Back

Artikel

HomeArtikelPage 7
KONSUMSI ANTIBIOTIK TIMBULKAN RESISTENSI, BAGAIMANA MENCEGAHNYA?
Artikel 08 Sep 2022

KONSUMSI ANTIBIOTIK TIMBULKAN RESISTENSI, BAGAIMANA MENCEGAHNYA?

Oleh Apt. Anifatus Sa’adah, M.Farm – Dosen S1 Farmasi STIKES Telogorejo Semarang

Setiap orang sakit tidak jarang mengonsumsi obat khususnya antibiotik. Antibiotik merupakan suatu golongan obat yang dapat membunuh bakteri. Antibiotik tidak dapat digunakan untuk mengobati infeksi yang dikarenakan virus, jamur, atau nonbakteri lainnya. Penggunaan antibiotik yang tidak wajar bisa memicu terjadinya resistensi antibiotik. Lebih dari 60% negara di Asia Tenggara dapat membeli antibiotik tanpa adanya resep. Hal ini menjadi salah satu penyebab timbulnya resistensi antibiotik. Di Indonesia sendiri kejadian resistensi masih banyak ditemukan.

Resistensi antibiotik merupakan suatu keadaan terinfeksi bakteri dimana obat antibiotik yang digunakan tidak evektif untuk pengobatan, karena bakteri tersebut tidak sensitif oleh adanya antibiotik. Keadaan ini menunjukkan bahwa bakteri telah kebal terhadap antibiotik tersebut. Bagaimana sih bisa sampai terjadi resistensi antibiotik?

Hal-hal yang menyebabkan timbulnya resistensi antibiotik antara lain yang pertama, membeli antibiotik tanpa resep dokter. Sebenarnya tidak tahu apakah sakit yang kita alami membutuhkan antibiotik atau tidak, maka perlu untuk konsultasi dengan dokter terlebih dahulu. Kedua, seringkali seseorang yang mendapatkan antibiotik tidak menghabiskan obatnya, merasa sudah sembuh dari sakitnya. Sehingga memperbesar kemungkinan terjadinya resistensi. Normalnya orang yang sedang sakit mendapatkan antibiotik, bakteri yang menginfeksi mati karena adanya obat tersebut. Namun, pada kondisi tertentu sebagian bakteri bermutasi dan membentuk kekebalan terhadap antibiotik.

Bahaya gak sih, jika resisten antibiotik? Resisten antibiotik dapat berakibat fatal. Penyakit infeksi yang dikarenakan bakteri resisten dapat menambah lamanya seseorang menderita suatu penyakit, meningkatkan keparahan penyakit hingga meningkatnya resiko kemadian. Yang perlu di ingat, resistensi antibiotik ini dapat menular karena berpindahnya bakteri yang kebal tadi dari satu orang ke orang lain.

Lalu bagaimana kita bisa mencegahnya?

  1. Jaga kebersihan, mencuci tangan secara teratur dengan benar, melakukan vaksinasi.
  2. Gunakan antibiotik sesuai petunjuk dokter. Maksudnya konsumsi antibiotik hanya bila diresepkan oleh dokter
  3. Selalu habiskan antibiotik. Saat mendapatkan antibiotik, kita harus menghabiskannya. Ketika kita menggunakan obat secara tepat, manfaatnya tidak perlu diragukan lagi. Namun jika dikonsumsi secara tidak tepat dapat menimbulkan kerugian bagi kesehatan.
  4. Jangan pernah gunakan antibiotik sisa. Apabila anda sakit dan memerlukan antibiotik jangan asal menggunakan antibiotik, karena indikasi setiap orang berbeda-beda.
  5. Jangan gunakan antibiotik bersama orang lain.

Kita harus bijak dalam menggunakan obat, tidak hanya antibiotik saja. Supaya mengurangi lamanya perawatan, biaya perawatan, penularan terhadap orang lain, angka kematian dan tentunya mencegah resistensi.

Wajib Tahu! Ini Serba-serbi Tentang Vaksin Booster ( Efek Samping, Kelebihan, dan Kekurangan)
ArtikelCampuspedia 05 Sep 2022

Wajib Tahu! Ini Serba-serbi Tentang Vaksin Booster ( Efek Samping, Kelebihan, dan Kekurangan)

Oleh : apt. Dra. Tunik Saptawati, Msi. Med – Dosen S1 Farmasi STIKES Telogorejo Semarang

Momen Idul Fitri tahun 2022 lalu, Pemerintah akhirnya memutuskan untuk memperbolehkan mudik lebaran meski pandemi belum berakhir. Keputusan tersebut tentu menjadi kabar gembira bagi masyarakat yang merantau dan telah melewatkan agenda lebaran bersama keluarga selama dua tahun belakangan ini. Namun, untuk bisa pulang kampung, pemerintah mewajibkan pemudik harus sudah vaksin booster Covid-19.

Apa saja jenis vaksin booster yang bisa dipilih oleh pemudik? Bagaimana efek samping masing-masing vaksin tersebut? Simak informasinya dalam serba-serbi tentang vaksin booster berikut ini.

Serba-serbi Vaksin Booster yang Wajib Diketahui

Vaksin booster adalah bagian dari rangkaian vaksinasi Covid-19 yang disuntikkan setelah seseorang mendapatkan dosis lengkap vaksin primer. Pemberian vaksin booster ini bertujuan untuk mempertahankan kekebalan tubuh dan memperpanjang waktu perlindungan dari paparan virus Covid-19.

Vaksinasi yang diselenggarakan Pemerintah sejak Januari 2022 ini ditujukan bagi masyarakat usia 18 tahun ke atas. Pemberiannya sendiri diprioritaskan bagi penderita imunokompromais dan lansia, dengan dua mekanisme, yaitu:

  • Mekanisme Homolog

Jenis vaksin yang diberikan, sama dengan jenis vaksin primer dosis lengkap yang sudah didapatkan sebelumnya. Merek vaksin yang masuk dalam kategori vaksin homolog, antara lain Pfizer, Sinovac, dan Moderna.

  • Mekanisme Heterolog

Pada mekanisme ini, vaksin booster yang diberikan berbeda jenis dengan vaksin primer dosis lengkap yang didapatkan sebelumnya.

Jika sebelumnya masing-masing vaksin dapat diberikan minimal 6 bulan setelah vaksin dosis lengkap, maka berdasarkan Surat Edaran (SE) dari Kemenkes RI Nomor SR.02.06/II/ 1180 /2022 aturan tersebut berubah. Surat Edaran yang mengatur tentang Penyesuaian Pelaksanaan Vaksinasi COVID-19 Dosis Lanjutan (Booster) bagi Masyarakat Umum ini menyebutkan bahwa vaksin booster dapat diberikan minimal 3 bulan setelah pemberian vaksin dosis lengkap.

Jenis-Jenis Vaksin Booster Serta Efek Samping, Kelebihan, dan Kekurangannya

Berbicara tentang jenis vaksin, ada banyak merek vaksin booster yang bisa dipilih masyarakat. Semua merek vaksin ini tentu memiliki efek samping berbeda-beda. Untuk lebih jelasnya, berikut jenis-jenis dan efek vaksin booster menurut situs resmi BPOM:

Sinovac

  • Diberikan setengah dosis pada kelompok usia 18 tahun ke atas.
  • Pemberian pada orang dewasa, dapat meningkatkan antibodi hingga 21- 35 kali setelah 28 hari pemberian booster ini.
  • Efek samping bersifat ringan. Umumnya, penerima vaksin akan mengalami nyeri ringan, demam dan sakit kepala ringan, atau iritasi sedang.

Pfizer

  • Juga diberikan sebanyak setengah dosis pada kelompok usia 18 tahun ke atas.
  • Meningkatkan antibodi sebesar 3,29 kali setelah pemberian vaksin booster.
  • Efek samping yang dirasakan, antara lain nyeri di tempat suntikan, demam, nyeri otot, kelelahan, nyeri sendi, dan sakit kepala.

AstraZeneca

  • Dapat diberikan setengah dosis, minimal 3 bulan setelah vaksinasi primer selesai.
  • Diberikan untuk usia 18 tahun ke atas.
  • Dapat meningkatkan antibodi, dari 1792 menjadi 3746.
  • Efek samping yang dirasakan, antara lain nyeri pada bekas suntikan, sakit kepala, merasa lelah, menggigil atau demam, mual, nyeri sendi, dan merasa lelah.

Moderna

  • Diberikan setengah dosis pada kelompok usia 18 tahun ke atas.
  • Pemberian booster homolog vaksin Moderna dapat meningkatkan antibodi sebesar 12,99 kali.
  • Efek samping yang dilaporkan, nyeri di tempat suntik, mual, demam, dan pegal.

Zifivax

  • Vaksin booster heterolog yang dapat diberikan setengah dosis setelah pemberian vaksin Sinovac atau Sinopharm.
  • Ditujukan untuk usia 18 tahun ke atas.
  • Peningkatan antibodi lebih dari 30 kali pada penerima vaksin yang telah mendapatkan vaksin Sinovac atau Sinopharm.
  • Efek samping yang dilaporkan berupa nyeri di tempat suntikan, demam, sakit kepala, mual, batuk, diare, nyeri otot, dan kelelahan.

Sinopharm

  • Vaksin booster Sinopharm hanya bisa diberikan pada seseorang yang telah menerima vaksin primer Sinopharm dengan dosis penuh (0,5 ml).
  • Efek samping berupa nyeri di tempat suntik, demam, dan KTD (Kejadian Tidak Diinginkan) yang bersifat ringan.

Cara Cek Tiket Vaksin Booster

Pemberian vaksin booster telah berjalan selama kurang lebih tiga bulan, dengan tata pelaksanaan berdasarkan skala prioritas. Masing-masing individu akan mendapatkan dua suntikan booster dengan rentang waktu selama 14 hari.

Untuk mengetahui apakah Anda terdaftar sebagai penerima booster, lakukan pengecekan menggunakan aplikasi. Selain cek tiket vaksin booster melalui aplikasi dan situs web, Anda juga bisa mengunjungi unit pelayanan kesehatan terdekat untuk cek jadwal vaksinasi.

Prosedur vaksin kini semakin mudah, bukan? Jadi buat anda yang belum melakukan vaksin booster, segera kunjungi fasilitas kesehatan terdekat ya

WEBINAR “MENGENAL TANDA KEPEGAWAIAN PADA GAGAL GINJAL”
Artikel 25 Aug 2022

WEBINAR “MENGENAL TANDA KEPEGAWAIAN PADA GAGAL GINJAL”

WEBINAR UPDATE

Gagal ginjal terjadi ketika ginjal tidak mampu menjalankan fungsi sebagaimana mestinya. Jika tidak segera dideteksi dan ditangani kondisi ini memicu komplikasi yang serius.
Yuk, mengenal tanda kegawatan pada gagal ginjal.

Yuk ikut menyimak webinar pada :
? Jum'at, 26 Agustus 2022
⏰ 10.00 WIB
? Zoom Meet ( https://bit.ly/webinar_tandadankegawatan_gagalginjal

Dengan Narasumber Ns. Danny Putri Sulistyaningrum, M.Kep, Sp. Kep.MB ( Dosen Prodi D3 Keperawatan STIKES Telogorejo Semarang )

Daftarkan segera diri anda di https://bit.ly/Webinar_mengenaltandadankegawatan_Gagalginjal

Salam Sehat - ICARE

Solusi Meningkatkan Jumlah ASI Dengan Bahan Lokal
Artikel 25 Jul 2022

Solusi Meningkatkan Jumlah ASI Dengan Bahan Lokal

Oleh : Agnes Isti Harjanti,S.Si.T.,M.Kes – Dosen S1 Kebidanan STIKES Telogorejo Semarang

Masalah keberlangsungan menyusui bayi sampai dengan 6 bulan masih menjadi permasalahan yang belum dapat diatasi secara maksimal. Dari data yang ada, jumlah wanita menysui bayinya tanpa di selingi susu formula ataupun makanan tambahan apapun masih dibawah 80% (data badan statistik). Dari hasil penelitian sebelumnya permasalahan menyusui ini paling banyak disebabkan karena produksi ASI yang menurun (Harjanti, 2020). Fenomena ini dapat dialami oleh wanita menyusui terutama yang asupan makanan dan minuman kurang, dan dialami oleh para wanita menyusui yang bekerja. Produksi ASI dipengaruhi oleh banyaknya asupam makanan yang berkualitas dan minuman yang di konsumsi setiap harinya. Makanan yang dapat meningkatkan produksi ASI dan kualitas ASI tidak harus terbuat dari bahan makanan yang mahal, melainkan banyak didapatkan dari bahan-bahan lokal yang mudah didapatkan di seluruh tempat di Indonesia ini.

Bahan makanan Jagung merupakan bahan lokal yang kurang favorit di masyarakat, akan tetapi kaya vitamin yang dapat membantu meningkatkan produksi ASI. Jagung kurang diminati karena cara pengolahan yang kurang inovatif sehingga rasanya kurang menggugah selera. Dalam 100 gram buah jagung terdapat sekitar 80-100 kalori, serta kandungan beragam zat gizi lain seperti; serat, protein 3,2 gr, karbohidrat kompleks, fosfor, zat besi, zinc, magnesium, tembaga, dan folat serta vitamin-vitamin ; B3, B5, B6 dan Vitamin C. Jagung juga mengandung antioksidan seperti; asam fenolat, zeaxhantin dan lutein. Oleh karena kandungan protein dan Karbohidrat komplek, maka buah jagung dapat membantu meningkatkan produksi ASI. Kandungan protein dalam jagung dibutuhkan ibu menyusui oleh karena kebutuhan protein pada ibu menyusui lebih banyak. Protein yang ada juga berperan dalam menjaga kualitas ASI, serta sebagai sumber protein kandungan didalam ASI untuk memenuhi kebutuhan protein bayi.

Pengolahan Jagung dalam bentuk Modisco-Jagung merupakan inovasi yang dapat diberikan untuk menambah rasa dan kualitas bahan makanan sehingga bertambah nilai gizinya. Modisco singkatan dari Modified Dietetic Skim and Cotton Sheet Oil ditemukan pada tahun 1973 oleh May White Head menurut White pembuatan Modisco digunakan untuk menambah gizi pada anak-anak, Modisco Jagung merupakan modifikasi tambahan yang diberikaan untuk memperlancar ASI dan menambah nutrisi. Formula dasar Modisco terdiri dari bahan - susu skim 10 g atau full cream 12 g - gula 5 g - margarin 5 g, tambahkan 100 gr jagung serut dan tepung sagu 15 gr. Nilai Gizi Energi : 219 Kal, Protein : 6,8 g Lemak : 5 g (Sumber Instalasi Gizi RSUD )

Bahan Modisco Jagung yaitu 3 biji jagung diserut dan dicuci bersih, jagung dihaluskan. Masak susu skim bersama air 4 gelas dicampur dengan 3 sendok margarin dan gula pasir secukupnya. Untuk menambah rasa berikan vanilli bubuk 2 saset. Setelah susu mendidih campurkan jagung yang sudah dihaluskan beserta 3 sendok tepung sagu untuk mengentalkan. Cetak dalam wadah adonan yang sudah matang lalu didiamkan hingga dingin, dapat dikonsumsi 2 kali sehari.

Cedera Kepala : Kenali & Perhatikan Prinsip Pertolongan Pertamanya
Artikel 18 Jul 2022

Cedera Kepala : Kenali & Perhatikan Prinsip Pertolongan Pertamanya

Oleh : Ns. Arlies Zenitha Victoria, M.Kep, Dosen S-1 Keperawatan STIKES Telogorejo Semarang

Trauma merupakan salah satu penyebab kematian terbanyak di dunia. Peningkatan kematian akibat kecelakaan lalu lintas mencapai angka 83% di negara berkembang pada tahun 2000 – 2020. Dimana kasus terbanyak adalah trauma kepala atau cidera kepala. Kasus cidera kepala menjadi kasus yang paling beresiko menyebabkan kematian serta kecacatan permanen. Setiap tahunnya kejadian cedera kepala di dunia diperkirakan mencapai 500.000 kasu, diatas 10% korban meninggal sebelum tiba di rumah sakit. Selain itu, lebih dari 100.000 korban menderita berbagai tingkat kecacatan akibat cedera kepala.

Apa itu Cedera Kepala ?

Cedera kepala adalah cedera mekanik secara langsung atau tidak langsung mengenai kepala yang mengakibatkan cedera di kulit kepala, fraktur tulang tengkorak, robekan selaput otak dan kerusakan jaringan otak itu sendiri serta mengakibatkan gangguan neurologis. Secara mekanisme terjadinya cedera, cedera kepala dibagi menjadi cedera kepala tumpul dan cedera kepala tajam. Sementara menurut kegawatannya, cedera kepala terbagi atas cedera kepala ringan, sedang, dan berat. Penilaian kegawatan cedera kepala dapat dilakukan dengan menilai tingkat kesadaran dengan menggunakan Glasgow Coma Scale (GSC) serta tanda klinis yang terjadi pada pasien.

Banyaknya kasus cedera kepala dapat menimbulkan kondisi yang gawat darurat bahkan kematian. Oleh sebab itu, pertolongan yang segera diperlukan untuk mencegah morbiditas dan mortalitas korban. Pertolongan yang diberikan dilokasi kejadian merupakan bagian dari pre hospital care. Pemberian pertolongan pre hospital care secara tepat dapat menurunkan resiko kematian akibat trauma. Pertolongan terlambat atau kurang tepat, dapat menyebabkan kondisi fatal.

Bagaimana Langkah Awal Yang Harus Dilakukan ?

Sebagai penolong korban, langkah awal yang harus kita lakukan adalah memastikan 3A, yaitu aman diri, aman pasien dan aman lingkungan. Selanjutnya, kita dapat melakukan cek respon korban dengan memanggil nama korban sambil menepuk bahu. Bila tidak ada respon, segera panggil bantuan atau dapat menelpon ambulans. Sambil menunggu bantuan datang, kita dapat melakukan cek nadi dan nafas korban secara simultan. Cek nadi dilakukan pada nadi karotis (terletak di leher) dan lihat pengembangan dada korban untuk memastikan ada atau tidaknya pernafasan.

Melakukan stabilisasi kepala dan leher korban juga merupakan hal yang sangat penting dalam melakukan pertolongan pertama pada kasus cedera kepala. Cedera kepala erat hubungannya dengan cedera tulang servikal (cedera tulang leher). Beberapa hal yang perlu diperhatikan sebelum menolong korban adalah lakukan observasi apakah pasien mengalami cedera kepala dengan penurunan kesadaran, adakah jejas di atas tulang klavikula (tulang selangka) mengarah ke atas, trauma lebih dari satu tempat (multiple trauma), dan biomekanika trauma mendukung. Bila hal tersebut terjadi pada korban cedera kepala, kita perlu waspada bahwa korban juga mengalami cedera tulang servikal. Stabilkan kepala dan leher dengan meletakkan kedua tangan penolong di kedua sisi kepala korban. Kemudian, jaga agar kepala sejajar dengan tulang belakang dan jaga agar tubuh korban tidak banyak bergerak sambil menunggu bantuan tim kesehatan datang.

Bila korban cedera kepala mengalami perdarahan di bagian kepala, segera lakukan balut tekan pada titik perdarahan dengan kain bersih. Namun perlu diperhatikan, jangan sampai menggerakan kepala korban. Meskipun terjadi perdarahan, penolong tidak diperbolehkan menekan tulang kepala yang terbuka atau menariknya. Langsung tutup dengan kasa steril atau kain bersih bila terjadi fraktur terbuka pada tulang kepala. Jika cedera kepala yang dialami oleh korban membuatnya muntah – muntah, miringkan tubuh korban dengan tetap melakukan stabilisasi pada kepala dan leher korban.

Pentingnya penanganan segera pada klien cedera kepala sangat berpengaruh pada kerusakan neurologis yang mungkin muncul akibat cedera. Edukasi kepada masyarakat tentang pertolongan pertama cedera kepala diharapakan dapat meningkatkan pengetahuan dan keterampilan masyarakat ketika menolong korban cedera kepala. Hal ini didukung juga oleh WHO dengan program safe community bahwa edukasi ini meliputi segala usia di segala lingkungan dan situasi, lebih diarahkan ke pencegahan kecelakaan, meningkatkan kapasitas masyarakat untuk mencegah kecelakaan, dan organisasi kesehatan menjadi peran penting dalam pelaksanaan program ini.

Pembentukan Karakter dan Soft Skill Untuk Tenaga Kesehatan
Artikel 07 Jul 2022

Pembentukan Karakter dan Soft Skill Untuk Tenaga Kesehatan

Oleh : Joan Ariesta Puspasari, S.Psi, M.Psi, Psikolog - Dosen Bimbingan Konseling

Menurut UU No.36 tahun 2014 yang dimaksud dengan tenaga kesehatan adalah setiap orang yang mengabdikan diri dalam bidang kesehatan serta memiliki pengetahuan dan/atau keterampilan melalui pendidikan di bidang kesehatan yang untuk jenis tertentu memerlukan kewenangan untuk melakukan upaya kesehatan.

Masih menurut UU yang sama, disebutkan ada beberapa kelompok tenaga kesehatan, meliputi tenaga :

  1. Tenaga medis
  2. Psikologi klinis
  3. Keperawatan
  4. Kebidanan
  5. Kefarmasian
  6. Kesehatan masyarakat
  7. Kesehatan lingkungan
  8. Gizi
  9. Keterapian fisik
  10. Keteknisian medis,
  11. Teknik biomedika;
  12. Kesehatan tradisional; dan
  13. Tenaga kesehatan lain.

Dalam memberikan pelayanan kesehatan, tenaga profesional yang terlibat haruslah memiliki hard skill yang baik. Namun, hal ini saja tidak cukup, soft skill dan karakter juga akan menentukan keberhasilan pengobatan dan kepuasan pasien. Maka dari itu, setiap tenaga kesehatan perlu untuk melewati pendidikan pembentukan karakter dan soft skill yang baik.

Tentang Soft Skill

Apa yang dimaksud dengan soft skill? Soft skill merupakan kemampuan mengelola proses pekerjaan (organizing), hubungan antar manusia (human relation), dan membangun interaksi dengan orang lain. Contohnya kepemimpinan, komunikasi, dan hubungan interpersonal.

Meski sudah memiliki hard skill yang mumpuni, bila tidak dibarengi dengan soft skill yang baik, orang akan sulit beradaptasi dengan pekerjaannya sendiri maupun rekan sejawatnya. Hal ini tidak hanya terjadi di dunia kesehatan, tetapi juga di bidang pekerjaan manapun.

Ada banyak sekali jenis soft skill. Akan tetapi, mengutip Schulz (2008), soft skill yang paling krusial dimiliki seseorang adalah keterampilan berkomunikasi. Keterampilan berkomunikasi akan memengaruhi soft skill yang lain seperti manajemen konflik dan mengelola diskusi.

Soft Skill Tenaga Kesehatan

Puspita (2013), menyebutkan etika adalah salah satu soft skill  yang tidak dapat dipisahkan dari profesi kedokteran. Begitu pula dengan seorang perawat, etika keperawatan akan menjadi pedoman bagi seorang perawat dalam pemecahan masalah dan pengambilan keputusan etis.

Soft skill lain yang juga dibutuhkan oleh tenaga kesehatan adalah kemampuan berpikir taktis dan organisasional. Kemampuan organisasional terkait kemampuan dalam merencanakan segala sesuatunya agar tindakan yang dilakukan dapat mencapai tujuan dari pelayanan.

Berkaitan dengan keterampilan berkomunikasi, soft skill seperti kemampuan berdiplomasi, regulasi emosi, empati juga penting untuk dikembangkan seorang tenaga kesehatan. Kemampuan berdiplomasi nantinya juga akan berimbas pada kemampuan untuk bekerja sama dengan sejawat lainnya.

Integritas tenaga kesehatan saat melayani pasien adalah soft skill lain yang menentukan mutu pelayanan kesehatan yang diberikan. Integritas ini tercermin dari sikap yang mengutamakan pasien, perilaku baik, dan melakukan sesuatu sesuai yang dikatakannya.

Dalam Standar Kompetensi Dokter Umum sendiri, terdapat tiga area kompetensi yang sebenarnya termasuk dalam kategori soft skill, yaitu profesionalitas yang luhur, mawas diri dan pengembangan diri, serta komunikasi efektif. Sedangkan dalam Standar Kompetensi Perawat ada satu area kompetensi perawat yang merupakan kategori soft skill, yaitu praktek profesionalitas, etis, legal, dan peka budaya.

Pembentukan Soft Skill

Untuk bisa memiliki soft skill yang cukup, seorang tenaga kesehatan perlu melalui serangkaian pelatihan dan praktik. Evaluasi berkala dan insentif tenaga kesehatan dari tempat bekerja bisa jadi cara untuk mendorong pengembangan diri dan profesionalisme tenaga kesehatan tersebut.

Meningkatkan soft skill juga bisa dilakukan dengan cara melatih diri sendiri dengan terlebih dahulu menyadari apa-apa saja keterampilan yang perlu dibenahi atau ditingkatkan. Soft skill bisa dibentuk dengan mengimplementasikan kebiasaan-kebiasaan baik dalam sehari-hari hingga akhirnya kebiasaan tersebut berubah menjadi karakter.

Soft skill perlu menjadi prioritas untuk dikembangkan tenaga kesehatan, karena bagaimanapun 75% kesuksesan seseorang itu ditentukan oleh keterampilannya, dan hanya 25%-nya saja yang ditentukan oleh pengetahuan teknikal (Stanford Research Institute International dan the Carnegie Melon).

Perawat dan Peluangnya sebagai Entrepreneur
Artikel 23 Jun 2022

Perawat dan Peluangnya sebagai Entrepreneur

Oleh : Nana Noviada K, SE., MM - Dosen STIKES Telogorejo Semarang

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, perawat adalah orang yang bekerja sebagai tenaga kesehatan profesional yang tugasnya memberikan perawatan kepada pasien atau klien, baik berupa aspek psikologis, biologis, sosial, dan spiritual dengan mengaplikasikan proses keperawatan.

Kebanyakan lulusan keperawatan berharap untuk mendapatkan pekerjaan di rumah sakit ataupun fasilitas kesehatan lainnya. Namun, sayangnya seringkali ada gap antara keterampilan para fresh graduate dan harapan pemberi kerja membuat kesempatan bekerja di rumah sakit ataupun klinik menjadi tidak mudah didapatkan.

Timpangnya jumlah lulusan perawat dan posisi yang tersedia di lapangan membuat pentingnya bagi seorang perawat memiliki bekal ilmu entrepreneurship. Tidak hanya karena hal tersebut saja, tetapi juga untuk bisa memiliki kondisi finansial yang lebih baik. Pasalnya, tidak bisa dimungkiri, gaji perawat di beberapa daerah bahkan tidak selaras dengan UMP daerah tersebut.

Nursepreneurship

Tugas perawat pada dasarnya memang memberikan pelayanan dan edukasi kesehatan, walau begitu perawat sebenarnya memiliki peluang untuk mengembangkan bisnis atau usahanya sendiri di bidang keperawatan tanpa meninggalkan tugas pokoknya. Menjadi seorang perawat yang menjalankan nursepreneurship berarti menjadi seorang pengusaha (nursepreneur) di bidang keperawatan yang mengintegrasikan nilai-nilai keperawatan yang dapat dipertanggungjawabkan langsung kepada klien atas usaha/bisnis yang dijalankannya.

Rio Febrian (2015), dalam bukunya yang berjudul "Nursepreneurship: Gagasan & Praktik Kewirausahaan dalam Keperawatan", menyatakan bahwa nursepreneur adalah seorang perawat pengusaha yang dalam hal ini bekerja secara mandiri saat memberikan pelayanan keperawatan yang meliputi antara lain perawatan langsung, penelitian, pendidikan, administratif atau konsultasi dalam menciptakan bisnis/usahanya.

Peluang Usaha untuk Perawat

Ada banyak peluang usaha yang bisa dibidik di bidang keperawatan, di antaranya:

  1. Area Pelayanan Keperawatan

Pada area pelayanan keperawatan, seorang perawat dapat berperan serta sebagai penggagas ide, pengelola, pemilik saham, atau sebagai pemilik usaha. Ada banyak jenis usaha yang bisa dijalankan di area pelayanan keperawatan, contohnya saja usaha home care.

Menurut Kementrian Kesehatan, layanan home care adalah pelayanan kesehatan yang berkesinambungan dan juga komprehensif, yang dalam hal ini diberikan kepada individu dan keluarga di tempat tinggal mereka yang memiliki tujuan untuk mempertahankan, memulihkan kesehatan, meningkatkan tingkat kemandirian, serta berusaha meminimalkan akibat dari suatu penyakit (Depkes RI, 2002).

Layanan home care ini sendiri jika dijalankan dengan baik bahkan bisa memberikan penghasilan yang jauh melebihi gaji perawat di rumah sakit. Pasien-pasien terminal yang membutuhkan perawatan paliatif juga akan sangat terbantu dengan layanan semacam ini.

Area pelayanan lain yang memungkinkan menjadi usaha perawat contohnya adalah sebagai praktisi terapi komplementer atau fisioterapis. Seorang nursepreneur di pelayanan keperawatan bisa membangun usahanya dengan membuka klinik berkolaborasi dengan tenaga kesehatan lain seperti dokter, apoteker, atau bidan.

  • Area Pendidikan

Ilmu pengetahuan akan selalu berkembang. Membangun sebuah usaha yang memberikan pelatihan komprehensif berkelanjutan di bidang keperawatan demi mencetak perawat berkualitas menjadi salah satu pilihan usaha.

  • Area Manajerial

Perawat yang memiliki ketertarikan dan kompetensi di bidang manajemen sumber daya manusia, khususnya keperawatan, dapat mencoba menjadi seorang konsultan. Atau bisa juga dengan membentuk firma konsultan legal keperawatan.

Tantangan Menjadi Nursepreneur

Bisnis di bidang apapun akan selalu memberikan tantangan. Apalagi ketika bisnis sudah berjalan, cobaan dan godaan akan selalu datang bergantian. Ketika Anda memutuskan untuk menjadi seorang nursepreneur tantangan baik internal maupun eksternal adalah hal yang tak terelakkan.

Tantangan internal mencakup kecakapan pribadi Anda sendiri dalam mengelola diri. Sedangkan tantangan eksternal bicara tentang bagaimana empati dan kecakapan sosial Anda saat mengelola bisnis.

Perawat Harus Melek Entrepreneurship

Perawat adalah profesi yang mulia, tetapi tantangan zaman memang menuntut perawat untuk dapat memiliki soft skill lebih seperti entrepreneurship. Keahlian kewirausahaan akan memberikan kesempatan tambahan dalam berkontribusi di masyarakat, tentunya akan meningkatkan finansial dibanding dengan yang hanya mengandalkan gaji perawat di rumah sakit.

Konsep nursepreneurship adalah hal yang harus diketahui setiap perawat. Para nursepreneur ini akan menjadi pendukung majunya perekonomian bangsa dan tumpuan harapan baru di masa depan.

Risiko Jatuh dan Penurunan Sensibilitas pada Lansia
Artikel 31 May 2022

Risiko Jatuh dan Penurunan Sensibilitas pada Lansia

Oleh : Deasy Virka Sari, S.Fis, M.Fis - Dosen S-1 Fisioterapi STIKES Telogorejo Semarang

Seiring bertambahnya usia, kemampuan seseorang untuk mempertahankan keseimbangan dan sensibilitas tubuh akan mulai berkurang. Bahkan, pada beberapa orang, kemampuan tersebut bisa menghilang secara perlahan. Kondisi inilah yang membuat seseorang yang memasuki usia lanjut atau lansia lebih rentan terjatuh dan berisiko mengalami cedera serius.

Siapa saja yang termasuk dalam kelompok usia lansia? Apa yang membuat risiko jatuh pada lansia lebih tinggi dibanding kelompok usia lain? Simak penjelasan berikut.

Siapa Itu Lansia?

Menurut Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, yang dimaksud dengan lansia adalah mereka yang memiliki usia 60 tahun ke atas, baik yang masih produktif bekerja maupun tidak.  Sedangkan kelompok usia 46- 59 tahun disebut sebagai pra lansia atau orang yang mendekati usia lansia.

Menurut WHO, lansia dikelompokkan menjadi empat golongan usia. Lansia usia pertengahan (middle age) 45-59 tahun, usia lansia (elderly) 60-74 tahun, lansia tua (old) 75-90 tahun, dan usia sangat tua (very old) di atas 90 tahun.

Saat memasuki usia lanjut atau lansia, seseorang akan menunjukkan perubahan fungsi tubuh, diantaranya:

  • Kekuatan tubuh menurun, sehingga mudah lelah, gigi tanggal, mengalami keriput, dan produksi air liur berkurang.
  • Penurunan daya ingat yang menyebabkan lansia mudah lupa, napsu makan berkurang, dan jam tidur pun berkurang.
  • Gangguan penglihatan dan pendengaran.
  • Kemampuan mempertahankan keseimbangan tubuh berkurang, sehingga mudah jatuh.
  • Imunitas menurun dan rentan mengalami gangguan pencernaan.

Risiko Jatuh yang Mengintai Lansia

Dahulu, jatuh pada lansia tidak dianggap sebagai keluhan kesehatan yang serius. Padahal risiko jatuh pada lansia dapat menimbulkan dampak negatif, meliputi kehilangan fungsi fisik dan kemandirian, serta perawatan kesehatan yang mahal.

Faktor risiko jatuh yang mengintai lansia ini dipengaruhi oleh dua kondisi, antara lain:

Faktor Intrinsik

Yaitu, faktor yang datang dari dalam tubuh manusia. Faktor ini dapat berupa kondisi medis dan neuropsikiatri, gangguan pendengaran dan penglihatan, serta perubahan fisik yang berkaitan dengan usia (postur tubuh, fungsi saraf otot, cara berjalan, dan refleks postural).

Faktor Ekstrinsik

Yaitu, faktor yang datang dari luar tubuh manusia. Faktor ini dapat berupa penggunaan alat bantu yang tidak sesuai, jenis obat yang dikonsumsi, serta kondisi lingkungan sekitar yang berbahaya. Misal, lantai licin, kabel yang berserakan, undakan tinggi, tidak adanya pegangan, kurangnya penerangan, hingga tempat tidur yang tidak tepat.

Penurunan Sensibilitas pada Lansia

Sumber: My Pvhc

Risiko jatuh pada lansia juga disebabkan karena penurunan sensibilitas lansia yang dipengaruhi oleh:

Melemahnya otot tubuh

Saat usia Anda bertambah, kekuatan otot tubuh akan melemah secara perlahan. Kondisi ini lah yang menyebabkan lansia kehilangan kekuatan dan keseimbangan tubuh, sehingga mudah terjatuh. Kelemahan otot ini bisa memburuk pada lansia yang kurang olahraga dan mengalami peradangan sendi.

Penurunan fungsi pendengaran dan penglihatan

Umumnya, lansia mengalami penurunan sensibilitas pada bagian pendengaran dan penglihatan. Oleh karena itu, mereka berisiko mudah menabrak atau terjatuh ketika berada di ruangan kurang penerangan. Selain itu, organ telinga juga memegang peranan penting dalam menjaga keseimbangan tubuh. Jadi, ketika organ pendengaran mengalami masalah, akan berdampak pada keseimbangan lansia.

Tips Mencegah Lansia Jatuh dan Cedera

Berikut beberapa langkah pencegahan yang bisa Anda lakukan agar lansia tidak mudah terjatuh lagi.

Konsultasi Dokter

Dengan berkonsultasi, Anda bisa mengetahui penyebab lansia sering terjatuh. Sehingga, dokter bisa memberikan terapi pengobatan yang tepat.

Jauhkan benda-benda berbahaya

Area kamar mandi, dapur, tangga, lorong, bahkan ruang tamu, bisa menjadi sumber bahaya bagi lansia. Oleh karena itu, Anda perlu mengatur ulang agar ruangan-ruangan tersebut tidak berbahaya. Beberapa diantaranya:

  • Merapikan kabel agar tidak berserakan.
  • Singkirkan benda-benda yang menghalangi jalan.
  • Letakkan benda yang sering digunakan lansia pada tempat yang  mudah dijangkau.
  • Perbaiki karpet yang mencuat agar tidak membuat lansia tersandung.
  • Segera bersihkan tumpahan air, sisa makanan, maupun remahan minyak.

Tambahkan alat pengaman dan lampu penerangan yang terang

Buat lingkungan sekitar tempat tinggal lansia terasa aman. Seperti, dengan menambahkan pegangan di sekitar benda atau fasilitas yang sering digunakan lansia. Tempatkan alas anti licin di kamar mandi dan di bawah tempat tidur lansia. Serta, berikan alat tempat tidur yang nyaman.

Selain itu, berikan lampu penerangan yang terang agar lansia leluasa melihat keadaan sekitar. Pastikan tombol atau saklar lampu berada di tempat yang mudah dijangkau, sehingga lansia bisa menyalakannya sendiri.

Demikian pengaruh penurunan sensibilitas pada lansia terhadap risiko jatuh yang mengintai mereka. Namun, dengan menciptakan lingkungan yang aman bagi lansia, risiko jatuh tersebut bisa dikurangi.