa farmasi, meningkatkan kualitas dan profesionalisme,
serta menjadi wadah pengembangan diri. ISMAFARSI memiliki dasar hukum seperti
AD/ART, SOP, dan peraturan lainnya, serta memiliki struktur organisasi yang terbagi dalam
wilayah-wilayah tertentu, termasuk anggota penuh dan peninjau. Selain itu, ISMAFARSI
juga menyediakan berbagai manfaat bagi anggotanya, seperti memperluas relasi,
meningkatkan soft skill, mendapatkan pengalaman organisasi, serta kesempatan berkontribusi
dalam kegiatan nasional maupun internasional.

Kepemimpinan dan Manajemen Organisasi

Khilyatus Sa’adah
Khilyatus Sa’adah selaku SK Kesekretariatan ISMAFARSI JOGLOSEPUR
membahas tentang Kepemimpinan dan Manajemen Organisasi. Kepemimpinan diartikan
sebagai kemampuan untuk mempengaruhi dan menginspirasi orang lain agar dapat mencapai
tujuan bersama. Terdapat berbagai teori kepemimpinan, seperti teori genetis, sosial, dan
gabungan, serta berbagai gaya kepemimpinan seperti demokratis, transformasional, hingga
otokratis. Selain itu, seorang pemimpin perlu memiliki keterampilan seperti komunikasi,
empati, dan kemampuan mengambil keputusan. Manajemen organisasi sendiri merupakan
proses perencanaan, pengorganisasian, pelaksanaan, dan pengendalian sumber daya untuk
mencapai tujuan secara efektif dan efisien. Organisasi menjadi wadah kerja sama yang
memiliki unsur seperti visi, struktur, aturan, dan partisipasi anggota. Secara keseluruhan,
kepemimpinan, manajemen, dan organisasi saling berkaitan, di mana kepemimpinan
mengarahkan, manajemen mengatur, dan organisasi menjadi tempat untuk mencapai tujuan
bersama.

International Pharmaceutical Students’ Federation & Student Exchange Programme
Moh. Arif. Sp
Moh. Arif. Sp selaku SK Eksternal ISMAFARSI JOGLOSEPUR menjelaskan tentang
(International Pharmaceutical Students’ Federation) IPSF dan Student Exchange
Programme (SEP), yaitu program pertukaran mahasiswa farmasi di tingkat internasional.
IPSF merupakan organisasi global yang menghubungkan mahasiswa farmasi di seluruh
dunia, termasuk ISMAFARSI sebagai bagian dari jaringannya. SEP memberikan kesempatan
kepada mahasiswa untuk mengikuti kegiatan seperti magang di industri, penelitian, rumah
sakit, maupun pengabdian masyarakat di negara lain. Dalam pelaksanaannya, peserta akan
mengikuti berbagai kegiatan seperti internship, city tour, serta acara penyambutan dan
perpisahan. Untuk mengikuti program ini, diperlukan persiapan seperti seleksi, kelengkapan
berkas, serta kesiapan finansial. Mahasiswa juga didorong untuk aktif mencari informasi,
berani mencoba, dan memulai dari kegiatan kecil sebagai langkah awal.
Dalam rangka mendukung efektivitas pelaksanaan kegiatan BPLT, diselenggarakan
pre-test dan post-test bagi seluruh peserta. Pre-test dilakukan sebelum penyampaian materi
oleh pemateri, dengan tujuan untuk mengukur tingkat pengetahuan awal mahasiswa terkait

materi yang akan diberikan. Hal ini penting untuk mengetahui sejauh mana pemahaman dasar
peserta sebelum menerima pembelajaran yang lebih mendalam. Selanjutnya, post-test
dilaksanakan setelah seluruh materi disampaikan, sebagai bentuk evaluasi untuk menilai
peningkatan pemahaman dan pengetahuan peserta setelah mengikuti kegiatan. Melalui
perbandingan hasil pre-test dan post-test, panitia dapat mengetahui sejauh mana efektivitas
penyampaian materi serta tingkat keberhasilan peserta dalam menyerap informasi yang
diberikan. Dengan adanya kedua tahapan evaluasi ini, diharapkan proses pembelajaran dalam
kegiatan BPLT dapat berjalan lebih terarah, terukur, dan memberikan dampak yang optimal
dalam meningkatkan kualitas pengetahuan serta kesiapan peserta dalam mengikuti proses
pengkaderan selanjutnya.