Artikel
Simpan Obat di Rumah ? Ini Tips Penyimpanan Obat yang Tepat !
Oleh Apt. Ummi Kalsum, M.Farm, Dosen STIKES Telogorejo Semarang
Setiap rumah pasti memiliki obat yang disimpan secara mandiri. Penelitian terhadap 250 responden rumah tangga dewasa dari tiga kecamatan di Jakarta Utara menyimpulkan bahwa 82% rumah tangga menyimpan obat, dengan jenis obat terbanyak analgesik-antipiretik dan anti-inflamasi nonsteroid. Obat yang disimpan adalah obat etikal. Sebagian besar obat tersebut diperoleh dari apotek, dibeli tanpa resep dokter dan sengaja disimpan untuk persediaan jika sakit serta merupakan obat sisa resep. Obat yang sudah sampai ke tangan seseorang merupakan tanggung jawab orang tersebut dalam penggunaan hingga penyimpanannya. Adanya penyimpanan obat dirumah ini menggambarkan perlu adanya infomasi terkait penyimpanan obat yang tepat dirumah. Sehingga pasien-pasien berhak mengetahui cara penggunaan dan penyimpanan obat yang tepat.

Setiap obat memiliki sifat yang berbeda-beda sehingga mempengaruhi kestabilan yang harus dipertahankan agar obat tersebut efektif, aman, dan berkhasiat bila dikonsumsi. Penyimpanan yang tepat merupakan cara untuk mempertahankan kestabilan obat tersebut jika sudah di tangan pasien. Setiap orang harus mengetahui bahwa jika penyimpanan obat yang tidak tepat dapat mempengaruhi kualitas obat tersebut, dari efek yang didapat tidak optimal hingga keracunan obat. Nah apakah penyimpanan obat anda dirumah sudah tepat ? Berikut tips penyimpanan obat yang tepat dirumah :
Tips 1. Simpan semua obat di tempat yang sejuk dan kering, serta terlindung dari panas dan cahaya. Gunakan kotak penyimpanan kemudian diletakkan di rak atau lemari.
Tips 2. Simpan kapsul dan tablet diwadah tertutup rapat. Simpan suspensi oral dan obat drop anak-anak di kulkas (tapi jangan dibekukan di freezer).
Tips 3. Simpan obat yang serupa bersama-sama (misalnya obat yang memiliki efek yang sama seperti penghilang rasa sakit, antidiare dan lain-lain).
Tips 4. Simpan obat jauh dari jangkauan anak-anak seperti diatas atau didalam lemari agar tidak terlihat oleh anak-anak.
Tips 5. Singkirkan obat-obat lama. Buang semua sediaan obat yang sudah usang kemasannya. Lakukan pengecekan terhadap tanggal kadaluarsa secara berkala.
Tips 6. Jangan tinggalkan obat di meja samping tempat tidur dan tempat terbuka lainnya.
Tips 7. Tidak menyimpan terlalu banyak obat.
Tips 8. Tidak menyimpan obat yang tidak berlabel.
Tips 9. Gunakan obat sesuai anjuran dokter.
Tips 10. Tanya Apoteker cara penyimpanan obat anda
Semoga bermanfaat !
Pentingnya Service Excellent dalam Pelayanan Kesehatan
Oleh : Nana Noviada K, SE., MM., Dosen STIKES Telogorejo Semarang
Layaknya sektor jasa lainnya, pelayanan kesehatan pun harus menerapkan prinsip service excellent. Berikut ulasannya.
Istilah service excellent diterjemahkan sebagai “pelayanan prima†dalam bahasa Indonesia. Istilah ini biasa digunakan dalam dunia jasa. Namun, sebenarnya, pelayanan prima juga harus diterapkan dalam pelayanan kesehatan karena pada dasarnya pelayanan kesehatan juga tergolong sebuah penawaran jasa.

Pengertian Service Excellent
Pengertian service excellent sendiri didapat dari dua katanya yaitu “service†yang bermakna pelayanan, dan “excellent†yang bermakna bermutu tinggi atau prima. Jika dijabarkan, service excellent adalah pelayanan terbaik yang diberikan penyedia jasa yang melampaui harapan pengguna jasa itu sendiri.
Dalam pelayanan kesehatan, pelayanan prima dicerminkan dari pelayanan terbaik yang diberikan semua karyawan fasilitas kesehatan, baik tenaga kesehatan maupun tenaga pendukung lainnya kepada pasien yang melampaui harapan pasien itu. Harapan pasien ini biasanya terbentuk dari pengalaman-pengalaman di masa lampau terhadap jasa atau produk tertentu dan juga berdasarkan informasi layanan yang diterima pasien dari berbagai sumber.
Tujuan Service Excellent
Apa tujuan dari service excellent ini? Tujuan utamanya adalah untuk membangun rasa kepercayaan dan kepuasan dari pelanggan. Kepercayaan dan kepuasan dari pelanggan akan membuat mereka menjadi setia dan akan menggunakan kembali jasa kita ketika mereka membutuhkannya. Pelayanan yang bermutu tinggi juga bertujuan untuk menghindari adanya tuntutan-tuntutan yang tidak perlu di kemudian hari.
Ketika penyedia jasa memberikan jasa dan layanan bermutu tinggi, maka citra penyedia jasa tersebut pun akan naik. Pelanggan yang puas juga akan lebih mungkin merekomendasikan penyedia jasa tersebut pada orang lain yang dikenalnya.
Komponen Service Excellent
Ada beberapa komponen service excellent yang harus dipenuhi untuk memberikan pelayanan yang prima:
- Kemampuan (Ability)
Kemampuan di sini meliputi keahlian dari jasa yang ditawarkan dan komunikasi yang efektif.
- Sikap (Attitude)
Sikap yang positif dan selalu menghargai pelanggan, serta logis.
- Penampilan (Appearance)
Penampilan fisik yang layak dan tepat yang bisa merefleksikan kepercayaan diri dan kredibilitas.
- Perhatian (Attention)
Kepedulian penuh pada kebutuhan pelanggan dan menghargai saran dan kritiknya serta usaha mencurahkan perhatian terhadap keinginan dan kebutuhan pelanggan.
- Tindakan (Action)
Tindakan mencakup segala aksi atau aktivitas nyata yang dilakukan dalam memberikan pelayanan pada pelanggan.
- Tanggung jawab (Accountability)
Tanggung jawab (accountability) yang dimaksud di sini merupakan sikap keberpihakan yang ditujukan kepada pelanggan sebagai wujud kepedulian untuk menghindarkan atau menimbulkan kerugian/ketidakpuasan pengguna jasa.
Penerapan Service Excellent dalam Bidang Kesehatan
Contoh penerapan materi service excellent dalam bidang pelayanan kesehatan antara lain:
- Mengutamakan pasien dengan menyusun SOP yang mendukung kemudahan dan kenyamanan bagi pasien.
- Sistem yang efektif.
- Menunjukkan nilai semangat melayani dengan hati.
- Menerapkan perbaikan berkelanjutan.
- Memberdayakan pasien dengan menawarkan jenis-jenis layanan pendukung yang dapat membantu pasien menyelesaikan masalahnya sehari-hari.
- Pelayanan dengan prioritas pengembangan yang terencana dengan baik.
Menerapkan service excellent dalam pelayanan kesehatan dapat berupa tindakan nyata seperti:
- Tersenyum, menyapa dan memberi salam kepada pasien
- Cepat dan juga tepat waktu dalam memberi tindakan pada pasien
- Mendengarkan dengan sabar dan aktif keluhan pasien tanpa menghakimi
- Berpenampilan rapi dan bersih
- Menerangkan apa yang sedang Anda lakukan
- Mengucapkan terima kasih
- Mengingat nama pasien
- Memperlakukan sejawat dengan hormat

Memberikan service excellent bukan hanya perkara soal apakah pasien akan puas dengan pelayanan yang didapatnya dan menaikkan citra tenaga/fasilitas kesehatan yang dikunjunginya. Melainkan juga, ini sebagai upaya dalam membantu pasien untuk mendapatkan dukungan dan akses mencapai kesembuhan.
Alur dan sistem yang efektif tentunya juga akan mengurangi kemungkinan terjadinya kesalahan prosedur medis dan rasa stres yang dirasakan oleh pasien. Makin efektif pelayanan, makin sedikit pula waktu yang terbuang sia-sia saat pasien menggunakan suatu layanan kesehatan. Tenaga kesehatan yang menjalankan service excellent pun akan mendapatkan tempat istimewa di hati pasien serta membantu pasien lebih semangat untuk sembuh dan berobat.
OBAT DAN PUASA
Oleh : apt. Yovita Dwi Arini, M.Sc (Dosen Prodi S1 Farmasi STIKES Telogorejo Semarang)
Percakapan yang sering kita dengar pada bulan Ramadhan, sedang menjalankan ibadah puasa namun kebingungan dalam menggunakan obat.
A: Kamu puasa hari ini?
B: Iya saya berpuasa,. Kenapa?
A: Mata kamu merah, iritasi ya?
B: Sepertinya iritasi, tadi pagi terasa gatal, sempat dikucek sih, ingin pakai obat tetes mata, takut puasa nya batal. Apalagi kalo pakai tetes mata bisa setiap 4 jam kita meneteskan obat.
A: Aku juga kurang paham, boleh atau tidak ya pakai tetes mata.
Saat puasa, kadang halangan berupa sakit datang tak terduga. Ada keraguan saat harus minum atau menggunakan obat. Pertanyaan yang sering muncul ketika akan menggunakan obat saat berpuasa adalah sebagai berikut :
- Kapan waktu yang tepat untuk meminum atau menggunakan obat selama berpuasa?
- Apakah obat yang saya minum akan membatalkan puasa?
- Apakah ada obat yang dapat digunakan untuk mengobati penyakit yang diderita tetapi tidak membatalkan puasa?
Berikut ini adalah penjelasan tentang beberapa hal mengenai penggunaan obat pada saat orang berpuasa, sehingga orang dapat menggunakan obat dengan benar dan menghasilkan efek terapi yang diharapkan.
Waktu minum obat selama berpuasa
Perubahan jadwal minum obat dan dosis obat yang diberikan dapat mempengaruhi efek terapi obat. Agar tetap didapatkan efek obat yang optimal, perlu kehati-hatian jika diperlukan perubahan. Berikut panduan dalam meminum obat yang tepat saat puasa:
- Minum obat 1 kali sehari
Obat yang diminum 1 kali sehari, dapat diminum saat pagi ketika sahur atau malam hari ketika berbuka puasa.
2. Minum obat 2 kali sehari
Obat yang diminum dua kali sehari, dapat diminum saat sahur dan saat berbuka. Ketentuan ini sebenarnya tidak jauh beda dengan aturan minum obat 2 kali sehari pada hari biasa.
3. Minum obat 3 kali sehari
Jika awalnya kita bisa leluasa meminum obat selama 24 jam dengan interval 8 jam sekali, sementara pada saat puasa kita hanya punya waktu minum obat selama 10,5 jam dari buka puasa sampai sahur. Disarankan untuk konsultasi terlebih dahulu kepada dokter atau apoteker apakah ada alternatif obat sejenis yang bisa diminum 1 atau 2 kali sehari. Anda juga dapat menanyakan mengenai ketersediaan obat yang sama tapi memiliki sistem pelepasan obat secara lepas lambat (pelepasan perlahan) atau memiliki aktivitas obat yang panjang atau pelepasannya terkontrol. Jika tetap harus diminum sesuai aturan 3 kali sehari, obat tersebut tetap dapat diminum sesuai aturan awal, namun dengan pembagian jam yang berbeda, yaitu diberi rentang setiap 5 jam. Untuk obat yang diminum tiga kali sehari, maka dapat diminum saat sahur, saat berbuka dan tengah malam sebelum tidur sekitar jam 10-11 malam.
4. Minum obat 4 kali sehari
Sama halnya dengan minum obat 3 kali sehari, anjuran minum obat 4 kali sehari pada saat puasa menjadi sedikit berbeda dengan hari biasa. Jika pada hari biasa, obat ini bisa diminum sebanyak 4 kali dengan interval 6 jam sekali, pada saat puasa tentu tidak bisa demikian karena tak boleh makan dan minum pada siang hari. Obat yang diminum 4 kali sehari pada saat puasa dapat diminum dengan interval waktu 4 jam sekali, yaitu jam 04.00 pagi (saat sahur), jam 06.00 sore saat berbuka puasa, jam 10.00 malam dan jam 01.00 dini hari. Obat yang tidak disarankan pemberiannya sampai 4 kali sehari selama berpuasa adalah jenis antibiotik
5. Minum obat sebelum dan setelah/ sesudah makan
Pada saat puasa, untuk obat yang dikehendaki diminum sebelum makan, dapat diminum 30 menit sebelum makan sahur atau 30 menit sebelum makan saat berbuka puasa. Begitu juga untuk obat yang diminum setelah makan. Obat ini dapat diminum 5 sampai 10 menit setelah makan sahur atau berbuka puasa. Apabila ada obat yang dikehendaki diminum tengah malam sesudah makan, maka dapat mengisi perut terlebih dahulu dengan cemilan seperti roti terlebih dahulu. Beberapa orang sering kali takut menggunakan obat karena mengira dapat membatalkan puasa. Padahal tidak semua obat dapat berimplikasi tersebut. Obat-obatan yang digunakan untuk obat luar dan obat yang tidak masuk melalui saluran cerna tidaklah akan membatalkan puasa.
Penggunaan obat yang tidak membatalkan puasa
Ternyata tidak semua obat bisa membatalkan puasa. Kini Anda tak perlu resah, sebagai pegangan, Anda bisa merujuk rilis dari Kementerian Kesehatan RI tentang jenis obat yang tidak membatalkan puasa. Rilis tersebut merujuk pada hasil konferensi An Islamic View of Certain Contemporary Medical Issues, yang digelar di Maroko pada tahun 1997. Berikut adalah bentuk-bentuk sediaan obat yang dapat digunakan saat berpuasa, seperti dilansir dari Kementerian Kesehatan RI:
- Obat yang diserap melalui kulit seperti salep, krim, plester, dan koyo,
Obat-obatan tersebut digunakan secara lokal, dan kerap diindikasikan dipakai pada bagian yang sakit saja. Obat tersebut bekerja/ diserap tubuh melalui kulit dan tidak sampai ke saluran pencernaan, karena efek yang ditimbulkan adalah efek lokal (disekitar tempat obat diberikan);
- Obat tetes mata, tetes telinga, atau tetes/ semprot hidung, karena pemberiannya sudah jelas tidak ditelan dan tidak melalui saluran cerna;
- Obat sublingual, obat yang digunakan dengan menyelipkan/ meletakkan di bagian bawah lidah. Obat yang digunakan dengan cara ini tidak membatalkan puasa meskipun dimasukan melalui mulut karena tidak ditelan dan tidak melalui saluran cerna. Obat jenis ini diserap oleh tubuh melalui pembuluh darah yang terletak dibawah lidah. Contoh obat yang sering digunakan adalah nitrogliserin/ isosorbide dinitrat untuk pengobatan nyeri dada saat serangan jantung;
- Obat inhalasi untuk gangguan pernapasan diberikan saat sesak napas, biasanya untuk penderita asma dan penyakit paru lain. Obat ini dihirup dan langsung menuju saluran pernapasan;
- Obat kumur, selama tidak ditelan. Meskipun obat kumur digunakan melalui mulut, tetapi obat tersebut tidak untuk ditelan sehingga tidak membatalkan puasa
- Obat suntik/ injeksi lewat kulit, otot, atau vena, di mana suntik/injeksi tidak membatalkan puasa, karena tidak melalui mulut/lubang terbuka lainnya, contoh obat yang sering digunakan adalah insulin, yang digunakan pada pasien diabetes mellitus.
- Cairan infus, pemberian asupan cairan secara intravena (melalui pembuluh darah vena) memang tidak dilakukan lewat lubang tubuh yang terbuka. Tetapi jika infus yang diberikan berupa nutrisi/ makanan melalui infus (nutrisi parenteral) sebagai pengganti makanan, infus ini dapat membatalkan puasa.
- Obat suppositoria, ovula, rectal tube, berbentuk padat, digunakan langsung ke dalam tubuh melalui saluran kencing, alat kelamin perempuan, atau anus/ dubur. Jenis obat ini akan meleleh atau larut oleh suhu tubuh, lalu masuk ke sel-sel yang diberi obat ini; dan
- Oksigen, diberikan saat tubuh mengalami gangguan pernapasan, yang menyebabkan saturasi oksigen di tubuh berkurang
Semoga dapat menjadi informasi kesehatan bagi masyarakat, sehingga paham tentang waktu yang tepat untuk minum obat. Tanyakan kepada apoteker terkait obat yang digunakan serta pastikan anda mendapat informasi yang sesuai dan anda butuhkan.
Ingat “Tanya Obat, Tanya Apoteker_â€Â
Selamat menjalankan ibadah puasa di bulan Ramadhan, , semoga puasa kali ini membawa berkah untuk kita semua..
Benarkah Metode Gentle Birth Mengurangi Rasa Sakit?
Oleh : Desi Soraya, S.Tr.Keb, M.Keb – Dosen S-1 Kebidanan STIKES Telogorejo Semarang
Melahirkan adalah proses yang identik dengan rasa sakit. Walau begitu, selama beberapa tahun belakangan ini, santer terdengar sebuah metode baru melahirkan yang disebut dengan metode gentle birth.
Melahirkan dengan gentle birth ini digadang-gadang akan memberikan ibu pengalaman melahirkan yang minim trauma dan rasa sakit. Tapi sebenarnya apa itu gentle birth dan benarkah bisa mengurangi rasa sakit melahirkan? Simak fakta-faktanya berikut ini.
Pengertian Gentle Birth
Gentle birth adalah sebuah filosofi dalam proses melahirkan, di mana proses melahirkan itu tenang, penuh kelembutan, serta memanfaatkan semua unsur alami dalam tubuh manusia[1]. Penolong yang terlibat dalam proses persalinan harus membantu dengan menggunakan suara lembut dan tenang, sehingga ketika bayi lahir, ia disambut dengan suasana penuh kedamaian.
Berbeda dengan metode konvensional, metode gentle birth menggunakan pendekatan proses kelahiran yang alami . Proses kelahiran ini membutuhkan bantuan pendamping yang kooperatif dan persiapan fisik dan mental yang matang dari calon ibu.
Prinsip Melahirkan dengan Gentle Birth
Dalam bukunya “Gentle Birth, Melahirkan Nyaman Tanpa Sakitâ€Â, bidan Yessi Aprillia dan Ritchmond menyebutkan beberapa prinsip yang harus dipenuhi, yaitu:
- Proses melahirkan dilihat sebagai momen yang harus diselebrasi dengan penuh rasa hormat, damai, dan sakral oleh semua pihak yang terlibat,
- Terdapat peran keluarga, khususnya suami, yang dapat memberikan dukungan mental ataupun spiritual kepada ibu yang hendak melakukan persalinan,
- Rasa mulas dan nyeri yang dirasakan calon ibu dipandang sebagai mekanisme alami yang dilalui tubuh dalam membantu proses kelahiran bayi,
- Proses persalinan tidak harus dilakukan di rumah.
Saat mendampingi persalinan, penolong yang menerapkan gentle birth akan meminimalisasi intervensi medis dan membebaskan calon ibu untuk bergerak mengikuti instingnya. Ruang bersalin pun diatur suasananya sedemikian rupa, baik pencahayaan, udara, serta suhunya agar dapat memberikan ibu kenyamanan dan ketenangan.
Persalinan dengan metode gentle birth memberikan kendali persalinan pada ibu, bukan pada dokter ataupun bidan yang mendampingi. Bayi yang baru lahir pun diperlakukan secara lebih lembut dan diberikan kesempatan untuk melakukan Inisiasi Menyusui Dini (IMD). Meski pada persalinan secara sesar sekalipun, prinsip-prinsip ini masih tetap dapat dilakukan.
Tentang Rasa Sakit
Rasa sakit sebenarnya adalah sesuatu yang sangat subyektif. Anda dan saudara kandung sendiri bahkan bisa memiliki toleransi terhadap rasa sakit dengan ambang batas yang berbeda. Persepsi seseorang terhadap rasa sakit juga mempengaruhi seberapa besar rasa sakit yang dirasakan seseorang. Riset menunjukkan rasa sakit yang dirasakan seseorang bisa berkurang ketika rasa sakit dianggap sebagai sesuatu yang positif, dan sebaliknya semakin dianggap tidak berguna atau mengancam jiwa, rasa sakit akan terasa semakin kuat[2].
Dalam persalinan gentle birth, ibu diarahkan untuk mempersepsikan rasa sakit sebagai sesuatu yang akan membantunya untuk bertemu dengan sang bayi. Selain itu suasana persalinan serta pendamping yang tenang dan penuh kelembutan dapat mengurangi kecemasan dan persepsi rasa sakit ibu. Gabungan hal-hal inilah yang membuat metode gentle birth mengurangi rasa sakit juga trauma melahirkan.
Dalam sebuah studi di Amerika Serikat[3] yang melibatkan 17.000 persalinan terencana di rumah, didapatkan sebuah data yaitu Kurang dari 2% ibu yang dirujuk ke rumah sakit untuk mendapatkan manajemen rasa sakit tambahan. Ini artinya, sebanyak 98% ibu sanggup menghadapi rasa sakitnya di rumah. Selain itu, hanya 1% bayi yang lahir yang butuh diperiksa ke rumah sakit, itu pun bukan untuk kondisi yang gawat.
Kesimpulan
Metode gentle birth mengimplementasikan prinsip-prinsip persalinan yang meminimalisasi stresor lingkungan. Selain itu mendorong ibu untuk memberdayakan dirinya sebelum hingga sesudah persalinan itu sendiri. Belum ada studi khusus yang mengukur tentang rasa sakit yang dirasakan persalinan gentle birth. Singkatnya metode ini berhasil mengurangi rasa sakit ibu dan meningkatkan kepuasan persalinan.
TERAPI KETUKAN DI TITIK TUBUH DAPAT MENGATASI MASALAH FISIK DAN MENTAL
Oleh: Ns. Resa Nirmala Jona, M.Kep – Dosen D3 Keperawatan STIKES Telogorejo Semarang
World Health Organization (WHO mengemukakan bahwa kesehatan merupakan kondisi fisik, mental, dan sosial yang lengkap dan bukan sekedar tidak adanya penyakit atau kelemahan. Kesehatan fisik yang buruk dapat meningkatkan risiko timbulnya masalah kesehatan mental. Demikian pula, kesehatan mental yang buruk dapat berdampak negatif pada kesehatan fisik. Pikiran yang mengganggu bisa memengaruhi fungsi-fungsi tubuh yang lainnya. Akibatnya, kita pun rentan mengalami berbagai masalah fisik tertentu.
Masalah kesehatan fisik contohnya migrain, nyeri menstruasi, jantung, diabetes, darah tinggi, maag, stroke, kanker dan lain-lain. Sedangkan untuk masalah kesehatan mental, contohnya adalah perubahan kepribadian, stress, marah, cemas, gelisah, phobia, trauma, kecanduan, dan lainnya. Salah satu terapi yang dapat diberikan untuk masalah kesehatan fisik dan mental ini yaitu spiritual emotional freedom technique (SEFT). SEFT adalah salah satu terapi yang mudah, praktis dan efektif yang dikembangkan oleh Bapak Ahmad Faiz Zainuddin dengan menggabungkan kekuatan do’a (spiritual) dan ketukan (tapping) sederhana di 18 titik meridian tubuh.
Ada 3 langkah dalam terapi SEFT. Langkah pertama set up, yaitu melafalkan do’a yang intinya adalah menyampaikan masalahnya, ikhlas dan pasrahkan kesembuhan hanya kepada-Nya sambil menekan titik “sore spot†dibagian dada atau titik “karate chopâ€Â. Selanjutnya pada langkah yang kedua tune in, yaitu fokuskan pikiran dan rasakan rasa sakitnya. Yang perlu dilakukan pada langkah ketiga adalah tapping, yaitu melakukan ketukan sederhana pada 18 titik meridian tubuh.
Lima kondisi hati untuk SEFT yang efektif, yaitu yakin, khusyu’, ikhlas, pasrah dan syukur.
Let’s practice!!!....
HOLISTIC YOGA PROGRAM UNTUK MENGATASI POST TRAUMATIC STRESS DISORDER (PTSD)
Oleh : Ns. Vivi Sovianti, S.Kep.,M.Kep, Dosen D-3 Keperawatan STIKES Telogorejo Semarang
Salah satu bentuk dampak psikologis yang sering ditemui pada masyarakat korban bencana alam adalah post traumatic stress disorder (PTSD). Post traumatic stress disorder adalah sindrom yang dialami oleh seseorang yang mengalami kejadian yang traumatis dan individu tersebut tidak mampu menghilangkan ingatan akan kejadian tersebut dari pikirannya. PTSD adalah gangguan kecemasan yang dialami oleh individu yang melihat atau mengalami kejadian yang berbahaya.
Seperti masalah kesehatan mental pada umumnya, kombinasi beberapa faktor yang kompleks mungkin menjadi penyebab PTSD, yaitu: Pengalaman yang menakutkan, termasuk jumlah dan tingkat keparahan trauma yang telah dialami dalam hidup, Mewarisi risiko kesehatan mental, seperti riwayat gangguan kecemasan dan depresi dalam keluarga, Ciri-ciri kepribadian, seperti kecenderungan temperamental dan Cara otak mengatur bahan kimia dan hormon yang dilepaskan tubuh sebagai respons terhadap stres.
Gejala PTSD pada umumnya dibagi menjadi 4 tipe, yaitu ingatan intrusif, avoidance atau menghindar,  perubahan negative pada cara berpikir, mood, serta perubahan reaksi fisik dan emosional. Dampak dari PTSD sendiri dapat mengganggu kehidupan seseorang kedepannya,  bahkan dampaknya bisa terasa dalam jangka waktu yang lama (Xiao et al., 2020). PTSD akan mengganggu kualitas hidup.  Gangguan ini akan membuat kamu sulit untuk memercayai, berkomunikasi, dan menyelesaikan masalah.  Ini dapat menyebabkan masalah dalam hubungan dengan teman, pasangan, keluarga, dan rekan kerja. Selain itu,  gangguan ini juga dapat memengaruhi kesehatan fisik seperti dapat meningkatkan risiko penyakit jantung atau gangguan pencernaan.ÂÂ
Yoga merupakan salah satu dari enam ajaran dalam filsafat Hindu, yang  menitikberatkan pada aktivitas meditasi atau tapa di mana  seseorang memusatkan seluruh pikiran untuk mengontrol panca indranya dan tubuhnya secara keseluruhan. Yoga juga digunakan sebagai salah satu pengobatan alternatif, biasanya hal ini dilakukan dengan latihan pernapasan, olah tubuh dan meditasi, yang  telah dikenal dan dipraktikkan selama lebih dari 5000 tahun. Holistic Yoga Program dibuat oleh terapis yoga  untuk mengatasi gejala hyperarousal PTSD. Saat orientasi, peserta  HYP dibiasakan dengan dukungan praktik berupa DVD, perangkat audio, dan handout untuk di rumah. Kelas yoga  dipimpin oleh instruktur dan dihadiri setiap minggu selama satu  jam. Walaupun belum bisa dikatakan sebagai solusi utama dari permasalahan saat ini, namun yoga dapat menjadi solusi tambahan atau pilihan alternatif yang  dampaknya jelas berpengaruh secara signifikan dalam penurunan skor PTSD, yang  juga didukung dengan pelaksanaannya yang relative mudah dan aman
Sumber gambar : yogaclicks.com
JAGA DIRI DENGAN KENALI REPRODUKSI SAAT REMAJA
Oleh : Widya Mariyana,S.ST.,M.Kes - Dosen S-1 Kebidanan STIKES Telogorejo Semarang
Masa remaja adalah masa transisi antara masa kanak-kanak dengan dewasa dan relatif belum mencapai tahap kematangan mental dan sosial sehingga mereka harus menghadapi tekanan-tekanan emosi dan sosial yang saling bertentangan. Banyak sekali life events yang akan terjadi yang tidak saja akan menentukan kehidupan masa dewasa tetapi juga kualitas hidup generasi berikutnya sehingga menempatkan masa ini sebagai masa kritis.
Memasuki masa remaja yang diawali dengan terjadinya kematangan seksual, maka remaja akan dihadapkan pada keadaan yang memerlukan penyesuaian untuk dapat menerima perubahan-perubahan yang terjadi. Kematangan seksual dan terjadinya perubahan bentuk tubuh sangat berpengaruh pada kehidupan kejiwaan remaja. Selain itu kematangan seksual juga mengakibatkan remaja mulai tertarik terhadap anatomi fisiologi tubuhnya. Selain tertarik kepada dirinya, juga mulai muncul perasaan tertarik kepada teman sebaya yang berlawanan jenis.
Pengaruh informasi global (paparan media audio-visual) yang semakin mudah diakses justru memancing anak dan remaja untuk mengadaptasi kebiasaan-kebiaasaan tidak sehat seperti merokok, minum minuman berakohol, penyalahgunaan obat dan suntikan terlarang, perkelahian antar-remaja atau tawuran. Pada akhirnya, secara kumulatif kebiasaan-kebiasaan tersebut akan mempercepat usia awal seksual aktif serta mengantarkan mereka pada kebiasaan berperilaku seksual yang berisiko tinggi, karena kebanyakan remaja tidak memiliki pengetahuan yang akurat mengenai kesehatan reproduksi dan seksualitas serta tidak memiliki akses terhadap informasi dan pelayanan kesehatan reproduksi, termasuk kontrasepsi.
Keterbatasan akses dan informasi mengenai seksualitas dan kesehatan reproduksi
bagi remaja di Indonesia ’bisa dipahami’ karena masyarakat umumnya masih menganggap seksualitas sebagai sesuatu yang tabu dan tidak untuk dibicarakan secara terbuka. Orang tua biasanya enggan untuk memberikan penjelasan masalah-masalah seksualitas danreproduksi kepada remajanya, dan anak pun cenderung malu bertanya secara terbuka kepada orang tuanya.
BAGAIMANA CARA KITA MENJELASKAN TENTANG SEKSUALITAS?
Memberikan pendidikan life skill, menunda pernikahan dan kehamilan semasa
remaja dan cegah HIV dan AIDS serta memberikan informasi yang benar merupakan upaya untuk meningkatkan perilaku hidup sehat, mengingat remaja adalah kelompok usia yang tergolong sangat rawan terhadap berbagai hal yang berhubungan dengan kecakapan hidup sehat.
APA SAJA HAK-HAK REMAJA TERKAIT DENGAN KESEHATAN REPRODUKSI?
Selain kebutuhan-kebutuhan tersebut, remaja juga memiliki hak-hak mendasar terkait
kesehatan reproduksinya. Hak-hak itu juga harus terpenuhi sebagai kebutuhan dasar
mereka. Hak-hak itu adalah :
- Hak hidup. Ini adalah hak dasar setiap individu tidak terkecuali remaja, untuk terbebasdari resiko kematian karena kehamilan, khususnya bagi remaja perempuan.
- Hak atas pelayanan dan perlindungan kesehatan. Termasuk dalam hal ini adalah perlindungan privasi, martabat, kenyamanan, dan kesinambungan.
- Hak atas kerahasiaan pribadi. Artinya, pelayanan kesehatan reproduksi bagi remaja dan setiap individu harus menjaga kerahasiaan atas pilihan-pilihan mereka.
- Hak atas informasi dan pendidikan. Ini termasuk jaminan kesehatan dan kesejahteraan perorangan maupun keluarga dengan adanya informasi dan pendidikan Kesehatan reproduksi yang memadai tersebut.
- Hak atas kebebasan berpikir. Ini termasuk hak kebebasan berpendapat, terbebas dari penafsiran ajaran yang sempit, kepercayaan, tradisi, mitos-mitos, dan filosofi yang dapat membatasi kebebasan berpikir tentang pelayanan kesehatan reproduksi dan seksual.
- Hak berkumpul dan berpartisipasi dalam politik. Hal ini termasuk mendesak pemerintah dan parlemen agar menempatkan masalah kesehatan reproduksi menjadi prioritas kebijakan negara.
- Hak terbebas dari penganiayaan dan perlakuan buruk. Hal ini terutama bagi anak-anak dan remaja untuk mendapatkan perlindungan dari eksploitasi, pelecehan, perkosaan, penyiksaan, dan kekerasan seksual.
- Hak mendapatkan manfaat dari ilmu pengetahuan terbaru. Yaitu hak mendapatkan pelayan kesehatan reproduksi yang terbaru, aman, dan dapat diterima.
- Hak memutuskan kapan punya anak, dan punya anak atau tidak.
- Hak atas kesetaraan dan bebas dari segala bentuk diskriminasi. Ini berarti setiap individu dan juga remaja berhak bebas dari segala bentuk diskriminasi termasuk kehidupan keluarga, reproduksi, dan seksual.
- Hak untuk memilih bentuk keluarga. Artinya, mereka berhak merencanakan, membangun, dan memilih bentuk keluarga (hak untuk menikah atau tidak menikah).
- Hak atas kebebasan dan keamanan. Remaja berhak mengatur kehidupan seksual dan reproduksinya, sehingga tidak seorang pun dapat memaksanya untuk hamil, aborsi, ber-KB dan sterilisasi.
APA SAJA MASALAH KESEHATAN REPRODUKSI REMAJA?
Kuatnya norma sosial yang menganggap seksualitas adalah tabu akan berdampak
pada kuatnya penolakan terhadap usulan agar pendidikan seksualitas terintegrasikan kedalam kurikulum pendidikan. Sekalipun sejak reformasi bergulir hal ini telah diupayakanoleh sejumlah pihak seperti organisasi-organisasi non pemerintah (NGO), dan jugaPemerintah sendiri (khususnya Departemen Pendidikan Nasional), untuk memasukkanseksualitas dalam mata pelajaran ’Pendidikan Reproduksi Remaja’; namun hal ini belum sepenuhnya mampu mengatasi problem riil yang dihadapi remaja.
Faktanya, masalah terkait seksualitas dan kesehatan reproduksi masih banyak
dihadapi oleh remaja. Masalah-masalah tersebut antara lain :
1. Perkosaan.
2. Free sex.
3. Kehamilan Tidak Diinginkan (KTD).
4. Aborsi.
5. Perkawinan dan kehamilan dini.
BAGAIMANA PENANGANAN MASALAH KESEHATAN REPRODUKSI REMAJA?
Ruang lingkup masalah kesehatan reproduksi perempuan dan laki-laki menggunakan pendekatan siklus kehidupan. Berdasarkan masalah yang terjadi pada setiap fase kehidupan, maka upaya-upaya penanganan masalah kesehatan reproduksi remaja sebagai berikut :
1. Gizi seimbang.
2. Informasi tentang kesehatan reproduksi.
3. Pencegahan kekerasan, termasuk seksual.
4. Pencegahan terhadap ketergantungan NAPZA.
5. Pernikahan pada usia wajar.
6. Pendidikan dan peningkatan ketrampilan.
7. Peningkatan penghargaan diri.
8. Peningkatan pertahanan terhadap godaan dan ancaman. Perlu diingat bahwa diri kita sendiri yang bertanggung jawab terhadap organ reproduksi kita, mari jaga dan sayangi organ reproduksi kita mulai sejak dini agar terhidar dari hal-hal yang tidak diinginkan.
Sumber gambar :
Dukungan Keluarga Dalam Keberhasilan Penatalaksanaan Perawatan Diabetes Mellitus
Oleh : Ns. Ismonah, M.Kep., Sp.MB - Dosen prodi S1 keperawatan STIKES Telogorejo
Diabetes Melitus (DM) diartikan sebagai suatu kelompok penyakit metabolik dengan karakteristik hiperglikemia (tingginya kadar gula darah) yang terjadi karena kelainan sekresi (pengeluaran) insulin, kerja insulin atau keduanya. Jumlah penyandang Diabetes Melitus diperkirakan terus bertambah, Organisasi International Diabetes Federation (IDF) memperkirakan sedikitnya terdapat 463 juta orang pada usia 20 – 79 tahun di dunia menderita diabetes pada tahun 2019 dan diprediksi pada tahun 2045 akan meningkat menjadi 700 juta penyandang.
Tingginya angka kejadian DM berdampak terhadap fisik dan psikologi bagi penyandang DM. Dampak yang terjadi adalah komplikasi, cacat kerja, kualitas hidup yang buruk, timbul kecemasan atau depresi. Kecemasan atau anxiety adalah rasa khawatir, takut yang tidak jelas penyebabnya. Bagi penyandang DM, munculnya kecemasan ini karena menderita atau mengalami suatu penyakit yang berkepanjangan. Bahwa kecemasan terjadi karena merasakan adanya kekhawatiran terhadap penyakitnya, karena mengalami kenaikan gula darah atau munculnya komplikasi.
Pengontrolan gula darah dan pencegahan komplikasi DM dapat dikendalikan dengan empat pilar penatalaksanaan DM, yaitu edukasi, diet, latihan jasmani, dan pengobatan. Efektifitas atau keberhasilan terhadap pengelolaan atau penatalaksanaan DM di rumah sangat dipengaruhi oleh dukungan dan peran serta keluarga. Dukungan keluarga yang tinggi akan mendukung keberhasilan penatalaksanaan DM, menurunkan mortalitas, meningkatkan fungsi kognitif, kesehatan fisik dan emosi. Manfaat lain dukungan keluarga adalah terjadi penyesuaian individu terhadap stress, dalam bentuk dukungan emosional. Dukungan emosional ini sangat penting dan diperlukan bagi penyandang DM, dalam bentuk perhatian, rasa cinta, empati dan perasaan positif lainnya. Hal ini bertujuan untuk membantu memulihkan keadaan dan membantu mengontrol emosi. Keikutsertaan anggota keluarga dalam memandu pengobatan, diet, latihan jasmani dan pengisian waktu luang yang positif merupakan bentuk peran serta aktif bagi keberhasilan penatalaksanaan DM.
Banyak orang yang berasumsi jika penyakit diabetes mellitus adalah penyakit yang tidak dapat disembuhkan, sehinga hal tersebut membuat stress lebih meningkat, yang dapat meningkatkan glukosa darah dan memicu terjadinya komplikasi. Ya, memang benar, DM tidak bisa disembuhkan, namun jangan khawatir DM dapat dikendalikan dengan pengontrolan glukosa darah dan mencegah komplikasi. Melaui pengaturan diet, latihan fisik atau olah raga, pengobatan secara teratur, serta rajin melakukan monitoring terhadap gukosa darah, tekanan darah, kolesterol, berat badan, dan stresor. Jadi prinsipnya adalah gula darah terkontrol, sehingga penyandang DM dapat terus aktif dalam menjalani kehidupan dengan bahagia serta tercegah dari berbagai komplikasi. Ayok tetap dengan semangat tinggi, kita cegah, kontrol, dan lawan diabetes mellitus
