Back

Abu Vulkanik Bukan Debu Biasa:Mitigasi Risiko Kesehatan di Tengah Erupsi

Oleh: dr. Dito Anurogo, M.Sc., Ph.D. ( Dosen S-1 Fisioterapi Universitas Telogorejo Semarang )

Ketika gunung api erupsi, perhatian biasanya tertuju pada kolom letusan, awan panas, radius bahaya, dan jalur evakuasi. Sementara itu, ancaman lain turun hampir tanpa suara. Abu menutupi atap rumah, jalan, kendaraan, halaman sekolah, sumber air, hingga pakaian. Warnanya kelabu dan sepintas menyerupai debu biasa. Justru di situlah masalahnya: abu vulkanik bukan debu biasa.

Secara geologis, abu vulkanik tersusun atas fragmen batuan, mineral, dan kaca vulkanik berdiameter kurang dari dua milimeter. Ia bukan sisa pembakaran seperti abu kayu. Partikelnya dapat keras, abrasif, dan sebagian cukup halus untuk terhirup ke saluran pernapasan. Angin dapat membawa partikel halus jauh dari pusat erupsi. Yang tampak di halaman adalah endapannya; yang paling relevan bagi kesehatan justru bagian halus yang masih dapat beterbangan dan terhirup.

Badan Geologi mencatat Indonesia memiliki 127 gunung api aktif. Hidup di negeri cincin api berarti masyarakat bukan hanya perlu mengetahui kapan harus mengungsi, tetapi juga bagaimana mengurangi paparan ketika abu turun dan sesudah erupsi mereda.

Ketika partikel bertemu tubuh

Dampak kesehatan abu vulkanik dipengaruhi ukuran partikel, konsentrasi di udara, lama paparan, komposisi kimia dan mineral, kondisi cuaca, serta kerentanan seseorang. Karena itu, efeknya tidak sama pada setiap orang. Pada kebanyakan orang sehat, paparan singkat lebih sering menimbulkan hidung dan tenggorokan kering atau perih, batuk, rasa tidak nyaman di dada, atau napas terasa lebih berat.

Risiko meningkat pada orang dengan asma, bronkitis kronis, penyakit paru obstruktif kronis, atau penyakit kardiovaskular. Mengi, batuk, sesak, atau kebutuhan menggunakan obat pelega dapat meningkat. Anak-anak, lansia, serta orang dengan penyakit paru dan jantung perlu memperoleh perhatian lebih karena kemampuan menghindari paparan dan mengakses layanan kesehatan tidak selalu sama.

Mata sering menjadi organ yang paling cepat memberi tanda paparan. Partikel halus dapat menimbulkan rasa mengganjal, kemerahan, berair, dan iritasi, bahkan menggores permukaan kornea. Karena itu, lensa kontak sebaiknya dihindari saat hujan abu. Kacamata pelindung lebih aman ketika seseorang harus berada di luar rumah atau ikut membersihkan lingkungan. Organisasi Kesehatan Dunia mengingatkan bahwa erupsi juga dapat mengganggu kualitas air dan pangan, transportasi, komunikasi, serta layanan kesehatan. Beban kesehatan akibat erupsi lebih luas daripada sekadar batuk dan mata perih.

Bahaya yang muncul setelah langit kembali cerah

Salah satu kekeliruan yang sering terjadi adalah menganggap ancaman berakhir ketika hujan abu berhenti. Abu yang telah mengendap dapat terangkat kembali oleh angin, kendaraan, sapu, atau aktivitas pembersihan. Akibatnya, paparan dapat berulang bahkan ketika erupsi mulai mereda.

Cara membersihkan abu karena itu menjadi bagian penting mitigasi kesehatan. Menyapu kering dapat membuat partikel kembali melayang. Endapan abu dapat dilembapkan secara ringan sebelum dikumpulkan, tanpa membanjiri permukaan. Pada atap rumah, penggunaan air berlebihan harus dihindari karena abu basah menjadi lebih berat dan dapat menambah beban struktur. Orang yang membersihkan abu sebaiknya mengenakan pelindung pernapasan, kacamata, pakaian yang menutup kulit, dan alas kaki yang aman.

Mengemudi di tengah abu tebal juga dapat mengangkat kembali partikel dan menurunkan jarak pandang. Bila perjalanan tidak mendesak, menundanya dan mengikuti arahan otoritas setempat merupakan pilihan yang lebih aman.

Masker penting, tetapi bukan satu-satunya jawaban

Dalam banyak bencana, pembagian masker menjadi salah satu respons yang terlihat. Langkah ini berguna, tetapi mudah menimbulkan kesan bahwa persoalan selesai setelah wajah tertutup. Padahal perlindungan pertama adalah mengurangi paparan.

Jika situasi memungkinkan, masyarakat sebaiknya tetap berada di dalam bangunan yang aman, menutup pintu dan jendela, serta mengurangi aktivitas luar ruang. Ketika harus keluar atau membersihkan abu, respirator partikulat seperti N95 atau standar ekuivalen yang sesuai ukuran dan terpasang rapat pada wajah memberikan perlindungan lebih baik terhadap partikel. Namun respirator partikulat tidak dirancang untuk menyaring gas dan uap beracun. Jika otoritas memerintahkan evakuasi karena ancaman gas, awan panas, lahar, atau bahaya lain, masker bukan alasan untuk tetap tinggal.

Pada anak, respirator untuk orang dewasa tidak otomatis memberikan perlindungan memadai karena efektivitasnya bergantung pada ukuran dan kerapatan di wajah. Pada penderita penyakit jantung atau paru tertentu, hambatan bernapas saat memakai respirator juga perlu dipertimbangkan. Karena itu, pesan kesehatan tidak cukup berhenti pada seruan “semua orang memakai N95”.

Rumah, air, pangan, dan obat rutin

Mitigasi yang baik dimulai dari rumah tangga. Keluarga di kawasan rawan dapat menyiapkan pelindung pernapasan yang sesuai, kacamata, obat rutin, air minum, bahan pangan, serta kontak layanan kesehatan. Penderita asma sebaiknya memastikan obat pengontrol dan pelega tersedia. Dokumen kesehatan dan daftar obat perlu ditempatkan di lokasi yang mudah dibawa bila evakuasi diperlukan.

Sumber air perlu dilindungi dari masuknya abu, terutama penampungan air hujan dan wadah terbuka. Bila air tampak keruh atau diduga terkontaminasi abu, informasi dari dinas kesehatan dan pengelola air setempat harus menjadi acuan sebelum dikonsumsi. Bahan pangan yang terkena abu perlu dibersihkan menggunakan air bersih sebelum diolah.

Apa yang sudah dilakukan pemerintah?

Pemerintah sebenarnya tidak memulai dari nol. Indonesia memiliki Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi atau PVMBG, unit Badan Geologi yang memantau aktivitas gunung api, memberikan peringatan dini, menganalisis risiko, dan menyusun rekomendasi teknis. Informasi itu diperkuat oleh MAGMA Indonesia, singkatan dari Multiplatform Application for Geohazard Mitigation and Assessment in Indonesia, platform digital Badan Geologi yang menyajikan informasi dan rekomendasi kebencanaan geologi secara terintegrasi dan mendekati waktu nyata.

Di lapangan, respons mencakup penetapan zona bahaya, evakuasi, pembagian masker, pemantauan dampak, dan koordinasi lintas instansi. Pada erupsi Gunung Sinabung awal September 2026, misalnya, BPBD Kabupaten Karo bersama lintas instansi di wilayah Karo dan Berastagi membagikan masker kepada masyarakat terdampak abu dan mengimbau warga keluar dari zona bahaya, sementara BNPB berkoordinasi dengan pemerintah daerah.

Dari sisi kesehatan, Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 1 Tahun 2026 mengatur Klaster Kesehatan di tingkat nasional, provinsi, dan kabupaten/kota. Cakupannya meliputi pelayanan medis, penanggulangan penyakit, kesehatan lingkungan, kesehatan jiwa, gizi, promosi kesehatan, logistik, serta data dan surveilans. Dalam berbagai respons erupsi, pemerintah juga menyiagakan puskesmas, pos kesehatan, air bersih dan sanitasi, tenaga kesehatan, serta logistik.

Apakah langkah tersebut sudah memadai? Untuk respons awal, fondasinya cukup kuat. Namun untuk mitigasi risiko kesehatan abu vulkanik yang proaktif, seragam, dan berbasis data dari sebelum paparan hingga pemulihan, jawabannya belum sepenuhnya. After-action review Kementerian Kesehatan bersama WHO pada 2026, meski bukan khusus erupsi, menemukan persoalan sistemik yang relevan: fungsi Health Emergency Operation Center belum seragam, pelaporan data awal belum sepenuhnya terintegrasi, dan penempatan persediaan masih cenderung reaktif. Yang perlu diperbaiki bukan hanya jumlah masker, tetapi cara sistem bekerja sebelum krisis membesar.

Puskesmas sebagai radar kesehatan

Di sinilah puskesmas dapat mengambil peran yang kerap luput dibicarakan: bukan hanya tempat berobat, melainkan juga “radar” kesehatan masyarakat setelah hujan abu. Puskesmas dapat memantau peningkatan batuk, mengi, sesak napas, iritasi mata, dan kekambuhan penyakit kronis. Pencatatan cepat dan terstandar dapat menunjukkan peningkatan beban kesehatan suatu wilayah.

Inilah inti surveilans sindromik: mendeteksi perubahan pola gejala bahkan sebelum diagnosis lengkap ditegakkan. Jika keluhan pernapasan meningkat setelah hujan abu, intervensi dapat diprioritaskan, misalnya distribusi pelindung pernapasan, edukasi pembersihan, kunjungan kepada kelompok rentan, atau penguatan stok obat. Data gejala akan lebih bermakna bila dibaca bersama informasi sebaran abu dan pemantauan partikulat udara.

Sekolah juga perlu memiliki protokol yang jelas. Keputusan tentang kegiatan luar ruang tidak cukup hanya melihat apakah halaman tampak bersih. Guru dan orang tua perlu mengetahui kapan aktivitas luar ruang dibatasi, bagaimana melindungi mata dan saluran napas, serta gejala apa yang membutuhkan pertolongan medis.

Dari komunikasi bencana menuju komunikasi risiko

Saat erupsi terjadi, arus informasi dapat bergerak hampir secepat abu menyebar. Sebagiannya benar, sebagian tidak lengkap, dan sebagian lagi menyesatkan. Karena itu, komunikasi risiko bukan pelengkap respons bencana; ia merupakan bagian dari perlindungan kesehatan masyarakat.

Informasi mengenai status gunung api, zona bahaya, dan rekomendasi teknis perlu merujuk pada PVMBG dan MAGMA Indonesia. Informasi evakuasi mengikuti pemerintah daerah dan badan penanggulangan bencana. Untuk aspek kesehatan, pesan dari dinas kesehatan, puskesmas, rumah sakit, dan tenaga kesehatan perlu diselaraskan agar masyarakat tidak menerima instruksi yang bertentangan.

Pesan pun harus konkret. “Hindari abu” terlalu umum. Masyarakat memerlukan panduan yang dapat langsung dikerjakan: tetap di dalam rumah bila aman, tutup jendela, kurangi perjalanan, gunakan pelindung pernapasan saat harus keluar, pakai kacamata, hindari lensa kontak, jangan menyapu abu secara kering, amankan obat rutin, dan cari pertolongan bila sesak memburuk.

Mitigasi kesehatan sebelum abu turun

Perbaikan berikutnya perlu dibuat nyata. Pertama, peringatan geologi dari PVMBG dan MAGMA perlu memiliki pemicu yang jelas bagi aktivasi protokol kesehatan di daerah terdampak abu. Kedua, surveilans keluhan pernapasan dan mata perlu dipadukan dengan data sebaran abu dan kualitas udara. Ketiga, pelindung pernapasan, kacamata, obat esensial, dan kebutuhan kelompok rentan sebaiknya ditempatkan lebih dekat ke wilayah risiko sebelum krisis.

Keempat, sekolah, fasilitas lansia, tempat pengungsian, dan puskesmas perlu memiliki prosedur khusus menghadapi hujan abu, termasuk perlindungan air bersih, kelanjutan obat penyakit kronis, dan jalur rujukan. Kelima, data kebencanaan dan data kesehatan perlu masuk dalam satu gambaran operasional bagi pengambil keputusan. Setelah keadaan mereda, evaluasi harus menjadi rutinitas agar pengalaman lapangan mengubah prosedur berikutnya.

Mitigasi kesehatan semestinya bergerak selangkah lebih awal: dari menunggu keluhan muncul menuju mengurangi paparan sebelum orang jatuh sakit. Erupsi memang tidak dapat dijadwalkan manusia. Namun tingkat paparan, kualitas perlindungan, kecepatan mengenali gejala, dan ketepatan komunikasi masih dapat dipengaruhi oleh keputusan manusia.

Di negeri dengan 127 gunung api aktif, kemampuan membaca status gunung api perlu berjalan beriringan dengan kemampuan membaca sinyal tubuh. Batuk setelah hujan abu, mata yang terus nyeri, mengi pada penderita asma, atau sesak yang memburuk tidak semestinya dinormalisasi sebagai “bagian dari bencana”. Mitigasi kesehatan berarti tetap waspada tanpa panik, melindungi diri tanpa meremehkan risiko. Sebab abu yang tampak tipis di halaman tidak selalu berarti risikonya ikut tipis. (Dokter Dito Anurogo, M.Sc., Ph.D., alumnus PhD dari IPCTRM Taipei Medical University Taiwan, WWPO Peace Ambassador untuk Indonesia, dokter riset, dosen di UNTS, peneliti, penulis puluhan buku, kolumnis, reviewer jurnal internasional terindeks Scopus Q1, trainer berlisensi BNSP, komunikator sains, founder ILI, pelopor NiBTM)

Leave A Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *