Back

Universitas Telogorejo Semarang

HomeAuthor: Universitas Telogorejo SemarangPage 48
Jangan Salah, Kenali Batas Waktu Penggunaan Obat Berikut Ini!
Artikel 19 Oct 2022

Jangan Salah, Kenali Batas Waktu Penggunaan Obat Berikut Ini!

Oleh : Apt. Fransisca Gloria, M.Farm - Dosen Prodi S1 Farmasi STIKES Telogorejo Semarang

Kenali-Batas-Waktu-Penggunaan-Obat

Obat merupakan substansi dengan berbagai kandungan bahan kimia di dalamnya. Meski dibuat dengan tujuan pengobatan, penggunaan obat yang salah bisa mendatangkan efek negatif yang kadang berakibat fatal. Karena itu, penting bagi setiap orang yang mengonsumsi obat untuk memahami penggunaan obat yang benar sekaligus batas waktu pakainya. Dalam industri medis dan obat-obatan, setiap obat memiliki masa pakai yang berbeda-beda. Batas waktu penggunaan obat ada yang disebut dengan tanggal kedaluwarsa dan BUD (Beyond Use Date). Agar tidak salah menggunakan obat, simak penjelasan selengkapnya berikut ini!

Perbedaan Batas Waktu Penggunaan Obat Antara Tanggal Kedaluwarsa dan BUD (Beyond Use Date)

Setiap obat memiliki batas waktu penggunaan yang dapat dilihat dari tanggal kedaluwarsa dan BUD-nya. Apa perbedaannya?

  • Tanggal Kedaluwarsa Obat

Seperti produk lain berupa makanan maupun minuman, tanggal kedaluwarsa obat ditentukan oleh produsen. Tanggal ini adalah batas waktu saat produsen sudah tidak bisa menjamin khasiat dan keamanan obat tersebut lagi. Tanggal kedaluwarsa ditentukan dengan pengujian obat terkait dengan wadah, pencahayaan, suhu, dan lain sebagainya.

Ciri-Obat-Kadaluarsa

Untuk menentukan tanggal kedaluwarsa, produsen menggunakan acuan dan ketentuan dari BPOM (Badan Pengawas Obat dan Makanan). Ketika obat tersebut sudah lewat dari tanggal kedaluwarsanya, obat tersebut sudah tidak bisa dipakai lagi meskipun kemasannya masih utuh.

  • BUD (Beyond Use Date)

BUD merupakan tanggal yang jadi batas akhir penggunaan obat setelah kemasan dibuka dari segelnya. Tanggal ini biasanya ditulis pada resep yang Anda dapatkan dari apotek. Biasanya berisi keterangan seperti, “Buang obat setelah..” atau “Jangan gunakan obat ini lagi jika Anda…”. Ada beberapa faktor yang menentukan BUD obat, yakni:

  • Jenis obat dan seberapa cepat proses degradasinya
  • Dosis obat
  • Jenis kemasan atau wadah yang digunakan
  • Kondisi penyimpanan obat yang disarankan
  • Lamanya obat akan diminum
  • Kemungkinan kontaminasi dalam proses penyiapan obat.

Sebagian besar obat memiliki BUD yang lebih singkat ketimbang masa kedaluwarsanya. Misalnya saja, jenis obat antibiotik misalnya sirup Amoxicilin. Setelah sirup Amoxicilin  tersebut dilarutkan dengan air, maka obat tersebut bisa dikonsumsi maksimal 7 hari setelah dilarutkan dengan air. Jadi, meskipun tanggal kedaluwarsanya masih lama, Anda sudah tidak diperbolehkan mengonsumsinya lagi.

Karena itu, obat dengan BUD sebaiknya hanya dibeli ketika akan dikonsumsi. Anda juga tidak disarankan untuk menyetoknya di rumah.

Cara Penggunaan Obat Setelah Kemasannya Dibuka

Berdasarkan jenisnya, cara penggunaan obat setelah dibuka dari kemasannya juga berbeda-beda. Berikut rekomendasi dari BPOM :

  • Obat kapsul atau tablet dengan kemasan klip boleh dikonsumsi dalam 2 bulan pasca kemasannya dibuka.
  • Obat kapsul dan tablet yang masih dikemas dalam bungkus aslinya bisa dipakai sampai tanggal kedaluwarsanya.
  • Obat sirup sebaiknya tidak dikonsumsi setelah 6 bulan kemasannya dibuka atau boleh diminum sampai tanggal kedaluwarsanya.
  • Obat luar berbentuk cairan boleh dipakai dalam 6 bulan setelah dibuka atau sesuai tanggal kedaluwarsanya.
  • Puyer. Tidak boleh disimpan dan digunakan lagi. Setelah sembuh, harus dibuang.
  • Antibiotik. Harus dihabiskan sesuai dosis yang ditentukan dokter. Jika tidak terpakai, langsung buang.
  • Obat tetes mata. Boleh dipakai dalam sebulan setelah dibuka (kecuali ada petunjuk berbeda dari dokter).
  • Obat yang dimasukkan ke anus dan koyok bisa dipakai sampai tanggal kedaluwarsanya.
  • Salep dan krim degan kemasan tube boleh digunakan maksimal 6 bulan pasca kemasannya dibuka.
  • Salep dan krim dengan kemasan bertutup bisa digunakan maksimal 3 bulan setelah dibuka.

Ciri Obat Kedaluwarsa dan Cara yang Aman Membuangnya

Selain dari tanggal yang tertera, obat yang kedaluwarsa memiliki sejumlah ciri, yakni:

  • Berubah rasa, warna dan baunya.
  • Ada noda pada tablet.
  • Lepas dari kemasannya.
  • Mudah rusak atau hancur.
  • Tablet menjadi lembek, lembap, dan lengket.

Untuk membuang obat yang sudah kedaluwarsa, pastikan Anda memisahkan obat dengan kemasan aslinya. Hancurkan obat dan campurkan dengan tanah, ampas the, atau kopi sehingga tidak bisa diambil lagi. Buang ke tempat sampah.

Untuk obat yang cair, Anda bisa langsung membuangnya ke saluran air atau toilet. Caranya, campurkan obat dengan air agar encer kemudian buang ke saluran. Dengan mengetahui cara penggunaan obat yang benar, Anda bisa memperoleh khasiat terbaik sekaligus terhindar dari efek negatif yang tidak diinginkan.

KENALI KODE ETIK PROFESI
Artikel 11 Oct 2022

KENALI KODE ETIK PROFESI

Oleh : Ns. Ratnasari, M.Kep. – Dosen S1 Keperawatan STIKES Telogorejo Semarang

Profesi didunia medis dianggap sebagai pekerjaan yang bergengsi sekaligus penuh tanggung jawab. Apalagi selama 2 tahun terakhir tenaga medis menjadi garda terdepan untuk melawan virus covid-19. Namun akhir-akhir ini banyak pelangaran terkait etika profesi oleh beberapa oknum tenaga Kesehatan.

Adanya kemajuan dan kecanggihan teknologi saat ini disalahgunakan oleh beberapa oknum tenaga kesehatan dengan membuat konten dengan tujuan untuk hiburan semata. Namun tidak sesuai dengan kode etik yang berlaku. Pelanggaran profesi yang dilakukan dianataranya pelecehan seksual, mengumbar aib dan bahkan sampai nyinyir soal status pasien.

Sebagai seorang tenaga medis, kita harus mengetahui etika dan hukum dalam profesi kita sebagai landasan untuk bekerja memberikan layanan keperawatan kepada masyarakat. Sehingga kita dijauhkan dari hal-hal yang tidak diinginkan. Dimana ciri sebagai profesi adalah mempunyai body of knowledge yang dapat diuji kebenarannya serta ilmunya dapat diimplementasikan kepada masyarakat langsung.

Etika berasal dari bahasa Yunani "ethos" yang berarti kebiasaan, mode perilaku. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, etika adalah ilmu tentang apa yang baik dan buruk, mengenai hak dan kewajiban moral, kumpulan asas atau nilai yang berhubungan dengan ahlak, dan nilai benar atau salah yang dianut dalam masyarakat. Sedangkan Etika kesehatan  merupakan alat untuk mengatur tertibnya hidup bermasyarakat dalam bidang kesehatan. Dapat dikatakan bahwa etika ini berhubungan erat dengan prinsip benar atau salah dan prinsip moralitas. Hal ini dikarenakan etika mempunyai tanggung jawab moral, yang apabila seseorang melakukan penyimpangan terhadap kode etik berarti tidak memiliki perilaku dan moral yang baik.

Beberapa prinsip moral yang digunakan dalam keperawatan yang dijelaskan dalam buku etika keperawatan professional yaitu :

  • Prinsip Otonomi (Autonomy)

Prinsip otonomi didasarkan pada keyakinan bahwa individu mampu berpikir logis dan mampu membuat keputusan sendiri. 

  • Prinsip Kebaikan (Beneficience)

Prinsip ini menuntut tenaga medis untuk melakukan hal yang baik dengan begitu dapat mencegah kesalahan atau kejahatan.

  • Prinsip Keadilan (Justice)

Nilai ini direfleksikan dalam praktik profesional ketika tenaga medis bekerja untuk terapi yang benar sesuai hukum, standar praktik dan keyakinan yang benar untuk memperoleh kualitas pelayanan kesehatan.

  • Prinsip Kejujuran (Veracity)

Seluruh pemberi layanan kesehatan untuk menyampaikan kebenaran pada setia klien untuk meyakinkan agar klien mengerti.

  • Prinsip Kesetiaan (Fidelity)

Tanggung jawab besar seorang tenaga medis adalah meningkatkan kesehatan, mencegah penyakit, memulihkan kesehatan, dan meminimalkan penderitaan. 

  • Non-maleficence (tidak merugikan)

Prinsi ini berarti tidak menimbulkan bahaya/cedera fisik dan psikologis pada klien.

  • Confidentiality (Kerahasiaan)

Kerahasiaan adalah informasi tentang klien harus dijaga privasi klien. 

  • Akuntabilitas yang berarti bertanggung jawab terhadap dirinya sendiri dan orang lain atas tindakannya.
Amankah Bersosial Media Bagi Kesehatan Mental ?
Artikel 04 Oct 2022

Amankah Bersosial Media Bagi Kesehatan Mental ?

Disusun Oleh : Ns. Laura Khattrine Noviyanti, M.Kep, Sp.Kep. J. – Dosen S1 Keperawatan STIKES Telogorejo Semarang

Pernahkah anda berpikir mengapa beberapa pembuat konten ingin viral dan terkenal dengan banyak “like” dan komentar di media sosial ? Jawaban tersebut dibuktikan dengan mini riset oleh Media New York Times yang relevan tentang bermedia sosial. Dua motivasi utama dalam berbagi diantaranya mereka ingin mencerminkan identitas mereka (68%), berbagi cerita atau konten karena mereka menyukai bila orang lain terlibat dalam mengomentari konten mereka (81%). Disamping itu, media sosial bisa diakses kapan dan dimana saja dan memiliki sumber tanpa batasan membuat posisinya menjadi lebih mendominasi. Akan tetapi dengan berubahnya jaman, awalnya media sosial sebagai alat komunikasi semakin lama perannya telah bergeser seperti 2 sisi mata uang, bisa kearah positif atau sebaliknya kearah negatif. Fenomena yang terjadi sekarang beredarnya isu-isu SARA mencuat ke media sosial sehingga menimbulkan reaksi yang mengarah ke unsur kebencian, provokasi perilaku berbahaya,  saling mengejek, saling membully, hingga saling menghina.

Saat ini kita bahas dengan dua dampak media sosial yang secara tidak langsung memengaruhi kesehatan mental. Dampak pertama akan kita bahas tentang dampak positif. Bekalu (2020) dalam Riset Penelitian di Lee Kum Sheung Center for Health and Happiness menyatakan bahwa penggunaan media secara rutin dapat mengimbangi berkurangnya interaksi sosial tatap muka sehingga mengatasi hambatan jarak dan waktu memungkinkan untuk terhubung dan memperluas jaringan mereka dengan orang lain sehingga semakin kuat jalinan persahabatan. Dari hal tersebut mengakibatkan kesejahteraan sosial seseorang akan semakin baik dan meningkatkan kesehatan mental yang positif. Koneksi emosional dengan kerabat terjalin kuat berkat media sosial. Dampak positif lainnya yaitu peningkatan hormon dopamin (salah satu hormon kebahagiaan) dengan memicu bertambahnya kesenangan pada diri sendiri (self-love) yang dirangsang ketika banyak komentar positif , “like” dari pembaca yang seakan-akan sebagai bentuk penghargaan sehingga, hormon yang meningkat lainnya yaitu oksitosin (salah satu hormon kebahagiaan) meningkatn ketika perasaan seseorang disayangi oleh orang lain. Lonjakan kedua hormon tersebut menurunkan tingkat stress, perasaan cinta, kepercayaan, empati yang datang lewat media sosial (Seiter, 2016).

Dampak kedua yang akan kita bahas adalah dampak negatif. University of Pittsburgh Medical Center, 2016 melakukan survey terhadap anak muda tentan sosial media dan pola tidur, hasilnya ditemukan adanya hubungan yang signifikan dengan gangguan tidur dikarenakan cahaya biru dari layar smartphone menunda dari ritme sirkadian yang mengakibatkan tidur tidak menjadi pulas. Dampak lainnya yaitu kecemasan, berdasarkan studi yang dilakukan ke anak muda dimana dilaporkan penggunaan platform media sosial lebih dari satu mengakibatkan tiga kali lebih mungkin mengalami kecemasan tingkat tinggi. Beberapa penelitian lainnya Primack, Shensa & Escobar (2017) telah menemukan adanya keterkaitan antara depresi dalam penggunaan sosial media. Gejala depresi yang muncul diantaranya suasana hati yang rendah, perasaan tidak berharga dan putus asa berkaitan dengan kualitas interaksi secara daring. Disamping itu dampak negatif media sosial mengakibatkan seseorang cenderung untuk membandingkan tubuh dengan orang lain sehingga mereka khususnya para remaja berbagai cara mengubah pola makan menjadi ideal serta menggunakan filter untuk mempercantik diri sehingga foto yang diunggah bukanlah foto dirinya, dari fenomena tersebut mengakibatkan tidak menyukai pada diri sendiri bahkan mengalami gangguan body image.

Bahasan dampak diatas sebagian mewakili dari dampak negatif dan positif dari media sosial. Untuk mencegah terjadinya dampaka negatif pada kesehatan mental baiknya kurangi frekuensi dalam waktu bermedia sosial, kedua bijak dalam bermedia sosial misal dalam memfilter berita atau komen yang sifatnya buruk pada diri sendiri dan orang lain. Khusus anak dan remaja, pendampingan orang tua memiliki peran penting dalam memberikan pemahaman bahwa apa yang terlihat di media sosial bukan sepenuhnya realita dan dapat dipercaya.

PENYERAHAN BANTUAN SUSU BAGI ANAK DENGAN STUNTING OLEH YAYASAN KESEHATAN TELOGOREJO
BeritaCampuspedia 04 Oct 2022

PENYERAHAN BANTUAN SUSU BAGI ANAK DENGAN STUNTING OLEH YAYASAN KESEHATAN TELOGOREJO

Jum'at, 30 September 2022 telah dilaksanakan kegiatan penyerahan bantuan susu bagi anak dengan stunting di Kelurahan Tawang Mas, Semarang. Penyerahan susu kepada orang tua bagi anak dengan stunting diwakilkan oleh dr. Swanny Trikajanti W., M. Kes., Ph. D selaku Ketua STIKE Telogorejo Semarang dan Nana Noviada, S.E, M.M selaku Wakil Ketua III STIKES Telogorejo Semarang.

Pemberian bantuan susu akan berlangsung selama dua bulan kedepan dengan harapan akan adanya perubahan status gizi bagi anak yang mendapat bantuan susus tersebut. Jenis susu yang di berikan yaitu Pediacomplete 890 gram/ kaleng dan masing-masik anak mendapatkan 2 kalang susu. Kedepannya pemberian susu akan tetap sama dengan memberikan 2 kaleng setiap bulannya. Pada saat penyerahan susu juga akan di ukur ulang mengenai tinggi badan dan berat

BETTER LIFE WITH BALANCED NUTRITION
Artikel 30 Sep 2022

BETTER LIFE WITH BALANCED NUTRITION

Oleh : Ns. Felicia Risca Ryandini, M. Kep., Sp. Kep. MB. – Dosen S1 Keperawatan STIKES Telogorejo Semarang

Nutrisi yang seimbang merupakan suatu hal yang sangat dibutuhkan di kehidupan manusia. Berawal dari kebutuhan nutrisi merupakan suatu kebutuhan dasar manusia, nutrisi merupakan suatu kebutuhan yang harus dipenuhi sehari-hari. Nutrisi merupakan substansi organik yang dibutuhkan organisme untuk fungsi normal dari sistem tubuh, pertumbuhan, pemeliharaan  kesehatan.  Sebagai  fungsi  pemeliharaan kesehatan, nutrisi dapat mempertahankan fungsi tubuh yang meliputi sumber energi, zat untuk membangun atau memperbaiki jaringan, memelihara sistem skeletal, dan pengaturan fisiologi tubuh.

Nutrisi yang dibutuhkan oleh manusia adalah makronutrien, mikronutrien, serta fitronutrien. Disebut sebagai makronutrien karena tubuh manusia membutuhkan zat-zat ini dalam jumlah yang cukup besar. Zat nutrisi yang termasuk dalam kategori makronutrien adalah karbohidrat, protein, lemak, dan juga vitamin. Sebagai zat makronutrien atau yang dibutuhkan dalam jumlah banyak, peran dari karbohidrat, protein, lemak adalah untuk menghasilkan energi. Ketiga zat gizi tersebut berperan penting dalam menyediakan energi bagi tubuh untuk metabolisme, pertumbuhan, serta berfungsi sebagai “bensin” bagi otak, jantung, dan otot untuk menjalankan aktivitasnya.

Karbohidrat adalah makronutrien yang dibutuhkan dalam jumlah paling besar. Menurut departemen pangan Amerika Serikat, 45-65% kalori yang dibutuhkan manusia berasal dari karbohidrat. Karbohidrat sangat diperlukan sebagai sumber energi oleh organ-organ penting dalam tubuh seperti otak, ginjal, jantung, dan otot . Manusia membutuhkan protein sebagai penyumbang dari 10-35% kalori yang dibutuhkan sehari-hari. Protein berperan penting dalam pertumbuhan, sehingga sangat dibutuhkan oleh anak, remaja, dan wanita hamil serta menyusui. Selain itu, protein adalah zat gizi yang berperan utama dalam perbaikan jaringan, sistem kekebalan tubuh, serta bahan baku hormon dan enzim. Lemak menjadi salah satu makronutrien penting, oleh karenanya tidak boleh sama sekali mengabaikan lemak untuk memberi suplai energi. Lemak berkontribusi menjaga kesehatan sehingga kebutuhannya mencapai 10% – 35% dari makanan yang dikonsumsi. Kandungan lemak dalam 1 gramnya terdiri dari 9 kalori. Lemak juga berperan penting dalam menyuplai cadangan energi. Karena tubuh pada dasarnya menyimpan sisa kalori yang tidak terpakai dalam bentuk lemak.

Zat nutrisi selanjutnya yang dibutuhkan oleh tubuh adalah mikronutrien. Tubuh hanya memerlukan zat ini dalam jumlah yang kecil. Meskipun demikian, nutrisi ini tidak dapat disepelekan begitu saja, karena jika mengalami kekurangan dapat mengganggu tumbuh kembang serta kesehatan tubuh. Mikronutrien tidak dapat diproduksi oleh tubuh, melainkan hanya bisa didapat melalui makanan. Zat mikronutrien terdiri dari vitamin dan mineral, yang banyak terdapat pada sayur-sayuran dan buah-buahan. Beberapa contoh vitamin dan mineral yang penting bagi kesehatan adalah vitamin A, B, C, D, E, serta mineral zinc, zat besi, iodium, kalsium, dan magnesium.

Kekurangan nutrisi micronutrien saat ini menjadi 10 penyebab utama kematian di dunia saat ini. WHO mencatat bahwa lebih dari 2000 juta penduduk di dunia menderita kekurangan vitamin dan mineral, terutama vitamin A, yodium, besi dan seng. Kelompok yang paling mudah mengalami kekurangan zat gizi mikro adalah ibu hamil, ibu menyusui dan anak-anak berusia di bawah 5 tahun. Hal ini disebabkan karena mereka membutuhkan vitamin dan mineral dalam jumlah yang lebih besar dibandingkan dengan kelompok lainnnya.

Zat gizi yang tidak kalah pentingnya adalah Fitronutrien, yaitu zat kimiawi yang terkandung di dalam tumbuhan. Fitonutrien adalah senyawa kimia di dalam sayur dan buah yang umumnya kaya antioksidan, senyawa ini disebut sebagai imunomodulator. Kandungan fitonutrien pada sayur dan buahlah yang bertanggung jawab untuk memberi warna, aroma bahkan rasa pada buah dan sayuran. Masing-masing warna memiliki kandungan zat gizi yang berbeda.

Kandungan Zat Gizi Pada Buah Dan Sayur

  • Karotenoid

Karotenoid termasuk jenis fitonutrien yang bertugas memberi warna cerah pada sayuran atau buah-buahan. Karotenoid memiliki sifat antioksidan dan bisa diubah menjadi vitamin A. Manfaatnya adalah untuk kesehatan mata, mendukung sistem imun, dan mengurangi risiko kanker. Contoh : labu, wortel, bayam, kubis, tomat, jeruk, dan ubi.

  • Flavonoid

Flavonoid terkenal akan sifat antioksidan dan antikanker di dalamnya. Jenis fitokimia ini mampu melindungi tubuh dari kanker dan penyakit kardiovaskuler, berkontribusi pada koneksi sel yang sehat sebagai detoksifikasi, mengurangi peradangan, dan mengurangi risiko penyebaran tumor. Contoh : teh hijau, apel, anggur, kopi, jahe, kacang polong, dan bawang.

  • Fitoestrogen

Memiliki sifat yaitu meniru estrogen dalam tubuh. Hal inilah yang membuatnya bermanfaat untuk meredakan ketidaknyamanan akibat hot flashes dan gejala menopause lainnya. Manfaatnya adalah untuk mengurangi risiko kanker, penyakit jantung, dan osteoporosis. Contoh : kedelai, brokoli, jeruk, wortel, kopi, dan kacang polong.

  • Glukosinolat

Glukosinolat berperan dalam mengatur metabolisme tubuh, membantu respons stres, dan mengatasi peradangan. Jenis fitonutrien ini juga mampu mencegah sel kanker dan menghilangkan racun dalam tubuh. Contoh : pakcoy, brokoli, kembang kol, kubis, dan mustard.

Setelah kita mengetahui zat nutrisi apa saja yang diperlukan untuk tubuh, selanjutnya kita perlu mengetahui atau mengukur kebutuhan nutrisi yang diperlukan bagi tubuh kita. Hal ini dikarenakan masing-masing orang memiliki kebutuhan yang berbeda. Faktor yang mempengaruhi kebutuhan nutrisi seseorang adalah berat badan dan tinggi badan yang `aktivitas fisik. Untuk mengetahui berat badan ideal dapat menggunakan rumus sebagai berikut:

Setelah itu perlu dilakukan pengukuran Kebutuhan Kalori Basal atau Basal Metabolic Rate (BMR). Kebutuhan Kalori Basal merupakan kalori yang tubuh diperlukan untuk melakukan aktivitas dasar tubuh. Aktivitas tersebut mencakup memompa jantung, mencerna makanan, bernapas, memperbaiki sel tubuh, hingga membuang racun dalam tubuh.

                        Basal Metabolic Rate (BMR) =

                                    Laki-laki         : 30kkal x IMT

                                    Perempuan      : 25kkal x IMT

Selanjutnya barulah kita mengukur Kebutuhan Kalori Total. Kebutuhan Kalori Total (KKT) adalah Total kalori tubuh berdasarkan kalori yang perlukan untuk melakukan aktivitas dasar tubuh ditambah dengan jumlah kalori saat melakukan aktivitas fisik.

                        KKT    = BMR + % BMR Aktivitas Fisik - % BMR Faktor Koreksi

Aktivitas fisik terbagi menjadi 3 kelompok yaitu aktivitas fisik ringan, sedang, dan berat. Dalam pengukuran Kebutuhan Kalori Total dalam sehari perlu ditentukan besaran aktivitas yang akan dilakukan, aktivitas ringan seperti membaca, menyetir, dan berjalan antara 10-20%; aktivitas sedang seperti menyapu, jalan cepat, dan bersepeda antara 20-40%, dan aktivitas berat seperti aerobik, jogging, mendaki, dan berjalan jauh 40%. Faktor koreksi sendiri dilihat berdasarkan usia, dengan ketentuan pada usia 40-59 tahun 5%, usia 60-69 tahun 10% dan lebih dari 70 tahun 20%. Untuk usia di bawah 40 tahun tidak perlu dikurangi dengan faktor koreksi.

Besaran nilai Kebutuhan Kalori Total inilah yang merupakan acuan untuk mengontrol jumlah kalori yang masuk ke dalam tubuh setiap harinya. Asupan kalori yang terlalu rendah atau terlalu tinggi bisa menyebabkan berbagai masalah kesehatan. Apabila asupan kalori terlalu tinggi, tubuh akan menyimpan kelebihan energi dalam bentuk lemak. Kadar lemak tubuh yang berlebihan bisa menyebabkan berbagai macam penyakit, misalnya penyakit jantung. Sehingga para ahli gizi menyarankan untuk mengkonsumsi tidak melebihi jumlah kebutuhan kalori total setiap harinya.

MENGENAL LEBIH DEKAT KANKER OVARIUM
Artikel 27 Sep 2022

MENGENAL LEBIH DEKAT KANKER OVARIUM

Oleh: Ns. Dwi Fitriyanti, M. Kep - Dosen S-1 Keperawtaan STIKES Telogorejo Semarang

Ovarium atau indung telur merupakan sepasang kelenjar yang bentuknya mirip kacang almond yang terletak pada kedua sisi uterus dan di bawah bukaan tuba falopi. Tuba falopi sendiri adalah saluran yang membawa sel telur yang telah dibuahi menuju rahim. Selain memproduksi sel telur (ovum), ovarium juga memproduksi hormon wanita yang kita kenal sebagai estrogen dan progesterone.

Apa sih Kangker Ovarium ?

Kanker ovarium adalah jenis kanker yang berkembang di dalam, sekitar atau luar lapisan ovarium. Kanker indung telur (ovarium) merupakan keganasan organ reproduksi perempuan. Kanker ini merupakan jenis kanker tersering kedua dari seluruh kanker ginekologis di dunia dan merupakan jenis kanker terbanyak ketiga yang diderita wanita di Indonesia.

Pada tahun 2020, terdapat sekitar 21.750 kasus baru kanker ovarium, yang merupakan 1,2% dari seluruh kasus kanker. Perkiraan jumlah kematian terkait dengan itu adalah 13.940. Tingkat kelangsungan hidup relatif 5 tahun diharapkan menjadi 48,6%. Sekitar 15,7% kasus kanker ovarium didiagnosis pada stadium lokal, dan sekitar 58% pada stadium metastasis, di mana kelangsungan hidup 5 tahun turun menjadi 30,2%, bukan 92,6% jika penyebaran lokal terdeteksi pada stadium awal. Sembilan puluh persen kanker ovarium paling umum adalah epitel, dengan subtipe serosa.

Faktor Risiko yang Perlu Diketahui

Penyebab kanker ovarium sampai saat ini belum diketahui secara pasti. Ada berbagai faktor risiko yang berhubungan dengan kanker ovarium yaitu:

  1. Wanita pasca menopause

Ini sebagian besar mempengaruhi wanita pascamenopause, di mana bertambahnya usia dikaitkan dengan peningkatan kejadian kanker ovarium, stadium lanjut penyakit ini, dan tingkat kelangsungan hidup yang dilaporkan lebih rendah.

  • Paritas

Paritas atau jarak kehamilan kurang dari 2 tahun memiliki peran penyebab kanker ovarium.

  • Genetik atau keturunan

Faktor risiko terkuat kanker ovarium adalah riwayat keluarga positif kanker payudara, kanker ovarium maupun kanker serviks,

  • Merokok

Beberapa penelitian menunjukkan peningkatan risiko merokok, terutama risiko tumor epitel musinosa diyakini menjadi factor resiko terjadinya kanker ovarium.

  • Factor reproduksi dan hormonal

Faktor reproduksi dan hormonal keduanya diduga menjadi faktor terjadinya kanker ovarium, menghubungkan pengaruh gonadotropin yaitu LH dan FSH, paparan terus menerus ovarium dengan gonadotropin dan peningkatan kadar estradiol memungkinkan karsinogenik.

  • Obesitas atau kegemukan

Indeks massa tubuh atau obesitas, review sistematik mendapat kenaikan risiko kanker ovarium pada wanita dengan BMI >/ 40 kg/m2

Kanker ovarium memiliki pertumbuhan yang cepat, tahapan awal biasanya tidak bergejala, dan ditemukan secara kebetulan pada pemeriksaan rutin, umumnya lebih dari 60% penderita didiagnosis setelah berada dalam keadaan lanjut. Gejala dan tanda klinis yang biasa dijumpai adalah pembesaran perut, terdapat massa di dalam rongga perut atau pelvis, gejala gangguan pencernaan makanan (dispepsia), gangguan buang air kecil dan besar, gangguan haid, gejala penekanan rongga perut berupa: rasa mual, muntah, hilang nafsu makan, nyeri perut dan terasa penuh pada perut sehingga merasa cepat kenyang.

Bagaimana melakukan pecegahan kanker ovarium?

Pencegahan penyakit kanker dapat dilakukan dengan menurunkan berbagai risikonya. Berikut ini cara untuk mencegah kanker ovarium adalah:

  1. Mengonsumsi pil KB kombinasi
  2. Tidak menggunakan terapi penggantian hormon
  3. Tidak merokok
  4. Menerapkan pola hidup sehat
  5. Menjaga berat badan ideal
  6. Atur jarak kehamilan lebih dari 2 tahun

Bagimana skrining awal kanker ovarium?

Skrining kanker ovarium sangatlah penting untuk deteksi awal, karena seringkali pasien datang sudah stadium lanjut atau suudah mengalami metastase organ lain. Selain perlu mengenali tanda gejala yang muncul untuk antisipasi terhadap kanker ovarium. Dasar biologis untuk skrining adalah kelangsungan hidup dari penderita kanker ovarium berhubungan dengan stadium saat diagnosis.

  1. Penanda tumor CA 125 salah satu tes skrining noninvasif, mudah dilakukan, pilihan potensial pada pembawa mutasi gen BRCA1 atau BRCA 2
  2. Melakukan cek berkala seperti pemeriksaan panggul rutin setahun sekali. Pemeriksaan lanjutan dilakukan bila dokter menduga seseorang menderita kanker ovarium
  3. USG abdomen, CT Scan atau MRI (jika diperlukan)
  4. Tes darah dengan cek CA 125 (marker kanker ovarium)
  5. Biopsi (sampel jaringan ovarium di periksa untuk mengetahui ada keganasan atau tidak)
  6. Protein human epididymis 4(HE4) memiliki sensitivitas yang sama dengan CA 125 tetapi pemeriksaan HE4 digunakan untuk monitoring kekambuhan atau pregresivitas kanker ovarium

Kenali lebih dekat dan cegah kanker ovarium. Hidup sehat dan produktif untuk kualitas hidup lebih baik

Mengenal Lebih Jauh Kanker Serviks, Mimpi Buruk para Wanita
Artikel 20 Sep 2022

Mengenal Lebih Jauh Kanker Serviks, Mimpi Buruk para Wanita

Oleh : Mudy Oktiningrum, S.SiT., M.Keb, Dosen Prodi S-1 Kebidanan STIKES Telogorejo Semarang

Di antara sekian banyak jenis kanker, kanker serviks merupakan salah satu penyakit yang hanya menyerang wanita. Kanker serviks sendiri terbentuk pada jaringan serviks—organ yang menghubungkan antara rahim dan vagina. Gejala kanker serviks biasanya tidak akan langsung muncul saat seseorang mengalaminya. Namun, dengan skrining rutin lewat tes Pap reguler, sel kanker bisa ditemukan.

Apa saja tanda-tanda kanker serviks? Untuk memahami lebih jauh tentang kanker serviks termasuk cara pengobatan dan pencegahannya, simak pembahasan berikut ini!

Penyebab Utama dan Faktor Risiko Kanker Serviks

Penyebab kanker serviks yang paling umum ditemukan adalah karena jenis human papillomavirus (HPV) jenis tertentu. Anda bisa tertular HPV dengan berbagai cara termasuk kontak kulit ke kulit di area genital, aktivitas seksual baik secara vaginal, anal, maupun oral, dan lain sebagainya.

Semua orang yang memiliki organ serviks berisiko mengalami kanker serviks. Namun, beberapa faktor bisa meningkatkan risiko seseorang mengalami kanker ini. Beberapa faktor tersebut antara lain adalah:

  • Berusia di bawah 45 tahun, kanker serviks lebih sering menyerang orang yang berusia muda.
  • Memiliki kekebalan tubuh yang lemah (misalnya saja menderita HIV atau AIDS).
  • Memiliki riwayat melahirkan banyak anak atau pernah melahirkan di usia dini (di bawah 17 tahun).
  • Ibu Anda pernah mengonsumsi obat hormonal dietilstilbestrol (DES) saat hamil.
  • Pernah menderita kanker vagina, vulva, ginjal, atau kandung kemih sebelumnya.

Meski pada stadium awal kanker serviks tidak menunjukkan tanda-tanda, pada stadium lanjut, pasien mungkin akan mengalami sejumlah gejala seperti:

  • Perdarahan vagina setelah berhubungan seksual, di antara periode menstruasi atau setelah memasuki usia menopause.
  • Keputihan berair atau berdarah yang berat dan berbau busuk.
  • Nyeri panggul atau rasa sakit saat berhubungan intim.

Jika Anda mengalami salah satu dari gejala di atas, jangan ragu berkonsultasi pada dokter untuk penanganan lebih lanjut.

Jumlah Kasus Kanker Serviks di Indonesia dan Dunia

Dengan predikat sebagai pembunuh wanita nomor satu di Indonesia, kasus kanker serviks cukup banyak ditemukan. Menurut data dari Kemenkes per Januari 2019, ada 23,4 kasus kanker serviks per 100.000 penduduk. Sementara itu, rata-rata kematian tercatat hingga 13,9 kasus per 100.000 penduduk.

Dilansir dari laman resmi WHO, kanker serviks adalah kanker paling umum nomor empat yang menyerang wanita secara global. Pada tahun 2020, tercatat ada 604.000 kasus baru kanker serviks yang terdiagnosis dengan 342.000 kematian di tahun yang sama. Sebanyak 90% dari kasus kematian kanker serviks dunia tahun 2020 terjadi di negara dengan penghasilan rendah hingga menengah.

Penanganan dan Pencegahan terhadap Kanker Serviks

Seperti jenis kanker lain, kanker serviks juga dapat ditangani dengan berbagai cara. Makin dini perawatan dilakukan, makin besar harapan hidup serta peluang kesembuhan pasien. Beberapa opsi pengobatan yang mungkin akan diberikan oleh dokter antara lain adalah:

  • Pembedahan. Kanker serviks pada stadium awal biasanya ditangani dengan operasi atau pembedahan, baik untuk membuang kanker atau mengangkat serviks dan uterus.
  • Radiasi. Terapi radiasi menggunakan sinar bertenaga tinggi untuk membunuh sel kanker.
  • Kemoterapi. Kemoterapi merupakan pengobatan kanker dengan menggunakan obat-obatan tertentu untuk membunuh sel kanker.

Selain ketiga metode pengobatan di atas, ada juga cara pengobatan targeted therapy, imunoterapi, dan perawatan suportif (paliatif). Tenaga medis mungkin akan memadukan beberapa jenis terapi untuk memperoleh hasil pengobatan yang maksimal.

Meskipun Anda memiliki risiko tinggi terkena kanker serviks, ada beberapa tips yang bisa diterapkan untuk mengurangi risiko dan mencegah kanker ini, yakni:

  • Melakukan vaksinasi HPV agar tidak terinfeksi virusnya.
  • Melakukan Pap tes secara rutin. Kebanyakan organisasi kesehatan menyarankan Pap tes dilakukan sejak usia 21 tahun.
  • Melakukan aktivitas seksual yang aman (menggunakan kondom dan tidak berganti-ganti pasangan).
  • Berhenti merokok.

Dengan berbagai cara mencegah kanker serviks di atas, Anda bisa terhindar dari risiko kanker serviks yang menjadi mimpi buruk para wanita. Siap untuk melakukan perubahan saat ini juga?

Sumber:

https://www.who.int/news-room/fact-sheets/detail/cervical-cancerhttps://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/cervical-cancer/symptoms-causes/syc-20352501

PENERIMAAN MAHASISWA BARU 2023/2024

PENERIMAAN MAHASISWA BARU 2023/2024

TELAH DIBUKA!

Penerimaan Mahasiswa Baru ( PMB ) STIKES Telogorejo Semarang Tahun Akademik 2023/2024.

STIKES Telogorejo Semarang terus berkomitmen untuk mencetak tenaga kesehatan profesional di Indonesi. Kami menyediakan sarana dan prasarana yang lengkap seperti

  • Rumah sakit pertaraf internasional sebagai lahan praktek
  • Karir center untuk memfasilitasi perekrutan bagi mahasiswa tingkat akhir dan alumni
  • Fasilitas Lab yang s

YUK MARI IKUTI PENDAFTARAN SELEKSI DAN WAWANCARA DI STIKES TELOGOREJO SEMARANG!

✨DAPATKAN POTONGAN BIAYA PENDIDIKAN DAN BEASISWANYA?

Salam Sehat - ICARE