Tak Berkategori
YUK! KENALI FAKTOR RESIKO KANKER SERVIKS
Disusun Oleh Ns. Dwi Fitriyanti, M.Kep. ( Dosen S-1 Keperawatan STIKES Telogorejo Semarang )

Kanker serviks merupakan penyakit kanker pada wanita yang banyak menyebabkan kematian. Berdasarkan data Kemenkes tahun 2019, terdapat kasus kanker serviks sebesar 23,4 per 100.000 penduduk dengan rata-rata kematian 13,9 per 100.000 penduduk. Sementara itu, berdasarkan data Globocan pada tahun 2020, di Indonesia terdapat 396.914 kasus baru kanker, dengan 234.511 kematian akibat kanker. Kematian akibat kanker diperkirakan akan terus meningkat hingga lebih dari 13,1 juta pada tahun 2030 jika tidak segera diantisipasi mulai sekarang.
Penyakit kanker serviks (cervical cancer) adalah kanker yang terjadi pada serviks uterus, yaitu suatu daerah pada organ reproduksi wanita yang merupakan pintu masuk ke arah rahim yang terletak antara rahim dengan liang senggama (vagina). Penyebab utama kanker serviks adalah human papiloma virus (HPV). Agar kanker serviks dapat ditemukan pada stadium dini serta mendapatkan pengobatan yang cepat dan tepat untuk memberikan kesembuhan dan harapan hidup yang lebih lama, maka perlu adanya tindakan pencegahan dan deteksi dini kanker serviks yang meliputi pemeriksaan Inspeksi Visual Asam Asetat (IVA) dan Pap smear. Pada umumnya kanker serviks baru menunjukkan gejala setelah tahap kronis dan sulit untuk disembuhkan. Oleh karena itu, perlu mengetahui faktor resiko kanker serviks untuk pencegahan tahap awal.
Berikut merupakan faktor resiko terjadinya kanker serviks:
- Melakukan hubungan seksual di usia kurang dari 20 tahun
Usia pertama kali melakukan hubungan seks <20 tahun memiliki peluang berisiko 3,8 kali lebih besar menderita kanker serviks dibanding dengan usia pertama kali melakukan hubungan seks ≥20 tahun. Menikah usia dini merupakan masalah kesehatan reproduksi, karena semakin muda umur menikah semakin panjang rentang waktu untuk bereproduksi. Ketidakmatangan serviks secara biologis pada usia muda dapat menjadi faktor risiko terhadap kerentanan HPV dan sering terjadi setelah terjadinya hubungan seks yang pertama.
- Jumlah kehamilan lebih dari 3 orang anak
paritas atau jarak kehamilan memiliki peluang berisiko 3,8 kali lebih besar menderita kanker serviks dibanding dengan paritas ≤3 orang anak. Wanita yang pernah hamil selama 9 bulan sebanyak lebih dari 3 kali berisiko terkena kanker serviks lebih tinggi. Kondisi ini dipengaruhi oleh perubahan hormonal selama kehamilan yang berpotensi membuat wanita lebih rentan terhadap infeksi HPV serta menurunnya daya tahan tubuh selama kehamilan juga memungkinkan adanya infeksi HPV dan pertumbuhan kanker.
- Berganti ganti pasangan
Berganti ganti pasangan dalam berhubungan seks dapat pengaruh terhadap kejadian kanker serviks. Hal ini menunjukkan bahwa faktor berganti-ganti pasangan seksual mempunyai resiko 2,4 kali menderita kanker seviks. Kanker serviks diperkirakan sebagai penyakit yang ditularkan secara seksual. Sesuai dengan etiologi infeksinya, wanita dengan partner seksual yang banyak akan meningkatkan risiko terkena kanker serviks. Karena sel kolumnar (lappisan sel) serviks lebih peka terhadap metaplasia (perubahan sel) selama usia dewasa. Proses metaplasia sel skuamosa (sel yang melapisi bagian luar leher rahim) meningkat sehingga berisiko terjadinya transformasi yag kemudian menjadi neoplasia intraepitel cerviks (tanda kanker mulai muncul pada serviks).
- Penggunaan pembersih vagina
Penggunaan pembersih vagina memiliki peluang berisiko 2,8 kali lebih besar menderita kanker serviks dibanding dengan yang tidak menggunakan pembersih vagina. Vagina yang sehat mengandung bakteri Lactobacillus, yang merupakan bakteri baik untuk menjaga keasaman vagina agar kuman tak mudah menginfeksi. Kebiasaan menggunakan cairan vagina (douching) akan memberantas bakteri Lactobacillus tersebut, sehingga vagina lebih rentan mengalami infeksi. Penelitian yang dilakukan Neuman pada tahun 2012 di Utah, Amerika Serikat menyatakan bahwa douching setidaknya seminggu sekali lebih berisiko empat kali lipat terkena kanker serviks dibandingkan dengan yang tidak. Cairan pembersih vagina/ douching yang beredar dipasaran berisi air dan campuran bahan seperti cuka, baking soda atau iudium yang dapat enganggu keasaman vagina.

- Kontrasepsi hormonal
Penggunaan kontrasepsi oral >5 tahun memiliki peluang berisiko 1,4 kali lebih besar menderita kanker serviks dibanding dengan penggunaan ≤5 tahun. Penggunaan kontrasepsi hormonal yang mengandung hormon salah satunya yaitu progesteron, hormon ini berfungsi untuk mengentalkan lendir serviks dan mengurangi kemampuan rahim untuk menerima sel yang telah dibuahi. Namun, hormon ini juga mempermudah perubahan karbohidrat menjadi lemak, sehingga sering kali efek samping penggunaan kontrasepsi hormonal yaitu penumpukan lemak yang menyebabkan berat badan naik. Sedangkan, salah satu sifat lemak adalah sulit bereaksi atau berikatan dengan air, sehingga organ yang mengandung banyak lemak cenderung mempunyai kandungan air yang sedikit/ kering, kondisi ini juga dapat terjadi pada daerah vagina, sehingga vagina menjadi kering, dan menyebabkan rasa sakit (dispareuni) saat melakukan hubungan seksual, dan jika kondisi ini berlangsung lama maka akan menimbulkan penurunan gairah serta disfungsi seksual pada wanita, serta keadaan ini dapat memicu terpaparnya oleh virus HPV akibat adanya iritasi pada daerah vagina.
- Riwayat HIV/AIDS,
Riwayat penyakit HIV/ AIDS terhadap kejadian kanker serviks. Virus yang menyebabkan AIDS, merusak sistem kekebalan tubuh dan menempatkan perempuan pada risiko lebih tinggi untuk infeksi HPV. Sistem kekebalan tubuh penting dalam menghancurkan sel kanker dan memperlambat pertumbuhan dan penyebarannya. Pada wanita dengan HIV, pra-kanker serviks dapat berkembang menjadi kanker invasif lebih cepat dari yang seharusnya.
- Riwayat keluarga dengan kanker
Riwayat keluarga dengan kanker berpeluang 6 kali lebih besar menderita kanker serviks dibanding dengan yang tidak memiliki riwayat keluarga dengan kanker. Beberapa peneliti menduga bahwa beberapa kasus disebabkan oleh kondisi warisan genetik yang membuat beberapa wanita kurang mampu melawan infeksi HPV daripada yang lain. Dalam kasus lain, wanita dari keluarga yang sama dengan pasien yang sudah didiagnosis bisa lebih mungkin memiliki satu atau lebih faktor risiko non-genetik lainnya.
Cegah kanker serviks mulai dari sekarang!
Apakah Virus Polio dapat mengakibatkan terjadinya kelumpuhan pada anak yang belum mendapatkan imunisasi?
Disusun Oleh Ns. Sri Hartini. MA, M.Kep, Sp.Kep.An ( Dosen S-1 Keperawatan STIKES Telogorejo Semarang )

Kita dibuat prihatin dengan adanya kejadian seorang anak berusia 7 tahun di Kabupaten Pidie Aceh, terinfeksi virus polio. Kemenkes langsung menetapkan sebagai kejadian luar biasa (KLB) hingga diadakan imunisasi polio secara serentak. Ini adalah merupakan kejadian pertama sejak Indonesia menyatakan bebas polio pada tahun 2014, terbukti dengan “Sertifikat Bebas Polio†dari WHO. Kita semua harus memiliki kepedulian yang sama agar tidak terjadi di daerah yang lain.
Melihat fenomena tersebut, menjadikan kita untuk mengingatkan kembali betapa pentingnya imunisasi terutama imunisasi dasar yang wajib diberikan pada anak. Kita orang dewasa khususnya orangtua, petugas kesehatan, kader kesehatan dll wajib mengingatkan untuk terpenuhinya hak anak dalam mendapatkan kekebalan tubuh terhadap penyakit khususnya penyakit polio, yang dapat menjadikan anak mengalami kelumpuhan seumur hidupnya.
Cara penularan
Mari kita ingat kembali tentang imunisasi polio agar dapat terhindar dari penyakit polio, karena kasus diatas, anak tersebut belum pernah terpapar vaksin polio. Penyakit polio disebabkan oleh virus polio. Virus ini menyebar lewat kontak dengan penderita, sekresi oral dan nasal (misalnya air liur dan ingus), lingkungan atau air yang terkontaminasi feses yang mengandung virus polio, masuk ke tubuh lewat mulut dan virus akan berkembang biak di usus, serta disekresikan oleh orang yang terinfeksi di feses, yang dapat menularkan virus ke yang lain.
Tanda gejala terkena virus polio
Sakit tenggorokan, demam, kelelahan, mual, sakit kepala, sakit perut, beberapa gejala ini berlangsung 2-5 hari dan dapat hilang dengan sendirinya. Beberapa kasus yang mengalami penularan infeksi virus polio akan memiliki gejala serius yang dapat mempengaruhi otak dan sumsum tulang belakang seperti meningitis atau infeksi selaput sumsum tulang belakang dan otak, hingga kelumpuhan permanen.
Bagaimana agar hal itu tidak terjadi
- Pemberian vaksin Polio Tetes (bivalent Oral Polio Vaccine/bOPV) diberikan pada bayi usia 1-4 bulan dan Polio Suntik (Inactivated Polio Vaccine/IPV) pada usia 4 bulan memberikan perlindungan penuh terhadap virus Polio dan antara usia 4 dan 6 tahun ketika anak baru masuk sekolah
- Perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS)
Kebersihan yang buruk dapat meningkatkan risiko penularan polio, terutama jika belum divaksinasi. Penularan bisa terjadi ketika, makan makanan yang terkontaminasi, tangan terkena kotoran atau tinja yang terkontaminasi, dan tangan menyentuh mulut. Memasukkan benda-benda seperti mainan yang terkontaminasi feses ke dalam mulut. Menjaga kebersihan kamar mandi, WC, lingkungan, tempat sampah, lingkungan sekitar rumah, penggunan air bersih, mencuci tangan sebelum dan sesudah aktivitas dengan menggunakan sabun dan air mengalir, dll.

Manfaat Imunisasi Polio
Imunisasi polio ini bermanfaat untuk menguatkan imunitas anak terhadap virus polio. Vaksin ini dapat menekan risiko tertular virus polio hingga dewasa. Pengeluaran biaya kesehatan lebih berkurang dibanding tidak diimunisasi. Jadi apabila seorang anak sudah mendapatkan vaksin polio maka dewasa tidak membutuhkan imunisasi lagi.
Dampak anak yang tidak terpapar imunisasi
Anak yang tidak mendapatkan imunisasi akan memiliki risiko lebih tinggi untuk terkena komplikasi yang dapat menyebabkan kecacatan atau bahkan sampai kematian. Hal ini terjadi karena tubuh tidak memiliki sistem pertahanan khusus atau kekebalan yang dapat melindungi tubuh terhadap penyakit berbahaya, sehingga kuman akan semakin mudah berkembang dalam tubuh anak tersebut.
Maka dari itu sangat penting untuk memberikan imunisasi polio pada anak sejak dini, karena mencegah lebih baik dari pada mengobati. Mari kita sukseskan Indonesia bebas Polio!
Referensi:
CDC (Centers for Disesase Control and Prevention). (2022). What is Polio?. Diakses 12 November 2022.
Kemenkes. (2022). Poliomyelitis (Penyakit Virus Polio). Diakses 21 November 2022.
Soedjatmiko, M. N. (2020). Jadwal Imunisasi Anak Umur 0 – 18 tahun . Jurnal IDAI, Sari Pediatri, Vol. 22, No. 4, 252-260.
WHO. (2022). Poliomyelitis (Polio). Diakses 11 November 2022. file:///C:/Users/Hart/Downloads/KLB%20Polio%20(1).pdf
KENALI SEGITIGA KEHIDUPAN “TRIANGLE OF LIFE†SAAT TERJADI GEMPA
Disusun Oleh Ns. Bagus Ananta Tanujiarso, M.Kep ( Dosen STIKES Telogorejo Semarang )

Secara umum seluruh wilayah Indonesia rawan terhadap gempa bumi. Mengingat posisi geografis Indonesia yang berada diantara tiga lempeng tektonik besar dunia yang terus aktif yaitu lempeng Indo-Australia, Pasifik dan Eurasia. Hal tersebut membuat hampir seluruh wilayah Indonesia dari mulai Pulau Sumatera, Jawa, Bali, Nusa Tenggara, Sulawesi, Maluku dan Papua memiliki potensi tingkat kegempaannya yang sama terkecuali Pulau Kalimantan.
Sumber gempa bumi di Indonesia berasal dari zona subduksi (area dimana dua lempeng bertemu) dan sesar aktif di darat. Zona subduksi membentang di sebelah barat Pulau Sumatera, selatan Pulau Jawa, selatan Bali dan Nusa Tenggara, dan membelok di Kepulauan Maluku yang membentuk palung laut. Zona subduksi juga sebagai sumber pembangkit tsunami. Sesar aktif di darat tersebut antara lain Sesar Besar Sumatera yang memanjang dari utara sampai selatan di Pulau Sumatera. Sementara di Pulau Jawa terdapat Sesar Cimandiri, Sesar Lembang, Sesar Baribis dan Sesar Opak.
Gempa bumi sering kali memunculkan berbagai kerugian dan korban jiwa. Dampak gempa bumi ini sering sekali menyebabkan bangunan atau infrastruktur rusak ataupun roboh, bahkan seringkali juga menimbulkan korban luka-luka maupun meninggal dunia.
Melihat kondisi demikian, perlu adanya edukasi kepada masyarakat dalam menghadapi situasi dan kondisi gempa bumi. Dirasa sangat penting agar tidak kembali memakan korban jiwa. Terdapat salah satu metode dalam menghadapi gempa, yaitu dengan melakukan “Triangle of lifeâ€Â.
Secara sederhana, teknik ini mengharuskan kita untuk berlindung di dekat benda yang cukup tinggi dan kokoh seperti kulkas atau lemari. Kemudian saat bangunan runtuh, langit-langit akan runtuh menimpa benda atau furniture sehingga menghancurkan benda-benda ini, menyisakan ruangan kosong di sebelahnya. Ruangan kosong ini lah yang disebut dengan "segitiga kehidupan".

Dalam penerapannya, masyarakat bisa mengevakuasi diri dengan posisi meringkuk atau berbaring dalam ruangan yang sempit. Kemudian mengambil posisi di samping suatu benda besar seperti sofa, lemari atau kulkas, kemudian menyisakan ruangan kosong di sebelahnya.
Dengan menerapkan hal tersebut, adanya kemungkinan seseorang untuk tertimpa langit-langit dapat diminimalisir. Sehingga tidak ada korban jiwa selama gempa bumi berlangsung.
Apabila terdapat anggota keluarga maupun tetangga sekitar yang sakit dan mengalami luka akibat gempa bumi, segera lakukan pemeriksaan ke fasilitas kesehatan terdekat agar mendapatkan penanganan yang baik dan tepat.
Selain hal diatas, hal penting yang dilakukan masyarakat ketika terjadi gempa bumi yang pertama adalah jangan panik, kemudian kenali situasi atau lokasi dimana Anda berada, pilih lokasi yang aman untuk berlindung dari kemungkinan reruntuhan benda atau bangunan.
Jangan berdiri didekat jendela kaca, Anda bisa berlindung dibawah meja yang kokoh, kemudian ketika gempa sudah berhenti Anda bisa keluar ruangan menuju titik kumpul (luar ruangan) yang aman melalui tangga darurat.,
DUKUNGAN KELUARGA TERHADAP PERAWATAN PALIATIF PADA PASIEN YANG MENJALANI HEMODIALISIS
Disusun oleh Ns. Siti Nafisah, M.Kep ( Dosen S-1 Keperawatan STIKES Telogorejo Semarang )

Hemodialisis merupakan salah satu terapi pengganti ginjal untuk pasien Penyakit Ginjal Kronik. Selama menjalani terapi, pasien dapat kehilangan kebebasan terhadap hidupnya karena pasien memiliki pantangan-pantangan atau aturan-aturan yang perlu diperhatikan guna tidak memperburuk kondisi pasien. Terapi hemodialisa tidak menyembuhkan penyakit yang diderita. Pasien harus menjalani hemodialisa sepanjang umur hidupnya sampai pasien mendapat ginjal baru dari hasil pencangkokan ginjal (Rahman, 2013). Pasien harus menjalani terapi hemodialisa sepanjang hidupnya biasanya 1-3 kali dalam seminggu dalam setiap pertemuannya menghabiskan waktu 2-5 jam.
Dalam perawatan hemodialisa pasien harus memerhatikan banyak aspek guna meminimalkan komplikasi dari penyakit yang bertujuan tidak memperburuk kualitas hidup pasien. Selain itu juga terdapat berbagai faktor yang dapat mempengaruhi kualitas hidup pasien gagal ginjal yaitu aspek fisik, psikologis, sosio, ekonomi dan lingkungan. Dukungan keluarga merupakan salah satu faktor yang dapat mempengaruhi pasien dalam perawatan hemodialisa. Salah satu faktor pendukung keberhasilan pelayanan keperawatan adalah dengan melibatkan keluarga pasien.
Dukungan keluarga dibutuhkan karena keluarga berperan penting dalam tahap perawatan kesehatan pasien dan membawa dampak yang baik untuk pasien. Penderita penyakit apapun yang telah masuk dalam tahap lanjut atau kronik, umumnya mengalami kesedihan dan depresi karena memikirkan kesakitan atau penyakit yang diderita. Biasanya pasien yang menjalani terapi hemodialisa dan kurang mendapatkan dukungan dari keluarga akan memiliki kualitas hidup yang lebih rendah. Dukungan keluarga yang dimaksud berupa dukungan informasional, emosional, pengharapan dan dukungan harga diri.

Pengasuh keluarga dalam perawatan paliatif mengalami tanggung jawab fisik, emosional dan ekonomi yang sangat besar. Beban pengasuh meningkat dari waktu ke waktu dari awal diagnosa sampai kematian. Asuhan yang diberikan oleh pengasuhan keluarga diperlukan dalam semua domain kualitas hidup. Perawatan paliatif mengacu pada perawatan berbasis tim interdisipliner untuk keluarga dan anggota keluarga yang mengalami penyakit yang mengancam jiwa atau cedera yang mencakup fisik, emosi, kebutuhan sosial dan spiritual untuk meningkatkan kualitas hidup. Untuk memberikan pelayanan berkualitas pada perawatan paliatif keluarga tidak hanya harus memiliki pengetahuan dan keterampilan, tetapi juga harus mengembangkan sikap positif.
Prinsip perawatan paliatif yaitu menghormati dan menghargai martabat serta harga diri pasien dan keluarganya. prisinsip pelayanan perawatan paliatif yaitu menghilangkan nyeri dan mencegah timbulnya gejala serta keluhan fisik lainnya, penanggulangan nyeri, menghargai kehidupan dan menganggap kematian sebagai proses normal , tidak bertujuan mempercepat atau menghambat kematian, memberikan dukungan psikologis, sosial dan spiritual, memberikan dukungan agar pasien dapat hidup seaktif mungkin, memberikan dukungan kepada keluarga sampai masa dukacita, serta menggunakan pendekatan tim untuk mengatasi kebutuhan pasien dan keluarganya.
REFERENSI
Butar-Butar, A. (2013). Hubungan Karakteristik Pasien dengan Kualitas Hidup Pasien Gagal Ginjal Kronis yang Menjalani Hemodialisa di Rumah Sakit Umum Pusat Haji Adam Malik Medan. Universitas Sumatera Utara.
Campbel, M. L. (2014). Nurse to Nurse Perawatan Paliatif. Jakarta: Salemba Medika
Suryaty, S. R. (2013). Kualitas Perawatan Paliatif Pasien Kritis Di Icu Rsup Drsardjito, Yogyakarta, Vol 1, 53 –64.
Wisuda STIKES Telogorejo Semarang – Alumni mengedepankan Karakter Sumeh Lan Nulungan
Sidang Terbuka Senat STIKES Telogorejo Semarang dengan agenda Wisuda dan Angkat Sumpah Sarjana Fisioterapi dan Profesi Bidan telah terlaksana pada Kamis, 13 Juni 2024 bertempat di Ruang Auditorium Gedung A STIKES Telogorejo Semarang.

Acara ini dihadiri oleh Pengurus Yayasan Kesehatan Telogorejo Semarang, COO Yayasan Kesehatan Telogorejo, Direktur SMC RS Telogorejo, Manajemen beserta dosen STIKES Telogorejo Semarang, Ketua IBI Jawa Tengah, Ketua IFI Jawa Tengah, Ketua IBI Cabang Kota Semarang, , Rohaniwan, Pimpinan Institusi Kesehatan Mitra STIKES Telogorejo Semarang, serta tamu undangan lainnya.
Dalam pelaksanaan Wisuda dan Angkat Sumpah, STIKES Telogorejo Semarang meluluskan 29 wisudawan dan wisudawati dengan rincian 21 wisudawan Profesi Bidan dan 9 wisudawan Sarjana Fisioterapi.
Beberapa di antaranya mendapat penghargaan sebagai wisudawan terbaik. Peringkat pertama dari wisudawaan Profesi Bidan yaitu RR Sri Endah Sukmaningrum dengan IPK 4.00, wisudahan Sarjana Fisioterapi yaitu Maria Dyah Ayu Ika Pratiwi dengan IPK 3.48. Keduanya juga meraih predikat lulusan dengan IPK tertinggi.
Acara wisuda ini menjadi momen yang membanggakan bagi para lulusan dan keluarga mereka, serta menjadi motivasi bagi generasi muda untuk terus berprestasi dan berkontribusi bagi masyarakat.
Dengan segala daya dan upaya, STIKES Telogorejo Semarang bertekad untuk menghasilkan lulusan tepat waktu, IP tinggi, berprestasi dan berkarakter I-CARE. Di dunia kerja nantinya memiliki moral dan etika yang baik, secara sederhana dalam Bahasa jawa kami memesankan kepada segenap sivitas akademika dan alumni STIKES Telogorejo Semarang jadilah pribadi yang mengedepankan karakter sumeh lan nulungan.

dr. Swanny Trikajanti Widyaatmadja, M.Kes., Ph.D selaku Ketua STIKES Telogorejo Semarang menyampaikan “ Para wisudawan dan wisudawati kamu ucapkan Syukur dan selamat atas keberhasilannya dalam menempuh Pendidikan di STIKES Telogorejo Semarang sehingga mendapatkan gelar sarjana. Jadikan wisuda ini menjadi memontu pengingat bahwa ini adalah awal dari Langkah untuk selanjutnya menjadi tenaga Kesehatan profesional yang dapat lebih berperan di Masyarakat. “
Selamat kepada para wisudawan dari sivitas academika STIKES Telogorejo Semarang! Ini adalah momen penting dalam perjalanan akademik para wisudawan, dan kami yakin keberhasilan ini merupakan hasil dari kerja keras dan dedikasi yang ditunjukkan selama ini. Semoga gelar yang wisudawan terima menjadi tonggak awal dari kesuksesan karier di bidang Profesi Bidan dan fisioterapi. Selamat berkarier dan teruslah berkontribusi untuk kesehatan dan kesejahteraan masyarakat!
KUNJUNGAN KERJASAMA DAN SOSIALISASI PROGRAM MAGANG DARI JACCES
STIKES Telogorejo Semarang mendapatkan kunjungan kerja sama dari JACCES pada Senin, 10 Juni 2024 bertempat di Ruang Teater. JACCES salah satu perusahaan yang bergerak dalam bidang penyaluran mahasiswa untuk melakukan magang di Jepang.

Kunjungan ini di hadiri oleh tiga perwakilan dari J-ACCES yaitu Mr.kazumasa nakamura, Mr. Hiroyuki Iramina dan Mr. Hari Sutopo ( perwakilan JACCES di Indonesia ). Dalam kunjungannya JACCES juga melakukan sosialisasi kepada mahasiswa STIKES Telogorejo Semarang khususnya mahasiswa Program Studi S-1 Keperawatan semester 4. Pihak JACCES memberikan pemaparan terkait dengan program-program yang ada, prosedur pendaftaran serta hal-hal yang perlu dipersiapkan oleh mahasiswa.

Program magang di Jepang Bersama dengan JACCES sudah berjalan 2 gelombang. Pada gelombang 1 telah selesai dan para mahasiswa sudah kembali kuliah aktif di STIKES Telogorejo Semarang. Dalam sosialisasi JACCES, para mahasiswa yang telah mengikuti program magang meshare pengalamannya kepada adik tingkatnya.
PENTINGNYA MINUM AIR PUTIH DALAM PENCEGAHAN PENYAKIT BATU GINJAL ÂÂ
Disusun Oleh : Ns. Siti Nafisah, M.Kep ( Dosen S-1 Keperawatan STIKES Telogorejo Semarang )

Batu Ginjal merupakan masalah klinis umum di seluruh dunia. Pada dasarnya adalah pembentukan batu di ginjal (nefrolitiasis), ureter (ureterolitiasis), atau kandung kemih (cystolithiasis) melalui peristiwa fisikokimia berturut-turut berupa supersaturasi, nukleasi, agregasi, dan akhirnya retensi (Shah & Bhave, 2018). Batu terbentuk sebagai hasil pengendapan kristal di ginjal, dan kristal terbentuk dari komponen seperti kalsium oksalat, kalsium fosfat, kalsium karbonat, magnesium-amonium fosfat, asam urat, dan sistein (Johnson et al., 2020).
Prevalensi batu ginjal merupakan masalah global yang mempengaruhi semua wilayah geografis di seluruh dunia. Prevalensi perkiraan tahunan adalah 3-5% dan perkiraan prevalensi seumur hidup adalah 15-25%. Nefrolitiasis cenderung berulang pada sebagian besar pasien batu ginjal. Tingkat kekambuhan batu ginjal adalah sekitar 10% pada tahun-1, 50% selama periode 5-10 tahun dan 75% selama periode 20 tahun. Tingkat kejadian nefrolitiasis bervariasi menurut wilayah geografis suatu negara. Angka kekambuhan batu ginjal pada pasien setelah kejadian pertama kali adalah 14% pada tahun pertama, 35% pada tahunke-5 dan 52% pada tahun ke-10 (Han et al., 2015).

Terdapat beberapa faktor yang mungkin menjelaskan hubungan antara cuaca hangat dan risiko batu ginjal. Salah satunya adalah dehidrasi. Air minum adalah nutrisi yang penting. Tubuh memerlukan konsumsi air mineral satu hingga dua setengah liter atau sama dengan 6 sampai 8 gelas sehari.
Minum air yang cukup dan mencukupi bagi tubuh yang dapat membantu proses pendampingan, pendampingan pangan dan pendampingan fisik (Asmadi, dalam Prasetyowati, 2014). Air termasuk sebagai nutrisi, tetapi ada kecenderungan di masyarakat untuk menjalankan perannya dalam memproteksi kesehatan manusia (Yuan & Larsson, 2022).  Asupan air yang tinggi merupakan rekomendasi yang disepakati secara luas untuk mengurangi kemungkinan pembentukan batu dan kekambuhan batu. Pembentukan batu saluran kemih meningkat secara signifikan ketika volume urin yang dikeluarkan di bawah 1 L/hari (Clark et al., 2017). Volume urin yang melebihi 2 hingga 2,5 L setiap hari dapat mencegah terulangnya batu pada pasien yang sebelumnya terkena dampak (Johnson et al., 2020). Oleh karena itu, fokus kami saat ini adalah untuk mempelajari volume asupan air harian oleh pasien dengan KSD dan untuk mengidentifikasi apakah orang-orang di wilayah geografis tertentu di Benggala Barat jauh lebih rentan terhadap batu ginjal dan apakah kualitas air minum bertanggung jawab atas prevalensi tersebut.
Dalam kesimpulan, tidak kecukupan konsumsi air putih dapat meningkatkan risiko terjadinya batu ginjal. Dehidrasi dapat mempengaruhi pembentukan batu ginjal. Penting untuk mengambil langkah-langkah pencegahan yang tepat, seperti meningkatkan asupan cairan dan mengurangi konsumsi garam, untuk mengurangi risiko batu ginjal.
Daftar Pustaka
Clark, W. F., Huang, S. H., Garg, A. X., Gallo, K., House, A. A., Moist, L., Weir, M. A., & Sontrop, J. M. (2017). The chronic kidney disease water intake trial: Protocol of a randomized controlled trial. Canadian Journal of Kidney Health and Disease, 4.
Johnson, E. C., Huffman, A. E., Yoder, H., Dolci, A., Perrier, E. T., Larson-Meyer, D. E., & Armstrong, L. E. (2020). Urinary markers of hydration during 3 - day water restriction and graded rehydration. European Journal of Nutrition, 59(5), 2171–2181.
Shah, S. R., & Bhave, G. (2018). Using electrolyte free water balance to rationalize and treat dysnatremias. Frontiers in Medicine, 5(APR).
Yuan, S., & Larsson, S. C. (2022). Coffee and Caffeine Consumption and Risk of Kidney Stones: A Mendelian Randomization Study. American Journal of Kidney Diseases, 79(1), 9-14.e1.
Lulus Kuliah Langsung Kerja ?
Jelas STIKES Telogorejo Semarang
Salam Sehat - ICARE
Penandatanganan MoU Kerjasama Antara STIKES Telogorejo Semarang dengan Sidomuncul
STIKES Telogorejo Semarang melakukan kunjungan pabrik dan penandatangananan Memorandum of Understanding (MoU) dengan PT Industri Jamu dan Farmasi Sido Muncul TBk di kawasan Agrowisata Sido Muncul, Bergas, Kabupaten Semarang, Jumat (31/5/2024).
Penandatanganan MoU dilakukan langsung Semarang dr. Swanny Trikajanti W, M.Kes., Ph.D. ( Ketua STIKES Telogorejo ) dan Irwan Hidayat ( Direktur Sido Muncul ).
Dalam kerja sama tersebut tercakup hal-hal yang berkaitan dengan pengembangan tanaman herbal yang berpotensi untuk menjadi komoditas obat-obatan herbal.
Hadir dalam dalam penandantanganan MoU dr. Koesbintoro Singgih, M.M. ( Ketua Pengurus Yayasan Kesehatan Telogorejo ), Rohadi Hartawidjaja, S.H., ( Ketua Pengawas Yayasan Kesehatan Telogorejo ), Subiyanto Putro, SH, MKn ( Sekertaris Yayasan Kesehatan Telogorejo ), Ir. Hendro Sutantyo ( Wakil Ketua I Yayasan Kesehatan Telogorejo ), Johanes Handoko Widjaja ( Bendahara Yayasan Kesehatan Telogorejo ).

Irwan Hidayat mengucapkan terima kasih kepada Yayasan Kesehatan Telogorejo dan STIKES Telogorejo Semarang, sebuah kehormatan bisa melaksanakan kerja sama. Kerja sama yang akan direalisasikan diantaranya penyelenggaraan penelitian, pendidikan dan pengabdian Masyarakat.
Disela penandatanganan kerja sama, Irwan Hidayat mengatakan, kekayaan alam Indonesia sangat potensial untuk dikembangkan sebagai komoditas obat-obatan herbal.
Sidomuncul akan mesharingkan penelitian tentang herbal yang telah di lakukan selama ini, sehingga mahasiswa – mahasiswa farmasi STIKES Telogorejo Semarang mendapatkan ilmu herbal yang lebih banyak.
Sementara itu Ketua STIKES Telogorejo Semarang dr. Swanny Trikajanti W, M.Kes., Ph.D. mengucapkan “ Kami bersyukur dapat menjalin kerja sama dengan Sidomuncul, kami harpkan dari kerja sama ini banyak lebih memberikan manfaat bagi mahasiswa dan juga dalam penyelenggaraan pengabdian Masyarakat kami dapat mengedukasi bagaimana cara minum jamu yang sehat dan benar.â€Â
“ Semoga Kerjasama antara STIKES Telogorejo Semarang dan Sidomuncul saling bersinergi dan membantu meningkatkan obat asli Indonesia terutama untuk pengobatan asli Indonesia yang tidak kalah dengan pengobatan modern,†pungkas dr. Koesbintoro Singgih, M.M.
