Back

Universitas Telogorejo Semarang

HomeAuthor: Universitas Telogorejo SemarangPage 41
COVID-19 BELUM USIA!! PENTINGNYA PENERAPAN K3 DI DUNIA KERJA PADA MASA PANDEMI
Tak Berkategori 08 Mar 2023

COVID-19 BELUM USIA!! PENTINGNYA PENERAPAN K3 DI DUNIA KERJA PADA MASA PANDEMI

Disusun oleh Ns. Prita Adisty Handayani, M.Kep Dosen S-1 Keperawatan  STIKES Telogorejo

Corona Virus Disease 2019 atau yang sering kita sebut dengan COVID-19 di akhir tahun 2022 ini kembali memunculkan data yang naik secara signifikan dibeberapa negara belahan dunia. Hal ini dapat terjadi karena kurangnya kontrol atau kesadaran diri dari setiap individu terhadap protokol kesehatan. Penyebaran virus ini tidak menutup kemungkinan dapat terjadi secara masif di area dunia kerja. Oleh karena itu Program Kesehatan dan Keselamatan Kerja (K3) perlu ditingkatkan guna mencegah penyebaran COVID-19 di klaster tempat kerja.

Seperti yang kita ketahui bahwa risiko bahaya kerja dibagi menjadi 5 yaitu bahaya fisik, kimia, biologi, ergonomi, dan psikososial. COVID-19 ini termasuk dalam risiko bahaya kerja biologi dan bahaya ini tidak menutup kemungkinan dapat terjadi di semua sektor tempat kerja. Pekerja yang kurang pemahaman mengenai COVID-19 atau kurang mawas diri sehingga tidak menerapkan protokol kesehatan 3M, merupakan salah satu masalah besar di tempat kerja. Masalah ini dapat terjadi karena pekerja tanpa disadari dapat menularkan ke pekerja lainnya dengan perilaku seperti tidak melakukan cuci tangan menggunakan sabun sebelum makan, membuka masker saat berbicara, dan tidak membatasi jarak dengan rekan kerjanya. Hal ini tentunya sangat berisiko apabila tidak segera diberikan penanganan secara tepat.

Penyelesaian masalah di tempat kerja khususnya di bidang kesehatan dapat dilakukan dengan beberapa tipe pencegahan yaitu pencegahan primer, sekunder dan tersier. Pencegahan primer dapat dilakukan dengan kegiatan peningkatan pengetahuan pekerja melalui kegiatan penyuluhan tentang COVID-19 di masing-masing sektor kerja. Jenis penyuluhan yang dapat dilakukan seperti mengenalkan tentang COVID-19, bagaimana cara penularannya dan bagaimana cara mencegahnya seperti dengan menggunakan alat perlindungan diri (APD). Pencegahan sekunder dapat dilakukan dengan screening kesehatan para pekerja secara berkala dan pengobatan bagi yang sudah terpapar COVID-19, sedangkan pencegahan tersier dapat berupa rehabilitasi bagi pekerja yang sudah terpapar COVID-19.

Penerapan dari program K3 ini sangatlah penting karena harapannya dengan pengetahuan pekerja yang meningkat dapat merubah perilaku pekerja menjadi lebih baik untuk mencegah bahaya risiko kerja. Tim K3 sebagai pelaksana wajib memantau jalannya proses identifikasi masalah bahaya risiko kerja yang masih mungkin terjadi, melakukan analisis dan manajemen risiko sehingga dapat menghasilkan intervensi yang sesuai untuk mengatasi bahaya risiko kerja yang muncul.

Marilah kita bersama-sama berupaya untuk mencegah penularan COVID-19 mulai dari diri kita sendiri terutama sebagai pekerja. Patuhi segala protokol kesehatan dan peraturan yang telah ditetapkan di tempat kerja. Dengan penerapan program K3, pekerja dapat bekerja secara produktif dan terhindar dari segala bahaya risiko kerja.

4th International Conference On Health Practice and Research
Tak Berkategori 02 Mar 2023

4th International Conference On Health Practice and Research

4 th International Conference On Health Practice and Research

Prevention, detection and treatment of Cardiovascular Disorders

SPEAKER :

  • Deric S. Vengua, RPH ( Trinity University of Asia )
  • Hsieh Ming Hsin ( Hungkuang University )
  • Azran Bin Ahmad ( UiTM Malaysia )
  • Dr. Marilou Marasigan ( Emilio Aguinaldo College )

KEYNOTE SPEAKER : Dr. dr. Mochamad Abdul Hakam, Sp. PD

INVITE SPEAKER :

  • Ns. Kristianto Dwi Nugroho, M.Kep ( Lecture Of STIKES Telogorejo Semarang )
  • Ns. Resa Nirmala Jona, M.Kep. ( Lecture Of STIKES Telogorejo Semarang )
  • apt. Fransisca Gloria, M.Farm ( Lecture Of STIKES Telogorejo Semarang )
  • Qomariyah, S.ST., M.Kes ( Lecture Of STIKES Telogorejo Semarang )
  • Mianti Nurrizky Sutejo, S.fis., M.P.H ( Lecture Of STIKES Telogorejo Semarang )

E - CONFERENCE : Wednesday, March 15 2023

Apakah sebenarnya yang terjadi ? Hati-hati dengan Baby Blues yang tersembunyi !
Tak Berkategori 01 Mar 2023

Apakah sebenarnya yang terjadi ? Hati-hati dengan Baby Blues yang tersembunyi !

Disusun Oleh : Ns. Rinda Intan Sari, M.Kep Dosen S-1 Keperawatan STIKES Telogorejo

Fenomena akhir-akhir ini yang sangat menghebohkan yaitu ibu menggorok leher anaknya dengan alasan menyelamatkan anaknya dari penderitaan karena kekurangan ekonomi. Ibu mencelupkan anaknya ke bak mandi supaya ke surga dan hidup bahagia karena merasa gagal menjadi ibu yang pantas bagi anaknya.

Sungguh mengerikan bukan fenomena tersebut?

Kemungkinan terbesar yang terjadi pada ibu tersebut adalah baby blues yang tersembunyi, dimana ibu mengalami kesulitan dalam melakukan perannya dalam keluarga dan hal tersebut dimulai setelah melahirkan hingga beberapa bulan yang dipendam dan akhirnya menjadi depresi.

Apa itu Baby Blues ?

Baby blues adalah gangguan suasana hati yang dialami oleh ibu setelah melahirkan. Kondisi ini ditandai dengan ibu mudah sedih, lelah, mudah marah, menangis tanpa alasan yang jelas, mudah gelisah, dan sulit untuk berkonsentrasi. Banyak ibu yang menyembunyikan kesulitannya dalam merawat bayi dan keluarganya dengan tujuan menjaga harga diri sebagai ibu yang sempurna. Secara medis, rasa perfeksionis ini merupakan hal yang normal sebagai ibu baru yang nantinya akan menurun secara perlahan seiring dengan perkembangan bayinya. Namun apabila rasa perfeksionis tersebut tidak turun, maka bisa menjadi baby blues.

Baby blues yang tersembunyi ini apabila tidak di atasi akan berubah menjadi depresi post partum dan akan menjadi lebih parah hingga lebih dari 1 tahun setelah melahirkan. Baby blues yang tidak mendapatkan dukungan dan support dari orang lain akan semakin memperberat gejala hingga terjadi “pembunuhan” atau melakukan hal-hal yang tidak sesuai dengan moral atau akal sehat. Sebetulnya apa yang menjadi penyebabnya?

Perlu kita ketahui secara mendasar bahwa ibu seharusnya melakukan penyesuaian yang adaptif terhadap perubahan perannya yang sebelumnya tidak mempunyai anak sekarang harus merawat dan mengurus anaknya. Penyesuaian/adaptasi perubahan ini merupakan hal yang normal dan pasti terjadi namun harus dipahami oleh lingkungan baik suami maupun keluarga lain. Perubahan ini tidaklah mudah khususnya ibu baru (anak pertama) namun adaptasi ini juga terus berlanjut pada ibu yang melahirkan anak ke 2 dan ke 3. Bukan masalah sudah memiliki pengalaman sebelumnya atau tidak, namun dukungan dan persiapan mental perlu dipersiapkan dan dipahami oleh semua orang. Ibu dengan beberapa anak akan memiliki kesulitannya sendiri, jadi jangan memiliki pandangan bahwa ibu dengan anak 2 atau 3 pasti sudah dapat menyesuaikan diri dengan perubahan perannya.

Lalu bagaimana yang bisa dilakukan?

Kunci utama yaitu dukungan keluarga khususnya suami. Orang dewasa selain ibu itu sendiri sangat berperan dalam adaptasi perubahan peran. Pasangan atau suami adalah faktor pendukung terbesar dalam adaptasi ibu, sehingga suami memiliki peran penting dalam kesehatan mental ibu. Apabila suami mendukung, membantu dan memotivasi ibu, baby blues atau depresi dapat dicegah. Dukungan suami dalam bentuk memberikan kasih sayang, simpati, empati, motivasi, dukungan emosional, verbal, informatif dan lain sebagainya akan sangat mempengaruhi pandangan dan perasaan ibu untuk beradaptasi dengan perannya. Suami siaga tidak hanya diperlukan pada saat ibu sedang menjalani kehamilan, namun suami siaga juga harus diaplikasikan sepanjang hubungan suami-istri berlangsung. Suami siaga salah satunya yaitu suami yang peka terhadap perubahan yang terjadi pada istri khususnya perubahan emosional, ikut dalam merawat bayi. Pandangan suami tentang merawat anak adalah tugas dan kewajiban seorang ibu adalah pandangan yang salah. Pada hakikatnya kodrat seorang perempuan itu menstruasi dan melahirkan, selebihnya adalah tugas dan kewajiban bersama ibu dan ayah.

Apakah hanya dukungan suami saja yang mempengaruhi baby blues?

Dukungan lain selain suami juga sangat penting yaitu orang tua. Orang tua juga memberikan kontribusi dalam menambah stres ibu karena adanya berbeda pemikiran dengan kemajuan ilmu saat ini, dengan alih-alih jaman dahulu melakukan hal tersebut juga tidak ada masalah. Perbedaan cara perawatan, ekpektasi orang tua terhadap cucunya, adat istiadat dan tradisi yang dianut, serta komentar orang sekitar akan sangat mempengaruhi ibu dalam menyesuaikan diri dengan perubahan perannya.

Kemudian, apakah yang bisa ibu lakukan?

Cara mencegah terjadinya baby blues antara lain yaitu :

  • Komunikasikan keluhan kepada suami secara baik-baik,
  • Mencari banyak informasi terkait kondisi diri dan perubahannya/mengenali perubahan diri sendiri
  • Melakukan terapi-terapi komplementer.

Terapi komplementer yang dapat ibu lakukan yaitu usahakan ibu memiliki “me time” atau waktu sendiri untuk menenangkan diri, mendengarkan musik, melakukan aktivitas fisik yang disukai, melanjutkan hobby yang sempat tertunda karena kehamilan, yoga bila perlu dengan menghirup aromaterapi yang disukai. Apabila cara-cara diatas sudah dilakukan namun tidak dapat mengurangi stres segera menghubungi profesional baik psikiater atau psikolog.

Ingat, bahwa baby blues bukan hal yang ringan, hal ini sering disembunyikan ibu untuk mempertahankan harga diri sebagai seorang ibu yang sempurna bagi keluarga.

Ayah, kenali perubahan pada ibu.

Orang tua, berikan kesempatan ibu untuk mengembangkan ilmunya dalam perawatan bayi dan keluarganya, percayakan semua pada ibu, bantu sesuai keinginan ibu.

Jangan malu dan tabu untuk ke psikiater atau ke psikolog demi menyelamatkan diri sendiri dan keluarga.

Sudah Siapkah Kita Menghadapi Banjir Saat Datang?
Tak Berkategori 01 Mar 2023

Sudah Siapkah Kita Menghadapi Banjir Saat Datang?

Disusun Oleh Ns. Riris Risca Megawati, M.Kep Dosen S-1 Keperawatan STIKES Telogorejo Semarang

Waspada bahaya banjir! Apa sajakah yang perlu dilakukan saat banjir datang? Indonesia merupakan negara yang mempunyai iklim tropis yang sangat berpotensi intensitas hujan yang cukup tinggi. Banyaknya kejadian bencana alam di Indonesia sangat dipengaruhi oleh cuaca yang sering berubah-ubah. Wilayah yang dekat dengan pantai sering mangalami terjadinya banjir karena curah hujan yang tinggi atau karena air pasang laut, lebih seringnya karena curah hujan yang tinggi. Curah hujan yang sangat tinggi menyebabkan air sungai meluap sampai ke jalan raya, gang-gang sempit di perkampungan dan menenggelamkan beberapa rumah. Hal ini akan mengakibatkan bencana banjir yang hampir setiap tahun melanda di Indonesia.

Bencana banjir di Indonesia yang terjadi setiap tahun terbukti menimbulkan dampak pada kehidupan manusia dan lingkungannya terutama dalam hal korban jiwa dan kerugian materi. Pada tahun 2021 banjir yang melanda di Jawa Tengah tercatat sebanyak 733 kejadian, yang menyebabkan 7 korban meninggal dunia, 3 orang hilang, 6 orang mengalami luka-luka, serta 18.311 jiwa terpaksa harus mengungsi untuk sementara. Di Kota Semarang tercatat 88 kejadian banjir yang menyebabkan 4 orang mengalami luka-luka, dan 6 orang meninggal dunia.

Banjir merupakan peristiwa yang mengancam dan mengganggu kehidupan dan penghidupan masyarakat yang disebabkan oleh faktor alam, nonalam maupun manusia. Kejadian bencana banjir sangat dipengaruhi oleh curah hujan yang tinggi, permukaan tanah yang lebih rendah dibandingkan air laut, kurangnya daerah resapan air akibat penebangan hutan dan pengembangan pemukiman, buruknya penanganan sampah, dan buruknya penanganan saluran air (drainase).

Menurut BNPB, hal-hal yang harus dilakukan ketika terjadi banjir adalah:

  • Hindari berjalan di dekat saluran air, berjalan atau berenang di kawasan banjir
  • Mengungsi ke daerah yang aman saat ada himbauan
  • Matikan aliran listrik, jangan menyentuh kabel yang jatuh atau tiang listrik
  • Tidak minum atau memasak dengan air banjir
  • Jika air terus meninggi, hubungi instansi terkait dengan bencana seperti kantor Kepala Desa, Lurah atau Camat

Hal-hal diatas merupakan tindakan yang perlu dilakukan saat banjir datang melanda wilayah kita. Kita juga perlu waspada dengan bencana yang datang. Tidak ada salahnya untuk mengetahui hal-hal yang perlu dilakukan dengan baik dan benar demi menjaga keselamatan kita. Mencegah itu lebih baik dari pada mengobati, yuk pahami apa yang harus kita lakukan saat bencana banjir melanda.

Keperawatan Paliatif Harus Melekat Dengan Perawat
Tak Berkategori 01 Mar 2023

Keperawatan Paliatif Harus Melekat Dengan Perawat

Disusun oleh Ns. Suksi Riani, M.Kep Dosen S1 Keperawatan STIKES Telogorejo Semarang

Keperawatan Paliatif bukan lagi menjadi hal baru di lingkungan kesehatan khususnya bagi profesi perawat. Kebijakan tentang penerapan keperawatan paliatif sudah diatur oleh Pemerintah dalam KMK No. 812/Menkes/SK/VII/2007 tentang  Kebijakan Perawatan Paliatif. Penerapan Keperawatan Paliatif sangat perlu diperhatikan karena saat ini di Indonesia baru 1% pasien terminal yang mendapatkan perawatan paliatif. Sedangkan data dari WHO mencatat lebih dari 40 juta orang di dunia membutuhkan perawatan paliatif tetapi hanya 14% yang menerima perawatan paliatif. Jumlah kasus yang membutuhkan perawatan paliatif  yaitu penyakit kardiovaskular sebesar 47,62%, malignant neoplasma sejenis kanker sebesar 25,93%, PPOK sebesar 9,05%, HIV/AIDS sebesar 3,72%, DM sebesar 3,45%, Tuberculosis sebesar 3,44% dan sirosis hepatis sebesar 2,29%.

Penerapan Keperawatan Paliatif yang masih rendah di Indonesia disebabkan oleh beberapa faktor yaitu implementasi kebijakan yang belum optimal, pengetahuan perawat tentang paliatif masih kurang, pelayanan kesehatan belum memberikan pelatihan paliatif untuk para perawat. Hasil survey yang dilakukan oleh penulis di salah satu pelayanan kesehatan menunjukkan bahwa pengetahuan perawat tentang keperawatan paliatif dalam kategori kurang. Perawat menyatakan bahwa selama ini sudah memberikan asuhan keperawatan kepada pasien dengan penyakit kronik dan terminal tetapi belum tahu bahwa pasien tersebut termasuk yang membutuhkan perawatan paliatif. Selain itu beberapa pelayanan kesehatan belum memberikan pelatihan tentang keperawatan paliatif.

Pelatihan keperawatan paliatif sangat diperlukan oleh perawat dalam memberikan perawatan kepada pasien, karena perawatan paliatif sangat bermanfaat untuk meningkatkan kualitas hidup pasien yang menderita penyakit tidak dapat disembuhkan, prognosis jelek, penyakit stadium akhir yang mengarah kepada kematian. Sehingga pelayanan kesehatan sebaiknya memberikan pelatihan keperawatan paliatif untuk semua perawat serta membuka unit pelayanan khusus keperawatan paliatif.

Selain peran pelayanan kesehatan dalam memberikan fasilitas pelatihan kepada perawat, peran dosen keperawatan juga sangat diperluakan dalam memberikan edukasi tentang keperawatan paliatif melalui kegiatan tri dharma perguruan tinggi seperti penelitian dan pengabdian masyarakat.   

Edukasi tentang keperawatan paliatif dapat diberikan dengan tatap muka secara langsung melalui program-program kegiatan penelitian, pegabdian masyarakat, seminar dan workshop. Selain itu juga dapat disampaikan melalui video yang di upload dalam youtube sehingga dapat diakses oleh semua orang yang ingin belajar tentang keperawatan paliatif.

Hasil-hasil penelitian sudah membuktikan bahwa pengetahuan dan penerapan keperawatan paliatif oleh perawat masih kurang di pelayanan kesehatan, sehingga perlu ditingkatkan upaya-upaya untuk meningkatkan pengetahuan perawat tentang keperawatan paliatif supaya kualitas hidup pasien meningkat dan kebijakan pemerintah dapat tercapai dengan optimal.

PERAWATAN AKSES ARTERIOVENOU SHUNT (AV SHUT) PASIEN HEMODIALISIS
Tak Berkategori 24 Feb 2023

PERAWATAN AKSES ARTERIOVENOU SHUNT (AV SHUT) PASIEN HEMODIALISIS

Disusun Oleh Ns. Siti Nafisah, M.Kep Dosen S1 Keperawatan STIKES Telogorejo Semarang

Apa yang dimaksud dengan Penyakit Ginjal Kronik ?

Penyakit Ginjal Kronik menurut National Foundation Kidney Disease Outcome Quality Initiative (NKF-KDOQI) merupakan gangguan fungsi ginjal atau terjadi kerusakan pada organ ginjal yang telah berlangsung selama 3 bulan atau lebih. Hemodialisis menjadi salah satu pengobatan yang dilakukan pasien dengan penyakit ginjal kronik dan menjadi pilihan terbanyak dibandingkan peritoneal dialis dan transplantasi ginjal. Hemodialisis dimulai ketika bersihan kreatinin serum menurun di bawah 10 mL/menit, hal ini sebanding dengan kadar kreatinin serum 80-10mg/dL. Pasien yang menjalani terapi hemodialisis menghabiskan waktu sekitar 12-15 jam untuk proses dialisis pada setiap minggunya untuk paling sedikit setiap kali kegiatan menghabiskan waktu 3-4 jam dan setiap minggunya terbagi menjadi dua dan tiga sesi.

Hemodialysis patient care specialist

Pasien hemodialisis membutuhkan akses vaskular untuk mempertahankan hemodialisis. Akses vascular yang direkomdasikan salah satunya akses  arteriovenous fistula (AV Shunt). Arteriovenous fistula (av-shunt) merupakan salah satu akses vaskuler internal (permanen). Arteriovenous fistula (av-shunt) dibuat dengan cara menyambungkan pembuluh darah arteri dan pembuluh darah vena melalui operasi pembedahan. Koneksi antara vena dan arteri terjadi di bawah kulit pasien. Tujuan penyambungan ini adalah untuk meningkatkan aliran darah vena pasien, sehingga aliran tersebut mampu digunakan untuk mengalirkan darah pada saat tindakan hemodialisis.

Pasien dengan akses AV Shunt membutuhkan perawatan yang lebih dibandingkan dengan pasien tanpa akses AV Shunt. Setelah akses AV Shunt saat hemodialisis, pasien diminta untuk menghindari gerakan yang berlebihan pada AV Shunt nya sehingga meminimalisir translokasi jarum selama dialisis berlangsung. Setelah seluruh prosedur hemodialisis selesai dan jarum dicabut, pasien diharuskan melakukan penekanan pada AV Shunt sekitar 3-5 menit atau perdarahan melalui jarum sudah diyakini berhenti. Apabila terjadi pembengkakan dan kebiruan selama atau setelah hemodialisis, pasien hendaknya jangan panik kemudian melakukan kompres dengan es dan cepat menghubungi staf medis terkait.

Bagaimana perawatan AV Shunt yang tepat ?

 Perawatan AV Shunt yang tepat yaitu melalui kebersihan dan pemantauan yang sangat penting. Cara perawatan akses AV Shunt sehari-hari dirumah yang harus dilakuakan:

  • Mencuci tangan dengan sabun dan air sebelum dan sesudah menyentuh AV Shunt yang bertujuan untuk mengurangi infeksi
  • Menjaga kulit di area AV Shunt agara tetap bersih, terutama sebelum dialis. Bersihkan dengan cara memcuci dan menepuknya dengan lembut.
  • Pantau getaran di AV Shunt 3 kali sehari (pagi, siang dan malam) dengan mendengarkan AV Shunt dan merasakan getaran dan pantau perubahan suara yang untuk dilaporkan ke dokter.
  • Pantau tanda kemerahan atau bengkak disekitar area AV Shunt
  • Hindari luka pada lengan dan lindungi
  • Pastikan nutrisi yang tepat agar kesehatan tetap optimal
SEMINAR KESEHATAN FISIOTERAPI DI DHARMA WANITA PERSATUAN PROVINSI JAWA TENGAH
Tak Berkategori 17 Feb 2023

SEMINAR KESEHATAN FISIOTERAPI DI DHARMA WANITA PERSATUAN PROVINSI JAWA TENGAH

Rabu, 15 Februari 2023 - STIKES Telogorejo berkesempatan kembali menjadi narasumber dalam kegiatan Rapat Kerja Dharma Wanita Persatuan Provinsi Jawa Tengah. Deasy Virka Sari, S.Fis., M.Fis selaku Kaprodi S-1 Fisioterapi STIKES Telogorejo yang menjadi narasumber dengan tema Fisioterapi & Breathing Exercise untuk Menjaga Kebugaran. Kegiatan ini di selenggarakan di Gedung DWP Provinsi Jawa Tengah Lantai 5 Jl. Menteri Supeno 2B Semarang. Dalam kegiatan ini di hadiri oleh jajaran pengurua Dharma Wanita Persatuan dan diikuti oleh 54 anggota DWP Kota Semarang.

Bu Deasy Virka Sari, S.Fis., M.Fis yang lebih akrab disapa Bu Dea menjelaskan Back Exercise  & Breathing Exercise Bersama Fisiopterapi. Back Exercise merupakan Suatu gerakan peregangan yang dapat meningkatkan jangkauan gerak, mengulurkan otot, membuat otot lebih fleksibel dan sehingga membantu mencegah cedera. Sedangkan Breathing Exercise adalah suatu metode Latihan pernafasan yang simpel namun memiliki berbagai manfaat yang baik bagi tubuh.

Pada kesempatan ini juga, Bu Dea mengajak peserta yang hadir untuk melakukan exercise yang dapat di lakukan mandiri baik di rumah maupun tempat kerja. Sesi akhir acara, banyak peserta yang bertanya mengenai keluhan yang di alami pada tubuhnya. Dengan senang hati menerima dan meberikan konsultasi secara langsung dan memberika  terapi yang mudah serta dapat dilakukan mandiri di rumah.

STIKES TELOGOREJO MELEPAS MAHASISWA STUDENT EXCHANGE KE TAIWAN
Tak Berkategori 17 Feb 2023

STIKES TELOGOREJO MELEPAS MAHASISWA STUDENT EXCHANGE KE TAIWAN

STIKES Telogorejo menggelar kegitan pelepasan peserta student exchange  pada 16 Februari 2023 di Ruang Teather STIKES Telogorejo Semarang. Pelepasan peserta student exchange ini di pimpin oleh dr. Swanny Trikajanti Widyaatmadja, M.Kes., Ph.D selaku Ketua STIKES Telogorejo serta dihadiri oleh jajaran Wakil Ketua I, II, III, Kaprodi, perwakilan dosen dan mahasiswa STIKES Telogorejo. Student exchange program merupakan sebuah program yang memberikan kesempatan bagi mahasiswa untuk mencicipi sistem pendidikan di luar negeri dalam jangka waktu tertentu kurang lebih 1 semester.

Program ini merupakan kerjasama antara STIKES Telogorejo Semarang dengan Hungkuang University, Taiwan. Sebanyak 2 mahasiswa yang dikirimkan untuk mengikuti student exchange ke Taiwan. Mahasiswa tersebut yaitu David Ahmad Wibobo ( S-1 Fisioterapi ) dan Nisrina Nurnajibah ( S-1 Keperawatan ). Program tersebut akan berlangsung selama 1 semester.

Dua mahasiswa tersebut, berangkat pada hari Jum’at, 17 Februari 2023. Wakil Ketua III, perwakilan dosen dan staff STIKES Telogorejo ikut serta mengantarkan ke Bandara Ahmad Yani, Semarang. Serta, rekan-rekan dari mahasiswa tersebut juga ikut serta untyuk mengantarkan ke bandara. Diharapkan dengan adanya program ini dapat memberikan motivasi dan kesempatan bagi mahasiswa lainnya untuk terus mengembangkan ilmunya.