Universitas Telogorejo Semarang
Hari Raya Nyepi tahun 2022
Selamat Hari Raya Nyepi Tahun Baru Saka 1944 bagi teman-teman yang sedang merayakan
Semoga Sang Hyang Widhi senantiasa melimpahkan wara nugrahaNya kepada semua makhluk dan alam semesta
Tetap jaga protokol kesehatan dimana pun anda berada dan stay safe everyone ?
Salam sehat - ICARE
Memperingati Isra Miraj 2022 M/1443 H
Selamat memperingati Isra Miraj 1443 H untuk semua umat muslim diseluruh dunia. Semoga keberkahan dan keberkahan senantiasa menyertai kita
Dan tetaplah perbanyak ibadah dan amal baik
Jangan lupa, patuhi protokol kesehatan dimana pun anda berada, stay safe everyone?
Salam sehat - ICARE
Dosen STIKES Telogorejo Berlisensi Internasional???
Tenaga pengajar profesional STIKES Telogorejo, beberapa diantaranya telah meraih Lisensi Internasional salah satunya adalah Ns. Prita Adisty.
Dosen yang akrab disapa Bu Prita ini telah mendapatkan Lisensi Internasional Qatar-RN pada tahun 2020 lalu
Jadi ,apakah kalian ingin seperti beliau mendapatkan lisensi internasional dan bisa bekerja di Luar Negeri ?atau kalian ingin belajar bagaimana tips and tricknya supaya lolos uji Prometrixnya??
Salam sehat -ICARE
JAGA DIRI DENGAN KENALI REPRODUKSI SAAT REMAJA
Oleh : Widya Mariyana,S.ST.,M.Kes - Dosen S-1 Kebidanan STIKES Telogorejo Semarang
Masa remaja adalah masa transisi antara masa kanak-kanak dengan dewasa dan relatif belum mencapai tahap kematangan mental dan sosial sehingga mereka harus menghadapi tekanan-tekanan emosi dan sosial yang saling bertentangan. Banyak sekali life events yang akan terjadi yang tidak saja akan menentukan kehidupan masa dewasa tetapi juga kualitas hidup generasi berikutnya sehingga menempatkan masa ini sebagai masa kritis.
Memasuki masa remaja yang diawali dengan terjadinya kematangan seksual, maka remaja akan dihadapkan pada keadaan yang memerlukan penyesuaian untuk dapat menerima perubahan-perubahan yang terjadi. Kematangan seksual dan terjadinya perubahan bentuk tubuh sangat berpengaruh pada kehidupan kejiwaan remaja. Selain itu kematangan seksual juga mengakibatkan remaja mulai tertarik terhadap anatomi fisiologi tubuhnya. Selain tertarik kepada dirinya, juga mulai muncul perasaan tertarik kepada teman sebaya yang berlawanan jenis.
Pengaruh informasi global (paparan media audio-visual) yang semakin mudah diakses justru memancing anak dan remaja untuk mengadaptasi kebiasaan-kebiaasaan tidak sehat seperti merokok, minum minuman berakohol, penyalahgunaan obat dan suntikan terlarang, perkelahian antar-remaja atau tawuran. Pada akhirnya, secara kumulatif kebiasaan-kebiasaan tersebut akan mempercepat usia awal seksual aktif serta mengantarkan mereka pada kebiasaan berperilaku seksual yang berisiko tinggi, karena kebanyakan remaja tidak memiliki pengetahuan yang akurat mengenai kesehatan reproduksi dan seksualitas serta tidak memiliki akses terhadap informasi dan pelayanan kesehatan reproduksi, termasuk kontrasepsi.
Keterbatasan akses dan informasi mengenai seksualitas dan kesehatan reproduksi
bagi remaja di Indonesia ’bisa dipahami’ karena masyarakat umumnya masih menganggap seksualitas sebagai sesuatu yang tabu dan tidak untuk dibicarakan secara terbuka. Orang tua biasanya enggan untuk memberikan penjelasan masalah-masalah seksualitas danreproduksi kepada remajanya, dan anak pun cenderung malu bertanya secara terbuka kepada orang tuanya.
BAGAIMANA CARA KITA MENJELASKAN TENTANG SEKSUALITAS?
Memberikan pendidikan life skill, menunda pernikahan dan kehamilan semasa
remaja dan cegah HIV dan AIDS serta memberikan informasi yang benar merupakan upaya untuk meningkatkan perilaku hidup sehat, mengingat remaja adalah kelompok usia yang tergolong sangat rawan terhadap berbagai hal yang berhubungan dengan kecakapan hidup sehat.
APA SAJA HAK-HAK REMAJA TERKAIT DENGAN KESEHATAN REPRODUKSI?
Selain kebutuhan-kebutuhan tersebut, remaja juga memiliki hak-hak mendasar terkait
kesehatan reproduksinya. Hak-hak itu juga harus terpenuhi sebagai kebutuhan dasar
mereka. Hak-hak itu adalah :
- Hak hidup. Ini adalah hak dasar setiap individu tidak terkecuali remaja, untuk terbebasdari resiko kematian karena kehamilan, khususnya bagi remaja perempuan.
- Hak atas pelayanan dan perlindungan kesehatan. Termasuk dalam hal ini adalah perlindungan privasi, martabat, kenyamanan, dan kesinambungan.
- Hak atas kerahasiaan pribadi. Artinya, pelayanan kesehatan reproduksi bagi remaja dan setiap individu harus menjaga kerahasiaan atas pilihan-pilihan mereka.
- Hak atas informasi dan pendidikan. Ini termasuk jaminan kesehatan dan kesejahteraan perorangan maupun keluarga dengan adanya informasi dan pendidikan Kesehatan reproduksi yang memadai tersebut.
- Hak atas kebebasan berpikir. Ini termasuk hak kebebasan berpendapat, terbebas dari penafsiran ajaran yang sempit, kepercayaan, tradisi, mitos-mitos, dan filosofi yang dapat membatasi kebebasan berpikir tentang pelayanan kesehatan reproduksi dan seksual.
- Hak berkumpul dan berpartisipasi dalam politik. Hal ini termasuk mendesak pemerintah dan parlemen agar menempatkan masalah kesehatan reproduksi menjadi prioritas kebijakan negara.
- Hak terbebas dari penganiayaan dan perlakuan buruk. Hal ini terutama bagi anak-anak dan remaja untuk mendapatkan perlindungan dari eksploitasi, pelecehan, perkosaan, penyiksaan, dan kekerasan seksual.
- Hak mendapatkan manfaat dari ilmu pengetahuan terbaru. Yaitu hak mendapatkan pelayan kesehatan reproduksi yang terbaru, aman, dan dapat diterima.
- Hak memutuskan kapan punya anak, dan punya anak atau tidak.
- Hak atas kesetaraan dan bebas dari segala bentuk diskriminasi. Ini berarti setiap individu dan juga remaja berhak bebas dari segala bentuk diskriminasi termasuk kehidupan keluarga, reproduksi, dan seksual.
- Hak untuk memilih bentuk keluarga. Artinya, mereka berhak merencanakan, membangun, dan memilih bentuk keluarga (hak untuk menikah atau tidak menikah).
- Hak atas kebebasan dan keamanan. Remaja berhak mengatur kehidupan seksual dan reproduksinya, sehingga tidak seorang pun dapat memaksanya untuk hamil, aborsi, ber-KB dan sterilisasi.
APA SAJA MASALAH KESEHATAN REPRODUKSI REMAJA?
Kuatnya norma sosial yang menganggap seksualitas adalah tabu akan berdampak
pada kuatnya penolakan terhadap usulan agar pendidikan seksualitas terintegrasikan kedalam kurikulum pendidikan. Sekalipun sejak reformasi bergulir hal ini telah diupayakanoleh sejumlah pihak seperti organisasi-organisasi non pemerintah (NGO), dan jugaPemerintah sendiri (khususnya Departemen Pendidikan Nasional), untuk memasukkanseksualitas dalam mata pelajaran ’Pendidikan Reproduksi Remaja’; namun hal ini belum sepenuhnya mampu mengatasi problem riil yang dihadapi remaja.
Faktanya, masalah terkait seksualitas dan kesehatan reproduksi masih banyak
dihadapi oleh remaja. Masalah-masalah tersebut antara lain :
1. Perkosaan.
2. Free sex.
3. Kehamilan Tidak Diinginkan (KTD).
4. Aborsi.
5. Perkawinan dan kehamilan dini.
BAGAIMANA PENANGANAN MASALAH KESEHATAN REPRODUKSI REMAJA?
Ruang lingkup masalah kesehatan reproduksi perempuan dan laki-laki menggunakan pendekatan siklus kehidupan. Berdasarkan masalah yang terjadi pada setiap fase kehidupan, maka upaya-upaya penanganan masalah kesehatan reproduksi remaja sebagai berikut :
1. Gizi seimbang.
2. Informasi tentang kesehatan reproduksi.
3. Pencegahan kekerasan, termasuk seksual.
4. Pencegahan terhadap ketergantungan NAPZA.
5. Pernikahan pada usia wajar.
6. Pendidikan dan peningkatan ketrampilan.
7. Peningkatan penghargaan diri.
8. Peningkatan pertahanan terhadap godaan dan ancaman. Perlu diingat bahwa diri kita sendiri yang bertanggung jawab terhadap organ reproduksi kita, mari jaga dan sayangi organ reproduksi kita mulai sejak dini agar terhidar dari hal-hal yang tidak diinginkan.
Sumber gambar :
Tahukah kamu ?
TENS = Transcutaneous Electrical Nerve Stimulation
Merupakan alat yang dapat menghasilkan beberapa macam arus listrik yang berfungsi untuk merangsang saraf yang bermasalah melalui permukaan kulit (saraf sensoris). Alat ini berguna untuk mengatasi permasalahan nyeri dan stimulasi saraf motorik yang bermasalah.
Kamu juga akan belajar menggunakan alat ini ketika kamu sudah bergabung dengan prodi S1 Fisioterapi STIKES Telogorejo Semarang
Salam sehat - ICARE
Dukungan Keluarga Dalam Keberhasilan Penatalaksanaan Perawatan Diabetes Mellitus
Oleh : Ns. Ismonah, M.Kep., Sp.MB - Dosen prodi S1 keperawatan STIKES Telogorejo
Diabetes Melitus (DM) diartikan sebagai suatu kelompok penyakit metabolik dengan karakteristik hiperglikemia (tingginya kadar gula darah) yang terjadi karena kelainan sekresi (pengeluaran) insulin, kerja insulin atau keduanya. Jumlah penyandang Diabetes Melitus diperkirakan terus bertambah, Organisasi International Diabetes Federation (IDF) memperkirakan sedikitnya terdapat 463 juta orang pada usia 20 – 79 tahun di dunia menderita diabetes pada tahun 2019 dan diprediksi pada tahun 2045 akan meningkat menjadi 700 juta penyandang.
Tingginya angka kejadian DM berdampak terhadap fisik dan psikologi bagi penyandang DM. Dampak yang terjadi adalah komplikasi, cacat kerja, kualitas hidup yang buruk, timbul kecemasan atau depresi. Kecemasan atau anxiety adalah rasa khawatir, takut yang tidak jelas penyebabnya. Bagi penyandang DM, munculnya kecemasan ini karena menderita atau mengalami suatu penyakit yang berkepanjangan. Bahwa kecemasan terjadi karena merasakan adanya kekhawatiran terhadap penyakitnya, karena mengalami kenaikan gula darah atau munculnya komplikasi.
Pengontrolan gula darah dan pencegahan komplikasi DM dapat dikendalikan dengan empat pilar penatalaksanaan DM, yaitu edukasi, diet, latihan jasmani, dan pengobatan. Efektifitas atau keberhasilan terhadap pengelolaan atau penatalaksanaan DM di rumah sangat dipengaruhi oleh dukungan dan peran serta keluarga. Dukungan keluarga yang tinggi akan mendukung keberhasilan penatalaksanaan DM, menurunkan mortalitas, meningkatkan fungsi kognitif, kesehatan fisik dan emosi. Manfaat lain dukungan keluarga adalah terjadi penyesuaian individu terhadap stress, dalam bentuk dukungan emosional. Dukungan emosional ini sangat penting dan diperlukan bagi penyandang DM, dalam bentuk perhatian, rasa cinta, empati dan perasaan positif lainnya. Hal ini bertujuan untuk membantu memulihkan keadaan dan membantu mengontrol emosi. Keikutsertaan anggota keluarga dalam memandu pengobatan, diet, latihan jasmani dan pengisian waktu luang yang positif merupakan bentuk peran serta aktif bagi keberhasilan penatalaksanaan DM.
Banyak orang yang berasumsi jika penyakit diabetes mellitus adalah penyakit yang tidak dapat disembuhkan, sehinga hal tersebut membuat stress lebih meningkat, yang dapat meningkatkan glukosa darah dan memicu terjadinya komplikasi. Ya, memang benar, DM tidak bisa disembuhkan, namun jangan khawatir DM dapat dikendalikan dengan pengontrolan glukosa darah dan mencegah komplikasi. Melaui pengaturan diet, latihan fisik atau olah raga, pengobatan secara teratur, serta rajin melakukan monitoring terhadap gukosa darah, tekanan darah, kolesterol, berat badan, dan stresor. Jadi prinsipnya adalah gula darah terkontrol, sehingga penyandang DM dapat terus aktif dalam menjalani kehidupan dengan bahagia serta tercegah dari berbagai komplikasi. Ayok tetap dengan semangat tinggi, kita cegah, kontrol, dan lawan diabetes mellitus
Pengabdian Masyarakat
Pengabdian Masyarakat di Kelurahan Tawang Mas (11/02/2022)
Disini kita belajar peduli dan berbagi, semuanya dimulai dengan melayani sepenuh hati
Bergabunglah bersama kami STIKES Telogorejo Semarang
Salam sehat - ICARE
Kegiatan Bakti Sosial
Dilahirkan dengan sebuah ketidaksempurnaan bukanlah menandakan keterpurukan
Dukungan moral, material dan spiritual berpengaruh besar untuk menyempurnakan suatu kekurangan
Di STIKES Telogorejo ,kamu akan banyak dilatih untuk menjadi pribadi yang peduli untuk sesama seperti dengan nilai intinya ICARE (Sumeh Lan Nulungan ?☺ï¸Â)
Bakti Sosial Operasi Gratis Katarak dan Bibir sumbing bersama MNC Peduli dan SMC RS Telogorejo Semarang, yang dihadiri juga mahasiswa STIKES Telogorejo Semarang, untuk memberikan semangat bagi penderita katarak dan penyandang bibir sumbing (10 Februari 2022)
