Artikel
Metode Psikoterapi untuk Mengatasi Gangguan Emosional pada Remaja
Oleh : Ns. Vivi Sovianti, M.Kep, Dosen Prodi D3 Keperawatan STIKES Telogorejo Semarang
Isu kesehatan mental memang bukan hal baru di masyarakat kita. Sayangnya masih banyak yang belum menyadari bahwa kasus ini tidak bisa diabaikan. Apalagi jika masalah mental seperti gangguan emosional dialami oleh remaja. Sikap yang dihasilkan dari gangguan tersebut hanya dianggap sebagai reaksi pembangkangan terhadap orang dewasa di sekitar.
Padahal jika dibiarkan, masalah mental bisa mempengaruhi perkembangan fisik dan mental di usia tersebut. Mendatangi psikolog dan ahli merupakan solusi dalam mengatasi gangguan mental emosional pada remaja. Dalam prosesnya, psikolog biasanya menggunakan metode psikoterapi.

Psikoterapi untuk Gangguan Emosional
Psikoterapi merupakan metode terapi kesehatan mental yang melibatkan aktivitas komunikasi antara pasien dengan terapis. Menurut American Psychological Association (APA), psikoterapi menggunakan pendekatan verbal. Namun, tidak menutup kemungkinan ada obat medis yang digunakan dalam proses terapi.
Dalam melakukan pendekatan verbal, psikolog yang menggunakan metode psikoterapi memanfaatkan beberapa variasi metode terapi sesuai dengan latar belakang, masalah, dan teknik yang dirasa tepat dalam mengatasi masalah mental pada pasien.
Berikut ulasannya,
1. Cognitive Therapy (CT)
Cognitive Therapy atau Terapi Kognitif merupakan salah satu metode psikoterapi yang berfokus pada gagasan bahwa pikiran memiliki pengaruh kuat terhadap kesehatan mental. Inilah mengapa dalam prosesnya, pasien yang diterapi dengan metode ini akan diajak untuk bertukar pikiran tentang hal-hal yang membuat suasana hati mereka tidak baik.
2. Cognitive Behavioural Therapy (CBT)
Terapi perilaku kognitif atau Cognitive Behavioural Therapy (CBT) merupakan salah satu metode psikoterapi yang kerap digunakan psikolog untuk mengatasi gangguan emosional pada remaja.
Dalam prosesnya, CBT akan membantu pasien untuk memahami perasaan dan pikiran yang mempengaruhi perilaku mereka. Jika pasien mulai memahami akar masalah mereka, psikolog akan menggunakan pendekatan kognitif dan perilaku untuk membantu pasien mengubah pola pikir.
3. Interpersonal Therapy
Pada terapi interpersonal, pasien akan diajak untuk lebih memahami lingkungan mereka. Mereka yang menerapkan terapi ini percaya, bahwa cara pasien dalam mengatasi berbagai masalah sosial di kehidupan mereka berpengaruh terhadap perbaikan gejala psikologi yang sedang dialami.
Artinya, semakin baik dan efektif pasien dalam mengatasi masalah di lingkungan sosial mereka semakin besar pula harapan untuk mengatasi masalah mental yang sedang dihadapi.
4. Psychodinamic Therapy
Dalam pelaksanaannya, Psychodinamic Therapy menggunakan pendekatan yang berkaitan dengan semua metode terapi termasuk metode yang digunakan Freud, Jung, Adler, Rank, dan Klein. Hal ini membuat terapi dilakukan secara mendalam dan menggunakan berbagai teori sebagai dasar analisisnya.
Inilah mengapa hasil analisis dari teori psikodinamis biasanya akan membantu psikolog menemukan akar masalah yang sebelumnya mungkin tidak terlalu dominan. Metode ini sendiri dapat diterapkan untuk berbagai jenis gangguan mental emosional pada remaja.
5. Psychoanalytic Therapy
Disebut Psychoanalitic Therapy karena terapi ini dilakukan berdasarkan teori psikoanalisis yang dikemukakan oleh Sigmund Freud. Dalam praktiknya, psikolog akan melakukan pendekatan melalui alam bawah sadar pasien yang diyakini memiliki pengaruh terhadap pikiran, perasaan, dan perilaku mereka.
Untuk melakukan pendekatan, terapis biasanya menggunakan teknik hipnotis. Pada prosesnya, teknik ini membuat pasien bisa bernostalgia dengan masa lalu yang diyakini menjadi sebab munculnya gangguan mental.

Kesimpulan
Selain 5 metode psikoterapi di atas, masih ada beberapa metode lain yang digunakan psikolog untuk mengatasi gangguan emosional pada remaja. Berdasarkan ulasan di atas dapat disimpulkan bahwa masalah mental yang dialami remaja biasanya bersumber dari lingkungan mereka, terutama lingkungan rumah dan sosial.
Inilah mengapa kebanyakan pendekatan serta terapi yang dilakukan melalui proses pengenalan terhadap diri sendiri, masa lalu, serta lingkungan. Dalam praktiknya, selain secara verbal, penerapan terapi juga terkadang didampingi dengan pengobatan medis untuk menekan gejolak emosi yang diyakini memiliki pengaruh besar dalam perbaikan masalah mental yang sedang dijalani.
Apa pun metode yang digunakan, masalah mental pada remaja bisa diatasi dengan baik apabila ada dukungan dari keluarga dan lingkungan sosial. Masalah mental bukanlah aib. Jadi ketika hal ini dialami oleh orang terdekat kita, daripada menjauhi mereka cobalah untuk memahami dan mendukung secara moral supaya kondisi mereka menjadi lebih baik.
Itulah ulasan tentang beberapa metode psikoterapi untuk mengatasi gangguan emosional pada remaja. Semoga bermanfaat.
Referensi:
Tips Cerdas Memilih Skincare yang Aman bagi Kulit
Oleh : Apt. Ovikariani, M.Farm, Dosen Prodi S1 Farmasi STIKES Telogorejo Semarang

Dengan begitu banyak jenis produk hingga merek skincare terbaik yang dijual di pasaran, Anda pasti pernah bingung menentukan pilihan. Membaca ingredients tentu sangat memusingkan. Terlebih lagi, jika produsen memilih mengganti nama-nama yang harusnya familier dengan istilah yang kurang awam. Misalnya saja, menggunakan istilah tokoferol sebagai pengganti vitamin E.
Alhasil, alih-alih benar-benar mempelajari formulanya, banyak konsumen memilih cara yang lebih praktis: melihat produk yang viral atau menonton video review dari beauty vlogger favorit yang belum tentu objektif. Lalu, bagaimana cara menentukan paket skincare terbaik untuk Anda agar tak sampai salah pilih? Simak beberapa tips cerdasnya berikut ini!
Ketahui Jenis Kulit Anda Sebelum Membeli Skincare Terbaik
Menurut pakar kesehatan dan kecantikan kulit, Michele Green, MD, jenis kulit adalah faktor paling krusial untuk menentukan produk perawatan paling cocok untuk Anda. Kalau produk skincare aman BPOM yang Anda beli malah membuat Anda bruntusan, belum tentu produk itu jelek. Bisa jadi, Anda menggunakan produk yang kurang tepat untuk jenis kulit Anda.
Secara umum, ada empat jenis kulit yang perlu Anda ketahui, yakni kulit normal, kering, berminyak, dan kombinasi. Pastikan Anda memang memilih produk yang sesuai dengan jenis kulit Anda agar hasilnya sesuai harapan.

Jangan Membeli Skincare Hanya Karena Sedang Viral
Desain kemasan menarik, brand ambassador yang mempromosikan, hingga popularitas sebuah produk terkadang jadi jebakan yang membuat Anda tergoda membeli sebuah produk. Efeknya, Anda jadi tidak menghargai dan memahami apa yang benar-benar dibutuhkan oleh kulit Anda.
Jika Anda memang ingin membeli sebuah produk karena rekomendasi teman atau influencer, jangan hanya melihat sebagus apa hasilnya pada kulit mereka. Anda juga harus mengetahui masalah awal yang mereka hadapi serta jenis kulit mereka. Dengan begitu, Anda bisa memperoleh gambaran mengenai seberapa cocok produk tersebut untuk Anda.
Perhatikan Bahan yang Baik dan Buruk untuk Kulit
Alih-alih hanya bergantung pada review, mempelajari ingredients yang terkandung dalam skincare masih menjadi cara terbaik sebelum memutuskan untuk membeli. Beberapa ingredients yang memiliki manfaat baik untuk kulit antara lain adalah retinol, niacinamide (vitamin B3), tokoferol (vitamin E), L-ascorbic acid (vitamin C), gliserin, ceramide, dan hyaluronic acid.
Sementara itu bahan-bahan yang sebaiknya dihindari adalah parfum atau pewangi tambahan, sulfat, paraben, dan formaldehyde.
Yang Alami Belum Tentu Lebih Baik
Jika Anda selama ini berpikir bahwa skincare alami itu paling baik untuk kulit, sebaiknya Anda berpikir ulang. Pasalnya, tidak semua yang alami itu bagus untuk dijadikan bahan skincare. Beberapa jenis minyak esensial tumbuhan misalnya, tidak boleh digunakan secara topikal karena bisa menyebabkan iritasi.
Label organik atau istilah alami kadang hanya disematkan sebagai trik pemasaran oleh brand-brand kosmetik tertentu. Karena tidak ada regulasi dan standar untuk bahan-bahan alami ini, produk yang diklaim natural bisa jadi hanya menawarkan janji kosong. Tak hanya itu, kadang sebuah produk disebut sebagai produk alami hanya karena satu atau dua bahan dalam daftar saja. Kalau bahan tambahan lainnya justru membahayakan, bukankah ini sama saja tidak ada artinya untuk kulit Anda?
Itulah beberapa cara bijak untuk menentukan skincare terbaik bagi kulit Anda. Sudah siap berburu produk perawatan kecantikan yang paling sesuai untuk Anda?
Sumber:
https://www.realsimple.com/beauty-fashion/skincare/how-to-choose-skin-care-products
https://www.medicinenet.com/script/main/art.asp?articlekey=43073
Kecemasan Kesehatan Ibu Hamil yang Sering Terjadi dan Cara Mengatasinya
Oleh : Nella Vallen Ika Puspita, SST., MPH, Dosen Prodi S1 Kebidanan STIKES Telogorejo Semarang
Kehamilan kadang bukanlah masa yang mudah dan menyenangkan bagi semua wanita. Selama mengandung, seorang ibu akan mengalami berbagai transformasi yang akan berpengaruh secara umum pada kesehatan ibu hamil.

Stres, Masalah Kesehatan Ibu Hamil yang Paling Umum
Menjaga kesehatan saat hamil tidak hanya berlaku untuk fisik saja, melainkan juga mental. Perubahan hormonal kadang membuat seorang ibu (atau calon ibu) mengalami kesulitan secara emosional. Tekanan emosional ini akan semakin besar jika seorang ibu memiliki peran ganda. Misalnya saja ikut bekerja untuk mencari nafkah.
Menurut beberapa penelitian, sebagian besar wanita yang hamil untuk pertama kali cenderung mengalami ketakutan. Masalah kesehatan mental dan fisik juga lebih sering terjadi pada ibu hamil dibanding populasi secara umum. Sumber rasa cemas yang dialami oleh ibu hamil cenderung bervariasi, tergantung pada trimesternya.
Misalnya pada trimester pertama, rasa takut akan kehilangan bayi lebih sering terjadi. Sementara itu, pada trimester ketiga, seorang ibu cenderung akan mulai merasa takut akan proses persalinan.
Masalah Kecemasan yang Biasa Dihadapi Semasa Kehamilan
Ada banyak sekali sumber kecemasan yang kerap dirasakan oleh ibu yang sedang mengandung. Kecemasan ini bahkan bisa bertambah parah jika Anda mengalami masalah kesehatan fisik. Beberapa ketakutan yang umum dialami oleh ibu hamil antara lain adalah:
Cemas akan Kehilangan Bayi dalam Kandungan dan Bayi yang Tidak Sehat
Takut akan kehilangan bayi atau khawatir bayi yang dikandung tidak sehat adalah kecemasan paling umum yang dialami oleh ibu hamil. Sebagian wanita merasa khawatir kehamilannya tidak berjalan baik atau mereka takut telah melakukan kesalahan yang bisa membahayakan kesehatan janin mereka.
Jika ibu hamil mengalami keguguran, melahirkan bayi prematur, atau memiliki masalah kesuburan, ia mungkin khawatir tubuhnya tidak akan mampu membawa kehamilan sampai cukup bulan. Menunggu hasil tes kesehatan saat hamil juga bisa membuat sebagian besar ibu merasa makin gugup.
Cemas Tidak Akan Bisa Mengembalikan Kondisi Tubuh Seperti Sebelum Hamil
Banyak wanita yang mungkin punya kecemasan terkait penampilan fisiknya. Mereka khawatir proses kehamilan dan persalinan akan membuat mereka tidak menarik lagi jika mengalami kenaikan berat badan terlalu banyak.
Kehamilan mayoritas berkaitan dengan pengalaman fisik dan rasa takut kehilangan kendali akan perubahan tubuh ini sangat meresahkan bagi banyak wanita. Tidak perlu terlalu keras pada diri sendiri karena bagaimanapun semua orang butuh waktu untuk kembali pulih. Tetap konsumsi makanan sehat untuk ibu hamil untuk memastikan bayi dan ibu dalam keadaan baik hingga persalinan tiba.

Kekhawatiran akan Proses Persalinan
Semua wanita hamil pasti merasakan kecemasan saat waktu persalinan makin dekat. Sebanyak 20% wanita mengaku mereka merasa takut melahirkan. Bahkan, 6 dari 10 wanita memiliki fobia persalinan. Untuk mengatasi rasa takut ini, Anda bisa mempelajari seluruh proses dalam melahirkan. Jika perlu, berkonsultasi pada bidan atau dokter kandungan akan sangat membantu menjawab semua pertanyaan dan rasa khawatir Anda.
Kekhawatiran Tidak Bisa Menjadi Ibu yang Baik
Tidak sedikit orang tua yang merasa khawatir mereka tidak akan mampu merawat dan mencintai anak mereka. Namun, percayalah bahwa proses membangun ikatan dengan anak akan terjadi secara bertahap. Seiring dengan makin banyak waktu yang Anda habiskan dengan si kecil, bonding akan makin terbangun.
Bagi seorang ibu, ikatan khusus dengan bayi bahkan sudah dibangun sejak si kecil berada dalam kandungan. Ibu-ibu yang baru melahirkan pertama kali mungkin akan takut kewalahan dengan peran baru mereka. Ini adalah hal yang normal. Jika perasaan itu terlalu mengganggu, pastikan Anda mendapatkan bantuan dari keluarga terdekat maupun tenaga profesional.
Kapan Harus Meminta Bantuan Profesional Mengenai Kecemasan Saat Kehamilan?
Masalah kesehatan ibu hamil yang terjadi baik secara fisik maupun mental adalah sesuatu yang umum. Jika keluhan yang Anda alami sampai membuat Anda kesulitan melakukan aktivitas, penting untuk berkonsultasi dengan tenaga profesional.
Menjaga kesehatan selama masa kehamilan sangat penting bagi ibu dan bayi. Dengan menerapkan pola hidup sehat ibu hamil muda hingga menjelang waktu persalinan, Anda akan lebih mudah menjalani semua prosesnya. Jangan lupa untuk meminta dukungan dan bantuan orang-orang di sekitar agar segalanya berjalan lebih mudah, ya!
Sumber:
Mengenal Lebih Jauh Kanker Serviks, Mimpi Buruk para Wanita
Oleh : Mudy Oktiningrum, S.SiT., M.Keb, Dosen Prodi S-1 Kebidanan STIKES Telogorejo Semarang
Di antara sekian banyak jenis kanker, kanker serviks merupakan salah satu penyakit yang hanya menyerang wanita. Kanker serviks sendiri terbentuk pada jaringan serviksâ€â€organ yang menghubungkan antara rahim dan vagina. Gejala kanker serviks biasanya tidak akan langsung muncul saat seseorang mengalaminya. Namun, dengan skrining rutin lewat tes Pap reguler, sel kanker bisa ditemukan.
Apa saja tanda-tanda kanker serviks? Untuk memahami lebih jauh tentang kanker serviks termasuk cara pengobatan dan pencegahannya, simak pembahasan berikut ini!

Penyebab Utama dan Faktor Risiko Kanker Serviks
Penyebab kanker serviks yang paling umum ditemukan adalah karena jenis human papillomavirus (HPV) jenis tertentu. Anda bisa tertular HPV dengan berbagai cara termasuk kontak kulit ke kulit di area genital, aktivitas seksual baik secara vaginal, anal, maupun oral, dan lain sebagainya.
Semua orang yang memiliki organ serviks berisiko mengalami kanker serviks. Namun, beberapa faktor bisa meningkatkan risiko seseorang mengalami kanker ini. Beberapa faktor tersebut antara lain adalah:
- Berusia di bawah 45 tahun, kanker serviks lebih sering menyerang orang yang berusia muda.
- Memiliki kekebalan tubuh yang lemah (misalnya saja menderita HIV atau AIDS).
- Memiliki riwayat melahirkan banyak anak atau pernah melahirkan di usia dini (di bawah 17 tahun).
- Ibu Anda pernah mengonsumsi obat hormonal dietilstilbestrol (DES) saat hamil.
- Pernah menderita kanker vagina, vulva, ginjal, atau kandung kemih sebelumnya.
Meski pada stadium awal kanker serviks tidak menunjukkan tanda-tanda, pada stadium lanjut, pasien mungkin akan mengalami sejumlah gejala seperti:
- Perdarahan vagina setelah berhubungan seksual, di antara periode menstruasi atau setelah memasuki usia menopause.
- Keputihan berair atau berdarah yang berat dan berbau busuk.
- Nyeri panggul atau rasa sakit saat berhubungan intim.
Jika Anda mengalami salah satu dari gejala di atas, jangan ragu berkonsultasi pada dokter untuk penanganan lebih lanjut.
Jumlah Kasus Kanker Serviks di Indonesia dan Dunia
Dengan predikat sebagai pembunuh wanita nomor satu di Indonesia, kasus kanker serviks cukup banyak ditemukan. Menurut data dari Kemenkes per Januari 2019, ada 23,4 kasus kanker serviks per 100.000 penduduk. Sementara itu, rata-rata kematian tercatat hingga 13,9 kasus per 100.000 penduduk.
Dilansir dari laman resmi WHO, kanker serviks adalah kanker paling umum nomor empat yang menyerang wanita secara global. Pada tahun 2020, tercatat ada 604.000 kasus baru kanker serviks yang terdiagnosis dengan 342.000 kematian di tahun yang sama. Sebanyak 90% dari kasus kematian kanker serviks dunia tahun 2020 terjadi di negara dengan penghasilan rendah hingga menengah.
Penanganan dan Pencegahan terhadap Kanker Serviks
Seperti jenis kanker lain, kanker serviks juga dapat ditangani dengan berbagai cara. Makin dini perawatan dilakukan, makin besar harapan hidup serta peluang kesembuhan pasien. Beberapa opsi pengobatan yang mungkin akan diberikan oleh dokter antara lain adalah:
- Pembedahan. Kanker serviks pada stadium awal biasanya ditangani dengan operasi atau pembedahan, baik untuk membuang kanker atau mengangkat serviks dan uterus.
- Radiasi. Terapi radiasi menggunakan sinar bertenaga tinggi untuk membunuh sel kanker.
- Kemoterapi. Kemoterapi merupakan pengobatan kanker dengan menggunakan obat-obatan tertentu untuk membunuh sel kanker.

Selain ketiga metode pengobatan di atas, ada juga cara pengobatan targeted therapy, imunoterapi, dan perawatan suportif (paliatif). Tenaga medis mungkin akan memadukan beberapa jenis terapi untuk memperoleh hasil pengobatan yang maksimal.
Meskipun Anda memiliki risiko tinggi terkena kanker serviks, ada beberapa tips yang bisa diterapkan untuk mengurangi risiko dan mencegah kanker ini, yakni:
- Melakukan vaksinasi HPV agar tidak terinfeksi virusnya.
- Melakukan Pap tes secara rutin. Kebanyakan organisasi kesehatan menyarankan Pap tes dilakukan sejak usia 21 tahun.
- â— Melakukan aktivitas seksual yang aman (menggunakan kondom dan tidak berganti-ganti pasangan).
- Berhenti merokok.
Dengan berbagai cara mencegah kanker serviks di atas, Anda bisa terhindar dari risiko kanker serviks yang menjadi mimpi buruk para wanita. Siap untuk melakukan perubahan saat ini juga?
Sumber:
https://www.who.int/news-room/fact-sheets/detail/cervical-cancerhttps://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/cervical-cancer/symptoms-causes/syc-20352501
OMICRON MENGANCAM ANAK KANKER:TANTANGAN DAN TIPS BAGI ORANGTUA AGAR ANAK DAPAT SURVIVE
Oleh: Ns. Siti Lestari, M.Kep., Sp.Kep.An - Dosen S-1 Keperawatan STIKES Telogorejo Semarang
Covid-19 varian omicron dengan code B.1.1.529 kini telah menyebar ke berbagai negara, termasuk Indonesia. Varian ini dinilai lebih menular kepada anak-anak karena cakupan vaksin covid-19 pada anak yang belum merata dan saat ini masih terus diupayakan pelaksanaannya baik di sekolah, rumah sakit, puskesmas, maupun fasilitas pelayanan kesehatan lainnya.

Kasus omicron yang terus meningkat menimbulkan kekhawatiran tersendiri bagi orangtua anak penderita kanker. World Health Organization menyebutkan bahwa Jumlah anak yang terdiagnosis kanker pada tahun 2021 sekitar 400.000. Jumlah tersebut belum termasuk pasien lama yang telah terdiagnosis pada tahun-tahun sebelumnya. Berdasarkan data dari Indonesia Cancer Care Community (ICCC) Jenis kanker yang sering menyerang pada anak diantaranya leukemia (kanker darah), retinoblastoma (kanker mata), osteosarkoma (kanker tulang), tumor otak, dan limfoma (kelenjar getah bening), kanker tersebut dapat menyerang anak dari rentang usia 6 bulan hingga lebih dari 10 tahun.
Banyaknya jumlah anak penderita kanker menunjukkan bahwa banyak pula orangtua yang menghadapi tantangan terhadap covid-19 varian omicron, mengingat anak kanker memiliki daya tahan tubuh yang lebih rendah dibandingkan anak sehat. Terlebih, anak penderita kanker di Indonesia umumnya dibawa ke rumah sakit pada stadium lanjut. Hal tersebut terjadi karena rendahnya pengetahuan orangtua dalam mengenali tanda dan gejala penyakit kanker secara dini. Kanker pada stadium lanjut juga meningkatkan risiko penularan yang lebih besar terhadap omicron.
Anak penderita kanker berisiko tertular omicron dari keluarga terdekat, saudara atau teman yang berkunjung, dan dari tenaga kesehatan yang memberikan penanganan selama di rumah sakit maupun di rumah.
Berikut ini adalah tips anak agar terhindar dari penularan covid-19 varian omicron:
- Segerakan anak untuk mendapatkan vaksin.
Saat ini vaksin pada anak dapat diberikan mulai usia 6 tahun. Bagi anak penderita kanker, diharapkan berkonsultasi terlebih dahulu dengan dokter penanggung jawab pasien untuk memastikan apakah anak dalam kondisi stabil dan tidak ada kontraindikasi sehingga aman untuk mendapatkan vaksin. Vaksin tidak dapat diberikan pada anak penderita kanker yang sedang menjalankan kemoterapi, radiasi, atau obat imunosupresan.
- Menerapkan protokol kesehatan selama di rumah maupun di rumah sakit
Orangtua memberikan perhatian ekstra kepada anak penderita kanker ketika keluar rumah dengan menerapkan protokol kesehatan secara ketat. Sebaiknya hindari keluar rumah kecuali jika akan berangkat ke rumah sakit untuk menjalankan program terapi.
- Menggunakan masker baik di rumah maupun di rumah sakit
Selalu gunakan masker baik di rumah maupun di rumah sakit. Jika anak berada dalam satu ruang rawat tersendiri, anak diwajibkan mengenakan masker saat petugas kesehatan datang. Jangan ijinkan saudara atau teman untuk menjenguk secara langsung.
- Lakukan tes swab secara rutin
Tes swab PCR secara rutin dapat mengidentifikasi secara dini kemungkinan terpapar omicron meskipun tanpa tanda gejala
- Pertahankan rumah dengan ventilasi yang baik
Ventilasi yang baik selain membantu anak penderita kanker untuk mendapatkan oksigen yang cukup juga membantu menurunkan risiko terpapar omicron

Bagaimana jika omicron telah menyerang anak penderita kanker?
Apabila omicron sudah menginfeksi anak, maka dibutuhkan kesiapan orangtua dalam merawat dan mendampingi anaknya. Tentu hal ini akan lebih melelahkan. Orangtua menghadapi anak menderita kanker saja sudah pasti menguras tenaga, mengorbankan waktu yang panjang, dan mengeluarkan biaya yang banyak untuk perawatan anaknya. Apalagi anak penderita kanker juga terinfeksi oleh omicron. Orangtua memerlukan effikasi diri yang baik dan membutuhkan dukungan dari orang-orang sekitarnya.
Efikasi diri merupakan tingkat kepercayaan seseorang terhadap kemampuan dirinya untuk melakukan tindakan sehingga mencapai tujuan yang telah ditentukan. Dengan kata lain, orang tua harus yakin dan percaya pada diri sendiri bahwa dirinya mampu merawat anaknya yang sakit, dan mampu melewati masa-masa sulit dengan baik. Orangtua yang memiliki efikasi diri yang tinggi mampu menjalankan tugasnya dalam merawat anak penderita kanker yang terinfeksi omicron secara baik.
Sementara dukungan sosial adalah sumber daya yang disediakan oleh orang lain, diantaranya keluarga, tetangga, teman dekat, dan tenaga kesehatan. Segala bentuk dukungan dan bantuan yang diberikan baik berupa informasi, keahlian, pikiran, tenaga, waktu, materi, doa, hingga bantuan dana yang diberikan oleh orang-orang disekitar, semua itu merupakan dukungan sosial.
Hasil penelitian yang telah penulis lakukan terhadap orangtua anak penderita kanker di seluruh cabang Yayasan Kasih Anak Kanker Indonesia pada Januari 2022, memperoleh hasil bahwa effikasi diri dan dukungan sosial berpengaruh terhadap kualitas hidup anak kanker pada masa pandemi covid-19. Semakin tinggi efikasi diri yang dimiliki orangtua, maka semakin meningkat kualitas hidup yang dimiliki oleh sang anak. Demikian pula mengenai dukungan sosial, semakin tinggi dukungan sosial yang diterima oleh orangtua, maka semakin meningkat kualitas hidup anak.

Berdasarkan hasil penelitian tersebut, diharapkan agar orangtua anak penderita kanker dapat meningkatkan efikasi dirinya. Bagaimana cara meningkatkan efikasi diri? Berikut ini tips agar orangtua mampu meningkatkan efikasi diri:
- Senantiasa membangun afirmasi atau pikiran positif, bahwa dirinya bisa dan mampu
- Ikhlas menerima kondisi anak
- Menemani perawatan anak dengan perasaan syukur
- Memperbanyak membaca buku atau sumber pengetahuan lainnya mengenai kanker dan mengenai penatalaksanaan omicron pada anak kanker
- Berdiskusi dengan tenaga kesehatan seperti dokter dan perawat atau rohaniawan yang disediakan oleh rumah sakit
Survive dan Kesembuhan adalah idaman bagi semua orangtua, anak penderita kanker membutuhkan perawatan jangka panjang apalagi di tengah ancaman penularan omicron. Anak membutuhkan orangtua yang tangguh dan memiliki efikasi diri yang tinggi. Peran serta dukungan orang-orang di sekitar juga sangat berarti bagi orangtua dan anak penderita kanker.
Tanggal 15 Februari 2022 merupakan hari anak kanker internasional, momentum tersebut dapat digunakan untuk saling menguatkan dan memberi dukungan agar para survivor kanker dapat mempertahankan kualitas hidup yang baik.
Fisioterapi untuk Radang Sendi Bahu, Efektifkah?
Oleh : Linda Pramusinta, S.Tr.Ftr., M.Kes, Dosen S1 Fisioterapi STIKES Telogorejo Semarang
Pernah dengar istilah bursitis shoulder? Istilah tersebut merupakan nama lain dari gangguan pada bahu berupa peradangan di bagian sendi. Peradangan membuat pelumas dan bantalan pada sendi mengalami gesekan sehingga penderita akan merasa nyeri.
Bursitis pada bahu biasanya disebabkan oleh gerakan atau tekanan berulang pada sendi. Inilah mengapa beberapa profesi yang membutuhkan gerakan sendi seperti pelukis, musisi, atlet, petani, dan pekerja bangunan memiliki risiko mengalami radang sendi bahu lebih tinggi dibanding profesi lain.
Selain itu, bursitisjuga bisa disebabkan oleh faktor lain seperti usia, cedera, obesitas, dan penyakit atau infeksi tertentu (lupus, diabetes, dan tiroid). Selain di bahu, peradangan sendi juga bisa terjadi di bagian tubuh lain yaitu pinggul, lutut, atau siku.

Peradangan Sendi bahu dan Dampaknya Bagi Penderita
Penderita peradangan sendi bahu biasanya akan merasakan nyeri. Selain itu, penderita juga akan mengalami beberapa gejala seperti:
1. Sendi Terasa Kaku
Kaku maksudnya, pasien yang terkena bursitis bahu akan mengalami kesulitan dalam menggerakkan tangannya. Setiap gerakan akan terasa nyeri dan berat. Hal ini terjadi karena peradangan membuat sendi tidak lagi fleksibel sehingga ruang gerak penderitanya semakin terbatas.
2. Kulit di Area yang Sakit Memerah
Selain kaku, kondisi bursitis yang mengkhawatirkan biasanya menimbulkan warna kemerahan pada area yang sakit. Warna kulit yang berubah menunjukkan bahwa peradangan sendi sudah pada tahap membutuhkan penanganan medis atau pengobatan lebih intensif.
3. Mengalami Pembengkakan
Bursitis shoulder berada pada tahap paling parah ketika pasien mengalami pembengkakan. Pembengkakan ini terjadi karena proses peredaran darah di daerah yang mengalami peradangan kurang lancar. Pembengkakan juga bisa terjadi karena adanya infeksi bakteri akibat penyakit artritis reumatoid.
4. Otot Mengecil dan Melemah
Kondisi semacam ini biasanya dialami seseorang yang memiliki peradangan kronis. Jika sampai pada tahap ini, berarti sebelumnya pasien akan mengalami rasa sakit yang teramat sangat hingga mati rasa. Ketika otot semakin mengecil dan melemah, maka secara otomatis tenaga yang dihasilkan tangan tidak sekuat biasanya.

Terapi Fisioterapi untuk Pasien Radang Bahu
Secara umum, segala masalah persendian atau tulang yang dialami seseorang bisa diatasi dengan fisioterapi. Namun untuk bisa mendapatkan fisioterapi yang tepat, dibutuhkan serangkaian proses. Pada penderita radang sendi bahu, dokter biasanya akan menanyakan dulu apa pasien memiliki riwayat penyakit tertentu untuk mencari tahu penyebab bursitis.
Selanjutnya, dokter akan melakukan pemeriksaan fisik terutama di area bahu. Setelah itu, pasien akan diminta untuk melakukan pemeriksaan laboratorium menggunakan darah dan cairan sendi untuk memastikan penyebab radang. Pasien juga akan diminta untuk melakukan proses pemindaian (rontgen, USG, atau MRI) supaya dokter memahami kondisi radang sebenarnya.
Ketika semua rangkaian telah dijalani pasien, dokter bisa menentukan apakah kita membutuhkan obat-obatan saja, fisioterapi, atau bahkan keduanya. Tahap fisioterapi biasanya dilakukan ketika peradangan sendi bahu dianggap mulai mengkhawatirkan dan bisa kambuh di masa depan.
Dalam prosesnya, fisioterapi akan membantu pasien melalui pola latihan yang tepat baik secara intensitas atau bentuknya. Bagaimanapun, bahu harus tetap bergerak meskipun terasa sakit agar radang bisa segera pulih. Beberapa gerakan fisioterapi yang biasanya dilakukan adalah:
1. Latihan Postur
Pada latihan postur, pasien akan diminta untuk mengubah sikap saat duduk dan berdiri agar senantiasa tegak. Hal ini karena, radang sendi pada bahu biasanya disebabkan oleh posisi membungkuk yang tanpa sadar kerap dilakukan.
2. Mobilisasi Bahu
Latihan ini meminta pasien untuk berdiri tegak, mengangkat kedua bahu ke atas selama 5 detik, menarik bahu ke belakang selama 5 detik, dan menarik kedua bahu ke bawah selama 5 detik pula, lalu relaks. Gerakan biasanya dilakukan berulang 10 kali dan dikerjakan sekitar 2 – 3 hari sekali.
3. Bersandar di Pintu
Pada latihan ini, pasien akan merentangkan kedua lengan di depan pintu lalu mencondongkan kepala dan badan sampai ke depan hingga terasa tarikan pada kedua bahu di bagian depan. Posisi dilakukan selama 15 hingga 30 detik dan diulangi secara rutin 3 kali sehari.
Kesimpulan
Membaca ulasan di atas membuat kita sadar bahwa bursitis shoulder bukan penyakit ringan dan bisa diabaikan. Untuk mencegahnya, olahraga rutin, mengatur postur saat duduk atau berdiri, dan mengonsumsi makanan sehat perlu dilakukan. Meskipun tampak efektif, fisioterapi sebaiknya tidak perlu dilalui sebab bagaimanapun, lebih baik mencegah daripada mengobati bukan?
Semoga ulasan di atas bermanfaat.
Referensi:
SAYANGI LANSIA HINDARI DEMENSIA
Oleh : Ns. Siti Juwariyah, M.Kep – Dosen D-3 Keperawatan STIKES Telogorejo Semarang
Demensia pada lansia biasa disebut pikun. Namun itu berbeda, pikun merupakan perubahan kemampuan berpikir dan mengingat yang biasa dialami seiring pertambahan usia, yang menyebabkan sesorang bergantung pada orang lain. Sedangkan demensia adalah penyakit yang mengakibatkan penurunan daya ingat dan cara berpikir juga akan berdampak pada gaya hidup, kemampuan bersosialisasi, hingga aktifitas sehari-hari penderitanya. Sehingga sering mengakibatkan penderita sangat bergantung pada orang lain.

Apakah Damenisa termasuk Penyakit ?
Demensia bukan penyakit, namun merupakan sindrom atau kumpulan gejala-gejala yang terjadi pada seseorang. Sindrom ini mempengaruhi daya ingat, proses berpikir dan kemampuan yang dapat mengganggu aktifitas sehari-hari. Demensia umumnya terjadi pada kelompok lansia. Sindrom ini bukan proses penuaan yang normal terjadi. Kondisi ini umumnya penyebab disabilitas dan ketergantungan pada orang lain bagi lansia di seluruh dunia.
Faktor yang berisiko demensia adalah pertambahan usia, adanya riwayat demensia dalam keluarga, pola makan tidak sehat, merokok, jarang olahraga, kecanduan alkohol dan bisa juga karena penyakit tertentu misalnya sindrom down, depresi, sleppapnea, kolesterol tinggi, obesitas, hipertensi dan diabetes.
Gejala umum demensia pada lansia ada beberapa,
- Gangguan Daya Ingat
Kondisi ini sering disebut dengan pikun. Hal ini membuat lansia sulit mengingat sejumlah hal seperti nama orang atau benda.
- Sering Mengalami Kebingungan
Sering mengalami kebingungan, atau disebut sebagai disorientasi. Kebingungan akan semakin bertambah seiring dengan penyakit yang bertambah parah, yang sering disebut juga dengan penyakit Alzheimer.
- Mengalami Kesulitan Berpikir
Mereka tidak bisa melakukan sejumlah aktivitas secara mandiri, seperti Menyusun rencana, mengatur keuangan, dan sebagainya.
- Kesulitan Untuk Focus
Hilangnya focus akan menyulitkan mereka untuk melakukan kegiatan sehari-hari bahkan termasuk yang sederhana.
- Mengalami Delusi Dan Halusinasi,
Lansia yang mengalami ini adalah yang sudah Alzheimer tahap lanjut, dalam kondisi ini lansia perlu di damping dalam melakukan kegiatan sehari-hari karena sering dapat membahaayakan dirinya sendiri.
- Perilaku dan kepribadian berubah
Muncul tanda-tanda lansia mudah cemas, lansia mudah curiga, suasana hati sering berubah-ubah, agresif. Hal ini menyebabkan stress dan depresi pada lansia dan perlu adanya dukungan dari keluarga untuk mengurangi gejala ini.
- Sulit memahami objek visual, lansia sulit membaca, memahami gambar, dan objek-objek lain yang dilihatnya.

Pencegahan penyakit demensia adalah menghindari semua penyebab dan factor risiko yang akan terjadi, walaupun belum ada acara pasti untuk mencegah penyakit demensia pada lansia. Beberapa cara untuk mengurangi risikonya seperti :
- Berhenti merokok,
- Berolahraga secra teratur,
- Tidur yang cukup,
- Kurangi asupan alkohol,
- Menjaga berat badan ideal,
- Rutin mengontrol tekanan darah, kadar gula darah dan kolesterol
- Melatih otak secara berkala (seperti rajin membaca atau bermain teka-teki silang),
- Segera konsultasi kedokter jika mengalami stress, depresi atau gangguan kecemasan,
- Menjaga asupan nutrisi dan menerapkan pola makan sehat (dengan mengonsumsi makanan rendah lemak dan tinggi serat),
- Konsumsi vitamin otak.
Mari kita sayangi lansia dan jadikan lansia yang produktif sesuai kemampuannya. Salam Sehat
Jangan Salah, Kenali Batas Waktu Penggunaan Obat Berikut Ini!
Oleh : Apt. Fransisca Gloria, M.Farm - Dosen Prodi S1 Farmasi STIKES Telogorejo Semarang

Obat merupakan substansi dengan berbagai kandungan bahan kimia di dalamnya. Meski dibuat dengan tujuan pengobatan, penggunaan obat yang salah bisa mendatangkan efek negatif yang kadang berakibat fatal. Karena itu, penting bagi setiap orang yang mengonsumsi obat untuk memahami penggunaan obat yang benar sekaligus batas waktu pakainya. Dalam industri medis dan obat-obatan, setiap obat memiliki masa pakai yang berbeda-beda. Batas waktu penggunaan obat ada yang disebut dengan tanggal kedaluwarsa dan BUD (Beyond Use Date). Agar tidak salah menggunakan obat, simak penjelasan selengkapnya berikut ini!
Perbedaan Batas Waktu Penggunaan Obat Antara Tanggal Kedaluwarsa dan BUD (Beyond Use Date)
Setiap obat memiliki batas waktu penggunaan yang dapat dilihat dari tanggal kedaluwarsa dan BUD-nya. Apa perbedaannya?
- Tanggal Kedaluwarsa Obat
Seperti produk lain berupa makanan maupun minuman, tanggal kedaluwarsa obat ditentukan oleh produsen. Tanggal ini adalah batas waktu saat produsen sudah tidak bisa menjamin khasiat dan keamanan obat tersebut lagi. Tanggal kedaluwarsa ditentukan dengan pengujian obat terkait dengan wadah, pencahayaan, suhu, dan lain sebagainya.

Untuk menentukan tanggal kedaluwarsa, produsen menggunakan acuan dan ketentuan dari BPOM (Badan Pengawas Obat dan Makanan). Ketika obat tersebut sudah lewat dari tanggal kedaluwarsanya, obat tersebut sudah tidak bisa dipakai lagi meskipun kemasannya masih utuh.
- BUD (Beyond Use Date)
BUD merupakan tanggal yang jadi batas akhir penggunaan obat setelah kemasan dibuka dari segelnya. Tanggal ini biasanya ditulis pada resep yang Anda dapatkan dari apotek. Biasanya berisi keterangan seperti, “Buang obat setelah..†atau “Jangan gunakan obat ini lagi jika Anda…â€Â. Ada beberapa faktor yang menentukan BUD obat, yakni:
- Jenis obat dan seberapa cepat proses degradasinya
- Dosis obat
- Jenis kemasan atau wadah yang digunakan
- Kondisi penyimpanan obat yang disarankan
- Lamanya obat akan diminum
- Kemungkinan kontaminasi dalam proses penyiapan obat.
Sebagian besar obat memiliki BUD yang lebih singkat ketimbang masa kedaluwarsanya. Misalnya saja, jenis obat antibiotik misalnya sirup Amoxicilin. Setelah sirup Amoxicilin tersebut dilarutkan dengan air, maka obat tersebut bisa dikonsumsi maksimal 7 hari setelah dilarutkan dengan air. Jadi, meskipun tanggal kedaluwarsanya masih lama, Anda sudah tidak diperbolehkan mengonsumsinya lagi.
Karena itu, obat dengan BUD sebaiknya hanya dibeli ketika akan dikonsumsi. Anda juga tidak disarankan untuk menyetoknya di rumah.
Cara Penggunaan Obat Setelah Kemasannya Dibuka
Berdasarkan jenisnya, cara penggunaan obat setelah dibuka dari kemasannya juga berbeda-beda. Berikut rekomendasi dari BPOM :
- Obat kapsul atau tablet dengan kemasan klip boleh dikonsumsi dalam 2 bulan pasca kemasannya dibuka.
- Obat kapsul dan tablet yang masih dikemas dalam bungkus aslinya bisa dipakai sampai tanggal kedaluwarsanya.
- Obat sirup sebaiknya tidak dikonsumsi setelah 6 bulan kemasannya dibuka atau boleh diminum sampai tanggal kedaluwarsanya.
- Obat luar berbentuk cairan boleh dipakai dalam 6 bulan setelah dibuka atau sesuai tanggal kedaluwarsanya.
- Puyer. Tidak boleh disimpan dan digunakan lagi. Setelah sembuh, harus dibuang.
- Antibiotik. Harus dihabiskan sesuai dosis yang ditentukan dokter. Jika tidak terpakai, langsung buang.
- Obat tetes mata. Boleh dipakai dalam sebulan setelah dibuka (kecuali ada petunjuk berbeda dari dokter).
- Obat yang dimasukkan ke anus dan koyok bisa dipakai sampai tanggal kedaluwarsanya.
- Salep dan krim degan kemasan tube boleh digunakan maksimal 6 bulan pasca kemasannya dibuka.
- Salep dan krim dengan kemasan bertutup bisa digunakan maksimal 3 bulan setelah dibuka.
Ciri Obat Kedaluwarsa dan Cara yang Aman Membuangnya
Selain dari tanggal yang tertera, obat yang kedaluwarsa memiliki sejumlah ciri, yakni:
- Berubah rasa, warna dan baunya.
- Ada noda pada tablet.
- Lepas dari kemasannya.
- Mudah rusak atau hancur.
- Tablet menjadi lembek, lembap, dan lengket.
Untuk membuang obat yang sudah kedaluwarsa, pastikan Anda memisahkan obat dengan kemasan aslinya. Hancurkan obat dan campurkan dengan tanah, ampas the, atau kopi sehingga tidak bisa diambil lagi. Buang ke tempat sampah.
Untuk obat yang cair, Anda bisa langsung membuangnya ke saluran air atau toilet. Caranya, campurkan obat dengan air agar encer kemudian buang ke saluran. Dengan mengetahui cara penggunaan obat yang benar, Anda bisa memperoleh khasiat terbaik sekaligus terhindar dari efek negatif yang tidak diinginkan.
