Back

Universitas Telogorejo Semarang

HomeAuthor: Universitas Telogorejo SemarangPage 52
Pelatihan Basic Trauma Cardiac Life Support (BTCLS) STIKES Telogorejo Semarang

Pelatihan Basic Trauma Cardiac Life Support (BTCLS) STIKES Telogorejo Semarang

Pelatihan BTCLS ( Basic Trauma Cardiac Life Support ) merupakan salah satu pelatihan dasar bagi perawat dalam menangani masalah kegawatdaruratan akibat trauma dan gangguan kardiovaskuler. BTCLS bertujuan untuk memberikan pertolongan pada korban bencana atau gawat darurat guna mencegah kematian atau kerusakan organ sehingga produktivitasnya dapat dipertahankan setara sebelum terjadinya bencana atau peristiwa gawat darurat yang terjadi. Pengetahuan dan skill yang berhubungan dengan BTCLS adalah salah satu prasyarat yang harus dimiliki oleh seorang perawat, baik yang bekerja di pelayanan kesehatan dalam maupun luar negeri.

STIKES Telogorejo bekerjasama dengan Smart Emergency Service untuk memberikan pelatihan BTCLS kepada mahasiswa agar mempunyai bekal keterampilan setelah lulus. Kegiatan ini dilakukan dalam 2 gelombang yaitu :
Gelombang I = 18 - 23 Juli 2022
Gelombang II = 8 - 13 Juli 2022

Semangat untuk para mahasiswa yang mengikuti pelatihan BTCLS ?

Nah, lulus kuliah dari STIKES Telogorejo sudah memiliki bekal pelatihan pelatihan untuk terjun ke dunia kerja
Tunggu apalagi, yuk daftar di STIKES Telogorejo Semarang ?

Solusi Meningkatkan Jumlah ASI Dengan Bahan Lokal
Artikel 25 Jul 2022

Solusi Meningkatkan Jumlah ASI Dengan Bahan Lokal

Oleh : Agnes Isti Harjanti,S.Si.T.,M.Kes – Dosen S1 Kebidanan STIKES Telogorejo Semarang

Masalah keberlangsungan menyusui bayi sampai dengan 6 bulan masih menjadi permasalahan yang belum dapat diatasi secara maksimal. Dari data yang ada, jumlah wanita menysui bayinya tanpa di selingi susu formula ataupun makanan tambahan apapun masih dibawah 80% (data badan statistik). Dari hasil penelitian sebelumnya permasalahan menyusui ini paling banyak disebabkan karena produksi ASI yang menurun (Harjanti, 2020). Fenomena ini dapat dialami oleh wanita menyusui terutama yang asupan makanan dan minuman kurang, dan dialami oleh para wanita menyusui yang bekerja. Produksi ASI dipengaruhi oleh banyaknya asupam makanan yang berkualitas dan minuman yang di konsumsi setiap harinya. Makanan yang dapat meningkatkan produksi ASI dan kualitas ASI tidak harus terbuat dari bahan makanan yang mahal, melainkan banyak didapatkan dari bahan-bahan lokal yang mudah didapatkan di seluruh tempat di Indonesia ini.

Bahan makanan Jagung merupakan bahan lokal yang kurang favorit di masyarakat, akan tetapi kaya vitamin yang dapat membantu meningkatkan produksi ASI. Jagung kurang diminati karena cara pengolahan yang kurang inovatif sehingga rasanya kurang menggugah selera. Dalam 100 gram buah jagung terdapat sekitar 80-100 kalori, serta kandungan beragam zat gizi lain seperti; serat, protein 3,2 gr, karbohidrat kompleks, fosfor, zat besi, zinc, magnesium, tembaga, dan folat serta vitamin-vitamin ; B3, B5, B6 dan Vitamin C. Jagung juga mengandung antioksidan seperti; asam fenolat, zeaxhantin dan lutein. Oleh karena kandungan protein dan Karbohidrat komplek, maka buah jagung dapat membantu meningkatkan produksi ASI. Kandungan protein dalam jagung dibutuhkan ibu menyusui oleh karena kebutuhan protein pada ibu menyusui lebih banyak. Protein yang ada juga berperan dalam menjaga kualitas ASI, serta sebagai sumber protein kandungan didalam ASI untuk memenuhi kebutuhan protein bayi.

Pengolahan Jagung dalam bentuk Modisco-Jagung merupakan inovasi yang dapat diberikan untuk menambah rasa dan kualitas bahan makanan sehingga bertambah nilai gizinya. Modisco singkatan dari Modified Dietetic Skim and Cotton Sheet Oil ditemukan pada tahun 1973 oleh May White Head menurut White pembuatan Modisco digunakan untuk menambah gizi pada anak-anak, Modisco Jagung merupakan modifikasi tambahan yang diberikaan untuk memperlancar ASI dan menambah nutrisi. Formula dasar Modisco terdiri dari bahan - susu skim 10 g atau full cream 12 g - gula 5 g - margarin 5 g, tambahkan 100 gr jagung serut dan tepung sagu 15 gr. Nilai Gizi Energi : 219 Kal, Protein : 6,8 g Lemak : 5 g (Sumber Instalasi Gizi RSUD )

Bahan Modisco Jagung yaitu 3 biji jagung diserut dan dicuci bersih, jagung dihaluskan. Masak susu skim bersama air 4 gelas dicampur dengan 3 sendok margarin dan gula pasir secukupnya. Untuk menambah rasa berikan vanilli bubuk 2 saset. Setelah susu mendidih campurkan jagung yang sudah dihaluskan beserta 3 sendok tepung sagu untuk mengentalkan. Cetak dalam wadah adonan yang sudah matang lalu didiamkan hingga dingin, dapat dikonsumsi 2 kali sehari.

Penutupan Kegiatan Kuliah Kerja Nyata (KKN) S1 Farmasi STIKES Telogorejo Semarang

Penutupan Kegiatan Kuliah Kerja Nyata (KKN) S1 Farmasi STIKES Telogorejo Semarang

Kegiatan Kuliah Kerja Nyata (KKN) program studi S1 Farmasi yang berlangsung di Karangayu, Semarang telah selesai. Acara penutupan KKN berlangsung pada hari Senin, 21 Juli 2022 di Kelurahan Karangayu Semarang. Kegiatan ini di hadiri oleh Kepala Kelurahan dan perangkat desa Karangayu, perwakilan dari puskesmas, pembimbing lahan, kader Kesehatan serta Ketua program studi dan perwakilan dosen S1 Farmasi STIKES Telogorejo.

Pelaksanaan KKN ini dimulai pada tanggal 14 Juni 2022. Adapun rangkaian kegiatan yang telah dilaksanakan selama kurang lebih 35 hari tersebut meliputi pembuatan kosmetik dari bahan alami,pembuatan jamu untuk mencegah hipertensi, pembuatan jahe instan, penyuluhan stanting serta DAGUSIBU dan masih banyak lagi. Selain itu, program kerja pendukung lainnya seperti gotong royong untuk membasmi jentik nyamuk, senam Lansia dan bercocok tanam. Keseluruhan program kerja telah terlaksana dengan baik dalam rentang waktu kurang lebih 35 hari tersebut.

Nah, kamu ingin ikut andil dalam acara KKN S1 Farmasi seperti kakak-kakak tersebut ?
Yuk gabung di S1 Farmasi STIKES Telogorejo Semarang ??

Salam Sehat - ICARE

Working
Business 22 Jul 2022

Working

Lorem Ipsum is simply dummy text of the printing and typesetting industry. Lorem Ipsum has been the industry's standard dummy text ever since the 1500s, when an unknown printer took a galley of type and scrambled it to make a type specimen book. It has survived not only five centuries, but also the leap into electronic typesetting, remaining essentially unchanged. It was popularised in the 1960s with the release of Letraset sheets containing Lorem Ipsum passages, and more recently with desktop publishing software like Aldus PageMaker including versions of Lorem Ipsum. It is a long established fact that a reader will be distracted by the readable content of a page when looking at its layout. The point of using Lorem Ipsum is that it has a more-or-less normal distribution of letters, as opposed to using 'Content here, content here', making it look like readable English. Many desktop publishing packages and web page editors now use Lorem Ipsum as their default model text, and a search for 'lorem ipsum' will uncover many web sites still in their infancy. Various versions have evolved over the years, sometimes by accident, sometimes on purpose (injected humour and the like). There are many variations of passages of Lorem Ipsum available, but the majority have suffered alteration in some form, by injected humour, or randomised words which don't look even slightly believable. If you are going to use a passage of Lorem Ipsum, you need to be sure there isn't anything embarrassing hidden in the middle of text. All the Lorem Ipsum generators on the Internet tend to repeat predefined chunks as necessary, making this the first true generator on the Internet. It uses a dictionary of over 200 Latin words, combined with a handful of model sentence structures, to generate Lorem Ipsum which looks reasonable. The generated Lorem Ipsum is therefore always free from repetition, injected humour, or non-characteristic words etc. The standard chunk of Lorem Ipsum used since the 1500s is reproduced below for those interested. Sections 1.10.32 and 1.10.33 from "de Finibus Bonorum et Malorum" by Cicero are also reproduced in their exact original form, accompanied by English versions from the 1914 translation by H. Rackham.
Cedera Kepala : Kenali & Perhatikan Prinsip Pertolongan Pertamanya
Artikel 18 Jul 2022

Cedera Kepala : Kenali & Perhatikan Prinsip Pertolongan Pertamanya

Oleh : Ns. Arlies Zenitha Victoria, M.Kep, Dosen S-1 Keperawatan STIKES Telogorejo Semarang

Trauma merupakan salah satu penyebab kematian terbanyak di dunia. Peningkatan kematian akibat kecelakaan lalu lintas mencapai angka 83% di negara berkembang pada tahun 2000 – 2020. Dimana kasus terbanyak adalah trauma kepala atau cidera kepala. Kasus cidera kepala menjadi kasus yang paling beresiko menyebabkan kematian serta kecacatan permanen. Setiap tahunnya kejadian cedera kepala di dunia diperkirakan mencapai 500.000 kasu, diatas 10% korban meninggal sebelum tiba di rumah sakit. Selain itu, lebih dari 100.000 korban menderita berbagai tingkat kecacatan akibat cedera kepala.

Apa itu Cedera Kepala ?

Cedera kepala adalah cedera mekanik secara langsung atau tidak langsung mengenai kepala yang mengakibatkan cedera di kulit kepala, fraktur tulang tengkorak, robekan selaput otak dan kerusakan jaringan otak itu sendiri serta mengakibatkan gangguan neurologis. Secara mekanisme terjadinya cedera, cedera kepala dibagi menjadi cedera kepala tumpul dan cedera kepala tajam. Sementara menurut kegawatannya, cedera kepala terbagi atas cedera kepala ringan, sedang, dan berat. Penilaian kegawatan cedera kepala dapat dilakukan dengan menilai tingkat kesadaran dengan menggunakan Glasgow Coma Scale (GSC) serta tanda klinis yang terjadi pada pasien.

Banyaknya kasus cedera kepala dapat menimbulkan kondisi yang gawat darurat bahkan kematian. Oleh sebab itu, pertolongan yang segera diperlukan untuk mencegah morbiditas dan mortalitas korban. Pertolongan yang diberikan dilokasi kejadian merupakan bagian dari pre hospital care. Pemberian pertolongan pre hospital care secara tepat dapat menurunkan resiko kematian akibat trauma. Pertolongan terlambat atau kurang tepat, dapat menyebabkan kondisi fatal.

Bagaimana Langkah Awal Yang Harus Dilakukan ?

Sebagai penolong korban, langkah awal yang harus kita lakukan adalah memastikan 3A, yaitu aman diri, aman pasien dan aman lingkungan. Selanjutnya, kita dapat melakukan cek respon korban dengan memanggil nama korban sambil menepuk bahu. Bila tidak ada respon, segera panggil bantuan atau dapat menelpon ambulans. Sambil menunggu bantuan datang, kita dapat melakukan cek nadi dan nafas korban secara simultan. Cek nadi dilakukan pada nadi karotis (terletak di leher) dan lihat pengembangan dada korban untuk memastikan ada atau tidaknya pernafasan.

Melakukan stabilisasi kepala dan leher korban juga merupakan hal yang sangat penting dalam melakukan pertolongan pertama pada kasus cedera kepala. Cedera kepala erat hubungannya dengan cedera tulang servikal (cedera tulang leher). Beberapa hal yang perlu diperhatikan sebelum menolong korban adalah lakukan observasi apakah pasien mengalami cedera kepala dengan penurunan kesadaran, adakah jejas di atas tulang klavikula (tulang selangka) mengarah ke atas, trauma lebih dari satu tempat (multiple trauma), dan biomekanika trauma mendukung. Bila hal tersebut terjadi pada korban cedera kepala, kita perlu waspada bahwa korban juga mengalami cedera tulang servikal. Stabilkan kepala dan leher dengan meletakkan kedua tangan penolong di kedua sisi kepala korban. Kemudian, jaga agar kepala sejajar dengan tulang belakang dan jaga agar tubuh korban tidak banyak bergerak sambil menunggu bantuan tim kesehatan datang.

Bila korban cedera kepala mengalami perdarahan di bagian kepala, segera lakukan balut tekan pada titik perdarahan dengan kain bersih. Namun perlu diperhatikan, jangan sampai menggerakan kepala korban. Meskipun terjadi perdarahan, penolong tidak diperbolehkan menekan tulang kepala yang terbuka atau menariknya. Langsung tutup dengan kasa steril atau kain bersih bila terjadi fraktur terbuka pada tulang kepala. Jika cedera kepala yang dialami oleh korban membuatnya muntah – muntah, miringkan tubuh korban dengan tetap melakukan stabilisasi pada kepala dan leher korban.

Pentingnya penanganan segera pada klien cedera kepala sangat berpengaruh pada kerusakan neurologis yang mungkin muncul akibat cedera. Edukasi kepada masyarakat tentang pertolongan pertama cedera kepala diharapakan dapat meningkatkan pengetahuan dan keterampilan masyarakat ketika menolong korban cedera kepala. Hal ini didukung juga oleh WHO dengan program safe community bahwa edukasi ini meliputi segala usia di segala lingkungan dan situasi, lebih diarahkan ke pencegahan kecelakaan, meningkatkan kapasitas masyarakat untuk mencegah kecelakaan, dan organisasi kesehatan menjadi peran penting dalam pelaksanaan program ini.

Pembentukan Karakter dan Soft Skill Untuk Tenaga Kesehatan
Artikel 07 Jul 2022

Pembentukan Karakter dan Soft Skill Untuk Tenaga Kesehatan

Oleh : Joan Ariesta Puspasari, S.Psi, M.Psi, Psikolog - Dosen Bimbingan Konseling

Menurut UU No.36 tahun 2014 yang dimaksud dengan tenaga kesehatan adalah setiap orang yang mengabdikan diri dalam bidang kesehatan serta memiliki pengetahuan dan/atau keterampilan melalui pendidikan di bidang kesehatan yang untuk jenis tertentu memerlukan kewenangan untuk melakukan upaya kesehatan.

Masih menurut UU yang sama, disebutkan ada beberapa kelompok tenaga kesehatan, meliputi tenaga :

  1. Tenaga medis
  2. Psikologi klinis
  3. Keperawatan
  4. Kebidanan
  5. Kefarmasian
  6. Kesehatan masyarakat
  7. Kesehatan lingkungan
  8. Gizi
  9. Keterapian fisik
  10. Keteknisian medis,
  11. Teknik biomedika;
  12. Kesehatan tradisional; dan
  13. Tenaga kesehatan lain.

Dalam memberikan pelayanan kesehatan, tenaga profesional yang terlibat haruslah memiliki hard skill yang baik. Namun, hal ini saja tidak cukup, soft skill dan karakter juga akan menentukan keberhasilan pengobatan dan kepuasan pasien. Maka dari itu, setiap tenaga kesehatan perlu untuk melewati pendidikan pembentukan karakter dan soft skill yang baik.

Tentang Soft Skill

Apa yang dimaksud dengan soft skill? Soft skill merupakan kemampuan mengelola proses pekerjaan (organizing), hubungan antar manusia (human relation), dan membangun interaksi dengan orang lain. Contohnya kepemimpinan, komunikasi, dan hubungan interpersonal.

Meski sudah memiliki hard skill yang mumpuni, bila tidak dibarengi dengan soft skill yang baik, orang akan sulit beradaptasi dengan pekerjaannya sendiri maupun rekan sejawatnya. Hal ini tidak hanya terjadi di dunia kesehatan, tetapi juga di bidang pekerjaan manapun.

Ada banyak sekali jenis soft skill. Akan tetapi, mengutip Schulz (2008), soft skill yang paling krusial dimiliki seseorang adalah keterampilan berkomunikasi. Keterampilan berkomunikasi akan memengaruhi soft skill yang lain seperti manajemen konflik dan mengelola diskusi.

Soft Skill Tenaga Kesehatan

Puspita (2013), menyebutkan etika adalah salah satu soft skill  yang tidak dapat dipisahkan dari profesi kedokteran. Begitu pula dengan seorang perawat, etika keperawatan akan menjadi pedoman bagi seorang perawat dalam pemecahan masalah dan pengambilan keputusan etis.

Soft skill lain yang juga dibutuhkan oleh tenaga kesehatan adalah kemampuan berpikir taktis dan organisasional. Kemampuan organisasional terkait kemampuan dalam merencanakan segala sesuatunya agar tindakan yang dilakukan dapat mencapai tujuan dari pelayanan.

Berkaitan dengan keterampilan berkomunikasi, soft skill seperti kemampuan berdiplomasi, regulasi emosi, empati juga penting untuk dikembangkan seorang tenaga kesehatan. Kemampuan berdiplomasi nantinya juga akan berimbas pada kemampuan untuk bekerja sama dengan sejawat lainnya.

Integritas tenaga kesehatan saat melayani pasien adalah soft skill lain yang menentukan mutu pelayanan kesehatan yang diberikan. Integritas ini tercermin dari sikap yang mengutamakan pasien, perilaku baik, dan melakukan sesuatu sesuai yang dikatakannya.

Dalam Standar Kompetensi Dokter Umum sendiri, terdapat tiga area kompetensi yang sebenarnya termasuk dalam kategori soft skill, yaitu profesionalitas yang luhur, mawas diri dan pengembangan diri, serta komunikasi efektif. Sedangkan dalam Standar Kompetensi Perawat ada satu area kompetensi perawat yang merupakan kategori soft skill, yaitu praktek profesionalitas, etis, legal, dan peka budaya.

Pembentukan Soft Skill

Untuk bisa memiliki soft skill yang cukup, seorang tenaga kesehatan perlu melalui serangkaian pelatihan dan praktik. Evaluasi berkala dan insentif tenaga kesehatan dari tempat bekerja bisa jadi cara untuk mendorong pengembangan diri dan profesionalisme tenaga kesehatan tersebut.

Meningkatkan soft skill juga bisa dilakukan dengan cara melatih diri sendiri dengan terlebih dahulu menyadari apa-apa saja keterampilan yang perlu dibenahi atau ditingkatkan. Soft skill bisa dibentuk dengan mengimplementasikan kebiasaan-kebiasaan baik dalam sehari-hari hingga akhirnya kebiasaan tersebut berubah menjadi karakter.

Soft skill perlu menjadi prioritas untuk dikembangkan tenaga kesehatan, karena bagaimanapun 75% kesuksesan seseorang itu ditentukan oleh keterampilannya, dan hanya 25%-nya saja yang ditentukan oleh pengetahuan teknikal (Stanford Research Institute International dan the Carnegie Melon).

Ikuti Kuliah Pakar dengan Topik “Kode Etik Keperawatan”

Ikuti Kuliah Pakar dengan Topik “Kode Etik Keperawatan”

[Kuliah Pakar : Kode Etik Keperawatan di Indonesia] ??

Semua pekerjaan memiliki kode etik sebagai bentuk profesional. Tak terkecuali sebagai tenaga kesehatan seperti perawat. 

Nah ilmu nih... Ingin tau lebih detail? 

Yuk ikut menyimak kuliah pakar pada :

?Rabu, 6 Juli 2022

⏰08.00 WIB - selesai

?zoom meet ( https;//bit.ly/kuliahpakar_kode_etik_keperawaan )

Bersama Sekertaris Majelis Kehormatan Etik Keperawatan 

?: Madya Sulisno, S.Kp., M.Kes

*TERBUKA UNTUK UMUM* Dan *GRATIS*

Jangan sampai Ketinggalan !

Salam sehat - ICARE

Perawat dan Peluangnya sebagai Entrepreneur
Artikel 23 Jun 2022

Perawat dan Peluangnya sebagai Entrepreneur

Oleh : Nana Noviada K, SE., MM - Dosen STIKES Telogorejo Semarang

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, perawat adalah orang yang bekerja sebagai tenaga kesehatan profesional yang tugasnya memberikan perawatan kepada pasien atau klien, baik berupa aspek psikologis, biologis, sosial, dan spiritual dengan mengaplikasikan proses keperawatan.

Kebanyakan lulusan keperawatan berharap untuk mendapatkan pekerjaan di rumah sakit ataupun fasilitas kesehatan lainnya. Namun, sayangnya seringkali ada gap antara keterampilan para fresh graduate dan harapan pemberi kerja membuat kesempatan bekerja di rumah sakit ataupun klinik menjadi tidak mudah didapatkan.

Timpangnya jumlah lulusan perawat dan posisi yang tersedia di lapangan membuat pentingnya bagi seorang perawat memiliki bekal ilmu entrepreneurship. Tidak hanya karena hal tersebut saja, tetapi juga untuk bisa memiliki kondisi finansial yang lebih baik. Pasalnya, tidak bisa dimungkiri, gaji perawat di beberapa daerah bahkan tidak selaras dengan UMP daerah tersebut.

Nursepreneurship

Tugas perawat pada dasarnya memang memberikan pelayanan dan edukasi kesehatan, walau begitu perawat sebenarnya memiliki peluang untuk mengembangkan bisnis atau usahanya sendiri di bidang keperawatan tanpa meninggalkan tugas pokoknya. Menjadi seorang perawat yang menjalankan nursepreneurship berarti menjadi seorang pengusaha (nursepreneur) di bidang keperawatan yang mengintegrasikan nilai-nilai keperawatan yang dapat dipertanggungjawabkan langsung kepada klien atas usaha/bisnis yang dijalankannya.

Rio Febrian (2015), dalam bukunya yang berjudul "Nursepreneurship: Gagasan & Praktik Kewirausahaan dalam Keperawatan", menyatakan bahwa nursepreneur adalah seorang perawat pengusaha yang dalam hal ini bekerja secara mandiri saat memberikan pelayanan keperawatan yang meliputi antara lain perawatan langsung, penelitian, pendidikan, administratif atau konsultasi dalam menciptakan bisnis/usahanya.

Peluang Usaha untuk Perawat

Ada banyak peluang usaha yang bisa dibidik di bidang keperawatan, di antaranya:

  1. Area Pelayanan Keperawatan

Pada area pelayanan keperawatan, seorang perawat dapat berperan serta sebagai penggagas ide, pengelola, pemilik saham, atau sebagai pemilik usaha. Ada banyak jenis usaha yang bisa dijalankan di area pelayanan keperawatan, contohnya saja usaha home care.

Menurut Kementrian Kesehatan, layanan home care adalah pelayanan kesehatan yang berkesinambungan dan juga komprehensif, yang dalam hal ini diberikan kepada individu dan keluarga di tempat tinggal mereka yang memiliki tujuan untuk mempertahankan, memulihkan kesehatan, meningkatkan tingkat kemandirian, serta berusaha meminimalkan akibat dari suatu penyakit (Depkes RI, 2002).

Layanan home care ini sendiri jika dijalankan dengan baik bahkan bisa memberikan penghasilan yang jauh melebihi gaji perawat di rumah sakit. Pasien-pasien terminal yang membutuhkan perawatan paliatif juga akan sangat terbantu dengan layanan semacam ini.

Area pelayanan lain yang memungkinkan menjadi usaha perawat contohnya adalah sebagai praktisi terapi komplementer atau fisioterapis. Seorang nursepreneur di pelayanan keperawatan bisa membangun usahanya dengan membuka klinik berkolaborasi dengan tenaga kesehatan lain seperti dokter, apoteker, atau bidan.

  • Area Pendidikan

Ilmu pengetahuan akan selalu berkembang. Membangun sebuah usaha yang memberikan pelatihan komprehensif berkelanjutan di bidang keperawatan demi mencetak perawat berkualitas menjadi salah satu pilihan usaha.

  • Area Manajerial

Perawat yang memiliki ketertarikan dan kompetensi di bidang manajemen sumber daya manusia, khususnya keperawatan, dapat mencoba menjadi seorang konsultan. Atau bisa juga dengan membentuk firma konsultan legal keperawatan.

Tantangan Menjadi Nursepreneur

Bisnis di bidang apapun akan selalu memberikan tantangan. Apalagi ketika bisnis sudah berjalan, cobaan dan godaan akan selalu datang bergantian. Ketika Anda memutuskan untuk menjadi seorang nursepreneur tantangan baik internal maupun eksternal adalah hal yang tak terelakkan.

Tantangan internal mencakup kecakapan pribadi Anda sendiri dalam mengelola diri. Sedangkan tantangan eksternal bicara tentang bagaimana empati dan kecakapan sosial Anda saat mengelola bisnis.

Perawat Harus Melek Entrepreneurship

Perawat adalah profesi yang mulia, tetapi tantangan zaman memang menuntut perawat untuk dapat memiliki soft skill lebih seperti entrepreneurship. Keahlian kewirausahaan akan memberikan kesempatan tambahan dalam berkontribusi di masyarakat, tentunya akan meningkatkan finansial dibanding dengan yang hanya mengandalkan gaji perawat di rumah sakit.

Konsep nursepreneurship adalah hal yang harus diketahui setiap perawat. Para nursepreneur ini akan menjadi pendukung majunya perekonomian bangsa dan tumpuan harapan baru di masa depan.