
Ketika Gunung Menulis Sejarah: Abu Vulkanik, Tubuh, Iklim, Budaya, dan Ketahanan Bangsa
Oleh: dr. Dito Anurogo, M.Sc., Ph.D.( Dosen S-1 Fisioterapi Universitas Telogorejo Semarang )
Alumnus PhD dari IPCTRM Taipei Medical University Taiwan, WWPO Peace Ambassador untuk Indonesia, Diploma in Project Management from International Business Management Institute Berlin Germany, dokter riset, dosen UNTS, peneliti IMI, penulis puluhan buku, kolumnis, reviewer jurnal internasional terindeks Scopus Q1, trainer berlisensi BNSP, komunikator sains, founder ILI, pelopor NiBTM.
Gunung api tidak pernah hanya berbicara kepada ahli geologi. Ketika ia erupsi, pesannya sampai ke paru-paru manusia, layanan pusat kesehatan masyarakat, langit penerbangan, sawah dan laut, pasar pangan, meja diplomasi, ingatan kolektif, bahkan ruang batin. Abu yang jatuh dari langit memang dapat diukur melalui ketebalan endapan, konsentrasi partikel, dan arah angin. Namun dampaknya tidak berhenti pada angka. Ia mengubah cara sebuah masyarakat bernapas, bergerak, bekerja, berdoa, mengingat masa lalu, dan membayangkan masa depan.
Aktivitas Anak Krakatau pada awal September 2026 kembali memperlihatkan bahwa erupsi di negara kepulauan seperti Indonesia dapat segera berkembang menjadi persoalan lintas sektor. Gangguan penerbangan, kekhawatiran kesehatan, pembatasan aktivitas masyarakat, dan pergerakan material vulkanik di atmosfer menunjukkan satu hal penting: gunung api adalah simpul yang mempertemukan proses alam dengan sistem sosial modern. Membaca erupsi hanya sebagai letusan magma berarti kehilangan sebagian besar ceritanya.

Tubuh menjadi garis depan pertama
Dalam perspektif kedokteran, abu vulkanik bukan sekadar debu yang mengotori halaman. Ia terdiri atas fragmen batuan, mineral, dan kaca vulkanik berdiameter kurang dari dua milimeter. Sebagian partikelnya cukup halus untuk terhirup dan mengiritasi hidung, tenggorokan, serta saluran pernapasan. Mata dapat terasa perih, merah, berair, atau seperti kemasukan benda asing. Pada orang dengan asma, penyakit paru obstruktif kronis, atau penyakit jantung dan paru, paparan dapat memperburuk keluhan yang sudah ada.
Namun sisi kesehatan erupsi jauh lebih luas daripada urusan paru. Abu dapat mencemari sumber air dan pangan, mengganggu pelayanan kesehatan, menghambat akses jalan, dan memaksa keluarga meninggalkan rumah. Pengungsian menghadirkan persoalan lain: kepadatan, sanitasi, kesinambungan ketersediaan dan penggunaan obat, kesehatan ibu dan anak, kebutuhan lansia, serta dukungan bagi orang dengan penyakit kronis. Dalam keadaan darurat, pasien hipertensi tetap membutuhkan obatnya, penderita diabetes tetap memerlukan terapi, bayi tetap perlu nutrisi, dan ibu hamil tetap membutuhkan pemeriksaan.
Ada pula luka yang tidak terlihat pada foto satelit: tekanan psikologis. Kehilangan rumah, ternak, pekerjaan, sekolah, atau rasa aman dapat menimbulkan tekanan mental dan emosional. Sebagian orang cepat pulih, sementara sebagian lainnya membutuhkan dukungan lebih panjang. Kesehatan jiwa dan dukungan psikososial tidak seharusnya datang belakangan setelah logistik fisik selesai dibagikan. Dalam bencana, rasa aman, informasi yang jernih, keberadaan keluarga, ruang untuk berduka, serta akses ke pertolongan psikologis merupakan bagian dari pelayanan kesehatan.
Di titik ini, kedokteran bertemu dengan kemanusiaan. Dokter dapat mengobati sesak, iritasi mata, atau luka bakar. Kesehatan masyarakat bertanya lebih jauh: siapa yang paling rentan, siapa yang tidak memiliki kendaraan untuk mengungsi, siapa yang kehilangan obat rutin, dan siapa yang hidup sendirian ketika peringatan bahaya berbunyi? Pertanyaan-pertanyaan itu menentukan apakah mitigasi benar-benar melindungi masyarakat atau hanya menyediakan prosedur di atas kertas.
Belerang, aerosol, dan suhu Bumi
Dalam klimatologi, gunung api mempunyai skala cerita yang berbeda. Tidak setiap erupsi akan mengubah iklim global. Ini penting ditegaskan agar masyarakat tidak mencampuradukkan hujan abu lokal dengan pendinginan planet. Efek iklim yang besar terutama dapat terjadi ketika erupsi eksplosif menyuntikkan gas sulfur dioksida dalam jumlah besar ke stratosfer. Di lapisan atmosfer tersebut, gas ini dapat membentuk aerosol sulfat, yaitu partikel sangat halus yang memantulkan sebagian energi Matahari kembali ke angkasa dan untuk sementara mengurangi pemanasan permukaan Bumi.
Indonesia menyimpan salah satu contoh paling dramatis dalam sejarah: letusan Tambora pada 1815. Letusan raksasa di Sumbawa menghasilkan dampak atmosfer yang terasa jauh dari Nusantara. Tahun berikutnya kemudian dikenal di Eropa dan Amerika Utara sebagai tahun tanpa musim panas. Anomali suhu, hujan, embun beku, dan gagal panen ikut memperberat kelangkaan pangan di berbagai tempat. Sebuah letusan di sebuah pulau di Indonesia ternyata dapat bergaung hingga pasar gandum, kesehatan masyarakat, migrasi, dan keresahan sosial ribuan kilometer jauhnya.
Kisah Tambora mengajarkan bahwa atmosfer tidak mengenal paspor. Gas sulfur dioksida dan aerosol sulfat yang mencapai stratosfer tidak berhenti pada batas provinsi, zona ekonomi eksklusif, atau garis diplomatik. Dalam pengertian itu, vulkanologi dan klimatologi memiliki dimensi geopolitik: suatu kejadian lokal dapat menciptakan konsekuensi regional bahkan global ketika bersentuhan dengan sistem pangan, perdagangan, transportasi, dan ketahanan ekonomi.
Geopolitik langit
Abu vulkanik juga memperlihatkan betapa rentannya infrastruktur global yang tampak sangat canggih. Pesawat jet modern dapat melintasi benua dalam hitungan jam, tetapi tetap harus menghormati partikel mineral yang dilepaskan gunung api. Abu dapat merusak mesin dan berbagai sistem pesawat. Karena itu, pergerakan awan abu dipantau melalui sistem pengawasan gunung api bagi penerbangan internasional serta jaringan pusat penasihat abu vulkanik.
Di kawasan kita, pusat penasihat abu vulkanik yang berkedudukan di Darwin, Australia, berperan mendeteksi, melacak, dan memprakirakan pergerakan awan abu di wilayah tanggung jawabnya, termasuk banyak kejadian vulkanik di Indonesia. Hal ini menarik secara geopolitik. Keselamatan penerbangan Indonesia bergantung pada ekosistem informasi yang melibatkan pengamatan nasional, satelit, pusat meteorologi, pengendali lalu lintas udara, maskapai, dan institusi lintas negara.
Kedaulatan pada zaman sekarang tidak berarti sebuah negara harus bekerja sendirian. Kedaulatan justru terlihat dari kemampuan menghasilkan data yang dapat dipercaya, membagikannya tepat waktu, dan menghubungkannya dengan sistem keselamatan regional maupun global. Abu vulkanik mengajarkan bahwa keamanan nasional modern juga dibangun melalui kerja sama ilmiah. Angin yang membawa awan abu tidak mengenal perbatasan negara.
Dampaknya menjalar pula ke ekonomi. Ketika penerbangan berubah rute atau berhenti, wisatawan tertunda, kargo terlambat, jadwal bisnis berubah, dan rantai pasok ikut menyesuaikan diri. Di wilayah pesisir, pembatasan melaut dapat memengaruhi pendapatan keluarga nelayan. Di daerah pertanian, endapan abu dapat menjadi beban pada fase awal. Dalam kondisi tertentu dan setelah mengalami pelapukan jangka panjang, material vulkanik dapat ikut menyumbang mineral bagi pembentukan tanah yang subur. Gunung api adalah paradoks: ia dapat menghancurkan penghidupan hari ini sekaligus ikut membentuk lanskap produktif untuk generasi berikutnya.
Ketika sejarah ditulis oleh teknologi komunikasi
Historiografi bencana menarik karena tidak hanya mempertanyakan apa yang terjadi, tetapi juga bagaimana suatu peristiwa diingat. Dalam ingatan populer global, Tambora lama tidak sekuat Krakatau, meskipun skala letusannya jauh lebih besar. Salah satu penjelasannya terletak pada teknologi komunikasi. Berita Tambora bergerak pada zaman ketika informasi masih bergantung pada kapal dan surat. Krakatau meletus pada 1883 ketika jaringan telegraf telah menghubungkan banyak wilayah dunia.
Krakatau kemudian menjadi peristiwa global bukan hanya karena dampak fisiknya, melainkan juga karena cara kabarnya menyebar. Laporan, pengamatan, dan kesaksian dapat beredar lebih cepat. Royal Society di Inggris membentuk komite untuk mengumpulkan catatan tentang erupsi Krakatau dan akibatnya. Fenomena langit kemerahan yang terlihat jauh dari Indonesia dicatat dan dilukis. Bencana berubah menjadi arsip ilmiah internasional.
Pelajarannya sangat kontemporer. Media ikut menentukan bagaimana sebuah bencana masuk ke dalam ingatan kolektif. Pada abad kesembilan belas, telegraf membantu menjadikan Krakatau peristiwa global. Pada abad kedua puluh satu, media sosial dapat mengubah erupsi menjadi video yang beredar luas dalam hitungan menit. Namun kecepatan informasi membawa risiko lain. Video lama dapat diunggah kembali seolah-olah kejadian baru. Suara letusan dapat dilebih-lebihkan. Narasi mistik dapat dipelintir menjadi klaim prediksi. Ketakutan kemudian bergerak lebih cepat daripada abu.
Literasi bencana karena itu tidak cukup berarti mampu membaca peta bahaya. Ia juga berarti mampu membedakan informasi resmi, interpretasi, rumor, pengalaman personal, dan konten yang sengaja dibuat untuk mengejar perhatian.
Gunung dalam kosmologi budaya
Jauh sebelum satelit, seismograf, dan kamera termal, masyarakat Nusantara telah hidup berdampingan dengan gunung api. Mereka mengembangkan cerita, ritual, larangan, penanda alam, dan tata hubungan sosial sebagai cara memberi makna pada lanskap yang tidak sepenuhnya dapat mereka kendalikan.
Di sekitar Merapi, misalnya, tradisi Labuhan menjadi bagian dari warisan budaya Yogyakarta. Tradisi tersebut berkaitan dengan rasa syukur, penghormatan terhadap alam, serta gagasan keselarasan hubungan manusia dengan Tuhan, alam, dan sesama. Kosmologi Merapi juga hidup dalam berbagai kisah tentang kekuatan dan penjaga gunung. Bagi antropologi, narasi semacam itu bukan data seismik, melainkan data budaya: cara suatu komunitas menata rasa takut, rasa hormat, identitas, dan keberlanjutan hidup di wilayah rawan.
Di sinilah sikap dewasa diperlukan. Mitos tidak perlu direndahkan, tetapi juga tidak boleh digunakan untuk menolak bukti ilmiah. Tradisi tidak harus dimatikan atas nama modernitas, tetapi keselamatan tidak boleh dipertaruhkan atas nama simbolisme. Ketika Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi menetapkan zona bahaya atau pemerintah memerintahkan evakuasi, keputusan keselamatan harus mengikuti pengetahuan kebencanaan yang terukur.
Justru adat dapat menjadi mitra mitigasi. Tokoh budaya, pemuka agama, tetua kampung, guru, dan pemimpin komunitas sering memiliki kepercayaan masyarakat yang kuat. Jika mereka memahami informasi risiko, pesan evakuasi dapat diterjemahkan ke dalam bahasa lokal yang lebih diterima. Budaya kemudian tidak menjadi lawan ilmu pengetahuan, melainkan jembatan sosial agar ilmu pengetahuan dapat benar-benar bekerja.
Belajar dari pepatah Nusantara
Paremiologi, ilmu yang mempelajari peribahasa dan ungkapan tradisional, menawarkan pintu lain untuk memahami hubungan manusia dan bencana. Minangkabau mengenal falsafah “alam takambang jadi guru”, alam yang terbentang menjadi guru. Ungkapan ini sangat relevan bagi negeri vulkanik. Gunung bukan hanya objek yang ditakuti atau dieksploitasi; ia adalah sumber pelajaran tentang batas, perubahan, siklus, dan konsekuensi.
Menjadikan alam sebagai guru tidak berarti menerima semua bencana secara pasif. Justru seorang murid yang baik belajar dari pola. Jika jalur lahar pernah melewati suatu lembah, pengetahuan itu harus masuk ke perencanaan ruang. Jika abu berulang kali bergerak mengikuti pola angin tertentu pada musim tertentu, sekolah dan fasilitas kesehatan harus menyiapkan skenario. Jika masyarakat berulang kali kehilangan obat rutin ketika mengungsi, tas siaga kesehatan harus menjadi kebiasaan rumah tangga.
Dari Bugis, kita mengenal ungkapan “Resopa temmangingngi, namalomo naletei pammase Dewata”, yang secara makna menempatkan kerja keras dan ketekunan sebagai jalan yang berjalan bersama rahmat Tuhan. Dalam konteks bencana, ungkapan ini menawarkan keseimbangan penting: doa tidak meniadakan kerja, dan kerja tidak menghapus kesadaran bahwa manusia memiliki keterbatasan.
Spiritualitas tanpa fatalisme
Bencana hampir selalu memunculkan pertanyaan religius. Mengapa ini terjadi? Apakah ini hukuman? Apakah ini ujian? Pertanyaan semacam itu sangat manusiawi, tetapi ilmu kedokteran dan vulkanologi tidak memiliki instrumen untuk menentukan maksud ilahi di balik sebuah erupsi. Mengklaim dengan pasti bahwa korban bencana sedang dihukum Tuhan bukan hanya tidak dapat dibuktikan secara ilmiah, tetapi juga berpotensi melukai mereka yang sedang kehilangan keluarga dan rumah.
Dalam tradisi Islam, alam dapat dibaca sebagai ayat kauniyah, yakni tanda-tanda kebesaran Tuhan yang terbentang di semesta dan mengundang manusia untuk berpikir. Tasawuf memperkaya respons itu melalui tafakur, muhasabah, sabar, tawaduk, ikhtiar, tawakal, dan kepedulian kepada sesama. Spiritualitas semacam ini tidak melahirkan kepasrahan tanpa tindakan. Tawakal berjalan bersama ikhtiar.
Seseorang dapat berdoa sambil mengenakan pelindung pernapasan. Ia dapat berzikir sambil mengungsi ke luar zona bahaya yang ditetapkan otoritas. Masjid dan tempat ibadah lainnya dapat menjadi ruang doa sekaligus simpul informasi, pelayanan kemanusiaan, distribusi obat, dapur umum, dan dukungan psikososial. Doa dan data tidak harus dipertentangkan. Yang satu memberi orientasi makna dan keteguhan batin; yang lain membantu menentukan tindakan yang paling aman.
Tasawuf juga mengingatkan tentang tawaduk, yakni kerendahan hati. Peradaban modern mudah merasa telah menaklukkan alam karena memiliki satelit, kecerdasan buatan, pesawat jet modern, dan kota berbasis teknologi cerdas. Gunung api mengoreksi kesombongan itu. Teknologi dapat memperkirakan, memantau, dan mengurangi risiko, tetapi tidak menjadikan manusia penguasa mutlak proses geologi Bumi.
Dari ritual menuju ketangguhan
Indonesia membutuhkan model mitigasi yang tidak memaksa masyarakat memilih antara laboratorium dan kebudayaan, antara sensor dan surau, antara dokter dan tokoh adat. Yang dibutuhkan adalah integrasi yang cerdas. Ilmu menentukan batas aman, budaya membantu membangun kepatuhan sosial, agama menguatkan solidaritas, dan pemerintah memastikan sistem bekerja sebelum krisis datang.
Dalam praktiknya, daerah rawan gunung api dapat mengembangkan pendidikan kebencanaan yang menggunakan peta modern sekaligus cerita lokal. Sekolah dapat mengajarkan bagaimana abu memengaruhi paru, bagaimana arah angin menentukan sebaran, mengapa pelindung pernapasan harus dipakai dengan benar, sekaligus bagaimana leluhur membaca lanskap dan menamai wilayah. Pusat kesehatan masyarakat dapat memasukkan kelompok rentan dalam rencana kesiapsiagaan darurat. Pengelola tempat ibadah dapat dilatih agar tempat ibadah berfungsi sebagai simpul komunikasi risiko. Festival budaya dapat menjadi ruang edukasi kesiapsiagaan, bukan sekadar atraksi wisata.
Pendekatan semacam ini membantu mencegah konflik pengetahuan. Dalam banyak bencana, kegagalan komunikasi bukan terjadi karena masyarakat sama sekali tidak tahu, tetapi karena pesan ilmiah tidak masuk ke dalam bahasa kepercayaan mereka. Jika petugas hanya datang dengan grafik tanpa memahami struktur sosial desa, pesan dapat berhenti di balai pertemuan. Sebaliknya, jika kearifan lokal digunakan tanpa verifikasi risiko modern, masyarakat dapat merasa aman ketika sebenarnya berada di zona berbahaya.
Negara cincin api membutuhkan kecakapan berlapis: kemampuan pemantauan untuk membaca perubahan aktivitas gunung api, kecakapan kesehatan untuk melindungi tubuh, pengetahuan iklim untuk memahami atmosfer, kemampuan diplomasi untuk menjaga konektivitas regional, kesadaran sejarah untuk belajar dari Tambora dan Krakatau, kecakapan budaya untuk memahami masyarakat, serta kedalaman spiritual untuk merawat makna tanpa jatuh pada fatalisme.
Gunung api mengingatkan bahwa manusia hidup di atas Bumi yang dinamis, bukan panggung yang diam. Abu dapat turun di sebuah desa lalu memasuki saluran napas seseorang; sulfur dioksida dapat mencapai stratosfer, membentuk aerosol sulfat, lalu memengaruhi suhu dan sirkulasi atmosfer jauh dari sumber erupsi; sebuah letusan dapat mengubah jalur penerbangan; sebuah ritual dapat menjaga ingatan kolektif; sebuah peribahasa dapat menyimpan etika ekologis; dan sebuah doa dapat menguatkan orang yang kehilangan rumah.
Jika “alam takambang jadi guru”, maka tugas manusia bukan sekadar mengagumi atau takut kepada gunung, melainkan belajar menjadi murid yang lebih cerdas: membaca tanda dengan ilmu, menjaga tubuh dengan kedokteran, mengelola risiko melalui kebijakan, menghormati warisan budaya tanpa mencampuradukkan mitos dengan fakta, bekerja keras tanpa kehilangan doa, serta menyadari bahwa di hadapan Bumi yang terus bergerak, kerendahan hati adalah bagian dari keselamatan. (Dokter Dito Anurogo, M.Sc., Ph.D., alumnus PhD dari IPCTRM Taipei Medical University Taiwan, WWPO Peace Ambassador untuk Indonesia, Diploma in Project Management from International Business Management Institute Berlin Germany, dokter riset, dosen UNTS, peneliti IMI, penulis puluhan buku, kolumnis, reviewer jurnal internasional terindeks Scopus Q1, trainer berlisensi BNSP, komunikator sains, founder ILI, pelopor NiBTM.)
