Back

Universitas Telogorejo Semarang

HomeAuthor: Universitas Telogorejo SemarangPage 47
Mengenal Lebih Jauh Kanker Serviks, Mimpi Buruk para Wanita
ArtikelCampuspedia 11 Nov 2022

Mengenal Lebih Jauh Kanker Serviks, Mimpi Buruk para Wanita

Oleh : Mudy Oktiningrum, S.SiT., M.Keb, Dosen Prodi S-1 Kebidanan STIKES Telogorejo Semarang

Di antara sekian banyak jenis kanker, kanker serviks merupakan salah satu penyakit yang hanya menyerang wanita. Kanker serviks sendiri terbentuk pada jaringan serviks—organ yang menghubungkan antara rahim dan vagina. Gejala kanker serviks biasanya tidak akan langsung muncul saat seseorang mengalaminya. Namun, dengan skrining rutin lewat tes Pap reguler, sel kanker bisa ditemukan.

Apa saja tanda-tanda kanker serviks? Untuk memahami lebih jauh tentang kanker serviks termasuk cara pengobatan dan pencegahannya, simak pembahasan berikut ini!

Penyebab Utama dan Faktor Risiko Kanker Serviks

Penyebab kanker serviks yang paling umum ditemukan adalah karena jenis human papillomavirus (HPV) jenis tertentu. Anda bisa tertular HPV dengan berbagai cara termasuk kontak kulit ke kulit di area genital, aktivitas seksual baik secara vaginal, anal, maupun oral, dan lain sebagainya.

Semua orang yang memiliki organ serviks berisiko mengalami kanker serviks. Namun, beberapa faktor bisa meningkatkan risiko seseorang mengalami kanker ini. Beberapa faktor tersebut antara lain adalah:

  • Berusia di bawah 45 tahun, kanker serviks lebih sering menyerang orang yang berusia muda.
  • Memiliki kekebalan tubuh yang lemah (misalnya saja menderita HIV atau AIDS).
  • Memiliki riwayat melahirkan banyak anak atau pernah melahirkan di usia dini (di bawah 17 tahun).
  • Ibu Anda pernah mengonsumsi obat hormonal dietilstilbestrol (DES) saat hamil.
  • Pernah menderita kanker vagina, vulva, ginjal, atau kandung kemih sebelumnya.

Meski pada stadium awal kanker serviks tidak menunjukkan tanda-tanda, pada stadium lanjut, pasien mungkin akan mengalami sejumlah gejala seperti:

  • Perdarahan vagina setelah berhubungan seksual, di antara periode menstruasi atau setelah memasuki usia menopause.
  • Keputihan berair atau berdarah yang berat dan berbau busuk.
  • Nyeri panggul atau rasa sakit saat berhubungan intim.

Jika Anda mengalami salah satu dari gejala di atas, jangan ragu berkonsultasi pada dokter untuk penanganan lebih lanjut.

Jumlah Kasus Kanker Serviks di Indonesia dan Dunia

Dengan predikat sebagai pembunuh wanita nomor satu di Indonesia, kasus kanker serviks cukup banyak ditemukan. Menurut data dari Kemenkes per Januari 2019, ada 23,4 kasus kanker serviks per 100.000 penduduk. Sementara itu, rata-rata kematian tercatat hingga 13,9 kasus per 100.000 penduduk.

Dilansir dari laman resmi WHO, kanker serviks adalah kanker paling umum nomor empat yang menyerang wanita secara global. Pada tahun 2020, tercatat ada 604.000 kasus baru kanker serviks yang terdiagnosis dengan 342.000 kematian di tahun yang sama. Sebanyak 90% dari kasus kematian kanker serviks dunia tahun 2020 terjadi di negara dengan penghasilan rendah hingga menengah.

Penanganan dan Pencegahan terhadap Kanker Serviks

Seperti jenis kanker lain, kanker serviks juga dapat ditangani dengan berbagai cara. Makin dini perawatan dilakukan, makin besar harapan hidup serta peluang kesembuhan pasien. Beberapa opsi pengobatan yang mungkin akan diberikan oleh dokter antara lain adalah:

  • Pembedahan. Kanker serviks pada stadium awal biasanya ditangani dengan operasi atau pembedahan, baik untuk membuang kanker atau mengangkat serviks dan uterus.
  • Radiasi. Terapi radiasi menggunakan sinar bertenaga tinggi untuk membunuh sel kanker.
  • Kemoterapi. Kemoterapi merupakan pengobatan kanker dengan menggunakan obat-obatan tertentu untuk membunuh sel kanker.

Selain ketiga metode pengobatan di atas, ada juga cara pengobatan targeted therapy, imunoterapi, dan perawatan suportif (paliatif). Tenaga medis mungkin akan memadukan beberapa jenis terapi untuk memperoleh hasil pengobatan yang maksimal.

Meskipun Anda memiliki risiko tinggi terkena kanker serviks, ada beberapa tips yang bisa diterapkan untuk mengurangi risiko dan mencegah kanker ini, yakni:

  • Melakukan vaksinasi HPV agar tidak terinfeksi virusnya.
  • Melakukan Pap tes secara rutin. Kebanyakan organisasi kesehatan menyarankan Pap tes dilakukan sejak usia 21 tahun.
  • ●       Melakukan aktivitas seksual yang aman (menggunakan kondom dan tidak berganti-ganti pasangan).
  • Berhenti merokok.

Dengan berbagai cara mencegah kanker serviks di atas, Anda bisa terhindar dari risiko kanker serviks yang menjadi mimpi buruk para wanita. Siap untuk melakukan perubahan saat ini juga?

Sumber:

https://www.who.int/news-room/fact-sheets/detail/cervical-cancerhttps://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/cervical-cancer/symptoms-causes/syc-20352501

OMICRON MENGANCAM ANAK KANKER:TANTANGAN DAN TIPS BAGI ORANGTUA AGAR ANAK DAPAT SURVIVE

OMICRON MENGANCAM ANAK KANKER:TANTANGAN DAN TIPS BAGI ORANGTUA AGAR ANAK DAPAT SURVIVE

Oleh:  Ns. Siti Lestari, M.Kep., Sp.Kep.An - Dosen S-1 Keperawatan STIKES Telogorejo Semarang

Covid-19 varian omicron dengan code B.1.1.529 kini telah menyebar ke berbagai negara, termasuk Indonesia. Varian ini dinilai lebih menular kepada anak-anak karena cakupan vaksin covid-19 pada anak yang belum merata dan saat ini masih terus diupayakan pelaksanaannya baik di sekolah, rumah sakit, puskesmas, maupun fasilitas pelayanan kesehatan lainnya.

Kasus omicron yang terus meningkat menimbulkan kekhawatiran tersendiri bagi orangtua anak penderita kanker. World Health Organization menyebutkan bahwa Jumlah anak yang terdiagnosis kanker pada tahun 2021 sekitar 400.000. Jumlah tersebut belum termasuk pasien lama yang telah terdiagnosis pada tahun-tahun sebelumnya. Berdasarkan data dari Indonesia Cancer Care Community (ICCC) Jenis kanker yang sering menyerang pada anak diantaranya leukemia (kanker darah), retinoblastoma (kanker mata), osteosarkoma (kanker tulang), tumor otak, dan limfoma (kelenjar getah bening), kanker tersebut dapat menyerang anak dari rentang usia 6 bulan hingga lebih dari 10 tahun.

Banyaknya jumlah anak penderita kanker menunjukkan bahwa banyak pula orangtua yang menghadapi tantangan terhadap covid-19 varian omicron, mengingat anak kanker memiliki daya tahan tubuh yang lebih rendah dibandingkan anak sehat. Terlebih, anak penderita kanker di Indonesia umumnya dibawa ke rumah sakit pada stadium lanjut. Hal tersebut terjadi karena rendahnya pengetahuan orangtua dalam mengenali tanda dan gejala penyakit kanker secara dini. Kanker pada stadium lanjut juga meningkatkan risiko penularan yang lebih besar terhadap omicron.

Anak penderita kanker berisiko tertular omicron dari keluarga terdekat, saudara atau teman yang berkunjung, dan dari tenaga kesehatan yang memberikan penanganan selama di rumah sakit maupun di rumah.

Berikut ini adalah tips anak agar terhindar dari penularan covid-19 varian omicron:

  1. Segerakan anak untuk mendapatkan vaksin.

Saat ini vaksin pada anak dapat diberikan mulai usia 6 tahun. Bagi anak penderita kanker, diharapkan berkonsultasi terlebih dahulu dengan dokter penanggung jawab pasien untuk memastikan apakah anak dalam kondisi stabil dan tidak ada kontraindikasi sehingga aman untuk mendapatkan vaksin. Vaksin tidak dapat diberikan pada anak penderita kanker yang sedang menjalankan kemoterapi, radiasi, atau obat imunosupresan.

  • Menerapkan protokol kesehatan selama di rumah maupun di rumah sakit

Orangtua memberikan perhatian ekstra kepada anak penderita kanker ketika keluar rumah dengan menerapkan protokol kesehatan secara ketat. Sebaiknya hindari keluar rumah kecuali jika akan berangkat ke rumah sakit untuk menjalankan program terapi.

  • Menggunakan masker baik di rumah maupun di rumah sakit

Selalu gunakan masker baik di rumah maupun di rumah sakit. Jika anak berada dalam satu ruang rawat tersendiri, anak diwajibkan mengenakan masker saat petugas kesehatan datang. Jangan ijinkan saudara atau teman untuk menjenguk secara langsung.

  • Lakukan tes swab secara rutin

Tes swab PCR secara rutin dapat mengidentifikasi secara dini kemungkinan terpapar omicron meskipun tanpa tanda gejala

  • Pertahankan rumah dengan ventilasi yang baik

Ventilasi yang baik selain membantu anak penderita kanker untuk mendapatkan oksigen yang cukup juga membantu menurunkan risiko terpapar omicron

Bagaimana jika omicron telah menyerang anak penderita kanker?

Apabila omicron sudah menginfeksi anak, maka dibutuhkan kesiapan orangtua dalam merawat dan mendampingi anaknya. Tentu hal ini akan lebih melelahkan. Orangtua menghadapi anak menderita kanker saja sudah pasti menguras tenaga, mengorbankan waktu yang panjang, dan mengeluarkan biaya yang banyak untuk perawatan anaknya. Apalagi anak penderita kanker juga terinfeksi oleh omicron. Orangtua memerlukan effikasi diri yang baik dan membutuhkan dukungan dari orang-orang sekitarnya.

Efikasi diri merupakan tingkat kepercayaan seseorang terhadap kemampuan dirinya untuk melakukan tindakan sehingga mencapai tujuan yang telah ditentukan. Dengan kata lain, orang tua harus yakin dan percaya pada diri sendiri bahwa dirinya mampu merawat anaknya yang sakit, dan mampu melewati masa-masa sulit dengan baik. Orangtua yang memiliki efikasi diri yang tinggi mampu menjalankan tugasnya dalam merawat anak penderita kanker yang terinfeksi omicron secara baik.

Sementara dukungan sosial adalah sumber daya yang disediakan oleh orang lain, diantaranya keluarga, tetangga, teman dekat, dan tenaga kesehatan. Segala bentuk dukungan dan bantuan yang diberikan baik berupa informasi, keahlian, pikiran, tenaga, waktu, materi, doa, hingga bantuan dana yang diberikan oleh orang-orang disekitar, semua itu merupakan dukungan sosial. 

Hasil penelitian yang telah penulis lakukan terhadap orangtua anak penderita kanker di seluruh cabang Yayasan Kasih Anak Kanker Indonesia pada Januari 2022, memperoleh hasil bahwa effikasi diri dan dukungan sosial berpengaruh terhadap kualitas hidup anak kanker pada masa pandemi covid-19. Semakin tinggi efikasi diri yang dimiliki orangtua, maka semakin meningkat kualitas hidup yang dimiliki oleh sang anak. Demikian pula mengenai dukungan sosial, semakin tinggi dukungan sosial yang diterima oleh orangtua, maka semakin meningkat kualitas hidup anak.

Berdasarkan hasil penelitian tersebut, diharapkan agar orangtua anak penderita kanker dapat meningkatkan efikasi dirinya. Bagaimana cara meningkatkan efikasi diri? Berikut ini tips agar orangtua mampu meningkatkan efikasi diri:

  1. Senantiasa membangun afirmasi atau pikiran positif, bahwa dirinya bisa dan mampu
  2. Ikhlas menerima kondisi anak
  3. Menemani perawatan anak dengan perasaan syukur
  4. Memperbanyak membaca buku atau sumber pengetahuan lainnya mengenai kanker dan mengenai penatalaksanaan omicron pada anak kanker
  5. Berdiskusi dengan tenaga kesehatan seperti dokter dan perawat atau rohaniawan yang disediakan oleh rumah sakit

Survive dan Kesembuhan adalah idaman bagi semua orangtua, anak penderita kanker membutuhkan perawatan jangka panjang apalagi di tengah ancaman penularan omicron. Anak membutuhkan orangtua yang tangguh dan memiliki efikasi diri yang tinggi. Peran serta dukungan orang-orang di sekitar juga sangat berarti bagi orangtua dan anak penderita kanker.

Tanggal 15 Februari 2022 merupakan hari anak kanker internasional, momentum tersebut dapat digunakan untuk saling menguatkan dan memberi dukungan agar para survivor kanker dapat mempertahankan kualitas hidup yang baik.  

Fisioterapi untuk Radang Sendi Bahu, Efektifkah?
Artikel 06 Nov 2022

Fisioterapi untuk Radang Sendi Bahu, Efektifkah?

Oleh : Linda Pramusinta, S.Tr.Ftr., M.Kes, Dosen S1 Fisioterapi STIKES Telogorejo Semarang

Pernah dengar istilah bursitis shoulder? Istilah tersebut merupakan nama lain dari gangguan pada bahu berupa peradangan di bagian sendi. Peradangan membuat pelumas dan bantalan pada sendi mengalami gesekan sehingga penderita akan merasa nyeri.

Bursitis pada bahu biasanya disebabkan oleh gerakan atau tekanan berulang pada sendi. Inilah mengapa beberapa profesi yang membutuhkan gerakan sendi seperti pelukis, musisi, atlet, petani, dan pekerja bangunan memiliki risiko mengalami radang sendi bahu lebih tinggi dibanding profesi lain.

Selain itu, bursitisjuga bisa disebabkan oleh faktor lain seperti usia, cedera, obesitas, dan penyakit atau infeksi tertentu (lupus, diabetes, dan tiroid). Selain di bahu, peradangan sendi juga bisa terjadi di bagian tubuh lain yaitu pinggul, lutut, atau siku.

Peradangan Sendi bahu dan Dampaknya Bagi Penderita

Penderita peradangan sendi bahu biasanya akan merasakan nyeri. Selain itu, penderita juga akan mengalami beberapa gejala seperti:

1. Sendi Terasa Kaku

Kaku maksudnya, pasien yang terkena bursitis bahu akan mengalami kesulitan dalam menggerakkan tangannya. Setiap gerakan akan terasa nyeri dan berat. Hal ini terjadi karena peradangan membuat sendi tidak lagi fleksibel sehingga ruang gerak penderitanya semakin terbatas.

2. Kulit di Area yang Sakit Memerah

Selain kaku, kondisi bursitis yang mengkhawatirkan biasanya menimbulkan warna kemerahan pada area yang sakit. Warna kulit yang berubah menunjukkan bahwa peradangan sendi sudah pada tahap membutuhkan penanganan medis atau pengobatan lebih intensif.

3. Mengalami Pembengkakan

Bursitis shoulder berada pada tahap paling parah ketika pasien mengalami pembengkakan. Pembengkakan ini terjadi karena proses peredaran darah di daerah yang mengalami peradangan kurang lancar. Pembengkakan juga bisa terjadi karena adanya infeksi bakteri akibat penyakit artritis reumatoid.

4. Otot Mengecil dan Melemah

Kondisi semacam ini biasanya dialami seseorang yang memiliki peradangan kronis. Jika sampai pada tahap ini, berarti sebelumnya pasien akan mengalami rasa sakit yang teramat sangat hingga mati rasa. Ketika otot semakin mengecil dan melemah, maka secara otomatis tenaga yang dihasilkan tangan tidak sekuat biasanya.

Terapi Fisioterapi untuk Pasien Radang Bahu

Secara umum, segala masalah persendian atau tulang yang dialami seseorang bisa diatasi dengan fisioterapi. Namun untuk bisa mendapatkan fisioterapi yang tepat, dibutuhkan serangkaian proses. Pada penderita radang sendi bahu, dokter biasanya akan menanyakan dulu apa pasien memiliki riwayat penyakit tertentu untuk mencari tahu penyebab bursitis.

Selanjutnya, dokter akan melakukan pemeriksaan fisik terutama di area bahu. Setelah itu, pasien akan diminta untuk melakukan pemeriksaan laboratorium menggunakan darah dan cairan sendi untuk memastikan penyebab radang. Pasien juga akan diminta untuk melakukan proses pemindaian (rontgen, USG, atau MRI) supaya dokter memahami kondisi radang sebenarnya.

Ketika semua rangkaian telah dijalani pasien, dokter bisa menentukan apakah kita membutuhkan obat-obatan saja, fisioterapi, atau bahkan keduanya. Tahap fisioterapi biasanya dilakukan ketika peradangan sendi bahu dianggap mulai mengkhawatirkan dan bisa kambuh di masa depan.

Dalam prosesnya, fisioterapi akan membantu pasien melalui pola latihan yang tepat baik secara intensitas atau bentuknya. Bagaimanapun, bahu harus tetap bergerak meskipun terasa sakit agar radang bisa segera pulih. Beberapa gerakan fisioterapi yang biasanya dilakukan adalah:

1. Latihan Postur

Pada latihan postur, pasien akan diminta untuk mengubah sikap saat duduk dan berdiri agar senantiasa tegak. Hal ini karena, radang sendi pada bahu biasanya disebabkan oleh posisi membungkuk yang tanpa sadar kerap dilakukan.

2. Mobilisasi Bahu

Latihan ini meminta pasien untuk berdiri tegak, mengangkat kedua bahu ke atas selama 5 detik, menarik bahu ke belakang selama 5 detik, dan menarik kedua bahu ke bawah selama 5 detik pula, lalu relaks. Gerakan biasanya dilakukan berulang 10 kali dan dikerjakan sekitar 2 – 3 hari sekali.

3. Bersandar di Pintu

Pada latihan ini, pasien akan merentangkan kedua lengan di depan pintu lalu mencondongkan kepala dan badan sampai ke depan hingga terasa tarikan pada kedua bahu di bagian depan. Posisi dilakukan selama 15 hingga 30 detik dan diulangi secara rutin 3 kali sehari.

Kesimpulan

Membaca ulasan di atas membuat kita sadar bahwa bursitis shoulder bukan penyakit ringan dan bisa diabaikan. Untuk mencegahnya, olahraga rutin, mengatur postur saat duduk atau berdiri, dan mengonsumsi makanan sehat perlu dilakukan. Meskipun tampak efektif, fisioterapi sebaiknya tidak perlu dilalui sebab bagaimanapun, lebih baik mencegah daripada mengobati bukan?

Semoga ulasan di atas bermanfaat.

Referensi:

PROMO PENERIMAAN MAHASISWA BARU DIPERPANJANG !
BeritaPengumuman 06 Nov 2022

PROMO PENERIMAAN MAHASISWA BARU DIPERPANJANG !

INFO PERPANJANGAN PROMO !!!

Promo Penerimaan Mahasiswa Baru Gelombang 1 diperpanjang sampai tanggal 30 November 2022 ya

Apa aja sih promonya ?

Promonya yaitu Gratis Biaya pendaftaran, Bebas Uang Gedung dan potongan kuliah hingga 50%.

yuk buruan daftar!

Jangan lewatkan kesempatannya

UJIAN KOMPETENSI NASIONAL DI STIKES TELOGOREJO
BeritaCampuspedia 06 Nov 2022

UJIAN KOMPETENSI NASIONAL DI STIKES TELOGOREJO

Sabtu, 29 Oktober 2022 sampai dengan Minggu, 31 Oktober 2022 berlangsung Ujian Kompetensi ( UKOM ) Profesi pertama di STIKES Telogorejo Semarang. UKOM dibagi menjadi dua meliputi Ujian CBT dan Ujian OSCE. Pada dua hari tersebut dilaksanakan UKOM CBT yang bertempat di Ruang CBT lantai 5 STIKES Telogorejo Semarang.

Pelaksanaan UKOM dibagi menjadi dua shift yaitu pagi dan siang. Sesampainya di kampus STIKES Telogorejo Semarang, mahasiswa dikumpulkan di R. Karantina sebelum masuk keruang CBT. Panitia yang bertugas menyampaikan peraturan-peraturan yang berlaku pada saat UKOM kepada mahasiswa. Kurang lebih 30 menit di R. Karantina, mahasiswa berbaris untuk regristasi online dan

masuk ruang CBT.

Ingin tau bagaimana pelakasanaan UKOM Mahasiswa Prodi S-1 Keperawatan ?

Yuk tonton di Youtube kami https://www.youtube.com/watch?v=BCqU6vFJgTs&t=6s

SAYANGI LANSIA HINDARI DEMENSIA
ArtikelCampuspedia 29 Oct 2022

SAYANGI LANSIA HINDARI DEMENSIA

Oleh : Ns. Siti Juwariyah, M.Kep – Dosen D-3 Keperawatan STIKES Telogorejo Semarang

Demensia pada lansia biasa disebut pikun. Namun itu berbeda, pikun merupakan perubahan kemampuan berpikir dan mengingat yang biasa dialami seiring pertambahan usia, yang menyebabkan sesorang bergantung pada orang lain. Sedangkan demensia adalah penyakit yang mengakibatkan penurunan daya ingat dan cara berpikir juga akan berdampak pada gaya hidup, kemampuan bersosialisasi, hingga aktifitas sehari-hari penderitanya. Sehingga sering mengakibatkan penderita sangat bergantung pada orang lain.

Apakah Damenisa termasuk Penyakit ?

Demensia bukan penyakit, namun merupakan sindrom atau kumpulan gejala-gejala yang terjadi pada seseorang. Sindrom ini mempengaruhi daya ingat, proses berpikir dan kemampuan yang dapat mengganggu aktifitas sehari-hari. Demensia umumnya terjadi pada kelompok lansia. Sindrom ini bukan proses penuaan yang normal terjadi. Kondisi ini umumnya penyebab disabilitas dan ketergantungan pada orang lain bagi lansia di seluruh dunia.

Faktor yang berisiko demensia adalah pertambahan usia, adanya riwayat demensia dalam keluarga, pola makan tidak sehat, merokok, jarang olahraga, kecanduan alkohol dan bisa juga karena penyakit tertentu misalnya sindrom down, depresi, sleppapnea, kolesterol tinggi, obesitas, hipertensi dan diabetes.

Gejala umum demensia pada lansia ada beberapa,

  1. Gangguan Daya Ingat

Kondisi ini sering disebut dengan pikun. Hal ini membuat lansia sulit mengingat sejumlah hal seperti nama orang atau benda.

  • Sering Mengalami Kebingungan

Sering mengalami kebingungan, atau disebut sebagai disorientasi. Kebingungan akan semakin bertambah seiring dengan penyakit yang bertambah parah, yang sering disebut juga dengan penyakit Alzheimer.

  • Mengalami Kesulitan Berpikir

Mereka tidak bisa melakukan sejumlah aktivitas secara mandiri, seperti Menyusun rencana, mengatur keuangan, dan sebagainya. 

  • Kesulitan Untuk Focus

Hilangnya focus akan menyulitkan mereka untuk melakukan kegiatan sehari-hari bahkan termasuk yang sederhana.

  • Mengalami Delusi Dan Halusinasi,

Lansia yang mengalami ini adalah yang sudah Alzheimer tahap lanjut, dalam kondisi ini lansia perlu di damping dalam melakukan kegiatan sehari-hari karena sering dapat membahaayakan dirinya sendiri.

  • Perilaku dan kepribadian berubah

Muncul tanda-tanda lansia mudah cemas, lansia mudah curiga, suasana hati sering berubah-ubah, agresif. Hal ini menyebabkan stress dan depresi pada lansia dan perlu adanya dukungan dari keluarga untuk mengurangi gejala ini.

  • Sulit memahami objek visual, lansia sulit membaca, memahami gambar, dan objek-objek lain yang dilihatnya.

Pencegahan penyakit demensia adalah menghindari semua penyebab dan factor risiko yang akan terjadi, walaupun belum ada acara pasti untuk mencegah penyakit  demensia pada lansia. Beberapa cara untuk mengurangi risikonya seperti :

  • Berhenti merokok,
  • Berolahraga secra teratur,
  • Tidur yang cukup,
  • Kurangi asupan alkohol,
  • Menjaga berat badan ideal,
  • Rutin mengontrol tekanan darah, kadar gula darah dan kolesterol
  • Melatih otak secara berkala (seperti rajin membaca atau bermain teka-teki silang),
  • Segera konsultasi kedokter jika mengalami stress, depresi atau gangguan kecemasan,
  • Menjaga asupan nutrisi dan menerapkan pola makan sehat (dengan mengonsumsi makanan rendah lemak dan tinggi serat),
  • Konsumsi vitamin otak.

Mari kita sayangi lansia dan jadikan lansia yang produktif sesuai kemampuannya.  Salam Sehat

SOSIALITASI & FASILITASI KAMPUNG TEMATIK BERSAMA KAPRODI S1 FARMASI
Berita 25 Oct 2022

SOSIALITASI & FASILITASI KAMPUNG TEMATIK BERSAMA KAPRODI S1 FARMASI

Kamis, 13 Oktober 2022 Kaprodi S1 Farmasi mendapatkan undangan untuk menjadi Narasumber dalam kegiatan Sosialisasi dan Fasilitasi Kampung Tematik di Kelurahan Kembang Arum. Apt. Dra. Tunik Saptawati, M.Si.Med selaku Kaprodi S1 Farmasi yang bertugas sebagai pemateri. Dalam kesempatan ini beliau menyampaikan materi tentang Pembuatan Teh Celup Herbal. Peserta yang menghadiri kegitan sosialisasi dan fasilitasi yaitu masyarakat Kelurahan Kembang Arum.

ALUMNI STIKES TELOGOREJO MENDAPATKAN BEASISWA S2 DI LUAR NEGERI
Berita 25 Oct 2022

ALUMNI STIKES TELOGOREJO MENDAPATKAN BEASISWA S2 DI LUAR NEGERI

Seluruh civitas akademika STIKES Telogorejo Semarang mengucapkan

Selamat & Sukses atas terpilihnya

LAILATUL ISTIADZAH ( Alumni S1 Farmasi 2022 )

Mendapatkan beasiswa studi lanjut S2 Kimia Terapan di Universitas Teknologi Mara Syah Alam ( UiTM ) Malaysia.

Kabar bahagia ini semogoa menjadi motivasi teman-teman untuk lebih semangat dalam perkuliahan dan meraih kesusksesan.