Artikel
OMICRON MENGANCAM ANAK KANKER:TANTANGAN DAN TIPS BAGI ORANGTUA AGAR ANAK DAPAT SURVIVE
Oleh: Ns. Siti Lestari, M.Kep., Sp.Kep.An - Dosen S-1 Keperawatan STIKES Telogorejo Semarang
Covid-19 varian omicron dengan code B.1.1.529 kini telah menyebar ke berbagai negara, termasuk Indonesia. Varian ini dinilai lebih menular kepada anak-anak karena cakupan vaksin covid-19 pada anak yang belum merata dan saat ini masih terus diupayakan pelaksanaannya baik di sekolah, rumah sakit, puskesmas, maupun fasilitas pelayanan kesehatan lainnya.

Kasus omicron yang terus meningkat menimbulkan kekhawatiran tersendiri bagi orangtua anak penderita kanker. World Health Organization menyebutkan bahwa Jumlah anak yang terdiagnosis kanker pada tahun 2021 sekitar 400.000. Jumlah tersebut belum termasuk pasien lama yang telah terdiagnosis pada tahun-tahun sebelumnya. Berdasarkan data dari Indonesia Cancer Care Community (ICCC) Jenis kanker yang sering menyerang pada anak diantaranya leukemia (kanker darah), retinoblastoma (kanker mata), osteosarkoma (kanker tulang), tumor otak, dan limfoma (kelenjar getah bening), kanker tersebut dapat menyerang anak dari rentang usia 6 bulan hingga lebih dari 10 tahun.
Banyaknya jumlah anak penderita kanker menunjukkan bahwa banyak pula orangtua yang menghadapi tantangan terhadap covid-19 varian omicron, mengingat anak kanker memiliki daya tahan tubuh yang lebih rendah dibandingkan anak sehat. Terlebih, anak penderita kanker di Indonesia umumnya dibawa ke rumah sakit pada stadium lanjut. Hal tersebut terjadi karena rendahnya pengetahuan orangtua dalam mengenali tanda dan gejala penyakit kanker secara dini. Kanker pada stadium lanjut juga meningkatkan risiko penularan yang lebih besar terhadap omicron.
Anak penderita kanker berisiko tertular omicron dari keluarga terdekat, saudara atau teman yang berkunjung, dan dari tenaga kesehatan yang memberikan penanganan selama di rumah sakit maupun di rumah.
Berikut ini adalah tips anak agar terhindar dari penularan covid-19 varian omicron:
- Segerakan anak untuk mendapatkan vaksin.
Saat ini vaksin pada anak dapat diberikan mulai usia 6 tahun. Bagi anak penderita kanker, diharapkan berkonsultasi terlebih dahulu dengan dokter penanggung jawab pasien untuk memastikan apakah anak dalam kondisi stabil dan tidak ada kontraindikasi sehingga aman untuk mendapatkan vaksin. Vaksin tidak dapat diberikan pada anak penderita kanker yang sedang menjalankan kemoterapi, radiasi, atau obat imunosupresan.
- Menerapkan protokol kesehatan selama di rumah maupun di rumah sakit
Orangtua memberikan perhatian ekstra kepada anak penderita kanker ketika keluar rumah dengan menerapkan protokol kesehatan secara ketat. Sebaiknya hindari keluar rumah kecuali jika akan berangkat ke rumah sakit untuk menjalankan program terapi.
- Menggunakan masker baik di rumah maupun di rumah sakit
Selalu gunakan masker baik di rumah maupun di rumah sakit. Jika anak berada dalam satu ruang rawat tersendiri, anak diwajibkan mengenakan masker saat petugas kesehatan datang. Jangan ijinkan saudara atau teman untuk menjenguk secara langsung.
- Lakukan tes swab secara rutin
Tes swab PCR secara rutin dapat mengidentifikasi secara dini kemungkinan terpapar omicron meskipun tanpa tanda gejala
- Pertahankan rumah dengan ventilasi yang baik
Ventilasi yang baik selain membantu anak penderita kanker untuk mendapatkan oksigen yang cukup juga membantu menurunkan risiko terpapar omicron

Bagaimana jika omicron telah menyerang anak penderita kanker?
Apabila omicron sudah menginfeksi anak, maka dibutuhkan kesiapan orangtua dalam merawat dan mendampingi anaknya. Tentu hal ini akan lebih melelahkan. Orangtua menghadapi anak menderita kanker saja sudah pasti menguras tenaga, mengorbankan waktu yang panjang, dan mengeluarkan biaya yang banyak untuk perawatan anaknya. Apalagi anak penderita kanker juga terinfeksi oleh omicron. Orangtua memerlukan effikasi diri yang baik dan membutuhkan dukungan dari orang-orang sekitarnya.
Efikasi diri merupakan tingkat kepercayaan seseorang terhadap kemampuan dirinya untuk melakukan tindakan sehingga mencapai tujuan yang telah ditentukan. Dengan kata lain, orang tua harus yakin dan percaya pada diri sendiri bahwa dirinya mampu merawat anaknya yang sakit, dan mampu melewati masa-masa sulit dengan baik. Orangtua yang memiliki efikasi diri yang tinggi mampu menjalankan tugasnya dalam merawat anak penderita kanker yang terinfeksi omicron secara baik.
Sementara dukungan sosial adalah sumber daya yang disediakan oleh orang lain, diantaranya keluarga, tetangga, teman dekat, dan tenaga kesehatan. Segala bentuk dukungan dan bantuan yang diberikan baik berupa informasi, keahlian, pikiran, tenaga, waktu, materi, doa, hingga bantuan dana yang diberikan oleh orang-orang disekitar, semua itu merupakan dukungan sosial.
Hasil penelitian yang telah penulis lakukan terhadap orangtua anak penderita kanker di seluruh cabang Yayasan Kasih Anak Kanker Indonesia pada Januari 2022, memperoleh hasil bahwa effikasi diri dan dukungan sosial berpengaruh terhadap kualitas hidup anak kanker pada masa pandemi covid-19. Semakin tinggi efikasi diri yang dimiliki orangtua, maka semakin meningkat kualitas hidup yang dimiliki oleh sang anak. Demikian pula mengenai dukungan sosial, semakin tinggi dukungan sosial yang diterima oleh orangtua, maka semakin meningkat kualitas hidup anak.

Berdasarkan hasil penelitian tersebut, diharapkan agar orangtua anak penderita kanker dapat meningkatkan efikasi dirinya. Bagaimana cara meningkatkan efikasi diri? Berikut ini tips agar orangtua mampu meningkatkan efikasi diri:
- Senantiasa membangun afirmasi atau pikiran positif, bahwa dirinya bisa dan mampu
- Ikhlas menerima kondisi anak
- Menemani perawatan anak dengan perasaan syukur
- Memperbanyak membaca buku atau sumber pengetahuan lainnya mengenai kanker dan mengenai penatalaksanaan omicron pada anak kanker
- Berdiskusi dengan tenaga kesehatan seperti dokter dan perawat atau rohaniawan yang disediakan oleh rumah sakit
Survive dan Kesembuhan adalah idaman bagi semua orangtua, anak penderita kanker membutuhkan perawatan jangka panjang apalagi di tengah ancaman penularan omicron. Anak membutuhkan orangtua yang tangguh dan memiliki efikasi diri yang tinggi. Peran serta dukungan orang-orang di sekitar juga sangat berarti bagi orangtua dan anak penderita kanker.
Tanggal 15 Februari 2022 merupakan hari anak kanker internasional, momentum tersebut dapat digunakan untuk saling menguatkan dan memberi dukungan agar para survivor kanker dapat mempertahankan kualitas hidup yang baik.
Fisioterapi untuk Radang Sendi Bahu, Efektifkah?
Oleh : Linda Pramusinta, S.Tr.Ftr., M.Kes, Dosen S1 Fisioterapi STIKES Telogorejo Semarang
Pernah dengar istilah bursitis shoulder? Istilah tersebut merupakan nama lain dari gangguan pada bahu berupa peradangan di bagian sendi. Peradangan membuat pelumas dan bantalan pada sendi mengalami gesekan sehingga penderita akan merasa nyeri.
Bursitis pada bahu biasanya disebabkan oleh gerakan atau tekanan berulang pada sendi. Inilah mengapa beberapa profesi yang membutuhkan gerakan sendi seperti pelukis, musisi, atlet, petani, dan pekerja bangunan memiliki risiko mengalami radang sendi bahu lebih tinggi dibanding profesi lain.
Selain itu, bursitisjuga bisa disebabkan oleh faktor lain seperti usia, cedera, obesitas, dan penyakit atau infeksi tertentu (lupus, diabetes, dan tiroid). Selain di bahu, peradangan sendi juga bisa terjadi di bagian tubuh lain yaitu pinggul, lutut, atau siku.

Peradangan Sendi bahu dan Dampaknya Bagi Penderita
Penderita peradangan sendi bahu biasanya akan merasakan nyeri. Selain itu, penderita juga akan mengalami beberapa gejala seperti:
1. Sendi Terasa Kaku
Kaku maksudnya, pasien yang terkena bursitis bahu akan mengalami kesulitan dalam menggerakkan tangannya. Setiap gerakan akan terasa nyeri dan berat. Hal ini terjadi karena peradangan membuat sendi tidak lagi fleksibel sehingga ruang gerak penderitanya semakin terbatas.
2. Kulit di Area yang Sakit Memerah
Selain kaku, kondisi bursitis yang mengkhawatirkan biasanya menimbulkan warna kemerahan pada area yang sakit. Warna kulit yang berubah menunjukkan bahwa peradangan sendi sudah pada tahap membutuhkan penanganan medis atau pengobatan lebih intensif.
3. Mengalami Pembengkakan
Bursitis shoulder berada pada tahap paling parah ketika pasien mengalami pembengkakan. Pembengkakan ini terjadi karena proses peredaran darah di daerah yang mengalami peradangan kurang lancar. Pembengkakan juga bisa terjadi karena adanya infeksi bakteri akibat penyakit artritis reumatoid.
4. Otot Mengecil dan Melemah
Kondisi semacam ini biasanya dialami seseorang yang memiliki peradangan kronis. Jika sampai pada tahap ini, berarti sebelumnya pasien akan mengalami rasa sakit yang teramat sangat hingga mati rasa. Ketika otot semakin mengecil dan melemah, maka secara otomatis tenaga yang dihasilkan tangan tidak sekuat biasanya.

Terapi Fisioterapi untuk Pasien Radang Bahu
Secara umum, segala masalah persendian atau tulang yang dialami seseorang bisa diatasi dengan fisioterapi. Namun untuk bisa mendapatkan fisioterapi yang tepat, dibutuhkan serangkaian proses. Pada penderita radang sendi bahu, dokter biasanya akan menanyakan dulu apa pasien memiliki riwayat penyakit tertentu untuk mencari tahu penyebab bursitis.
Selanjutnya, dokter akan melakukan pemeriksaan fisik terutama di area bahu. Setelah itu, pasien akan diminta untuk melakukan pemeriksaan laboratorium menggunakan darah dan cairan sendi untuk memastikan penyebab radang. Pasien juga akan diminta untuk melakukan proses pemindaian (rontgen, USG, atau MRI) supaya dokter memahami kondisi radang sebenarnya.
Ketika semua rangkaian telah dijalani pasien, dokter bisa menentukan apakah kita membutuhkan obat-obatan saja, fisioterapi, atau bahkan keduanya. Tahap fisioterapi biasanya dilakukan ketika peradangan sendi bahu dianggap mulai mengkhawatirkan dan bisa kambuh di masa depan.
Dalam prosesnya, fisioterapi akan membantu pasien melalui pola latihan yang tepat baik secara intensitas atau bentuknya. Bagaimanapun, bahu harus tetap bergerak meskipun terasa sakit agar radang bisa segera pulih. Beberapa gerakan fisioterapi yang biasanya dilakukan adalah:
1. Latihan Postur
Pada latihan postur, pasien akan diminta untuk mengubah sikap saat duduk dan berdiri agar senantiasa tegak. Hal ini karena, radang sendi pada bahu biasanya disebabkan oleh posisi membungkuk yang tanpa sadar kerap dilakukan.
2. Mobilisasi Bahu
Latihan ini meminta pasien untuk berdiri tegak, mengangkat kedua bahu ke atas selama 5 detik, menarik bahu ke belakang selama 5 detik, dan menarik kedua bahu ke bawah selama 5 detik pula, lalu relaks. Gerakan biasanya dilakukan berulang 10 kali dan dikerjakan sekitar 2 – 3 hari sekali.
3. Bersandar di Pintu
Pada latihan ini, pasien akan merentangkan kedua lengan di depan pintu lalu mencondongkan kepala dan badan sampai ke depan hingga terasa tarikan pada kedua bahu di bagian depan. Posisi dilakukan selama 15 hingga 30 detik dan diulangi secara rutin 3 kali sehari.
Kesimpulan
Membaca ulasan di atas membuat kita sadar bahwa bursitis shoulder bukan penyakit ringan dan bisa diabaikan. Untuk mencegahnya, olahraga rutin, mengatur postur saat duduk atau berdiri, dan mengonsumsi makanan sehat perlu dilakukan. Meskipun tampak efektif, fisioterapi sebaiknya tidak perlu dilalui sebab bagaimanapun, lebih baik mencegah daripada mengobati bukan?
Semoga ulasan di atas bermanfaat.
Referensi:
SAYANGI LANSIA HINDARI DEMENSIA
Oleh : Ns. Siti Juwariyah, M.Kep – Dosen D-3 Keperawatan STIKES Telogorejo Semarang
Demensia pada lansia biasa disebut pikun. Namun itu berbeda, pikun merupakan perubahan kemampuan berpikir dan mengingat yang biasa dialami seiring pertambahan usia, yang menyebabkan sesorang bergantung pada orang lain. Sedangkan demensia adalah penyakit yang mengakibatkan penurunan daya ingat dan cara berpikir juga akan berdampak pada gaya hidup, kemampuan bersosialisasi, hingga aktifitas sehari-hari penderitanya. Sehingga sering mengakibatkan penderita sangat bergantung pada orang lain.

Apakah Damenisa termasuk Penyakit ?
Demensia bukan penyakit, namun merupakan sindrom atau kumpulan gejala-gejala yang terjadi pada seseorang. Sindrom ini mempengaruhi daya ingat, proses berpikir dan kemampuan yang dapat mengganggu aktifitas sehari-hari. Demensia umumnya terjadi pada kelompok lansia. Sindrom ini bukan proses penuaan yang normal terjadi. Kondisi ini umumnya penyebab disabilitas dan ketergantungan pada orang lain bagi lansia di seluruh dunia.
Faktor yang berisiko demensia adalah pertambahan usia, adanya riwayat demensia dalam keluarga, pola makan tidak sehat, merokok, jarang olahraga, kecanduan alkohol dan bisa juga karena penyakit tertentu misalnya sindrom down, depresi, sleppapnea, kolesterol tinggi, obesitas, hipertensi dan diabetes.
Gejala umum demensia pada lansia ada beberapa,
- Gangguan Daya Ingat
Kondisi ini sering disebut dengan pikun. Hal ini membuat lansia sulit mengingat sejumlah hal seperti nama orang atau benda.
- Sering Mengalami Kebingungan
Sering mengalami kebingungan, atau disebut sebagai disorientasi. Kebingungan akan semakin bertambah seiring dengan penyakit yang bertambah parah, yang sering disebut juga dengan penyakit Alzheimer.
- Mengalami Kesulitan Berpikir
Mereka tidak bisa melakukan sejumlah aktivitas secara mandiri, seperti Menyusun rencana, mengatur keuangan, dan sebagainya.
- Kesulitan Untuk Focus
Hilangnya focus akan menyulitkan mereka untuk melakukan kegiatan sehari-hari bahkan termasuk yang sederhana.
- Mengalami Delusi Dan Halusinasi,
Lansia yang mengalami ini adalah yang sudah Alzheimer tahap lanjut, dalam kondisi ini lansia perlu di damping dalam melakukan kegiatan sehari-hari karena sering dapat membahaayakan dirinya sendiri.
- Perilaku dan kepribadian berubah
Muncul tanda-tanda lansia mudah cemas, lansia mudah curiga, suasana hati sering berubah-ubah, agresif. Hal ini menyebabkan stress dan depresi pada lansia dan perlu adanya dukungan dari keluarga untuk mengurangi gejala ini.
- Sulit memahami objek visual, lansia sulit membaca, memahami gambar, dan objek-objek lain yang dilihatnya.

Pencegahan penyakit demensia adalah menghindari semua penyebab dan factor risiko yang akan terjadi, walaupun belum ada acara pasti untuk mencegah penyakit demensia pada lansia. Beberapa cara untuk mengurangi risikonya seperti :
- Berhenti merokok,
- Berolahraga secra teratur,
- Tidur yang cukup,
- Kurangi asupan alkohol,
- Menjaga berat badan ideal,
- Rutin mengontrol tekanan darah, kadar gula darah dan kolesterol
- Melatih otak secara berkala (seperti rajin membaca atau bermain teka-teki silang),
- Segera konsultasi kedokter jika mengalami stress, depresi atau gangguan kecemasan,
- Menjaga asupan nutrisi dan menerapkan pola makan sehat (dengan mengonsumsi makanan rendah lemak dan tinggi serat),
- Konsumsi vitamin otak.
Mari kita sayangi lansia dan jadikan lansia yang produktif sesuai kemampuannya. Salam Sehat
Jangan Salah, Kenali Batas Waktu Penggunaan Obat Berikut Ini!
Oleh : Apt. Fransisca Gloria, M.Farm - Dosen Prodi S1 Farmasi STIKES Telogorejo Semarang

Obat merupakan substansi dengan berbagai kandungan bahan kimia di dalamnya. Meski dibuat dengan tujuan pengobatan, penggunaan obat yang salah bisa mendatangkan efek negatif yang kadang berakibat fatal. Karena itu, penting bagi setiap orang yang mengonsumsi obat untuk memahami penggunaan obat yang benar sekaligus batas waktu pakainya. Dalam industri medis dan obat-obatan, setiap obat memiliki masa pakai yang berbeda-beda. Batas waktu penggunaan obat ada yang disebut dengan tanggal kedaluwarsa dan BUD (Beyond Use Date). Agar tidak salah menggunakan obat, simak penjelasan selengkapnya berikut ini!
Perbedaan Batas Waktu Penggunaan Obat Antara Tanggal Kedaluwarsa dan BUD (Beyond Use Date)
Setiap obat memiliki batas waktu penggunaan yang dapat dilihat dari tanggal kedaluwarsa dan BUD-nya. Apa perbedaannya?
- Tanggal Kedaluwarsa Obat
Seperti produk lain berupa makanan maupun minuman, tanggal kedaluwarsa obat ditentukan oleh produsen. Tanggal ini adalah batas waktu saat produsen sudah tidak bisa menjamin khasiat dan keamanan obat tersebut lagi. Tanggal kedaluwarsa ditentukan dengan pengujian obat terkait dengan wadah, pencahayaan, suhu, dan lain sebagainya.

Untuk menentukan tanggal kedaluwarsa, produsen menggunakan acuan dan ketentuan dari BPOM (Badan Pengawas Obat dan Makanan). Ketika obat tersebut sudah lewat dari tanggal kedaluwarsanya, obat tersebut sudah tidak bisa dipakai lagi meskipun kemasannya masih utuh.
- BUD (Beyond Use Date)
BUD merupakan tanggal yang jadi batas akhir penggunaan obat setelah kemasan dibuka dari segelnya. Tanggal ini biasanya ditulis pada resep yang Anda dapatkan dari apotek. Biasanya berisi keterangan seperti, “Buang obat setelah..†atau “Jangan gunakan obat ini lagi jika Anda…â€Â. Ada beberapa faktor yang menentukan BUD obat, yakni:
- Jenis obat dan seberapa cepat proses degradasinya
- Dosis obat
- Jenis kemasan atau wadah yang digunakan
- Kondisi penyimpanan obat yang disarankan
- Lamanya obat akan diminum
- Kemungkinan kontaminasi dalam proses penyiapan obat.
Sebagian besar obat memiliki BUD yang lebih singkat ketimbang masa kedaluwarsanya. Misalnya saja, jenis obat antibiotik misalnya sirup Amoxicilin. Setelah sirup Amoxicilin tersebut dilarutkan dengan air, maka obat tersebut bisa dikonsumsi maksimal 7 hari setelah dilarutkan dengan air. Jadi, meskipun tanggal kedaluwarsanya masih lama, Anda sudah tidak diperbolehkan mengonsumsinya lagi.
Karena itu, obat dengan BUD sebaiknya hanya dibeli ketika akan dikonsumsi. Anda juga tidak disarankan untuk menyetoknya di rumah.
Cara Penggunaan Obat Setelah Kemasannya Dibuka
Berdasarkan jenisnya, cara penggunaan obat setelah dibuka dari kemasannya juga berbeda-beda. Berikut rekomendasi dari BPOM :
- Obat kapsul atau tablet dengan kemasan klip boleh dikonsumsi dalam 2 bulan pasca kemasannya dibuka.
- Obat kapsul dan tablet yang masih dikemas dalam bungkus aslinya bisa dipakai sampai tanggal kedaluwarsanya.
- Obat sirup sebaiknya tidak dikonsumsi setelah 6 bulan kemasannya dibuka atau boleh diminum sampai tanggal kedaluwarsanya.
- Obat luar berbentuk cairan boleh dipakai dalam 6 bulan setelah dibuka atau sesuai tanggal kedaluwarsanya.
- Puyer. Tidak boleh disimpan dan digunakan lagi. Setelah sembuh, harus dibuang.
- Antibiotik. Harus dihabiskan sesuai dosis yang ditentukan dokter. Jika tidak terpakai, langsung buang.
- Obat tetes mata. Boleh dipakai dalam sebulan setelah dibuka (kecuali ada petunjuk berbeda dari dokter).
- Obat yang dimasukkan ke anus dan koyok bisa dipakai sampai tanggal kedaluwarsanya.
- Salep dan krim degan kemasan tube boleh digunakan maksimal 6 bulan pasca kemasannya dibuka.
- Salep dan krim dengan kemasan bertutup bisa digunakan maksimal 3 bulan setelah dibuka.
Ciri Obat Kedaluwarsa dan Cara yang Aman Membuangnya
Selain dari tanggal yang tertera, obat yang kedaluwarsa memiliki sejumlah ciri, yakni:
- Berubah rasa, warna dan baunya.
- Ada noda pada tablet.
- Lepas dari kemasannya.
- Mudah rusak atau hancur.
- Tablet menjadi lembek, lembap, dan lengket.
Untuk membuang obat yang sudah kedaluwarsa, pastikan Anda memisahkan obat dengan kemasan aslinya. Hancurkan obat dan campurkan dengan tanah, ampas the, atau kopi sehingga tidak bisa diambil lagi. Buang ke tempat sampah.
Untuk obat yang cair, Anda bisa langsung membuangnya ke saluran air atau toilet. Caranya, campurkan obat dengan air agar encer kemudian buang ke saluran. Dengan mengetahui cara penggunaan obat yang benar, Anda bisa memperoleh khasiat terbaik sekaligus terhindar dari efek negatif yang tidak diinginkan.
KENALI KODE ETIK PROFESI
Oleh : Ns. Ratnasari, M.Kep. – Dosen S1 Keperawatan STIKES Telogorejo Semarang
Profesi didunia medis dianggap sebagai pekerjaan yang bergengsi sekaligus penuh tanggung jawab. Apalagi selama 2 tahun terakhir tenaga medis menjadi garda terdepan untuk melawan virus covid-19. Namun akhir-akhir ini banyak pelangaran terkait etika profesi oleh beberapa oknum tenaga Kesehatan.
Adanya kemajuan dan kecanggihan teknologi saat ini disalahgunakan oleh beberapa oknum tenaga kesehatan dengan membuat konten dengan tujuan untuk hiburan semata. Namun tidak sesuai dengan kode etik yang berlaku. Pelanggaran profesi yang dilakukan dianataranya pelecehan seksual, mengumbar aib dan bahkan sampai nyinyir soal status pasien.

Sebagai seorang tenaga medis, kita harus mengetahui etika dan hukum dalam profesi kita sebagai landasan untuk bekerja memberikan layanan keperawatan kepada masyarakat. Sehingga kita dijauhkan dari hal-hal yang tidak diinginkan. Dimana ciri sebagai profesi adalah mempunyai body of knowledge yang dapat diuji kebenarannya serta ilmunya dapat diimplementasikan kepada masyarakat langsung.
Etika berasal dari bahasa Yunani "ethos" yang berarti kebiasaan, mode perilaku. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, etika adalah ilmu tentang apa yang baik dan buruk, mengenai hak dan kewajiban moral, kumpulan asas atau nilai yang berhubungan dengan ahlak, dan nilai benar atau salah yang dianut dalam masyarakat. Sedangkan Etika kesehatan merupakan alat untuk mengatur tertibnya hidup bermasyarakat dalam bidang kesehatan. Dapat dikatakan bahwa etika ini berhubungan erat dengan prinsip benar atau salah dan prinsip moralitas. Hal ini dikarenakan etika mempunyai tanggung jawab moral, yang apabila seseorang melakukan penyimpangan terhadap kode etik berarti tidak memiliki perilaku dan moral yang baik.

Beberapa prinsip moral yang digunakan dalam keperawatan yang dijelaskan dalam buku etika keperawatan professional yaitu :
- Prinsip Otonomi (Autonomy)
Prinsip otonomi didasarkan pada keyakinan bahwa individu mampu berpikir logis dan mampu membuat keputusan sendiri.
- Prinsip Kebaikan (Beneficience)
Prinsip ini menuntut tenaga medis untuk melakukan hal yang baik dengan begitu dapat mencegah kesalahan atau kejahatan.
- Prinsip Keadilan (Justice)
Nilai ini direfleksikan dalam praktik profesional ketika tenaga medis bekerja untuk terapi yang benar sesuai hukum, standar praktik dan keyakinan yang benar untuk memperoleh kualitas pelayanan kesehatan.
- Prinsip Kejujuran (Veracity)
Seluruh pemberi layanan kesehatan untuk menyampaikan kebenaran pada setia klien untuk meyakinkan agar klien mengerti.
- Prinsip Kesetiaan (Fidelity)
Tanggung jawab besar seorang tenaga medis adalah meningkatkan kesehatan, mencegah penyakit, memulihkan kesehatan, dan meminimalkan penderitaan.
- Non-maleficence (tidak merugikan)
Prinsi ini berarti tidak menimbulkan bahaya/cedera fisik dan psikologis pada klien.
- Confidentiality (Kerahasiaan)
Kerahasiaan adalah informasi tentang klien harus dijaga privasi klien.
- Akuntabilitas yang berarti bertanggung jawab terhadap dirinya sendiri dan orang lain atas tindakannya.
Amankah Bersosial Media Bagi Kesehatan Mental ?

Disusun Oleh : Ns. Laura Khattrine Noviyanti, M.Kep, Sp.Kep. J. – Dosen S1 Keperawatan STIKES Telogorejo Semarang
Pernahkah anda berpikir mengapa beberapa pembuat konten ingin viral dan terkenal dengan banyak “like†dan komentar di media sosial ? Jawaban tersebut dibuktikan dengan mini riset oleh Media New York Times yang relevan tentang bermedia sosial. Dua motivasi utama dalam berbagi diantaranya mereka ingin mencerminkan identitas mereka (68%), berbagi cerita atau konten karena mereka menyukai bila orang lain terlibat dalam mengomentari konten mereka (81%). Disamping itu, media sosial bisa diakses kapan dan dimana saja dan memiliki sumber tanpa batasan membuat posisinya menjadi lebih mendominasi. Akan tetapi dengan berubahnya jaman, awalnya media sosial sebagai alat komunikasi semakin lama perannya telah bergeser seperti 2 sisi mata uang, bisa kearah positif atau sebaliknya kearah negatif. Fenomena yang terjadi sekarang beredarnya isu-isu SARA mencuat ke media sosial sehingga menimbulkan reaksi yang mengarah ke unsur kebencian, provokasi perilaku berbahaya, saling mengejek, saling membully, hingga saling menghina.

Saat ini kita bahas dengan dua dampak media sosial yang secara tidak langsung memengaruhi kesehatan mental. Dampak pertama akan kita bahas tentang dampak positif. Bekalu (2020) dalam Riset Penelitian di Lee Kum Sheung Center for Health and Happiness menyatakan bahwa penggunaan media secara rutin dapat mengimbangi berkurangnya interaksi sosial tatap muka sehingga mengatasi hambatan jarak dan waktu memungkinkan untuk terhubung dan memperluas jaringan mereka dengan orang lain sehingga semakin kuat jalinan persahabatan. Dari hal tersebut mengakibatkan kesejahteraan sosial seseorang akan semakin baik dan meningkatkan kesehatan mental yang positif. Koneksi emosional dengan kerabat terjalin kuat berkat media sosial. Dampak positif lainnya yaitu peningkatan hormon dopamin (salah satu hormon kebahagiaan) dengan memicu bertambahnya kesenangan pada diri sendiri (self-love) yang dirangsang ketika banyak komentar positif , “like†dari pembaca yang seakan-akan sebagai bentuk penghargaan sehingga, hormon yang meningkat lainnya yaitu oksitosin (salah satu hormon kebahagiaan) meningkatn ketika perasaan seseorang disayangi oleh orang lain. Lonjakan kedua hormon tersebut menurunkan tingkat stress, perasaan cinta, kepercayaan, empati yang datang lewat media sosial (Seiter, 2016).

Dampak kedua yang akan kita bahas adalah dampak negatif. University of Pittsburgh Medical Center, 2016 melakukan survey terhadap anak muda tentan sosial media dan pola tidur, hasilnya ditemukan adanya hubungan yang signifikan dengan gangguan tidur dikarenakan cahaya biru dari layar smartphone menunda dari ritme sirkadian yang mengakibatkan tidur tidak menjadi pulas. Dampak lainnya yaitu kecemasan, berdasarkan studi yang dilakukan ke anak muda dimana dilaporkan penggunaan platform media sosial lebih dari satu mengakibatkan tiga kali lebih mungkin mengalami kecemasan tingkat tinggi. Beberapa penelitian lainnya Primack, Shensa & Escobar (2017) telah menemukan adanya keterkaitan antara depresi dalam penggunaan sosial media. Gejala depresi yang muncul diantaranya suasana hati yang rendah, perasaan tidak berharga dan putus asa berkaitan dengan kualitas interaksi secara daring. Disamping itu dampak negatif media sosial mengakibatkan seseorang cenderung untuk membandingkan tubuh dengan orang lain sehingga mereka khususnya para remaja berbagai cara mengubah pola makan menjadi ideal serta menggunakan filter untuk mempercantik diri sehingga foto yang diunggah bukanlah foto dirinya, dari fenomena tersebut mengakibatkan tidak menyukai pada diri sendiri bahkan mengalami gangguan body image.
Bahasan dampak diatas sebagian mewakili dari dampak negatif dan positif dari media sosial. Untuk mencegah terjadinya dampaka negatif pada kesehatan mental baiknya kurangi frekuensi dalam waktu bermedia sosial, kedua bijak dalam bermedia sosial misal dalam memfilter berita atau komen yang sifatnya buruk pada diri sendiri dan orang lain. Khusus anak dan remaja, pendampingan orang tua memiliki peran penting dalam memberikan pemahaman bahwa apa yang terlihat di media sosial bukan sepenuhnya realita dan dapat dipercaya.
BETTER LIFE WITH BALANCED NUTRITION
Oleh : Ns. Felicia Risca Ryandini, M. Kep., Sp. Kep. MB. – Dosen S1 Keperawatan STIKES Telogorejo Semarang
Nutrisi yang seimbang merupakan suatu hal yang sangat dibutuhkan di kehidupan manusia. Berawal dari kebutuhan nutrisi merupakan suatu kebutuhan dasar manusia, nutrisi merupakan suatu kebutuhan yang harus dipenuhi sehari-hari. Nutrisi merupakan substansi organik yang dibutuhkan organisme untuk fungsi normal dari sistem tubuh, pertumbuhan, pemeliharaan kesehatan. Sebagai fungsi pemeliharaan kesehatan, nutrisi dapat mempertahankan fungsi tubuh yang meliputi sumber energi, zat untuk membangun atau memperbaiki jaringan, memelihara sistem skeletal, dan pengaturan fisiologi tubuh.

Nutrisi yang dibutuhkan oleh manusia adalah makronutrien, mikronutrien, serta fitronutrien. Disebut sebagai makronutrien karena tubuh manusia membutuhkan zat-zat ini dalam jumlah yang cukup besar. Zat nutrisi yang termasuk dalam kategori makronutrien adalah karbohidrat, protein, lemak, dan juga vitamin. Sebagai zat makronutrien atau yang dibutuhkan dalam jumlah banyak, peran dari karbohidrat, protein, lemak adalah untuk menghasilkan energi. Ketiga zat gizi tersebut berperan penting dalam menyediakan energi bagi tubuh untuk metabolisme, pertumbuhan, serta berfungsi sebagai “bensin†bagi otak, jantung, dan otot untuk menjalankan aktivitasnya.
Karbohidrat adalah makronutrien yang dibutuhkan dalam jumlah paling besar. Menurut departemen pangan Amerika Serikat, 45-65% kalori yang dibutuhkan manusia berasal dari karbohidrat. Karbohidrat sangat diperlukan sebagai sumber energi oleh organ-organ penting dalam tubuh seperti otak, ginjal, jantung, dan otot . Manusia membutuhkan protein sebagai penyumbang dari 10-35% kalori yang dibutuhkan sehari-hari. Protein berperan penting dalam pertumbuhan, sehingga sangat dibutuhkan oleh anak, remaja, dan wanita hamil serta menyusui. Selain itu, protein adalah zat gizi yang berperan utama dalam perbaikan jaringan, sistem kekebalan tubuh, serta bahan baku hormon dan enzim. Lemak menjadi salah satu makronutrien penting, oleh karenanya tidak boleh sama sekali mengabaikan lemak untuk memberi suplai energi. Lemak berkontribusi menjaga kesehatan sehingga kebutuhannya mencapai 10% – 35% dari makanan yang dikonsumsi. Kandungan lemak dalam 1 gramnya terdiri dari 9 kalori. Lemak juga berperan penting dalam menyuplai cadangan energi. Karena tubuh pada dasarnya menyimpan sisa kalori yang tidak terpakai dalam bentuk lemak.
Zat nutrisi selanjutnya yang dibutuhkan oleh tubuh adalah mikronutrien. Tubuh hanya memerlukan zat ini dalam jumlah yang kecil. Meskipun demikian, nutrisi ini tidak dapat disepelekan begitu saja, karena jika mengalami kekurangan dapat mengganggu tumbuh kembang serta kesehatan tubuh. Mikronutrien tidak dapat diproduksi oleh tubuh, melainkan hanya bisa didapat melalui makanan. Zat mikronutrien terdiri dari vitamin dan mineral, yang banyak terdapat pada sayur-sayuran dan buah-buahan. Beberapa contoh vitamin dan mineral yang penting bagi kesehatan adalah vitamin A, B, C, D, E, serta mineral zinc, zat besi, iodium, kalsium, dan magnesium.
Kekurangan nutrisi micronutrien saat ini menjadi 10 penyebab utama kematian di dunia saat ini. WHO mencatat bahwa lebih dari 2000 juta penduduk di dunia menderita kekurangan vitamin dan mineral, terutama vitamin A, yodium, besi dan seng. Kelompok yang paling mudah mengalami kekurangan zat gizi mikro adalah ibu hamil, ibu menyusui dan anak-anak berusia di bawah 5 tahun. Hal ini disebabkan karena mereka membutuhkan vitamin dan mineral dalam jumlah yang lebih besar dibandingkan dengan kelompok lainnnya.

Zat gizi yang tidak kalah pentingnya adalah Fitronutrien, yaitu zat kimiawi yang terkandung di dalam tumbuhan. Fitonutrien adalah senyawa kimia di dalam sayur dan buah yang umumnya kaya antioksidan, senyawa ini disebut sebagai imunomodulator. Kandungan fitonutrien pada sayur dan buahlah yang bertanggung jawab untuk memberi warna, aroma bahkan rasa pada buah dan sayuran. Masing-masing warna memiliki kandungan zat gizi yang berbeda.
Kandungan Zat Gizi Pada Buah Dan Sayur
- Karotenoid
Karotenoid termasuk jenis fitonutrien yang bertugas memberi warna cerah pada sayuran atau buah-buahan. Karotenoid memiliki sifat antioksidan dan bisa diubah menjadi vitamin A. Manfaatnya adalah untuk kesehatan mata, mendukung sistem imun, dan mengurangi risiko kanker. Contoh : labu, wortel, bayam, kubis, tomat, jeruk, dan ubi.
- Flavonoid
Flavonoid terkenal akan sifat antioksidan dan antikanker di dalamnya. Jenis fitokimia ini mampu melindungi tubuh dari kanker dan penyakit kardiovaskuler, berkontribusi pada koneksi sel yang sehat sebagai detoksifikasi, mengurangi peradangan, dan mengurangi risiko penyebaran tumor. Contoh : teh hijau, apel, anggur, kopi, jahe, kacang polong, dan bawang.
- Fitoestrogen
Memiliki sifat yaitu meniru estrogen dalam tubuh. Hal inilah yang membuatnya bermanfaat untuk meredakan ketidaknyamanan akibat hot flashes dan gejala menopause lainnya. Manfaatnya adalah untuk mengurangi risiko kanker, penyakit jantung, dan osteoporosis. Contoh : kedelai, brokoli, jeruk, wortel, kopi, dan kacang polong.
- Glukosinolat
Glukosinolat berperan dalam mengatur metabolisme tubuh, membantu respons stres, dan mengatasi peradangan. Jenis fitonutrien ini juga mampu mencegah sel kanker dan menghilangkan racun dalam tubuh. Contoh : pakcoy, brokoli, kembang kol, kubis, dan mustard.
Setelah kita mengetahui zat nutrisi apa saja yang diperlukan untuk tubuh, selanjutnya kita perlu mengetahui atau mengukur kebutuhan nutrisi yang diperlukan bagi tubuh kita. Hal ini dikarenakan masing-masing orang memiliki kebutuhan yang berbeda. Faktor yang mempengaruhi kebutuhan nutrisi seseorang adalah berat badan dan tinggi badan yang `aktivitas fisik. Untuk mengetahui berat badan ideal dapat menggunakan rumus sebagai berikut:
Setelah itu perlu dilakukan pengukuran Kebutuhan Kalori Basal atau Basal Metabolic Rate (BMR). Kebutuhan Kalori Basal merupakan kalori yang tubuh diperlukan untuk melakukan aktivitas dasar tubuh. Aktivitas tersebut mencakup memompa jantung, mencerna makanan, bernapas, memperbaiki sel tubuh, hingga membuang racun dalam tubuh.
Basal Metabolic Rate (BMR) =
Laki-laki : 30kkal x IMT
Perempuan : 25kkal x IMT
Selanjutnya barulah kita mengukur Kebutuhan Kalori Total. Kebutuhan Kalori Total (KKT) adalah Total kalori tubuh berdasarkan kalori yang perlukan untuk melakukan aktivitas dasar tubuh ditambah dengan jumlah kalori saat melakukan aktivitas fisik.
KKT = BMR + % BMR Aktivitas Fisik - % BMR Faktor Koreksi
Aktivitas fisik terbagi menjadi 3 kelompok yaitu aktivitas fisik ringan, sedang, dan berat. Dalam pengukuran Kebutuhan Kalori Total dalam sehari perlu ditentukan besaran aktivitas yang akan dilakukan, aktivitas ringan seperti membaca, menyetir, dan berjalan antara 10-20%; aktivitas sedang seperti menyapu, jalan cepat, dan bersepeda antara 20-40%, dan aktivitas berat seperti aerobik, jogging, mendaki, dan berjalan jauh 40%. Faktor koreksi sendiri dilihat berdasarkan usia, dengan ketentuan pada usia 40-59 tahun 5%, usia 60-69 tahun 10% dan lebih dari 70 tahun 20%. Untuk usia di bawah 40 tahun tidak perlu dikurangi dengan faktor koreksi.
Besaran nilai Kebutuhan Kalori Total inilah yang merupakan acuan untuk mengontrol jumlah kalori yang masuk ke dalam tubuh setiap harinya. Asupan kalori yang terlalu rendah atau terlalu tinggi bisa menyebabkan berbagai masalah kesehatan. Apabila asupan kalori terlalu tinggi, tubuh akan menyimpan kelebihan energi dalam bentuk lemak. Kadar lemak tubuh yang berlebihan bisa menyebabkan berbagai macam penyakit, misalnya penyakit jantung. Sehingga para ahli gizi menyarankan untuk mengkonsumsi tidak melebihi jumlah kebutuhan kalori total setiap harinya.
MENGENAL LEBIH DEKAT KANKER OVARIUM
Oleh: Ns. Dwi Fitriyanti, M. Kep - Dosen S-1 Keperawtaan STIKES Telogorejo Semarang
Ovarium atau indung telur merupakan sepasang kelenjar yang bentuknya mirip kacang almond yang terletak pada kedua sisi uterus dan di bawah bukaan tuba falopi. Tuba falopi sendiri adalah saluran yang membawa sel telur yang telah dibuahi menuju rahim. Selain memproduksi sel telur (ovum), ovarium juga memproduksi hormon wanita yang kita kenal sebagai estrogen dan progesterone.

Apa sih Kangker Ovarium ?
Kanker ovarium adalah jenis kanker yang berkembang di dalam, sekitar atau luar lapisan ovarium. Kanker indung telur (ovarium) merupakan keganasan organ reproduksi perempuan. Kanker ini merupakan jenis kanker tersering kedua dari seluruh kanker ginekologis di dunia dan merupakan jenis kanker terbanyak ketiga yang diderita wanita di Indonesia.
Pada tahun 2020, terdapat sekitar 21.750 kasus baru kanker ovarium, yang merupakan 1,2% dari seluruh kasus kanker. Perkiraan jumlah kematian terkait dengan itu adalah 13.940. Tingkat kelangsungan hidup relatif 5 tahun diharapkan menjadi 48,6%. Sekitar 15,7% kasus kanker ovarium didiagnosis pada stadium lokal, dan sekitar 58% pada stadium metastasis, di mana kelangsungan hidup 5 tahun turun menjadi 30,2%, bukan 92,6% jika penyebaran lokal terdeteksi pada stadium awal. Sembilan puluh persen kanker ovarium paling umum adalah epitel, dengan subtipe serosa.
Faktor Risiko yang Perlu Diketahui
Penyebab kanker ovarium sampai saat ini belum diketahui secara pasti. Ada berbagai faktor risiko yang berhubungan dengan kanker ovarium yaitu:
- Wanita pasca menopause
Ini sebagian besar mempengaruhi wanita pascamenopause, di mana bertambahnya usia dikaitkan dengan peningkatan kejadian kanker ovarium, stadium lanjut penyakit ini, dan tingkat kelangsungan hidup yang dilaporkan lebih rendah.
- Paritas
Paritas atau jarak kehamilan kurang dari 2 tahun memiliki peran penyebab kanker ovarium.
- Genetik atau keturunan
Faktor risiko terkuat kanker ovarium adalah riwayat keluarga positif kanker payudara, kanker ovarium maupun kanker serviks,
- Merokok
Beberapa penelitian menunjukkan peningkatan risiko merokok, terutama risiko tumor epitel musinosa diyakini menjadi factor resiko terjadinya kanker ovarium.
- Factor reproduksi dan hormonal
Faktor reproduksi dan hormonal keduanya diduga menjadi faktor terjadinya kanker ovarium, menghubungkan pengaruh gonadotropin yaitu LH dan FSH, paparan terus menerus ovarium dengan gonadotropin dan peningkatan kadar estradiol memungkinkan karsinogenik.
- Obesitas atau kegemukan
Indeks massa tubuh atau obesitas, review sistematik mendapat kenaikan risiko kanker ovarium pada wanita dengan BMI >/ 40 kg/m2

Kanker ovarium memiliki pertumbuhan yang cepat, tahapan awal biasanya tidak bergejala, dan ditemukan secara kebetulan pada pemeriksaan rutin, umumnya lebih dari 60% penderita didiagnosis setelah berada dalam keadaan lanjut. Gejala dan tanda klinis yang biasa dijumpai adalah pembesaran perut, terdapat massa di dalam rongga perut atau pelvis, gejala gangguan pencernaan makanan (dispepsia), gangguan buang air kecil dan besar, gangguan haid, gejala penekanan rongga perut berupa: rasa mual, muntah, hilang nafsu makan, nyeri perut dan terasa penuh pada perut sehingga merasa cepat kenyang.
Bagaimana melakukan pecegahan kanker ovarium?
Pencegahan penyakit kanker dapat dilakukan dengan menurunkan berbagai risikonya. Berikut ini cara untuk mencegah kanker ovarium adalah:
- Mengonsumsi pil KB kombinasi
- Tidak menggunakan terapi penggantian hormon
- Tidak merokok
- Menerapkan pola hidup sehat
- Menjaga berat badan ideal
- Atur jarak kehamilan lebih dari 2 tahun
Bagimana skrining awal kanker ovarium?
Skrining kanker ovarium sangatlah penting untuk deteksi awal, karena seringkali pasien datang sudah stadium lanjut atau suudah mengalami metastase organ lain. Selain perlu mengenali tanda gejala yang muncul untuk antisipasi terhadap kanker ovarium. Dasar biologis untuk skrining adalah kelangsungan hidup dari penderita kanker ovarium berhubungan dengan stadium saat diagnosis.
- Penanda tumor CA 125 salah satu tes skrining noninvasif, mudah dilakukan, pilihan potensial pada pembawa mutasi gen BRCA1 atau BRCA 2
- Melakukan cek berkala seperti pemeriksaan panggul rutin setahun sekali. Pemeriksaan lanjutan dilakukan bila dokter menduga seseorang menderita kanker ovarium
- USG abdomen, CT Scan atau MRI (jika diperlukan)
- Tes darah dengan cek CA 125 (marker kanker ovarium)
- Biopsi (sampel jaringan ovarium di periksa untuk mengetahui ada keganasan atau tidak)
- Protein human epididymis 4(HE4) memiliki sensitivitas yang sama dengan CA 125 tetapi pemeriksaan HE4 digunakan untuk monitoring kekambuhan atau pregresivitas kanker ovarium
Kenali lebih dekat dan cegah kanker ovarium. Hidup sehat dan produktif untuk kualitas hidup lebih baik
