Back

Artikel

HomeArtikelPage 3
PERILAKU NEGATIF TERHADAP PERAWAT
ArtikelCampuspedia 06 Jan 2023

PERILAKU NEGATIF TERHADAP PERAWAT

Disusun oleh : Ns. Ratnasari, M.Kep. Dosen S-1 Keperawatan STIKES Telogorejo Semarang

Apa yang dimaksud Perilaku Negatif ?

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia arti kata negatif adalah kurang baik, menyimpang dari ukuran umum. Perilaku negatif merupakan seperangkat perbuatan atau tindakan seseorang dalam melalukan respon terhadap sesuatu dan kemudian dijadikan kebiasaan karena adanya nilai yang diyakini. Perilaku manusia pada hakekatnya adalah tindakan atau aktivitas dari manusia baik yang diamati maupun tidak dapat diamati oleh interaksi manusia dengan lingkungannya yang terwujud dalam bentuk pengetahuan, sikap, dan tindakan. Perilaku negatif dapat disimpulkan sebagai seperangkat perbuatan atau tindakan seseorang dalam melalukan respon terhadap sesuatu yang kurang baik atau menyimpang terhadap norma yang berlaku.

Di Indonesia, perilaku negatif pasien dengan kekerasan terkait pekerjaan di kalangan perawat dilaporkan sebagai penyerangan fisik, kekerasan verbal, pelecehan seksual, intimidasi, dan ancaman tuntutan hukum yang sebagian besar dilakukan oleh pasien dan keluarganya. Pada bulan april 2021 lalu, publik dihebohkan dengan  berita kekerasan yang dialami perawat oleh keluarga pasien di RS Siloam Palembang, Sumatera Selatan. Perawat tersebut diduga mendapatkan perilaku kekerasan berupa tonjokan, tendangan, dan jambakan. Hal tersebut langsung mendapatkan perhatian dari Dewan Pengurus Pusat Persatuan Perawat Nasional Indonesia (DPP PPNI) serta mengutuk keras atas tindakan kekerasan tersebut. DPP PPNI berpendapat bahwa tindak kekerasan terhadap perawat yang sedang menjalankan tugas profesinya merupakan ancaman terhadap keamanan di tempat kerja dan sistem pelayanan  Kesehatan.

Bentuk-bentuk Perilaku Negatif:

  1. Bullying (Penindasan)

Menurut Kementrian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan anak RI, Bullying (dalam bahasa Indonesia dikenal sebagai (penindasan/ risak) merupakan segala bentuk penindasan atau kekerasan yang dilakukan dengan sengaja oleh satu orang atau sekelompok orang yang lebih kuat atau berkuasa terhadap orang lain, dengan tujuan untuk menyakiti dan dilakukan secara terus menerus. Terdapat banyak definisi mengenai bullying, terutama yang terjadi dalam konteks lain seperti di rumah, tempat kerja, masyarakat, komunitas virtual.

2. Fisik (kekerasan non verbal)

Menurut Pasal 6 Undang-undang No. 23 tahun 2004 tentang Penghapusan Kekerasan dalam Rumah Tangga, Kekerasan Fisik adalah perbuatan yang mengakibatkan rasa sakit, jatuh sakit, atau  luka berat. Kekerasan non verbal / fisik adalah segala bentuk tindakan langsung yang menggunakan kekuatan fisik atau menggunakan senjata secara sengaja untuk melukai korban. Beberapa contoh bentuk kekerasan fisik yang pernah terjadi misalnya memukul, menampar, menjambak, menendang, menusuk, membakar, menyabet, menyulut dengan rokok, melemparkan benda yang mengarah pada anggota tubuh korban, dan sebagainya. Kekerasan fisik tersebut bisa dilakukan baik dengan tangan kosong maupun dengan alat.

3. Verbal Abuse (kekerasan verbal)

Kekerasan verbal atau verbal abuse bisa diartikan sebagai bentuk kekerasan non fisik yang umumnya berupa kata-kata. Seperti membentak, menghina, mempermalukan, atau memaki dengan menggunakan kata-kata yang tidak pantas seperti bodoh, nakal, kurang ajar, tidak tahu diri. Kekerasan verbal sering kali terabaikan oleh kita dan orang-orang di sekitar kita, karena tidak ada bukti terlihat mata atas kekerasan yang dilakukan oleh pelaku.

Kekerasan verbal secara garis besar merupakan tindakan untuk membatasi, mengisolasi, menuduh, dan segala upaya yang membuat korban terserang secara emosional. Tindakan ini tidak selalu dibarengi dengan kekerasan secara fisik, bisa saja pelaku melakukannya dengan cara yang sangat halus dan memanipulasi bahkan membuat korban merasa bersalah.

4. Pelecahan seksual

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia dalam Immanuel (2016), menjelaskan bahwa pelecehan seksual merupakan bentuk pembedaan dari kata kerja melecehkan yang berarti menghinakan, memandang rendah, mengabaikan. Sedangkan seksual memiliki arti hal yang berkenaan dengan seks atau jenis kelamin, hal yang berkenaan dengan perkara persetubuhan antara laki-laki dan perempuan.

5. Diskriminasi (Pelecahan SARA)

Menurut Badan Pusat Statistik (2022) Diskriminasi adalah perlakuan yang membedakan individu warga negara dalam hak dan kewajiban yang dimiliki, dimana perbedaan tersebut didasarkan pada alasan gender, agama, suku/ras, umur, status kerentanan semisal ODHA, orientasi seksual maupun hambatan fisik. Sedangkan dalam pengertian spesifiknya, diskriminasi adalah setiap pembatasan, pelecehan, atau pengucilan yang langsung ataupun tidak langsung didasarkan atas pembedaan manusia atas dasar agama, suku, ras, etnik, kelompok, golongan, status sosial, status ekonomi, jenis kelamin, bahasa, yang berakibat pengurangan, penyimpangan, atau penghapusan pengakuan, pelaksanaan atau penggunaan hak asasi manusia dan kebebasan dasar dalam kehidupan baik individual maupun kolektif dalam bidang politik, ekonomi, hukum, sosial, budaya dan aspek kehidupan lainnya.

6. Ancaman

Ancaman merupakan perilaku tanpa menggunakan kekuatan fisik yang menyebabkan ketakutan akan adanya cedera fisik, seksual, psikologis, atau konsekuensi negatif lain terhadap individu atau kelompok yang dikehendaki. Ancaman  merupakan suatu usaha yang dilakukan secara konsepsional yang diperkirakan akan menimbulkan kesulitan atau bahaya yang disampaikan baik secara lisan di hadapan khalayak, secara lisan melalui telepon, SMS, atau melalui tulisan. Bentuk ancaman dapat berupa verbal (kata-kata) maupun bahasa tubuh (gesture). Ancaman tidak harus berupa ucapan yang mengancam, bahkan tindakan pelarangan sudah termasuk kategori ancaman

Sehat di Era New Normal, Pertahankan Kebiasaan Baik Ini!
ArtikelCampuspedia 28 Dec 2022

Sehat di Era New Normal, Pertahankan Kebiasaan Baik Ini!

Disusun Oleh : Ns. I'ien Noeraini, M.Kep Dosen D3 – Keperawatan STIKES Telogorejo Semarang

Metadeskripsi: Bagaimana mempertahankan kesehatan di era new normal agar tak mudah sakit? Simak beberapa tips penting berikut ini!

Selama pandemi, ada banyak kebiasaan dalam keseharian kita yang berubah. Karena khawatir terinfeksi virus, banyak orang yang kemudian berusaha menerapkan gaya hidup sehat. Selain menghindari aktivitas di luar rumah yang menyebabkan kontak dengan orang lain, kebiasaan olahraga dan konsumsi makanan sehat juga meningkat.

Setelah pandemi mulai mereda dan kita memasuki era new normal, muncul pertanyaan baru: kebiasaan apa saja yang sebaiknya kita pertahankan agar bisa tetap sehat di era new normal? Berikut ini ulasan lengkapnya.

1.     Makan yang Menyehatkan

Salah satu kebiasaan baik yang muncul selama pandemi adalah memasak makanan sendiri di rumah. Selain karena banyak restoran yang tutup atau membatasi kunjungan, memasak sendiri di rumah memungkinkan Anda merancang menu yang sehat untuk keluarga.

Karena virus masih ada di luar sana, pertahankan pola makan yang sehat dan seimbang dengan berbagai jenis makanan sehat. Belilah bahan makanan yang masih segar dari pasar terdekat di kota Anda. Mencoba menu baru di akhir pekan juga bisa menjadi pilihan agar masak di rumah tidak terasa membosankan.

2.     Lebih Sering Berolahraga

Bukan rahasia lagi kalau berolahraga secara rutin sangat baik bagi tubuh. Selama pandemi, banyak orang yang tidak bisa berangkat ke gym atau pusat kebugaran langganan mereka. Ini sebenarnya bukan masalah karena Anda bisa tetap melakukan berbagai jenis latihan di rumah. Yoga atau senam dengan gerakan yang simpel bisa jadi pilihan sederhana dan menyehatkan untuk dilakukan di rumah.

Tentu saja Anda juga bisa memacu detak jantung dengan melakukan olahraga di luar ruangan. Jogging keliling komplek rumah atau di taman kota akan menjadi cara yang ampuh membakar kalori. Pastikan Anda mengenakan pakaian dan sepatu olahraga yang nyaman serta melakukan pemanasan dan pendinginan yang benar, ya!

3.     Latihan Pernapasan dan Stretching Secara Rutin

Kalau Anda hanya punya sedikit waktu luang yang bisa disisihkan untuk berolahraga, coba sediakan setidaknya 10 sampai 20 menit dalam sehari untuk melakukan latihan pernapasan dan stretching (peregangan). Melakukan dua aktivitas ini akan membantu Anda menjernihkan pikiran dari stres yang Anda alami hari itu.

Stretching juga bisa membantu mencegah sakit otot dan sendi akibat duduk terlalu lama. Ini sangat penting, terutama bagi Anda yang bekerja dari rumah (Work from Home). Agar aktivitas ini semakin seru dan menyenangkan, libatkan seluruh anggota keluarga. Ini adalah cara yang sederhana untuk menumbuhkan kesehatan mental dan fisik.

Tidak hanya bagi orang dewasa, latihan pernapasan dan peregangan ini juga bermanfaat untuk anak-anak. Gunakan waktu ini untuk beristirahat dari kesibukan sembari mempererat bonding dengan orang-orang terdekat Anda.

4.     Banyak Habiskan Waktu di Luar Ruangan

Karena PPKM, banyak di antara kita yang harus membatasi diri dari aktivitas sosialisasi terutama di tempat-tempat umum. Tak heran jika area yang luas dan hijau di alam terbuka kerap jadi pilihan untuk menyegarkan kembali pikiran. Taman, jalan setapak atau sekadar padang rumput di perkampungan jadi tujuan untuk sekadar melepaskan penat.

Jika Anda sering duduk santai di alam terbuka selama pandemi, tetap jadikan hal tersebut sebagai kebiasaan sehat di era new normal. Berpiknik sore hari di taman akan menjadi cara yang menyenangkan untuk quality time dengan keluarga dan teman.

5.     Pelajari Skill Baru

Di awal pandemi, banyak di antara kita yang kemudian memiliki waktu luang lebih banyak dari biasanya. Alhasil, kita pun berusaha mencari beragam kegiatan dan hobi baru untuk mengisi kekosongan tersebut. Mulai dari mencoba resep-resep baru atau sekadar berkebun di belakang rumah.

Meskipun sudah berada di era new normal, jangan tinggalkan kebiasaan baik ini. Manfaatkan waktu Anda untuk mencoba hal-hal baru yang bermanfaat bagi kesehatan fisik maupun mental Anda. Misalnya saja dengan melakukan hiking atau bersepeda.

Itulah beberapa aktivitas sehat di era new normal yang bisa Anda terapkan. Ajak keluarga untuk bersama-sama melakukannya agar lebih bersemangat, ya!

Pengaruh Resiliensi Pada Pasien TB Paru untuk Mencapai Kualitas Hidup Lebih Baik
ArtikelCampuspedia 17 Dec 2022

Pengaruh Resiliensi Pada Pasien TB Paru untuk Mencapai Kualitas Hidup Lebih Baik

Oleh : Ns. Suksi Riani, M. Kep, Dosen S1 Keperawatan STIKES Telogorejo Semarang

Pandemi COVID-19 yang berlangsung hampir 3 tahun belakangan membuat pasien TB paru hidup dalam ketakutan. Hal ini tentu saja membuat kualitas hidup mereka menurun sehingga risiko tertular pun semakin besar. Ditambah stigma sosial terhadap pasien TB, tidak heran bila angka kematian akibat penyakit ini cukup tinggi.

Mengenal Penyakit TB Paru

Tuberkulosis atau TBC disebabkan oleh bakteri (mycobacterium tubercolusis) dan menimbulkan infeksi. Sampai detik ini, TB masih menjadi penyakit paling berbahaya di dunia dan menjadi penyebab kematian terbesar di beberapa negara. Menurut data WHO, setiap tahunsekitar 1,5 juta orang meninggal karena penyakit ini.

Sebagian besar penyakit TB menyerang paru-paru. Pasien yang dideteksi memiliki penyakit ini biasanya akan mengalami batuk, demam, berkeringat di malam hari, kehilangan nafsu makan, berat badan turun, dan mengalami kelelahan akut. TB sendiri termasuk penyakit yang bisa diobati.

Namun jika TB terjadi pada pasien HIV positif, harapan hidup pasien tersebut cenderung rendah dan memiliki risiko kematian sangat tinggi. Dalam proses penanganan secara medis, TB membutuhkan terapi dan pengobatan secara intensif. Bahkan ketika sebuah kasus TB ditemukan, pihak-pihak terkait harus segera melakukan penanganan untuk mencegah penyebaran penyakit ini.

Kegiatan penemuan orang-orang yang tertular biasanya terdiri dari penjaringan terduga, diagnosa, bagaimana cara penularan TBC, penentuan klasifikasi TB, dan tipe penderita. Proses ini tidak boleh diabaikan dan tidak bisa dieliminasi salah satunya, terutama ketika pasien yang terlibat adalah penderita TB tipe menular.

Stigma Sosial Pasien TB Paru

Dalam kehidupan bermasyarakat, posisi TB sebagai penyakit masih dianggap sebelah mata. Penyakit ini identik dengan masalah masyarakat menengah ke bawah. Banyak yang menganggap bahwa TB disebabkan oleh kurangnya gizi dan buruknya sirkulasi udara tempat tinggal warga tidak mampu.

Inilah mengapa banyak yang ragu bahkan enggan melakukan pemeriksaan TB ketika mengalami gejala. Padahal sama seperti penyakit lain, TB bisa menyerang siapapun. Bakteri mycobacterium tubercolusis bisa berkembang di mana saja termasuk di lingkungan yang bersih dan memiliki sirkulasi udara baik

Stigma negatif membuat penanganan isu TB semakin sulit. Tidak hanya lingkungan sosial, stigma negatif tentang penyakit TB paru juga masih sering terjadi di lingkungan kerja dan sekolah. Situasi ini adalah penghambat eksternal dan internal bagi pasien TB untuk mendapatkan hak atau mengakses layanan kesehatan tepat.

Untuk mengatasi hal ini, pemerintah memiliki enam strategi pembangunan kesehatan nasional dalam upayanya mengeliminasi TBC pada tahun 2030. Salah satu poinnya menyebutkan bahwa akses layanan TB bermutu dan berpihak pada pasien harus ditingkatkan.

Diakui atau tidak, upaya tersebut cukup membantu proses pemulihan pasien dan meningkatkan kemampuan resiliensi mereka.

Pengaruh Resiliensi Pada Pasien TB Paru

Secara bahasa, resiliensi merupakan kemampuan untuk kembali pulih dari suatu kondisi dan mampu beradaptasi dengan hal tersebut. Dalam kasus TB, penderita yang mengidap penyakit ini perlu memiliki resiliensi untuk kembali sehat selain upaya medis.

Sebuah penelitian menyebutkan, keinginan kuat dalam diri seseorang untuk bisa sembuh dari penyakitnya merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi cepat tidaknya mereka pulih dari penyakit tersebut. Inilah mengapa resiliensi pada pasien TB dianggap mampu meningkatkan kualitas hidup.

Selain resiliensi, dibutuhkan pula dukungan keluarga dan lingkungan. Hal ini bisa dimulai dengan mengabaikan stigma negatif tentang TB. Meskipun tidak mudah, sosialisasi tentang cara penularan TBC perlu dilakukan supaya masyarakat tidak lagi memandang pasien TB sebelah mata.

Dukungan masyarakat kepada pasien TB akan jadi salah satu cara mengobati TBC efektif. Bagaimana tidak, ketika stigma negatif berkurang pasien TB akan lebih percaya diri untuk mengakui penyakitnya dan mendapatkan layanan kesehatan yang tepat untuk penyembuhan.

Dari sini efek domino pun tercipta. Pasien yang mengakui bahwa mereka menderita TB dan mendapat perawatan medis akan menjadi sumber informasi penting untuk pemerintah. Hal ini akan membuat penyebaran TB di lingkungan sosial pasien bisa dicegah atau bahkan ditanggulangi dengan baik.

Pada dasarnya, semua penyakit dapat disembuhkan termasuk TB paru. Jadi bukan saatnya lagi memandang pasien TBC sebagai aib dan dukung mereka agar memiliki resiliensi yang membuat kualitas hidup pasien semakin membaik.

Semoga bermanfaat

Referensi:

Tidak Hanya untuk Bumil, Ini Manfaat Kegel untuk Lansia
ArtikelCampuspedia 17 Dec 2022

Tidak Hanya untuk Bumil, Ini Manfaat Kegel untuk Lansia

Oleh : Ragil Aidil Fitriasari A, S.Ftr., MKM, Dosen S1 Fisioterapi STIKES Telogorejo

Ketika memasuki usia lanjut, manusia akan mengalami perubahan dan penurunan kemampuan fisik terutama di bagian otot panggul. Untuk mengatasinya ada banyak cara yang bisa dilakukan, salah satunya adalah dengan melakukan senam kegel.

Manfaat Senam Kegel untuk Lansia

Selama ini kegel mungkin dikenal sebagai salah satu gerakan senam yang biasanya dilakukan oleh perempuan baik sebelum atau sesudah melahirkan. Padahal dalam kegel, ada banyak sekali gerakan yang bermanfaat untuk kesehatan lansia. Lalu, apa saja manfaat senam kegel bagi lansia?

1. Memperbaiki Fungsi Kandung Kemih

Seiring bertambahnya usia dan berat badan, otot panggul yang berfungsi menopang kandung kemih akan melemah. Kondisi ini membuat seseorang kerap tidak sadar mengeluarkan urine saat bersin, batuk, atau bahkan tertawa. Apalagi jika memasuki usia lanjut, ketika hampir semua organ dan tulang mengalami masalah.

Untuk mengatasinya, melakukan gerakan kegel sederhana akan membantu menguatkan kembali otot-otot terutama di bagian panggul. Semakin kuat otot, semakin kecil pula peluang mengalami gangguan fungsi kandung kemih pada lansia.

2. Meminimalisasi Risiko Gangguan Tulang Panggul

Fokus dari gerakan kegel adalah menguatkan otot-otot yang ada di daerah panggul. Inilah mengapa selain membantu mengatasi masalah kandung kemih, kegel juga bermanfaat dalam mengatasi berbagai masalah panggul yang biasanya dialami lansia seperti nyeri, encok, dan lain sebagainya.

Melakukan senam kegel rutin akan membuat otot semakin kuat sehingga ketika harus melakukan aktivitas yang membutuhkan kekuatan otot panggul seperti berjongkok atau bersujud, lansia tidak akan mengalami masalah dan melakukan semuanya dengan mudah.

3. Meningkatkan Performa Seksual untuk Pria

Diakui atau tidak, banyak lansia yang masih aktif secara seksual. Sayangnya, usia dan penurunan stamina membuat mereka tidak bisa maksimal dalam hal ini. Melakukan gerakan kegel secara rutin dapat membantu mengatasi masalah tersebut. Penguatan otot panggul di sekitar kelamin akan membantu meningkatkan performa seksual pria.

Olahraga ini juga dapat mengatasi berbagai masalah disfungsi ereksi dan ejakulasi dini yang berhubungan dengan panggul. Jadi meskipun telah memasuki usia lansia, seorang pria tetap bisa memiliki performa seksual yang baik dan memuaskan pasangan mereka.

Gangguan Berkemih pada Lansia

Gangguan berkemih merupakan salah satu masalah yang banyak dialami oleh lansia. Meskipun kelihatannya sepele, nyatanya masalah ini akan menjadi pemicu munculnya masalah kesehatan lain seperti infeksi saluran kemih, infeksi kulit di sekitar kelamin, gangguan tidur, dekubitus, dan ruam.

Dalam beberapa kasus, gangguan berkemih juga akan menimbulkan masalah sosial seperti dihindari banyak orang karena senantiasa mengeluarkan bau pesing. Di luar negeri, masalah gangguan berkemih pada lansia mendapat perhatian lebih. Sementara di Indonesia, penderita gangguan ini masih kurang diperhatikan.

Meskipun begitu, upaya untuk mengurangi risiko gangguan kemih pada lansia mulai sering disosialisasikan. Salah satunya adalah dengan memperkenalkan gerakan kegel dan mengadakan penyuluhan tentang hal ini di sejumlah lembaga kesehatan yang ada di Indonesia.

Sebagaimana yang sempat dibahas sebelumnya, gerakan kegel bermanfaat untuk mengatasi gangguan berkemih pada lansia. Dalam praktiknya, kegel untuk lansia sedikit berbeda dengan gerakan kegel secara umum meskipun tujuannya sama.

Gerakan Kegel Aman untuk Lansia

Mengingat kondisi fisik lansia tidak sebaik ketika mereka muda dulu, gerakan kegel untuk lansia cenderung lebih sederhana. Berikut salah satu langkah atau cara senam kegel yang aman untuk lansia:

  • Tangan direntangkan lalu ditarik ke atas sambil menarik nafas
  • Selanjutnya hempaskan tangan ke bawah sambil membuang nafas pelan-pelan
  • Lalu letakkan tangan di pinggang sambil menekan pinggul ke depan kemudian bungkukkan badan

Gerakan di atas dapat dilakukan secara berulang selama 10 – 15 kali setiap sesi dengan memberi jeda setiap gerakan selama 10 detik. Untuk memperoleh hasil efektif, cara senam kegel sederhana di atas bisa dilakukan secara teratur dan hasilnya akan terlihat setelah 8 – 12 minggu latihan rutin.

Nah, itulah ulasan tentang manfaat senam kegel dan bagaimana gerakan ini mampu mengatasi masalah gangguan berkemih pada lansia. Semoga bermanfaat.

Referensi:

Metode Psikoterapi untuk Mengatasi Gangguan Emosional pada Remaja
ArtikelCampuspedia 06 Dec 2022

Metode Psikoterapi untuk Mengatasi Gangguan Emosional pada Remaja

Oleh : Ns. Vivi Sovianti, M.Kep, Dosen Prodi D3 Keperawatan STIKES Telogorejo Semarang

Isu kesehatan mental memang bukan hal baru di masyarakat kita. Sayangnya masih banyak yang belum menyadari bahwa kasus ini tidak bisa diabaikan. Apalagi jika masalah mental seperti gangguan emosional dialami oleh remaja. Sikap yang dihasilkan dari gangguan tersebut hanya dianggap sebagai reaksi pembangkangan terhadap orang dewasa di sekitar.

Padahal jika dibiarkan, masalah mental bisa mempengaruhi perkembangan fisik dan mental di usia tersebut. Mendatangi psikolog dan ahli merupakan solusi dalam mengatasi gangguan mental emosional pada remaja. Dalam prosesnya, psikolog biasanya menggunakan metode psikoterapi.

Psikoterapi untuk Gangguan Emosional

Psikoterapi merupakan metode terapi kesehatan mental yang melibatkan aktivitas komunikasi antara pasien dengan terapis. Menurut American Psychological Association (APA), psikoterapi menggunakan pendekatan verbal. Namun, tidak menutup kemungkinan ada obat medis yang digunakan dalam proses terapi.

Dalam melakukan pendekatan verbal, psikolog yang menggunakan metode psikoterapi memanfaatkan beberapa variasi metode terapi sesuai dengan latar belakang, masalah, dan teknik yang dirasa tepat dalam mengatasi masalah mental pada pasien.

Berikut ulasannya,

1. Cognitive Therapy (CT)

Cognitive Therapy atau Terapi Kognitif merupakan salah satu metode psikoterapi yang berfokus pada gagasan bahwa pikiran memiliki pengaruh kuat terhadap kesehatan mental. Inilah mengapa dalam prosesnya, pasien yang diterapi dengan metode ini akan diajak untuk bertukar pikiran tentang hal-hal yang membuat suasana hati mereka tidak baik.

2. Cognitive Behavioural Therapy (CBT)

Terapi perilaku kognitif atau Cognitive Behavioural Therapy (CBT) merupakan salah satu metode psikoterapi yang kerap digunakan psikolog untuk mengatasi gangguan emosional pada remaja.

Dalam prosesnya, CBT akan membantu pasien untuk memahami perasaan dan pikiran yang mempengaruhi perilaku mereka. Jika pasien mulai memahami akar masalah mereka, psikolog akan menggunakan pendekatan kognitif dan perilaku untuk membantu pasien mengubah pola pikir.

3. Interpersonal Therapy

Pada terapi interpersonal, pasien akan diajak untuk lebih memahami lingkungan mereka. Mereka yang menerapkan terapi ini percaya, bahwa cara pasien dalam mengatasi berbagai masalah sosial di kehidupan mereka berpengaruh terhadap perbaikan gejala psikologi yang sedang dialami.

Artinya, semakin baik dan efektif pasien dalam mengatasi masalah di lingkungan sosial mereka semakin besar pula harapan untuk mengatasi masalah mental yang sedang dihadapi.

4. Psychodinamic Therapy

Dalam pelaksanaannya, Psychodinamic Therapy menggunakan pendekatan yang berkaitan dengan semua metode terapi termasuk metode yang digunakan Freud, Jung, Adler, Rank, dan Klein. Hal ini membuat terapi dilakukan secara mendalam dan menggunakan berbagai teori sebagai dasar analisisnya.

Inilah mengapa hasil analisis dari teori psikodinamis biasanya akan membantu psikolog menemukan akar masalah yang sebelumnya mungkin tidak terlalu dominan. Metode ini sendiri dapat diterapkan untuk berbagai jenis gangguan mental emosional pada remaja.

5. Psychoanalytic Therapy

Disebut Psychoanalitic Therapy karena terapi ini dilakukan berdasarkan teori psikoanalisis yang dikemukakan oleh Sigmund Freud. Dalam praktiknya, psikolog akan melakukan pendekatan melalui alam bawah sadar pasien yang diyakini memiliki pengaruh terhadap pikiran, perasaan, dan perilaku mereka.

Untuk melakukan pendekatan, terapis biasanya menggunakan teknik hipnotis. Pada prosesnya, teknik ini membuat pasien bisa bernostalgia dengan masa lalu yang diyakini menjadi sebab munculnya gangguan mental.

Kesimpulan

Selain 5 metode psikoterapi di atas, masih ada beberapa metode lain yang digunakan psikolog untuk mengatasi gangguan emosional pada remaja. Berdasarkan ulasan di atas dapat disimpulkan bahwa masalah mental yang dialami remaja biasanya bersumber dari lingkungan mereka, terutama lingkungan rumah dan sosial.

Inilah mengapa kebanyakan pendekatan serta terapi yang dilakukan melalui proses pengenalan terhadap diri sendiri, masa lalu, serta lingkungan. Dalam praktiknya, selain secara verbal, penerapan terapi juga terkadang didampingi dengan pengobatan medis untuk menekan gejolak emosi yang diyakini memiliki pengaruh besar dalam perbaikan masalah mental yang sedang dijalani.

Apa pun metode yang digunakan, masalah mental pada remaja bisa diatasi dengan baik apabila ada dukungan dari keluarga dan lingkungan sosial. Masalah mental bukanlah aib. Jadi ketika hal ini dialami oleh orang terdekat kita, daripada menjauhi mereka cobalah untuk memahami dan mendukung secara moral supaya kondisi mereka menjadi lebih baik.

Itulah ulasan tentang beberapa metode psikoterapi untuk mengatasi gangguan emosional pada remaja. Semoga bermanfaat.

Referensi:

Tips Cerdas Memilih Skincare yang Aman bagi Kulit
Artikel 06 Dec 2022

Tips Cerdas Memilih Skincare yang Aman bagi Kulit

Oleh : Apt. Ovikariani, M.Farm, Dosen Prodi S1 Farmasi STIKES Telogorejo Semarang

Dengan begitu banyak jenis produk hingga merek skincare terbaik yang dijual di pasaran, Anda pasti pernah bingung menentukan pilihan. Membaca ingredients tentu sangat memusingkan. Terlebih lagi, jika produsen memilih mengganti nama-nama yang harusnya familier dengan istilah yang kurang awam. Misalnya saja, menggunakan istilah tokoferol sebagai pengganti vitamin E.

Alhasil, alih-alih benar-benar mempelajari formulanya, banyak konsumen memilih cara yang lebih praktis: melihat produk yang viral atau menonton video review dari beauty vlogger favorit yang belum tentu objektif. Lalu, bagaimana cara menentukan paket skincare terbaik untuk Anda agar tak sampai salah pilih? Simak beberapa tips cerdasnya berikut ini!

Ketahui Jenis Kulit Anda Sebelum Membeli Skincare Terbaik

Menurut pakar kesehatan dan kecantikan kulit, Michele Green, MD, jenis kulit adalah faktor paling krusial untuk menentukan produk perawatan paling cocok untuk Anda. Kalau produk skincare aman BPOM yang Anda beli malah membuat Anda bruntusan, belum tentu produk itu jelek. Bisa jadi, Anda menggunakan produk yang kurang tepat untuk jenis kulit Anda.

Secara umum, ada empat jenis kulit yang perlu Anda ketahui, yakni kulit normal, kering, berminyak, dan kombinasi. Pastikan Anda memang memilih produk yang sesuai dengan jenis kulit Anda agar hasilnya sesuai harapan.

Jangan Membeli Skincare Hanya Karena Sedang Viral

Desain kemasan menarik, brand ambassador yang mempromosikan, hingga popularitas sebuah produk terkadang jadi jebakan yang membuat Anda tergoda membeli sebuah produk. Efeknya, Anda jadi tidak menghargai dan memahami apa yang benar-benar dibutuhkan oleh kulit Anda.

Jika Anda memang ingin membeli sebuah produk karena rekomendasi teman atau influencer, jangan hanya melihat sebagus apa hasilnya pada kulit mereka. Anda juga harus mengetahui masalah awal yang mereka hadapi serta jenis kulit mereka. Dengan begitu, Anda bisa memperoleh gambaran mengenai seberapa cocok produk tersebut untuk Anda.

Perhatikan Bahan yang Baik dan Buruk untuk Kulit

Alih-alih hanya bergantung pada review, mempelajari ingredients yang terkandung dalam skincare masih menjadi cara terbaik sebelum memutuskan untuk membeli. Beberapa ingredients yang memiliki manfaat baik untuk kulit antara lain adalah retinol, niacinamide (vitamin B3), tokoferol (vitamin E), L-ascorbic acid (vitamin C), gliserin, ceramide, dan hyaluronic acid.

Sementara itu bahan-bahan yang sebaiknya dihindari adalah parfum atau pewangi tambahan, sulfat, paraben, dan formaldehyde.

Yang Alami Belum Tentu Lebih Baik

Jika Anda selama ini berpikir bahwa skincare alami itu paling baik untuk kulit, sebaiknya Anda berpikir ulang. Pasalnya, tidak semua yang alami itu bagus untuk dijadikan bahan skincare. Beberapa jenis minyak esensial tumbuhan misalnya, tidak boleh digunakan secara topikal karena bisa menyebabkan iritasi.

Label organik atau istilah alami kadang hanya disematkan sebagai trik pemasaran oleh brand-brand kosmetik tertentu. Karena tidak ada regulasi dan standar untuk bahan-bahan alami ini, produk yang diklaim natural bisa jadi hanya menawarkan janji kosong. Tak hanya itu, kadang sebuah produk disebut sebagai produk alami hanya karena satu atau dua bahan dalam daftar saja. Kalau bahan tambahan lainnya justru membahayakan, bukankah ini sama saja tidak ada artinya untuk kulit Anda?

Itulah beberapa cara bijak untuk menentukan skincare terbaik bagi kulit Anda. Sudah siap berburu produk perawatan kecantikan yang paling sesuai untuk Anda?

Sumber:

https://www.realsimple.com/beauty-fashion/skincare/how-to-choose-skin-care-products

https://www.medicinenet.com/script/main/art.asp?articlekey=43073

Kecemasan Kesehatan Ibu Hamil yang Sering Terjadi dan Cara Mengatasinya
ArtikelCampuspedia 25 Nov 2022

Kecemasan Kesehatan Ibu Hamil yang Sering Terjadi dan Cara Mengatasinya

Oleh : Nella Vallen Ika Puspita, SST., MPH, Dosen Prodi S1 Kebidanan STIKES Telogorejo Semarang

Kehamilan kadang bukanlah masa yang mudah dan menyenangkan bagi semua wanita. Selama mengandung, seorang ibu akan mengalami berbagai transformasi yang akan berpengaruh secara umum pada kesehatan ibu hamil.

Stres, Masalah Kesehatan Ibu Hamil yang Paling Umum

Menjaga kesehatan saat hamil tidak hanya berlaku untuk fisik saja, melainkan juga mental. Perubahan hormonal kadang membuat seorang ibu (atau calon ibu) mengalami kesulitan secara emosional. Tekanan emosional ini akan semakin besar jika seorang ibu memiliki peran ganda. Misalnya saja ikut bekerja untuk mencari nafkah.

Menurut beberapa penelitian, sebagian besar wanita yang hamil untuk pertama kali cenderung mengalami ketakutan. Masalah kesehatan mental dan fisik juga lebih sering terjadi pada ibu hamil dibanding populasi secara umum. Sumber rasa cemas yang dialami oleh ibu hamil cenderung bervariasi, tergantung pada trimesternya.

Misalnya pada trimester pertama, rasa takut akan kehilangan bayi lebih sering terjadi. Sementara itu, pada trimester ketiga, seorang ibu cenderung akan mulai merasa takut akan proses persalinan.

Masalah Kecemasan yang Biasa Dihadapi Semasa Kehamilan

Ada banyak sekali sumber kecemasan yang kerap dirasakan oleh ibu yang sedang mengandung. Kecemasan ini bahkan bisa bertambah parah jika Anda mengalami masalah kesehatan fisik. Beberapa ketakutan yang umum dialami oleh ibu hamil antara lain adalah:

Cemas akan Kehilangan Bayi dalam Kandungan dan Bayi yang Tidak Sehat

Takut akan kehilangan bayi atau khawatir bayi yang dikandung tidak sehat adalah kecemasan paling umum yang dialami oleh ibu hamil. Sebagian wanita merasa khawatir kehamilannya tidak berjalan baik atau mereka takut telah melakukan kesalahan yang bisa membahayakan kesehatan janin mereka.

Jika ibu hamil mengalami keguguran, melahirkan bayi prematur, atau memiliki masalah kesuburan, ia mungkin khawatir tubuhnya tidak akan mampu membawa kehamilan sampai cukup bulan. Menunggu hasil tes kesehatan saat hamil juga bisa membuat sebagian besar ibu merasa makin gugup.

Cemas Tidak Akan Bisa Mengembalikan Kondisi Tubuh Seperti Sebelum Hamil

Banyak wanita yang mungkin punya kecemasan terkait penampilan fisiknya. Mereka khawatir proses kehamilan dan persalinan akan membuat mereka tidak menarik lagi jika mengalami kenaikan berat badan terlalu banyak.

Kehamilan mayoritas berkaitan dengan pengalaman fisik dan rasa takut kehilangan kendali akan perubahan tubuh ini sangat meresahkan bagi banyak wanita. Tidak perlu terlalu keras pada diri sendiri karena bagaimanapun semua orang butuh waktu untuk kembali pulih. Tetap konsumsi makanan sehat untuk ibu hamil untuk memastikan bayi dan ibu dalam keadaan baik hingga persalinan tiba.

Kekhawatiran akan Proses Persalinan

Semua wanita hamil pasti merasakan kecemasan saat waktu persalinan makin dekat. Sebanyak 20% wanita mengaku mereka merasa takut melahirkan. Bahkan, 6 dari 10 wanita memiliki fobia persalinan. Untuk mengatasi rasa takut ini, Anda bisa mempelajari seluruh proses dalam melahirkan. Jika perlu, berkonsultasi pada bidan atau dokter kandungan akan sangat membantu menjawab semua pertanyaan dan rasa khawatir Anda.

Kekhawatiran Tidak Bisa Menjadi Ibu yang Baik

Tidak sedikit orang tua yang merasa khawatir mereka tidak akan mampu merawat dan mencintai anak mereka. Namun, percayalah bahwa proses membangun ikatan dengan anak akan terjadi secara bertahap. Seiring dengan makin banyak waktu yang Anda habiskan dengan si kecil, bonding akan makin terbangun.

Bagi seorang ibu, ikatan khusus dengan bayi bahkan sudah dibangun sejak si kecil berada dalam kandungan. Ibu-ibu yang baru melahirkan pertama kali mungkin akan takut kewalahan dengan peran baru mereka. Ini adalah hal yang normal. Jika perasaan itu terlalu mengganggu, pastikan Anda mendapatkan bantuan dari keluarga terdekat maupun tenaga profesional.

Kapan Harus Meminta Bantuan Profesional Mengenai Kecemasan Saat Kehamilan?

Masalah kesehatan ibu hamil yang terjadi baik secara fisik maupun mental adalah sesuatu yang umum. Jika keluhan yang Anda alami sampai membuat Anda kesulitan melakukan aktivitas, penting untuk berkonsultasi dengan tenaga profesional.

Menjaga kesehatan selama masa kehamilan sangat penting bagi ibu dan bayi. Dengan menerapkan pola hidup sehat ibu hamil muda hingga menjelang waktu persalinan, Anda akan lebih mudah menjalani semua prosesnya. Jangan lupa untuk meminta dukungan dan bantuan orang-orang di sekitar agar segalanya berjalan lebih mudah, ya!

Sumber:

https://naitreetgrandir.com/en/pregnancy/health-well-being/anxiety-pregnancy/
https://www.anxietycanada.com/articles/recognizing-anxiety-during-pregnancy/
Mengenal Lebih Jauh Kanker Serviks, Mimpi Buruk para Wanita
ArtikelCampuspedia 11 Nov 2022

Mengenal Lebih Jauh Kanker Serviks, Mimpi Buruk para Wanita

Oleh : Mudy Oktiningrum, S.SiT., M.Keb, Dosen Prodi S-1 Kebidanan STIKES Telogorejo Semarang

Di antara sekian banyak jenis kanker, kanker serviks merupakan salah satu penyakit yang hanya menyerang wanita. Kanker serviks sendiri terbentuk pada jaringan serviks—organ yang menghubungkan antara rahim dan vagina. Gejala kanker serviks biasanya tidak akan langsung muncul saat seseorang mengalaminya. Namun, dengan skrining rutin lewat tes Pap reguler, sel kanker bisa ditemukan.

Apa saja tanda-tanda kanker serviks? Untuk memahami lebih jauh tentang kanker serviks termasuk cara pengobatan dan pencegahannya, simak pembahasan berikut ini!

Penyebab Utama dan Faktor Risiko Kanker Serviks

Penyebab kanker serviks yang paling umum ditemukan adalah karena jenis human papillomavirus (HPV) jenis tertentu. Anda bisa tertular HPV dengan berbagai cara termasuk kontak kulit ke kulit di area genital, aktivitas seksual baik secara vaginal, anal, maupun oral, dan lain sebagainya.

Semua orang yang memiliki organ serviks berisiko mengalami kanker serviks. Namun, beberapa faktor bisa meningkatkan risiko seseorang mengalami kanker ini. Beberapa faktor tersebut antara lain adalah:

  • Berusia di bawah 45 tahun, kanker serviks lebih sering menyerang orang yang berusia muda.
  • Memiliki kekebalan tubuh yang lemah (misalnya saja menderita HIV atau AIDS).
  • Memiliki riwayat melahirkan banyak anak atau pernah melahirkan di usia dini (di bawah 17 tahun).
  • Ibu Anda pernah mengonsumsi obat hormonal dietilstilbestrol (DES) saat hamil.
  • Pernah menderita kanker vagina, vulva, ginjal, atau kandung kemih sebelumnya.

Meski pada stadium awal kanker serviks tidak menunjukkan tanda-tanda, pada stadium lanjut, pasien mungkin akan mengalami sejumlah gejala seperti:

  • Perdarahan vagina setelah berhubungan seksual, di antara periode menstruasi atau setelah memasuki usia menopause.
  • Keputihan berair atau berdarah yang berat dan berbau busuk.
  • Nyeri panggul atau rasa sakit saat berhubungan intim.

Jika Anda mengalami salah satu dari gejala di atas, jangan ragu berkonsultasi pada dokter untuk penanganan lebih lanjut.

Jumlah Kasus Kanker Serviks di Indonesia dan Dunia

Dengan predikat sebagai pembunuh wanita nomor satu di Indonesia, kasus kanker serviks cukup banyak ditemukan. Menurut data dari Kemenkes per Januari 2019, ada 23,4 kasus kanker serviks per 100.000 penduduk. Sementara itu, rata-rata kematian tercatat hingga 13,9 kasus per 100.000 penduduk.

Dilansir dari laman resmi WHO, kanker serviks adalah kanker paling umum nomor empat yang menyerang wanita secara global. Pada tahun 2020, tercatat ada 604.000 kasus baru kanker serviks yang terdiagnosis dengan 342.000 kematian di tahun yang sama. Sebanyak 90% dari kasus kematian kanker serviks dunia tahun 2020 terjadi di negara dengan penghasilan rendah hingga menengah.

Penanganan dan Pencegahan terhadap Kanker Serviks

Seperti jenis kanker lain, kanker serviks juga dapat ditangani dengan berbagai cara. Makin dini perawatan dilakukan, makin besar harapan hidup serta peluang kesembuhan pasien. Beberapa opsi pengobatan yang mungkin akan diberikan oleh dokter antara lain adalah:

  • Pembedahan. Kanker serviks pada stadium awal biasanya ditangani dengan operasi atau pembedahan, baik untuk membuang kanker atau mengangkat serviks dan uterus.
  • Radiasi. Terapi radiasi menggunakan sinar bertenaga tinggi untuk membunuh sel kanker.
  • Kemoterapi. Kemoterapi merupakan pengobatan kanker dengan menggunakan obat-obatan tertentu untuk membunuh sel kanker.

Selain ketiga metode pengobatan di atas, ada juga cara pengobatan targeted therapy, imunoterapi, dan perawatan suportif (paliatif). Tenaga medis mungkin akan memadukan beberapa jenis terapi untuk memperoleh hasil pengobatan yang maksimal.

Meskipun Anda memiliki risiko tinggi terkena kanker serviks, ada beberapa tips yang bisa diterapkan untuk mengurangi risiko dan mencegah kanker ini, yakni:

  • Melakukan vaksinasi HPV agar tidak terinfeksi virusnya.
  • Melakukan Pap tes secara rutin. Kebanyakan organisasi kesehatan menyarankan Pap tes dilakukan sejak usia 21 tahun.
  • ●       Melakukan aktivitas seksual yang aman (menggunakan kondom dan tidak berganti-ganti pasangan).
  • Berhenti merokok.

Dengan berbagai cara mencegah kanker serviks di atas, Anda bisa terhindar dari risiko kanker serviks yang menjadi mimpi buruk para wanita. Siap untuk melakukan perubahan saat ini juga?

Sumber:

https://www.who.int/news-room/fact-sheets/detail/cervical-cancerhttps://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/cervical-cancer/symptoms-causes/syc-20352501