Back

Artikel

HomeArtikelPage 6
Cedera Kepala : Kenali & Perhatikan Prinsip Pertolongan Pertamanya
Artikel 18 Jul 2022

Cedera Kepala : Kenali & Perhatikan Prinsip Pertolongan Pertamanya

Oleh : Ns. Arlies Zenitha Victoria, M.Kep, Dosen S-1 Keperawatan STIKES Telogorejo Semarang

Trauma merupakan salah satu penyebab kematian terbanyak di dunia. Peningkatan kematian akibat kecelakaan lalu lintas mencapai angka 83% di negara berkembang pada tahun 2000 – 2020. Dimana kasus terbanyak adalah trauma kepala atau cidera kepala. Kasus cidera kepala menjadi kasus yang paling beresiko menyebabkan kematian serta kecacatan permanen. Setiap tahunnya kejadian cedera kepala di dunia diperkirakan mencapai 500.000 kasu, diatas 10% korban meninggal sebelum tiba di rumah sakit. Selain itu, lebih dari 100.000 korban menderita berbagai tingkat kecacatan akibat cedera kepala.

Apa itu Cedera Kepala ?

Cedera kepala adalah cedera mekanik secara langsung atau tidak langsung mengenai kepala yang mengakibatkan cedera di kulit kepala, fraktur tulang tengkorak, robekan selaput otak dan kerusakan jaringan otak itu sendiri serta mengakibatkan gangguan neurologis. Secara mekanisme terjadinya cedera, cedera kepala dibagi menjadi cedera kepala tumpul dan cedera kepala tajam. Sementara menurut kegawatannya, cedera kepala terbagi atas cedera kepala ringan, sedang, dan berat. Penilaian kegawatan cedera kepala dapat dilakukan dengan menilai tingkat kesadaran dengan menggunakan Glasgow Coma Scale (GSC) serta tanda klinis yang terjadi pada pasien.

Banyaknya kasus cedera kepala dapat menimbulkan kondisi yang gawat darurat bahkan kematian. Oleh sebab itu, pertolongan yang segera diperlukan untuk mencegah morbiditas dan mortalitas korban. Pertolongan yang diberikan dilokasi kejadian merupakan bagian dari pre hospital care. Pemberian pertolongan pre hospital care secara tepat dapat menurunkan resiko kematian akibat trauma. Pertolongan terlambat atau kurang tepat, dapat menyebabkan kondisi fatal.

Bagaimana Langkah Awal Yang Harus Dilakukan ?

Sebagai penolong korban, langkah awal yang harus kita lakukan adalah memastikan 3A, yaitu aman diri, aman pasien dan aman lingkungan. Selanjutnya, kita dapat melakukan cek respon korban dengan memanggil nama korban sambil menepuk bahu. Bila tidak ada respon, segera panggil bantuan atau dapat menelpon ambulans. Sambil menunggu bantuan datang, kita dapat melakukan cek nadi dan nafas korban secara simultan. Cek nadi dilakukan pada nadi karotis (terletak di leher) dan lihat pengembangan dada korban untuk memastikan ada atau tidaknya pernafasan.

Melakukan stabilisasi kepala dan leher korban juga merupakan hal yang sangat penting dalam melakukan pertolongan pertama pada kasus cedera kepala. Cedera kepala erat hubungannya dengan cedera tulang servikal (cedera tulang leher). Beberapa hal yang perlu diperhatikan sebelum menolong korban adalah lakukan observasi apakah pasien mengalami cedera kepala dengan penurunan kesadaran, adakah jejas di atas tulang klavikula (tulang selangka) mengarah ke atas, trauma lebih dari satu tempat (multiple trauma), dan biomekanika trauma mendukung. Bila hal tersebut terjadi pada korban cedera kepala, kita perlu waspada bahwa korban juga mengalami cedera tulang servikal. Stabilkan kepala dan leher dengan meletakkan kedua tangan penolong di kedua sisi kepala korban. Kemudian, jaga agar kepala sejajar dengan tulang belakang dan jaga agar tubuh korban tidak banyak bergerak sambil menunggu bantuan tim kesehatan datang.

Bila korban cedera kepala mengalami perdarahan di bagian kepala, segera lakukan balut tekan pada titik perdarahan dengan kain bersih. Namun perlu diperhatikan, jangan sampai menggerakan kepala korban. Meskipun terjadi perdarahan, penolong tidak diperbolehkan menekan tulang kepala yang terbuka atau menariknya. Langsung tutup dengan kasa steril atau kain bersih bila terjadi fraktur terbuka pada tulang kepala. Jika cedera kepala yang dialami oleh korban membuatnya muntah – muntah, miringkan tubuh korban dengan tetap melakukan stabilisasi pada kepala dan leher korban.

Pentingnya penanganan segera pada klien cedera kepala sangat berpengaruh pada kerusakan neurologis yang mungkin muncul akibat cedera. Edukasi kepada masyarakat tentang pertolongan pertama cedera kepala diharapakan dapat meningkatkan pengetahuan dan keterampilan masyarakat ketika menolong korban cedera kepala. Hal ini didukung juga oleh WHO dengan program safe community bahwa edukasi ini meliputi segala usia di segala lingkungan dan situasi, lebih diarahkan ke pencegahan kecelakaan, meningkatkan kapasitas masyarakat untuk mencegah kecelakaan, dan organisasi kesehatan menjadi peran penting dalam pelaksanaan program ini.

Pembentukan Karakter dan Soft Skill Untuk Tenaga Kesehatan
Artikel 07 Jul 2022

Pembentukan Karakter dan Soft Skill Untuk Tenaga Kesehatan

Oleh : Joan Ariesta Puspasari, S.Psi, M.Psi, Psikolog - Dosen Bimbingan Konseling

Menurut UU No.36 tahun 2014 yang dimaksud dengan tenaga kesehatan adalah setiap orang yang mengabdikan diri dalam bidang kesehatan serta memiliki pengetahuan dan/atau keterampilan melalui pendidikan di bidang kesehatan yang untuk jenis tertentu memerlukan kewenangan untuk melakukan upaya kesehatan.

Masih menurut UU yang sama, disebutkan ada beberapa kelompok tenaga kesehatan, meliputi tenaga :

  1. Tenaga medis
  2. Psikologi klinis
  3. Keperawatan
  4. Kebidanan
  5. Kefarmasian
  6. Kesehatan masyarakat
  7. Kesehatan lingkungan
  8. Gizi
  9. Keterapian fisik
  10. Keteknisian medis,
  11. Teknik biomedika;
  12. Kesehatan tradisional; dan
  13. Tenaga kesehatan lain.

Dalam memberikan pelayanan kesehatan, tenaga profesional yang terlibat haruslah memiliki hard skill yang baik. Namun, hal ini saja tidak cukup, soft skill dan karakter juga akan menentukan keberhasilan pengobatan dan kepuasan pasien. Maka dari itu, setiap tenaga kesehatan perlu untuk melewati pendidikan pembentukan karakter dan soft skill yang baik.

Tentang Soft Skill

Apa yang dimaksud dengan soft skill? Soft skill merupakan kemampuan mengelola proses pekerjaan (organizing), hubungan antar manusia (human relation), dan membangun interaksi dengan orang lain. Contohnya kepemimpinan, komunikasi, dan hubungan interpersonal.

Meski sudah memiliki hard skill yang mumpuni, bila tidak dibarengi dengan soft skill yang baik, orang akan sulit beradaptasi dengan pekerjaannya sendiri maupun rekan sejawatnya. Hal ini tidak hanya terjadi di dunia kesehatan, tetapi juga di bidang pekerjaan manapun.

Ada banyak sekali jenis soft skill. Akan tetapi, mengutip Schulz (2008), soft skill yang paling krusial dimiliki seseorang adalah keterampilan berkomunikasi. Keterampilan berkomunikasi akan memengaruhi soft skill yang lain seperti manajemen konflik dan mengelola diskusi.

Soft Skill Tenaga Kesehatan

Puspita (2013), menyebutkan etika adalah salah satu soft skill  yang tidak dapat dipisahkan dari profesi kedokteran. Begitu pula dengan seorang perawat, etika keperawatan akan menjadi pedoman bagi seorang perawat dalam pemecahan masalah dan pengambilan keputusan etis.

Soft skill lain yang juga dibutuhkan oleh tenaga kesehatan adalah kemampuan berpikir taktis dan organisasional. Kemampuan organisasional terkait kemampuan dalam merencanakan segala sesuatunya agar tindakan yang dilakukan dapat mencapai tujuan dari pelayanan.

Berkaitan dengan keterampilan berkomunikasi, soft skill seperti kemampuan berdiplomasi, regulasi emosi, empati juga penting untuk dikembangkan seorang tenaga kesehatan. Kemampuan berdiplomasi nantinya juga akan berimbas pada kemampuan untuk bekerja sama dengan sejawat lainnya.

Integritas tenaga kesehatan saat melayani pasien adalah soft skill lain yang menentukan mutu pelayanan kesehatan yang diberikan. Integritas ini tercermin dari sikap yang mengutamakan pasien, perilaku baik, dan melakukan sesuatu sesuai yang dikatakannya.

Dalam Standar Kompetensi Dokter Umum sendiri, terdapat tiga area kompetensi yang sebenarnya termasuk dalam kategori soft skill, yaitu profesionalitas yang luhur, mawas diri dan pengembangan diri, serta komunikasi efektif. Sedangkan dalam Standar Kompetensi Perawat ada satu area kompetensi perawat yang merupakan kategori soft skill, yaitu praktek profesionalitas, etis, legal, dan peka budaya.

Pembentukan Soft Skill

Untuk bisa memiliki soft skill yang cukup, seorang tenaga kesehatan perlu melalui serangkaian pelatihan dan praktik. Evaluasi berkala dan insentif tenaga kesehatan dari tempat bekerja bisa jadi cara untuk mendorong pengembangan diri dan profesionalisme tenaga kesehatan tersebut.

Meningkatkan soft skill juga bisa dilakukan dengan cara melatih diri sendiri dengan terlebih dahulu menyadari apa-apa saja keterampilan yang perlu dibenahi atau ditingkatkan. Soft skill bisa dibentuk dengan mengimplementasikan kebiasaan-kebiasaan baik dalam sehari-hari hingga akhirnya kebiasaan tersebut berubah menjadi karakter.

Soft skill perlu menjadi prioritas untuk dikembangkan tenaga kesehatan, karena bagaimanapun 75% kesuksesan seseorang itu ditentukan oleh keterampilannya, dan hanya 25%-nya saja yang ditentukan oleh pengetahuan teknikal (Stanford Research Institute International dan the Carnegie Melon).

Perawat dan Peluangnya sebagai Entrepreneur
Artikel 23 Jun 2022

Perawat dan Peluangnya sebagai Entrepreneur

Oleh : Nana Noviada K, SE., MM - Dosen STIKES Telogorejo Semarang

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, perawat adalah orang yang bekerja sebagai tenaga kesehatan profesional yang tugasnya memberikan perawatan kepada pasien atau klien, baik berupa aspek psikologis, biologis, sosial, dan spiritual dengan mengaplikasikan proses keperawatan.

Kebanyakan lulusan keperawatan berharap untuk mendapatkan pekerjaan di rumah sakit ataupun fasilitas kesehatan lainnya. Namun, sayangnya seringkali ada gap antara keterampilan para fresh graduate dan harapan pemberi kerja membuat kesempatan bekerja di rumah sakit ataupun klinik menjadi tidak mudah didapatkan.

Timpangnya jumlah lulusan perawat dan posisi yang tersedia di lapangan membuat pentingnya bagi seorang perawat memiliki bekal ilmu entrepreneurship. Tidak hanya karena hal tersebut saja, tetapi juga untuk bisa memiliki kondisi finansial yang lebih baik. Pasalnya, tidak bisa dimungkiri, gaji perawat di beberapa daerah bahkan tidak selaras dengan UMP daerah tersebut.

Nursepreneurship

Tugas perawat pada dasarnya memang memberikan pelayanan dan edukasi kesehatan, walau begitu perawat sebenarnya memiliki peluang untuk mengembangkan bisnis atau usahanya sendiri di bidang keperawatan tanpa meninggalkan tugas pokoknya. Menjadi seorang perawat yang menjalankan nursepreneurship berarti menjadi seorang pengusaha (nursepreneur) di bidang keperawatan yang mengintegrasikan nilai-nilai keperawatan yang dapat dipertanggungjawabkan langsung kepada klien atas usaha/bisnis yang dijalankannya.

Rio Febrian (2015), dalam bukunya yang berjudul "Nursepreneurship: Gagasan & Praktik Kewirausahaan dalam Keperawatan", menyatakan bahwa nursepreneur adalah seorang perawat pengusaha yang dalam hal ini bekerja secara mandiri saat memberikan pelayanan keperawatan yang meliputi antara lain perawatan langsung, penelitian, pendidikan, administratif atau konsultasi dalam menciptakan bisnis/usahanya.

Peluang Usaha untuk Perawat

Ada banyak peluang usaha yang bisa dibidik di bidang keperawatan, di antaranya:

  1. Area Pelayanan Keperawatan

Pada area pelayanan keperawatan, seorang perawat dapat berperan serta sebagai penggagas ide, pengelola, pemilik saham, atau sebagai pemilik usaha. Ada banyak jenis usaha yang bisa dijalankan di area pelayanan keperawatan, contohnya saja usaha home care.

Menurut Kementrian Kesehatan, layanan home care adalah pelayanan kesehatan yang berkesinambungan dan juga komprehensif, yang dalam hal ini diberikan kepada individu dan keluarga di tempat tinggal mereka yang memiliki tujuan untuk mempertahankan, memulihkan kesehatan, meningkatkan tingkat kemandirian, serta berusaha meminimalkan akibat dari suatu penyakit (Depkes RI, 2002).

Layanan home care ini sendiri jika dijalankan dengan baik bahkan bisa memberikan penghasilan yang jauh melebihi gaji perawat di rumah sakit. Pasien-pasien terminal yang membutuhkan perawatan paliatif juga akan sangat terbantu dengan layanan semacam ini.

Area pelayanan lain yang memungkinkan menjadi usaha perawat contohnya adalah sebagai praktisi terapi komplementer atau fisioterapis. Seorang nursepreneur di pelayanan keperawatan bisa membangun usahanya dengan membuka klinik berkolaborasi dengan tenaga kesehatan lain seperti dokter, apoteker, atau bidan.

  • Area Pendidikan

Ilmu pengetahuan akan selalu berkembang. Membangun sebuah usaha yang memberikan pelatihan komprehensif berkelanjutan di bidang keperawatan demi mencetak perawat berkualitas menjadi salah satu pilihan usaha.

  • Area Manajerial

Perawat yang memiliki ketertarikan dan kompetensi di bidang manajemen sumber daya manusia, khususnya keperawatan, dapat mencoba menjadi seorang konsultan. Atau bisa juga dengan membentuk firma konsultan legal keperawatan.

Tantangan Menjadi Nursepreneur

Bisnis di bidang apapun akan selalu memberikan tantangan. Apalagi ketika bisnis sudah berjalan, cobaan dan godaan akan selalu datang bergantian. Ketika Anda memutuskan untuk menjadi seorang nursepreneur tantangan baik internal maupun eksternal adalah hal yang tak terelakkan.

Tantangan internal mencakup kecakapan pribadi Anda sendiri dalam mengelola diri. Sedangkan tantangan eksternal bicara tentang bagaimana empati dan kecakapan sosial Anda saat mengelola bisnis.

Perawat Harus Melek Entrepreneurship

Perawat adalah profesi yang mulia, tetapi tantangan zaman memang menuntut perawat untuk dapat memiliki soft skill lebih seperti entrepreneurship. Keahlian kewirausahaan akan memberikan kesempatan tambahan dalam berkontribusi di masyarakat, tentunya akan meningkatkan finansial dibanding dengan yang hanya mengandalkan gaji perawat di rumah sakit.

Konsep nursepreneurship adalah hal yang harus diketahui setiap perawat. Para nursepreneur ini akan menjadi pendukung majunya perekonomian bangsa dan tumpuan harapan baru di masa depan.

Risiko Jatuh dan Penurunan Sensibilitas pada Lansia
Artikel 31 May 2022

Risiko Jatuh dan Penurunan Sensibilitas pada Lansia

Oleh : Deasy Virka Sari, S.Fis, M.Fis - Dosen S-1 Fisioterapi STIKES Telogorejo Semarang

Seiring bertambahnya usia, kemampuan seseorang untuk mempertahankan keseimbangan dan sensibilitas tubuh akan mulai berkurang. Bahkan, pada beberapa orang, kemampuan tersebut bisa menghilang secara perlahan. Kondisi inilah yang membuat seseorang yang memasuki usia lanjut atau lansia lebih rentan terjatuh dan berisiko mengalami cedera serius.

Siapa saja yang termasuk dalam kelompok usia lansia? Apa yang membuat risiko jatuh pada lansia lebih tinggi dibanding kelompok usia lain? Simak penjelasan berikut.

Siapa Itu Lansia?

Menurut Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, yang dimaksud dengan lansia adalah mereka yang memiliki usia 60 tahun ke atas, baik yang masih produktif bekerja maupun tidak.  Sedangkan kelompok usia 46- 59 tahun disebut sebagai pra lansia atau orang yang mendekati usia lansia.

Menurut WHO, lansia dikelompokkan menjadi empat golongan usia. Lansia usia pertengahan (middle age) 45-59 tahun, usia lansia (elderly) 60-74 tahun, lansia tua (old) 75-90 tahun, dan usia sangat tua (very old) di atas 90 tahun.

Saat memasuki usia lanjut atau lansia, seseorang akan menunjukkan perubahan fungsi tubuh, diantaranya:

  • Kekuatan tubuh menurun, sehingga mudah lelah, gigi tanggal, mengalami keriput, dan produksi air liur berkurang.
  • Penurunan daya ingat yang menyebabkan lansia mudah lupa, napsu makan berkurang, dan jam tidur pun berkurang.
  • Gangguan penglihatan dan pendengaran.
  • Kemampuan mempertahankan keseimbangan tubuh berkurang, sehingga mudah jatuh.
  • Imunitas menurun dan rentan mengalami gangguan pencernaan.

Risiko Jatuh yang Mengintai Lansia

Dahulu, jatuh pada lansia tidak dianggap sebagai keluhan kesehatan yang serius. Padahal risiko jatuh pada lansia dapat menimbulkan dampak negatif, meliputi kehilangan fungsi fisik dan kemandirian, serta perawatan kesehatan yang mahal.

Faktor risiko jatuh yang mengintai lansia ini dipengaruhi oleh dua kondisi, antara lain:

Faktor Intrinsik

Yaitu, faktor yang datang dari dalam tubuh manusia. Faktor ini dapat berupa kondisi medis dan neuropsikiatri, gangguan pendengaran dan penglihatan, serta perubahan fisik yang berkaitan dengan usia (postur tubuh, fungsi saraf otot, cara berjalan, dan refleks postural).

Faktor Ekstrinsik

Yaitu, faktor yang datang dari luar tubuh manusia. Faktor ini dapat berupa penggunaan alat bantu yang tidak sesuai, jenis obat yang dikonsumsi, serta kondisi lingkungan sekitar yang berbahaya. Misal, lantai licin, kabel yang berserakan, undakan tinggi, tidak adanya pegangan, kurangnya penerangan, hingga tempat tidur yang tidak tepat.

Penurunan Sensibilitas pada Lansia

Sumber: My Pvhc

Risiko jatuh pada lansia juga disebabkan karena penurunan sensibilitas lansia yang dipengaruhi oleh:

Melemahnya otot tubuh

Saat usia Anda bertambah, kekuatan otot tubuh akan melemah secara perlahan. Kondisi ini lah yang menyebabkan lansia kehilangan kekuatan dan keseimbangan tubuh, sehingga mudah terjatuh. Kelemahan otot ini bisa memburuk pada lansia yang kurang olahraga dan mengalami peradangan sendi.

Penurunan fungsi pendengaran dan penglihatan

Umumnya, lansia mengalami penurunan sensibilitas pada bagian pendengaran dan penglihatan. Oleh karena itu, mereka berisiko mudah menabrak atau terjatuh ketika berada di ruangan kurang penerangan. Selain itu, organ telinga juga memegang peranan penting dalam menjaga keseimbangan tubuh. Jadi, ketika organ pendengaran mengalami masalah, akan berdampak pada keseimbangan lansia.

Tips Mencegah Lansia Jatuh dan Cedera

Berikut beberapa langkah pencegahan yang bisa Anda lakukan agar lansia tidak mudah terjatuh lagi.

Konsultasi Dokter

Dengan berkonsultasi, Anda bisa mengetahui penyebab lansia sering terjatuh. Sehingga, dokter bisa memberikan terapi pengobatan yang tepat.

Jauhkan benda-benda berbahaya

Area kamar mandi, dapur, tangga, lorong, bahkan ruang tamu, bisa menjadi sumber bahaya bagi lansia. Oleh karena itu, Anda perlu mengatur ulang agar ruangan-ruangan tersebut tidak berbahaya. Beberapa diantaranya:

  • Merapikan kabel agar tidak berserakan.
  • Singkirkan benda-benda yang menghalangi jalan.
  • Letakkan benda yang sering digunakan lansia pada tempat yang  mudah dijangkau.
  • Perbaiki karpet yang mencuat agar tidak membuat lansia tersandung.
  • Segera bersihkan tumpahan air, sisa makanan, maupun remahan minyak.

Tambahkan alat pengaman dan lampu penerangan yang terang

Buat lingkungan sekitar tempat tinggal lansia terasa aman. Seperti, dengan menambahkan pegangan di sekitar benda atau fasilitas yang sering digunakan lansia. Tempatkan alas anti licin di kamar mandi dan di bawah tempat tidur lansia. Serta, berikan alat tempat tidur yang nyaman.

Selain itu, berikan lampu penerangan yang terang agar lansia leluasa melihat keadaan sekitar. Pastikan tombol atau saklar lampu berada di tempat yang mudah dijangkau, sehingga lansia bisa menyalakannya sendiri.

Demikian pengaruh penurunan sensibilitas pada lansia terhadap risiko jatuh yang mengintai mereka. Namun, dengan menciptakan lingkungan yang aman bagi lansia, risiko jatuh tersebut bisa dikurangi.

Simpan Obat di Rumah ? Ini Tips Penyimpanan Obat yang Tepat !
Artikel 17 May 2022

Simpan Obat di Rumah ? Ini Tips Penyimpanan Obat yang Tepat !

Oleh Apt. Ummi Kalsum, M.Farm, Dosen STIKES Telogorejo Semarang

Setiap rumah pasti memiliki obat yang disimpan secara mandiri. Penelitian terhadap 250 responden rumah tangga dewasa dari tiga kecamatan di Jakarta Utara menyimpulkan bahwa 82% rumah tangga menyimpan obat, dengan jenis obat terbanyak analgesik-antipiretik dan anti-inflamasi nonsteroid. Obat yang disimpan adalah obat etikal. Sebagian besar obat tersebut diperoleh dari apotek, dibeli tanpa resep dokter dan sengaja disimpan untuk persediaan jika sakit serta merupakan obat sisa resep. Obat yang sudah sampai ke tangan seseorang merupakan tanggung jawab orang tersebut dalam penggunaan hingga penyimpanannya. Adanya penyimpanan obat dirumah ini menggambarkan perlu adanya infomasi terkait penyimpanan obat yang tepat dirumah. Sehingga pasien-pasien berhak mengetahui cara penggunaan dan penyimpanan obat yang tepat.

jateng.tribunnews.com

Setiap obat memiliki sifat yang berbeda-beda sehingga mempengaruhi kestabilan yang harus dipertahankan agar obat tersebut efektif, aman, dan berkhasiat bila dikonsumsi. Penyimpanan yang tepat merupakan cara untuk mempertahankan kestabilan obat tersebut jika sudah di tangan pasien. Setiap orang harus mengetahui bahwa jika penyimpanan obat yang tidak tepat dapat mempengaruhi kualitas obat tersebut, dari efek yang didapat tidak optimal hingga keracunan obat. Nah apakah penyimpanan obat anda dirumah sudah tepat ? Berikut tips penyimpanan obat yang tepat dirumah :

Tips 1.  Simpan semua obat di tempat yang sejuk dan kering, serta terlindung dari panas dan cahaya. Gunakan kotak penyimpanan kemudian diletakkan di rak atau lemari.

Tips 2. Simpan kapsul dan tablet diwadah tertutup rapat. Simpan suspensi oral dan obat drop anak-anak di kulkas (tapi jangan dibekukan di freezer).

Tips 3. Simpan obat yang serupa bersama-sama (misalnya obat yang memiliki efek yang sama seperti penghilang rasa sakit, antidiare dan lain-lain).

Tips 4. Simpan obat jauh dari jangkauan anak-anak seperti diatas atau didalam lemari agar tidak terlihat oleh anak-anak.

Tips 5. Singkirkan obat-obat lama. Buang semua sediaan obat yang sudah usang kemasannya. Lakukan pengecekan terhadap tanggal kadaluarsa secara berkala.

Tips 6. Jangan tinggalkan obat di meja samping tempat tidur dan tempat terbuka lainnya.

Tips 7. Tidak menyimpan terlalu banyak obat.

Tips 8. Tidak menyimpan obat yang tidak berlabel.

Tips 9. Gunakan obat sesuai anjuran dokter.

Tips 10. Tanya Apoteker cara penyimpanan obat anda

Semoga bermanfaat !

Pentingnya Service Excellent dalam Pelayanan Kesehatan
Artikel 11 May 2022

Pentingnya Service Excellent dalam Pelayanan Kesehatan

Oleh : Nana Noviada K, SE., MM., Dosen STIKES Telogorejo Semarang

Layaknya sektor jasa lainnya, pelayanan kesehatan pun harus menerapkan prinsip service excellent. Berikut ulasannya.

Istilah service excellent diterjemahkan sebagai “pelayanan prima” dalam bahasa Indonesia. Istilah ini biasa digunakan dalam dunia jasa. Namun, sebenarnya, pelayanan prima juga harus diterapkan dalam pelayanan kesehatan karena pada dasarnya pelayanan kesehatan juga tergolong sebuah penawaran jasa.

Pengertian Service Excellent

Pengertian service excellent sendiri didapat dari dua katanya yaitu “service” yang  bermakna pelayanan, dan “excellent” yang bermakna bermutu tinggi atau prima. Jika dijabarkan, service excellent adalah pelayanan terbaik yang diberikan penyedia jasa yang melampaui harapan pengguna jasa itu sendiri.

Dalam pelayanan kesehatan, pelayanan prima dicerminkan dari pelayanan terbaik yang diberikan semua karyawan fasilitas kesehatan, baik tenaga kesehatan maupun tenaga pendukung lainnya kepada pasien yang melampaui harapan pasien itu. Harapan pasien ini biasanya terbentuk dari pengalaman-pengalaman di masa lampau terhadap jasa atau produk tertentu dan juga berdasarkan informasi layanan yang diterima pasien dari berbagai sumber.

Tujuan Service Excellent

Apa tujuan dari service excellent ini? Tujuan utamanya adalah untuk membangun rasa kepercayaan dan kepuasan dari pelanggan. Kepercayaan dan kepuasan dari pelanggan akan membuat mereka menjadi setia dan akan menggunakan kembali jasa kita ketika mereka membutuhkannya. Pelayanan yang bermutu tinggi juga bertujuan untuk menghindari adanya tuntutan-tuntutan yang tidak perlu di kemudian hari.

Ketika penyedia jasa memberikan jasa dan layanan bermutu tinggi, maka citra penyedia jasa tersebut pun akan naik. Pelanggan yang puas juga akan lebih mungkin merekomendasikan penyedia jasa tersebut pada orang lain yang dikenalnya.

Komponen Service Excellent

Ada beberapa komponen service excellent yang harus dipenuhi untuk memberikan pelayanan yang prima:

  1. Kemampuan (Ability)

Kemampuan di sini meliputi keahlian dari jasa yang ditawarkan dan komunikasi yang efektif.

  • Sikap (Attitude)

Sikap yang positif dan selalu menghargai pelanggan, serta logis.

  • Penampilan (Appearance)

Penampilan fisik yang layak dan tepat yang bisa merefleksikan kepercayaan diri dan kredibilitas.

  • Perhatian (Attention)

Kepedulian penuh pada kebutuhan pelanggan dan menghargai saran dan kritiknya serta usaha mencurahkan perhatian terhadap keinginan dan kebutuhan pelanggan.

  • Tindakan (Action)

Tindakan mencakup segala aksi atau aktivitas nyata yang dilakukan dalam memberikan pelayanan pada pelanggan.

  • Tanggung jawab (Accountability)

Tanggung jawab (accountability) yang dimaksud di sini merupakan sikap keberpihakan yang ditujukan kepada pelanggan sebagai wujud kepedulian untuk menghindarkan atau menimbulkan kerugian/ketidakpuasan pengguna jasa.

Penerapan Service Excellent dalam Bidang Kesehatan

Contoh penerapan materi service excellent dalam bidang pelayanan kesehatan antara lain:

  • Mengutamakan pasien dengan menyusun SOP yang mendukung kemudahan dan kenyamanan bagi pasien.
  • Sistem yang efektif.
  • Menunjukkan nilai semangat melayani dengan hati.
  • Menerapkan perbaikan berkelanjutan.
  • Memberdayakan pasien dengan menawarkan jenis-jenis layanan pendukung yang dapat membantu pasien menyelesaikan masalahnya sehari-hari.
  • Pelayanan dengan prioritas pengembangan yang terencana dengan baik.

Menerapkan service excellent dalam pelayanan kesehatan dapat berupa tindakan nyata seperti:

  • Tersenyum, menyapa dan memberi salam kepada pasien
  • Cepat dan juga tepat waktu dalam memberi tindakan pada pasien
  • Mendengarkan dengan sabar dan aktif keluhan pasien tanpa menghakimi
  • Berpenampilan rapi dan bersih
  • Menerangkan apa yang sedang Anda lakukan
  • Mengucapkan terima kasih
  • Mengingat nama pasien
  • Memperlakukan sejawat dengan hormat

Memberikan service excellent bukan hanya perkara soal apakah pasien akan puas dengan pelayanan yang didapatnya dan menaikkan citra tenaga/fasilitas kesehatan yang dikunjunginya. Melainkan juga, ini sebagai upaya dalam membantu pasien untuk mendapatkan dukungan dan akses mencapai kesembuhan.

Alur dan sistem yang efektif tentunya juga akan mengurangi kemungkinan terjadinya kesalahan prosedur medis dan rasa stres yang dirasakan oleh pasien. Makin efektif pelayanan, makin sedikit pula waktu yang terbuang sia-sia saat pasien menggunakan suatu layanan kesehatan. Tenaga kesehatan yang menjalankan service excellent pun akan mendapatkan tempat istimewa di hati pasien serta membantu pasien lebih semangat untuk sembuh dan berobat.

OBAT DAN PUASA
Artikel 25 Apr 2022

OBAT DAN PUASA

Oleh : apt. Yovita Dwi Arini, M.Sc (Dosen Prodi S1 Farmasi STIKES Telogorejo Semarang)

Percakapan yang sering kita dengar pada bulan Ramadhan, sedang menjalankan ibadah puasa namun kebingungan dalam menggunakan obat.

A: Kamu puasa hari ini?

B: Iya saya berpuasa,. Kenapa?

A: Mata kamu merah, iritasi ya?

B: Sepertinya iritasi, tadi pagi terasa gatal, sempat dikucek sih, ingin pakai obat tetes mata, takut puasa nya batal. Apalagi kalo pakai tetes mata bisa setiap 4 jam kita meneteskan obat.

A: Aku juga kurang paham, boleh atau tidak ya pakai tetes mata.

Saat puasa, kadang halangan berupa sakit datang tak terduga. Ada keraguan saat harus minum atau menggunakan obat. Pertanyaan yang sering muncul ketika akan menggunakan obat saat berpuasa adalah sebagai berikut :

  • Kapan waktu yang tepat untuk meminum atau menggunakan obat selama berpuasa?
  • Apakah obat yang saya minum akan membatalkan puasa?
  • Apakah ada obat yang dapat digunakan untuk mengobati penyakit yang diderita tetapi tidak membatalkan puasa?

Berikut ini adalah penjelasan tentang beberapa hal mengenai penggunaan obat pada saat orang berpuasa, sehingga orang dapat menggunakan obat dengan benar dan menghasilkan efek terapi yang diharapkan.

Waktu minum obat selama berpuasa

Perubahan jadwal minum obat dan dosis obat yang diberikan dapat mempengaruhi efek terapi obat. Agar tetap didapatkan efek obat yang optimal, perlu kehati-hatian jika diperlukan perubahan. Berikut panduan dalam meminum obat yang tepat saat puasa:

  1. Minum obat 1 kali sehari

Obat yang diminum 1 kali sehari, dapat diminum saat pagi ketika sahur atau malam hari ketika berbuka puasa.

2. Minum obat 2 kali sehari

Obat yang diminum dua kali sehari, dapat diminum saat sahur dan saat berbuka. Ketentuan ini sebenarnya tidak jauh beda dengan aturan minum obat 2 kali sehari pada hari biasa.

3. Minum obat 3 kali sehari

Jika awalnya kita bisa leluasa meminum obat selama 24 jam dengan interval 8 jam sekali, sementara pada saat puasa kita hanya punya waktu minum obat selama 10,5 jam dari buka puasa sampai sahur. Disarankan untuk konsultasi terlebih dahulu kepada dokter atau apoteker apakah ada alternatif obat sejenis yang bisa diminum 1 atau 2 kali sehari. Anda juga dapat menanyakan mengenai ketersediaan obat yang sama tapi memiliki sistem pelepasan obat secara lepas lambat (pelepasan perlahan) atau memiliki aktivitas obat yang panjang atau pelepasannya terkontrol. Jika tetap harus diminum sesuai aturan 3 kali sehari, obat tersebut tetap dapat diminum sesuai aturan awal, namun dengan pembagian jam yang berbeda, yaitu diberi rentang setiap 5 jam. Untuk obat yang diminum tiga kali sehari, maka dapat diminum saat sahur, saat berbuka dan tengah malam sebelum tidur sekitar jam 10-11 malam.

4. Minum obat 4 kali sehari

Sama halnya dengan minum obat 3 kali sehari, anjuran minum obat 4 kali sehari pada saat puasa menjadi sedikit berbeda dengan hari biasa. Jika pada hari biasa, obat ini bisa diminum sebanyak 4 kali dengan interval 6 jam sekali, pada saat puasa tentu tidak bisa demikian karena tak boleh makan dan minum pada siang hari. Obat yang diminum 4 kali sehari pada saat puasa dapat diminum dengan interval waktu 4 jam sekali, yaitu jam 04.00 pagi (saat sahur), jam 06.00 sore saat berbuka puasa, jam 10.00 malam dan jam 01.00 dini hari. Obat yang tidak disarankan pemberiannya sampai 4 kali sehari selama berpuasa adalah jenis antibiotik

5. Minum obat sebelum dan setelah/ sesudah makan

Pada saat puasa, untuk obat yang dikehendaki diminum sebelum makan, dapat diminum 30 menit sebelum makan sahur atau 30 menit sebelum makan saat berbuka puasa. Begitu juga untuk obat yang diminum setelah makan. Obat ini dapat diminum 5 sampai 10 menit setelah makan sahur atau berbuka puasa. Apabila ada obat yang dikehendaki diminum tengah malam sesudah makan, maka dapat mengisi perut terlebih dahulu dengan cemilan seperti roti terlebih dahulu. Beberapa orang sering kali takut menggunakan obat karena mengira dapat membatalkan puasa. Padahal tidak semua obat dapat berimplikasi tersebut. Obat-obatan yang digunakan untuk obat luar dan obat yang tidak masuk melalui saluran cerna tidaklah akan membatalkan puasa.

Penggunaan obat yang tidak membatalkan puasa

Ternyata tidak semua obat bisa membatalkan puasa. Kini Anda tak perlu resah, sebagai pegangan, Anda bisa merujuk rilis dari Kementerian Kesehatan RI tentang jenis obat yang tidak membatalkan puasa. Rilis tersebut merujuk pada hasil konferensi An Islamic View of Certain Contemporary Medical Issues, yang digelar di Maroko pada tahun 1997. Berikut adalah bentuk-bentuk sediaan obat yang dapat  digunakan saat berpuasa, seperti dilansir dari Kementerian Kesehatan RI:

  • Obat yang diserap melalui kulit seperti salep, krim, plester, dan koyo,

Obat-obatan tersebut digunakan secara lokal, dan kerap diindikasikan dipakai pada bagian yang sakit saja. Obat tersebut bekerja/ diserap tubuh melalui kulit dan tidak sampai ke saluran pencernaan, karena efek yang ditimbulkan adalah efek lokal (disekitar tempat obat diberikan);

  • Obat tetes mata, tetes telinga, atau tetes/ semprot hidung, karena pemberiannya sudah jelas tidak ditelan dan tidak melalui saluran cerna;
  • Obat sublingual, obat yang digunakan dengan menyelipkan/ meletakkan di bagian bawah lidah. Obat yang digunakan dengan cara ini tidak membatalkan puasa meskipun dimasukan melalui mulut karena tidak ditelan dan tidak melalui saluran cerna. Obat jenis ini diserap oleh tubuh melalui pembuluh darah yang terletak dibawah lidah. Contoh obat yang sering digunakan adalah nitrogliserin/ isosorbide dinitrat untuk pengobatan nyeri dada saat serangan jantung;
  • Obat inhalasi untuk gangguan pernapasan diberikan saat sesak napas, biasanya untuk penderita asma dan penyakit paru lain. Obat ini dihirup dan langsung menuju saluran pernapasan;
  • Obat kumur, selama tidak ditelan. Meskipun obat kumur digunakan melalui mulut, tetapi obat tersebut tidak untuk ditelan sehingga tidak membatalkan puasa
  • Obat suntik/ injeksi lewat kulit, otot, atau vena, di mana suntik/injeksi tidak membatalkan puasa, karena tidak melalui mulut/lubang terbuka lainnya, contoh obat yang sering digunakan adalah insulin, yang digunakan pada pasien diabetes mellitus.
  • Cairan infus, pemberian asupan cairan secara intravena (melalui pembuluh darah vena) memang tidak dilakukan lewat lubang tubuh yang terbuka. Tetapi jika infus yang diberikan berupa nutrisi/ makanan melalui infus (nutrisi parenteral) sebagai pengganti makanan, infus ini dapat membatalkan puasa.
  • Obat suppositoria, ovula, rectal tube, berbentuk padat, digunakan langsung ke dalam tubuh melalui saluran kencing, alat kelamin perempuan, atau anus/ dubur. Jenis obat ini akan meleleh atau larut oleh suhu tubuh, lalu masuk ke sel-sel yang diberi obat ini; dan
  • Oksigen, diberikan saat tubuh mengalami gangguan pernapasan, yang menyebabkan saturasi oksigen di tubuh berkurang

Semoga dapat menjadi informasi kesehatan bagi masyarakat, sehingga paham tentang waktu yang tepat  untuk minum obat. Tanyakan kepada apoteker terkait obat yang digunakan serta pastikan anda mendapat informasi yang sesuai dan anda butuhkan.

Ingat “Tanya Obat, Tanya Apoteker_”

Selamat menjalankan ibadah puasa di bulan Ramadhan, , semoga puasa kali ini membawa berkah untuk kita semua..

Benarkah Metode Gentle Birth Mengurangi Rasa Sakit?
Artikel 19 Apr 2022

Benarkah Metode Gentle Birth Mengurangi Rasa Sakit?

Oleh : Desi Soraya, S.Tr.Keb, M.Keb – Dosen S-1 Kebidanan STIKES Telogorejo Semarang

Melahirkan adalah proses yang identik dengan rasa sakit. Walau begitu, selama beberapa tahun belakangan ini, santer terdengar sebuah metode baru melahirkan yang disebut dengan metode gentle birth.

Melahirkan dengan  gentle birth ini digadang-gadang akan memberikan ibu pengalaman melahirkan yang minim trauma dan rasa sakit. Tapi sebenarnya apa itu gentle birth dan benarkah bisa mengurangi rasa sakit melahirkan? Simak fakta-faktanya berikut ini.

Pengertian Gentle Birth

Gentle birth adalah sebuah filosofi dalam proses melahirkan, di mana proses melahirkan itu tenang, penuh kelembutan, serta memanfaatkan semua unsur alami dalam tubuh manusia[1]. Penolong yang terlibat dalam proses persalinan harus membantu dengan menggunakan suara lembut dan tenang, sehingga ketika bayi lahir, ia disambut dengan suasana penuh kedamaian.

Berbeda dengan metode konvensional, metode gentle birth menggunakan pendekatan proses kelahiran yang alami . Proses kelahiran ini membutuhkan bantuan pendamping yang kooperatif dan persiapan fisik dan mental yang matang dari calon ibu.

Prinsip Melahirkan dengan Gentle Birth

Dalam bukunya “Gentle Birth, Melahirkan Nyaman Tanpa Sakit”, bidan Yessi Aprillia dan Ritchmond menyebutkan beberapa prinsip yang harus dipenuhi, yaitu:

  1. Proses melahirkan dilihat sebagai momen yang harus diselebrasi dengan penuh rasa hormat, damai, dan sakral oleh semua pihak yang terlibat,
  2. Terdapat peran keluarga, khususnya suami, yang dapat memberikan dukungan mental ataupun spiritual kepada ibu yang hendak melakukan persalinan,
  3. Rasa mulas dan nyeri yang dirasakan calon ibu dipandang sebagai mekanisme alami yang dilalui tubuh dalam membantu proses kelahiran bayi,
  4. Proses persalinan tidak harus dilakukan di rumah.

Saat mendampingi persalinan, penolong yang menerapkan gentle birth akan meminimalisasi intervensi medis dan membebaskan calon ibu untuk bergerak mengikuti instingnya. Ruang bersalin pun diatur suasananya sedemikian rupa, baik pencahayaan, udara, serta suhunya agar dapat memberikan ibu kenyamanan dan ketenangan.

Persalinan dengan metode gentle birth memberikan kendali persalinan pada ibu, bukan pada dokter ataupun bidan yang mendampingi. Bayi yang baru lahir pun diperlakukan secara lebih lembut dan diberikan kesempatan untuk melakukan Inisiasi Menyusui Dini (IMD). Meski pada persalinan secara sesar sekalipun, prinsip-prinsip ini masih tetap dapat dilakukan.

Tentang Rasa Sakit

Rasa sakit sebenarnya adalah sesuatu yang sangat subyektif. Anda dan saudara kandung sendiri bahkan bisa memiliki toleransi terhadap rasa sakit dengan ambang batas yang berbeda. Persepsi seseorang terhadap rasa sakit juga mempengaruhi seberapa besar rasa sakit yang dirasakan seseorang. Riset menunjukkan rasa sakit yang dirasakan seseorang bisa berkurang ketika rasa sakit dianggap sebagai sesuatu yang positif, dan sebaliknya semakin dianggap tidak berguna atau mengancam jiwa, rasa sakit akan terasa semakin kuat[2].

Dalam persalinan gentle birth, ibu diarahkan untuk mempersepsikan rasa sakit sebagai sesuatu yang akan membantunya untuk bertemu dengan sang bayi. Selain itu suasana persalinan serta pendamping yang tenang dan penuh kelembutan dapat mengurangi kecemasan dan persepsi rasa sakit ibu. Gabungan hal-hal inilah yang membuat metode gentle birth mengurangi rasa sakit juga trauma melahirkan.

Dalam sebuah studi di Amerika Serikat[3] yang melibatkan 17.000 persalinan terencana di rumah, didapatkan sebuah data yaitu Kurang dari 2% ibu yang dirujuk ke rumah sakit untuk mendapatkan manajemen rasa sakit tambahan. Ini artinya, sebanyak 98% ibu sanggup menghadapi rasa sakitnya di rumah. Selain itu, hanya 1% bayi yang lahir yang butuh diperiksa ke rumah sakit, itu pun bukan untuk kondisi yang gawat.

Kesimpulan

Metode gentle birth mengimplementasikan prinsip-prinsip persalinan yang meminimalisasi stresor lingkungan. Selain itu mendorong ibu untuk memberdayakan dirinya sebelum hingga sesudah persalinan itu sendiri. Belum ada studi khusus yang mengukur tentang rasa sakit yang dirasakan persalinan gentle birth. Singkatnya metode ini berhasil mengurangi rasa sakit ibu dan meningkatkan kepuasan persalinan.