Artikel
PENTINGNYA PENERAPAN K3 DI DUNIA KERJA PADA MASA PANDEMI CORONA VIRUS DISEASE 2019
Oleh Ns. Prita Adisty Handayani, M.Kep., RN/ Kep. Komunitas (K3) - Dosen S-1 Keperawatan STIKES Telogorejo Semarang
Corona Virus Disease 2019 atau yang sering kita sebut dengan COVID-19 pada Januari 2021 ini memperlihatkan peningkatan yang cukup signifikan. Hal ini dapat terjadi karena kurangnya control atau kesadaran diri dari setiap individu terhadap protocol kesehatan. Penyebaran virus ini tidak menutup kemungkinan dapat terjadi secara masif di area dunia kerja. Oleh karena itu Program Kesehatan dan Keselamatan Kerja (K3) perlu ditingkatkan guna mencegah penyebaran COVID-19 di klaster tempat kerja.
Seperti yang kita ketahui bahwa risiko bahaya kerjadi bagi menjadi 5 yaitu bahaya fisik, kimia, biologi, ergonomi, dan psikososial. COVID-19 ini termasuk dalam risiko bahaya kerja biologi dan bahaya ini tidak menutup kemungkinan dapat terjadi di semua sector tempat kerja. Pekerja yang kurang pemahaman mengenai COVID- 19 atau kurang mawas diri sehingga tidak menerapkan protocol kesehatan 3M, merupakan salah satu masalah besar di tempatkerja. Masalah ini dapat terjadi karena pekerja tanpa disadari dapat menularkan ke pekerja lainnya dengan perilaku seperti tidak melakukan cuci tangan menggunakan sabun sebelum makan, membuka masker saat berbicara, dan tidak membatasi jarak dengan rekan kerjanya. Hal ini tentunya sangat berisiko apabila tidak segera diberikan penanganan secara tepat.
Penyelesaian masalah di tempat kerja khususnya di bidang kesehatan dapat dilakukan dengan beberapa tipe pencegahan yaitu pencegahan primer, sekunder dan tersier. Pencegahan primer dapat dilakukan dengan kegiatan peningkatan pengetahuan pekerja melalui kegiatan penyuluhan tentang COVID-19 di masing-masing sector kerja. Jenis penyuluhan yang dapat dilakukan seperti mengenalkan tentang COVID-19, bagaimana cara penularannya dan bagaimana cara mencegahnya. Pencegahan sekunder dapat dilakukan dengans creening kesehatan para pekerja secara berkala dan pengobatan bagi yang sudah terpapar COVID-19, sedangkan pencegahan tersier dapat berupa rehabilitasi bagi pekerja yang sudah terpapar COVID-19.
Penerapan dari program K3 ini sangatlah penting karena harapannya dengan pengetahuan pekerja yang  meningkat dapat merubah perilaku pekerja menjadi lebih baik untuk mencegah bahaya risiko kerja. Tim K3 sebagai pelaksana wajib memantau jalannya proses identifikasi masalah bahaya risiko kerja yang masih mungkin terjadi, melakukan analisis dan  manajemen risiko sehingga dapat menghasilkan intervensi yang sesuai untuk mengatasi bahaya risiko kerja yang muncul. Marilah kita bersama-sama berupaya untuk mencegah penularan COVID-19  mulai dari diri kita sendiri terutama sebagai pekerja. Patuhi segala protocol kesehatan dan peraturan yang  telah ditetapkan ditempat kerja. Dengan penerapan program K3, pekerja dapat bekerja secara produktif dan terhindar dari segala bahaya risiko kerja.
Sumber gambar : google.com
Manfaat “Emotional Chatarsis†Ketika Frustasi
Oleh Ns. Laura Khattrine Noviyanti., M.Kep., Sp.Kep.J - Dosen S1-Keperawatan Peminatan Keperawatan Jiwa
Lebih dari satu tahun kita merasakan situasi yang terjadi akibat Covid-19 di Indonesia. Serangkaian kejadian yang tidak menyenangkan disituasi tersebut menyebabkan bergejolaknya perasaan yang menumpuk. Pada akhirnya kita mencapai titik dimana begitu banyak emosi yang didalam diri kita yang terkurung sehingga menjadi dampak buruk yang akhirnya “meledakâ€Âsehingga kesehatan mental seseorang terganggu. Oleh karena itu butuh adanya pelepasan, agar seseorang merasakan kelegaan didalam dirinya. Ibarat sebuah panci yang berisi air yang mencapai titik didih kemudian mengendap, begitu pula emosi harus dibangun dalam intensitas dan perlu melakukan pembersihan emosional sehingga emosi negatif bisa berkurang dalam diri seseorang. Pengalaman tersebut diatas merupakan bagian dari fenomena yang biasanya disebut dengan emotional chatarsis.
Katarsis berasal dari bahasa yunani yaitu “pembersihanâ€Â. Biasanya didalam dunia psikologi, katarsis dikaitkan dengan membuang hal negatif dalam diri seperti stres, cemas atau ketakutan yang berlebihan. Istilah Katarsis dipakai oleh Josef Breuerpertama kali untuk mengobati pasien yang mengalami permasalahan yang buruk dengan sebutan â€Âterapi Katarsisâ€Â, hal ini pun dilakukan pula dengan teori psikoanalisa oleh Sigmund Freud. Manfaat Emosional Katarsis menurut Josef Breuer adalah ketika seseorang dapat dengan bebas mengeskpresikan emosinya yang dikaitkan dengan pengalaman yang tidak menyenangkan, mereka akan mengalami pembersihan tersebut.
Ada banyak cara untuk melepaskan emosi hingga mencapai Emosional katarsis. Situs psikologi (www. betterhelp.com) menjelaskan ada Sembilan cara melakukan Emosional Katarsis antara lain, Pertama dengan musik, musik membantuseseorang untuk mengatasi emosi, jadi jika seseorang merasakan sedih, mendengarkan lagu yang sedih akan merasa lebih baik. Kedua dengan memfasilitasi dengan punching bag, bila seseorang tidak mampu meluapkan amarah ada fasilitas psikolog dengan menyediakan samsak, dengan harapan ketika meluapkan emosi tersebur amarah atau emosi negatif bisa dilepaskan. Ketigadengan Seni, setiap media seni membantu untuk melepaskan emosi, contoh nya dengan melukis, ketika seseorang memercikkan cat di atas kanvas saat sedang marah membantu untuk melepaskan emosi tersebut.
Keempat dengan Menulis, menulismerupakanhal yang terapeutik, ketika seseorang menulis secara langsung tentang pengalaman di dalam sebuah bukau ataupun puisi sehingga mengespresikan emosi seseorang tersebut. Kelima dengan Membaca dan menonton Film, ketikaseseorang membacasebuah buku novel kemungkinan bisa memunculkan perasan yang telah lama terkubur, hal ini pun sama pula ketika menonton film sehingga perasaan tertuang ataupun tergali ketika menonton film. Keenam dengan Religiusitas , hampir sebagian besar seseorang menggunakan riltual untuk menangani maslah mental dan emosional.
Ketujuh dengan humor, humor membantu seseorang melepaskan emosinya ketika memunculkan ledakan tawa, sehingga sesorang tersebut benar – benar mengalami “katarsisâ€Â. Kedelapan dengan pengungkapan, dengan menceritakan kisah hidup seseorang dengan semua pikiran ke orang lain, tindakan dan pengalaman dapat melepaskan emosi. Serta Kesembilan dengan olahraga, meskipun katarsis adalah pelepasan emosional, ini juga membawa banyak perubahan dalam tubuh. Sistem kardiovaskuler, pernapasan, gastrointestinal dan muskuloskletal semuanya berpengaruh saat emosi terpendam terlepaskan lewat olahraga. Cobalah untuk menangani frustasi dengan mempraktikkan melakukan emosional katarsis pada diri sendiri. Akan tetapi jika seseorang merasakan sering kewalahan dan membuat tambah cemas serta tidak ada dari tehnik diatas membantu dalam mengurangi emosi, segeralah menghubungi konselor sehingga dapat membantu memberikan terapi selanjutnya.
Selamat mencoba !!!!!
Sumber Foto : www.e-counseling.com
Pentingnya Pemeriksaan dan Protokol Kesehatan Bagi Ibu Hamil
Oleh Ns. Anis Ardiyanti, M.Kep - Dosen S-1 Keperawatan STIKES Telogorejo Semarang Peminatan Keperawatan Maternitas
Corona virus disease 2019 atau disebut dengan Covid-19 merupakan penyakit infeksi pernapasan akut yang penyebarannya cepat dan dalam waktu singkat. Sampai sekarang wabah ini masih terus meningkat kasusnya. WHO (World Health Organization) menyatakan bahwa covid-19 sebagai kedaruratan kesehatan masyarakat yang meresahkan dunia. Covid-19 ini dapat dialami oleh semua usia termasuk kelompok rentan, dalam hal ini adalah ibu hamil. Pada masa kehamilan secara normal terjadi beberapa adaptasi fisik maupun secara psikologis, sehingga sebagai ibu hamil perlu adanya persiapan agar dapat beradaptasi dengan baik dengan kehamilannya. Namun, pada masa pandemi covid-19 ini, membuat ibu hamil mempunyai adaptasi tambahan yaitu dengan mencegah tertularnya virus corona. Masa inilah yang menimbulkan perasaan cemas bagi ibu hamil. Seperti yang kita kehatui bahwa, kecemasan dapat menimbulkan imunitas turun sehingga perlu dilakukan penanganan. Salah satu yang dapat dilakukan petugas kesehatan untuk menurunkan kecemasan pada ibu adalah edukasi dengan tetap menerapkan protokal kesehatan secara offline atau dengan cara virtual. Selain itu, petugas kesehatan juga dapat memberikan konsultasi virtual terkait perasaan cemas pada ibu hamil. Berdasarkan beberapa penelitian, metode ini dapat menurunkan kecemasan pada ibu hamil. Pada masa pandemi covid-19, kita harus meningkatkan imunitas agar tidak tertular oleh covid-19.
Berdasarkan beberapa artikel, covid-19 pada ibu hamil mayoritas memiliki gejala klinis yang ringan seperti demam, batuk dan sesak napas. Gejala klinis ini tidak dipengaruhi oleh usia kehamilan dan gejala klinis yang dialaminya pun sama dengan orang yang tidak hamil. Pada ibu hamil dengan covid-19 beresiko menularkan ke janinnya dan juga penolong persalinan. Sehingga perlu mendapatkan perhatian, apalagi janin yang sudah terinfeksi akan menyebabkan ARDS (acute respiratory distress syndrome) sehingga kondisi ini akan membahayakan nyawanya. Oleh karena itu, protokol kesehatan sangat penting untuk dipatuhi mengingat penyebarannya yang cepat. Pencegahan yang bisa dilakukan ibu hamil yaitu dengan memakai masker, mencuci tangan pakai sabun, menjaga jarak, makan makanan yang bergizi, melakukan olahraga, mengistirahatkan diri, dan mendokan diri. Dengan pencegahan tersebut, harapannya dapat menurunkan resiko tertularnya corona virus. Di sisi lain, ibu hamil juga harus melakukan pemeriksaan kehamilannya. Oleh karena itu, solusi yang ditawarkan untuk ibu hamil adalah memodifikasi kunjungan pemeriksaan antenatal dengan mengurangi jumlah dan waktu kunjungan, serta memfasilitasi konsultasi secara virtual.
Kunjungan pada saat kehamilan merupakan hal yang penting untuk memantau kesehatan ibu dan janin. Meskipun sedang masa pandemi tidak menjadikan alasan ibu hamil tidak melakukan pemeriksaan kehamilannya. Modifikasi pemeriksaan kehamilan dengan kunjungan dan juga konsultasi secara virtual menjadi pilihan guna menekan adanya kontak fisik. Kunjungan pemeriksaan yang disarankan bagi ibu hamil yang melakukan pemeriksaan yaitu sebanyak 6 kali selama hamil. 6 kali kunjungan ini dibagi menjadi satu kali pada trimester pertama, dua kali kunjungan pada trimester kedua, dan tiga kali pada trimester ketiga. Mengapa pada trimester pertama perlu kunjungan dan hanya sekali? Jawabannya adalah untuk skrining faktor risiko yang terjadi pada ibu hamil, contohnya HIV, sifilis, hepatitis B. Nah, selanjutnya pada kunjungan trimester kedua dapat dilakukan saat usia ibu hamil 20-24 minggu dan saat kehamilan ibu usia 28 minggu. Kunjungan pada trimester kedua ini untuk melakukan USG guna skrining preeklampsia dan juga adanya kelainan bawaan. Kunjungan pada trimester 3 ini dilakukan skrining covid-19, hal ini dilakukan sebagai persiapan persalinan. Apabila ibu hamil mengalami positif covid-19 dengan maupun tanpa gejala klinik kunjungan dapat ditunda sampai 14 hari. Namun, apabila terdapat kegawatan seperti persalinan sebelum waktunya, gerak janin berkurang, perdarahan, mual dan muntah atau ibu hamil mengalami sesak dan syok maka segera datang ke rumah sakit. Kepatuhan ibu hamil terhadap protokol kesehatan dan pemeriksaan kehamilan merupakan satu kesatuhan yang penting, mengingat covid-19 ini dapat diderita oleh semua usia. Selain itu, kedua hal ini untuk kesehatan dan keselamatan ibu hamil, janin, maupun penolong kesehatan. Tentunya hal ini perlu adanya dukungan dari berbagai pihak, tidak hanya ibu hamil dan petugas kesehatan. Melainkan tugas kita bersama, keluarga ibu hamil maupun masyarakat.
HATI-HATI BAGI GENERASI MICIN: APAKAH MICIN ATAU MSG DAPAT MEMICU KANKER?
Oleh Ns. Dwi Fitriyanti, M.Kep - Dosen STIKES Telogorejo Semarang
Kanker adalah salah satu jenis penyakit yang mempunyai kompleksitas sangat tinggi, dengan tanda dan gejala tergantung dimana kanker tersebut tumbuh. Kanker menyebabkan peningkatan kematian dan dapat terjadi pada manusia dari semua kelompok tanpa memandang usia. Penyakit kanker merupakan salah satu penyebab kematian utama di seluruh dunia. Pada tahun 2017, sekitar 9 juta kematian disebabkan oleh kanker.
Pemahaman masyarakat terkait penyakit kanker perlu ditingkatkan dengan memberikan informasi yang jelass dan akurat. Seperti saat ini yang masih menjadi pertanyaan bagi masyarakat tentang MSG atau biasa dsebut micin. MSG adalah garam natrium dari asam glutamat, asam amino yang ditemukan dalam tubuh dan sebagian besar makanan. Ini adalah aditif makanan populer karena meningkatkan rasa yang lebih enak dan gurih.Aditif ini populer di masakan Asia dan digunakan di berbagai makanan olahan di Barat. Asupan MSG harian rata-rata adalah 0,55-0,58 gram di AS dan Inggris dan 1,2-1,7 gram di Jepang dan Korea.
Dosis ambang batas yang menyebabkan gejala tampaknya sekitar 3 gram per makan. Namun, perlu diingat bahwa 3 gram adalah dosis yang sangat tinggi, sekitar enam kali rata-rata asupan harian di AS. Secara keseluruhan, tidak ada bukti kuat bahwa MSG bertindak sebagai eksitotoksin ketika dikonsumsi dalam jumlah normal.Tidak jelas mengapa ini terjadi, tetapi beberapa peneliti berspekulasi bahwa dosis besar MSG memungkinkan sejumlah kecil asam glutamat untuk melintasi penghalang darah-otak dan berinteraksi dengan neuron, yang menyebabkan pembengkakan dan cedera otak.
Penelitian terkait MSG selama bertahun-tahun masih menjadi kontroversi, bukti secara jelas dan pasti yang menunjukkan bahwa MSG memiliki kemampuan menyebabkan kanker, atau bahwa mengonsumsi MSG meningkatkan risiko kanker, masih kurang. Tentu saja, jika seorang individu merasa sensitif terhadap MSG, yang terbaik adalah menghindarinya dengan memeriksa label makanan.
Masih menjadi sebuah Misteri
Dalam keadaan normal, sel-sel di dalam tubuh manusia membelah secara terkendali, dengan sel-sel baru menggantikan yang lama.Namun, sel kanker, memiliki kemampuan untuk lolos dari kematian dan terus tumbuh dengan cara yang tidak terkendali. Sel-sel ekstra dapat terus membentuk massa atau tumor. Sel kanker dapat menyerang organ dan jaringan lain juga. Ada lebih dari 100 jenis kanker. Penyebab pasti kanker masih belum diketahui. Para ilmuwan telah mengidentifikasi berbagai faktor risiko yang dapat meningkatkan kemungkinan perkembangan kanker, 5-10 persen merupakan faktor genetik dan 90-95 persen merupakan faktor lingkungan termasuk life style.
Aditif yang gurih
MSG adalah garam natrium dari asam amino dan asam glutamat yang ditemukan secara alami dalam beberapa makanan dan ditambahkan ke makanan lain. Sebagai tambahan, MSG meningkatkan rasa makanan menjadi gurih. MSG diproduksi dari proses fermentasi pati, gula, tebu atau molase dan ditambahkan berbagai makanan yang gurih. Beberapa orang telah melaporkan sensitivitas terhadap MSG, dengan gejala seperti sakit kepala, otot tegang, mati rasa, kesemutan, lemah, nyeri dada, dan jantung berdebar. Administrasi Makanan dan Obat-obatan A.S. Amerika Serikat (Food and Drug Administration/FDA) menegaskan bahwa MSG yang dikonsumsi pada tingkat yang wajar adalah aman.
Kanker dan MSG
Dr. Russel Blaylock, seorang peneliti "Excitotoxins: The Taste That Kills," menegaskan bahwa konsumsi glutamat berlebihan mendorong pertumbuhan kanker, dan ia menekankan perlunya penelitian yang diteliti dengan baik di bidang ini. Meskipun keamanan MSG telah menjadi bahan perdebatan selama bertahun-tahun, hubungan antara MSG dan kanker didasarkan pada bukti anekdotal, yang tidak memberikan bukti ilmiah, menurut American Institute for Cancer Research.Sementara menurut Prof. DR. dr. Aru Wisaksono Sudoyo, Sp. PD-KHOM, selaku Ketua Yayasan Kanker Indonesia (YKI) menjelaskan bahwa MSG tidak terbukti menyebabkan kanker. Hal ini sesuai penelitian yang dilakukan oleh Food Standards Australia New Zealand (FSANZ).
Jika Anda bereaksi negatif atau sensitif terhadap MSG, maka lebih baik Anda tidak memakannya. Jika Anda tidak mengalami efek samping terhadap MSG, tidak ada alasan kuat untuk menghindarinya. Perlu diingat bahwa MSG umumnya ditemukan dalam makanan olahan, berkualitas rendah yang harus Anda hindari atau batasi. Jika Anda sudah makan makanan seimbang dengan banyak makanan yang sehat dan bernilai gizi tinggi, maka Anda tidak perlu khawatir tentang asupan MSG.
AVOID CANCER WITH A HEALTHY LIFESTYLE!!!
Sumber gambar : suara.com
PANIK KARENA COVID-19 CEGAH DENGAN MINDFUL LIVING
Waspada Covid-19 sudah didekat keluarga dan lingkungan sekitar kita bukan, dalam pikiran kita sudah berselancar bagaimana ini kalau menimpa kita dan keluarga. Setiap hari diberikan berita pasien Covid-19 semakin mencapai rekor tertinggi. Data terakhir 14 Januari 2021 kasus positif bertambah 11.557 menjadi 869.600. Penambahan kasus di Jawa Tengah sendiri 1.497 dimana masih menduduki ranking ketiga setelah DKI Jakarta dan Jawa Barat.
Kondisi ini membuat kepanikan masyarakat, bagi masyarakat yang kena tracking karena kontak erat dengan pasien yang sudah terkonfirmasi Covid-19 harus mempersiapkan fisik dan psikisnya saat menjalani pemeriksaan baik test rapid antigen atau antibody. Gejala yang ditimbulkan setiap individu yang akan menjalan ipemeriksaan bisa mengalami tiba-tiba pusing, sakit tenggorokan, badan tidak enak bahkan bolak-balik BAK serta bisa juga perut terasa tidak enak.
Kondisi tersebut sudah menggambarkan kalau kita mengalami kondisi panik dan kecemasan sedang, kalau masalah ini tidak segera kita atasi akibat fatal yang terjadi kita bisa menjadi depresi. Belum lagi setelah pemeriksaan hasilnya reaktif berarti terpapar Covid-19, hal pertama apa yang harus dilakukan, bagaimana keluarga dan lingkungan sekitar menerima kondisi kita.
Bagaimana pengelolaan panik yang harus dilakukan ?????
Persiapkan mental kita apapun hasilnya, Langkah-langkah apa yang akan dilakukan, Ketika cemas mulai datang ambil sikap duduk siap dan Tarik nafas Panjang keluarkan secara perlahan dan percaya dengan kekuatan Tuhan yang akan memberikan perlindungan. Selanjutnya yakin bahwa reaksi kita pertama terhadap hasil yang tidak sesuai harapan akan kecewa tetapi yakin dengan kekuatan do'a kita kan baik-baik saja dan percaya yang lebih kita lakukan saat ini adalah meningkatkan imunitas kita supaya keluarga dan lingkungan sekitar kita tetap aman terjaga.
Apa itu MINDFUL LIVING ?????
Suatu rangkaian kegiatan yang bisa kita lakukan untuk mengatasi panik yang bisa terjadi pada keluarga dan lingkungan sekitar kita.
Langkah pertama adalah melakukan meditasi Ketika beribadah sesuai dengan agama dan kepercayaannya misalnya saat melaksanakan sholat jangan lupa berzikir selalu meminta ampunan dan pertolongan Allah SWT.
Langkah kedua adalah meditasi nafas atau detak jantung dengan posisi duduk atau rileks setiap Tarik nafas dalam selalu meyebutkan nama Allah SWT
Langkah ketiga adalah hadir fisik dan batin selalu focus apa yang sedang dilakukan saat ini, hadir sepenuhnya dan rileks
Beberapa Langkah tersebut akan membangun emosi positif kita sehingga akan meningkatkan imunitas kita sehingga akan mempengaruhi Kesehatan.
Yang tidakkalah penting dalam tulisan terakhir kita juga harus bereaksi positif dengan cara stop berita hoak, cari berita terpercaya, sebarkan berita positif dan terakhir berikan pil semangat setiap hari secara lisan dalam tubuh kita dan keluarga serta lingkungan sekitar kita
Salam sehat salam Tangguh buat kita semua lawan Corona dengan Bahagia….
EMPON – EMPON PENANGKAL CORONA
Oleh Ns. Danny Putri Sulistyaningrum, M.Kep., Sp.Kep.MB (Dosen STIKES Telogorejo Semarang)
Dewasa ini masyarakat Indonesia diharuskan untuk mampu hidup berdampingan dengan covid 19. Masyarakat diharapkan mampu melakukan rutinitas hariannya dengan menerapkan adaptasi baru melalui protokol kesehatan yang telah ditetapkan oleh pemerintah. Protokol kesehatan yang terdiri dari 7M, diantaranya Memakai masker, Mencuci tangan pakai sabun, Menjaga jarak, Makan bergizi, Mengolahragakan diri, Mengistirahatkan diri, danMendoakan diri. Selain 7M, masyarakat juga dianjurkan untuk mengkonsumsi vitamin maupun suplemen herbal, misalnya empon – empon.
Empon – empon adalah jenis – jenis tumbuhan yang dapat digunakan sebagai jamu tradisional. Empon – empon yang paling mudah ditemukan diantaranya jahe, kunyit, kencur, sereh, dan temulawak. Adapun manfaatnya sebagai berikut :
Jahe, khususnya jare merah memiliki kandungan senyawa antioksidan tinggi yang mampu mencegah radikal bebas.Selain itu, kandungan anti inflamasi pada jahe merah mampu meningkatkan sistem kekebalan tubuh dari virus dan bakteri pada masa pandemi covid 19.
Kunyit memiliki manfaat sebagai antioksidan, antiinflamasi, dan antimikroba. Selain itu kandungan khas pada kunyit adalah adanya imunomodulator yang berpotensi meningkatkan imunitas tubuh dalam menangkal virus corona
Kencur mengandung antioksidan dan antiinflamasi sama halnya dengan jahe dan kunyit dalam meningkatkan kekebalan tubuh seseorang. Namun kencur ini ternyata juga mengandung vitamin C yang berguna dalam menangkal virus.
Sereh merupakan salah satu jenis empon – empon yang berbentuk seperti rumput. Namun siapa yang menyangka bahwa tanaman ini mampu menguatkan sistem kekebalan tubuh karena memiliki efek anti inflamasi, mampu menjaga sistem pencernaan dengan baik, serta mampu membunuh sel kanker.
Temulawak merupakan tanaman tradisional yang paling sering digunakan sebagai jamu. Kandungan kurkumin pada temulawak berfungsi sebagai anti virus, anti bakteri, dan anti peradangan sehingga sangat cocok dijadikan jamu di masa pandemi seperti ini.
Cara membuat minuman tradisional menggunakan empon – empon diatas sangatlah mudah. Empon – empon tinggal ditumbuk, rebus bersama air hingga mendidih, kemudian disaring. Sajikan dalam keadaan hangat, bisa tambahkan gula aren atau gula merah sesuai selera. SELAMAT MENCOBA dan TERAPKAN 7M !
Oleh: Ns. Suksi Riani., M.Kep
Dosen Prodi S1 Keperawatan Stikes Telogorejo
Pandemi Covid-19 sudah melanda dunia termasuk Indonesia selama 1 tahun lebih sejak akhir tahun 2019 yang terjadi pertama kali di Wuhan China. Pandemi ini mempengaruhi semua aspek kehidupan seperti kesehatan, ekonomi, sosial, pendidikan, transportasi, pariwisata, industri, hukum, keagamaan, dan lain-lain. Perubahan kondisi masyarakat di masa pandemi membutuhkan upaya penyesuaian diri untuk tetap bertahan. Kemampuan seseorang untuk bertahan dalam kondisi sulit, berusaha, dan beradaptasi untuk bangkit menjadi tangguh dan kreatif mencari solusi disebut dengan resiliensi.
Pemerintah Indonesia dalam menghadapi efek pandemi tersebut mengeluarkan peraturan perundang-undangan seperti Peraturan Menteri Kesehatan RI Nomor 9 Tahun 2020 tentang pedoman pembatasan sosial berskala besar dan sektor pendidikan mengeluarkan Surat Edaran Nomor 2 Tahun 2020 tentang pencegahan dan penanganan covid-19 di lingkungan Kemendikbud. Kondisi ini membuat pemerintah mengeluarkan kebijakan untuk memakai masker, mencuci tangan, menjaga jarak, bekerja dari rumah, beribadah dari rumah dan belajar dari rumah.
Belajar dari rumah dengan sistem daring dapat dipilih sebagai solusi proses pembelajaran di masa pandemi Covid-19. Lecture harus kerja keras untuk menyusun strategi dalam proses pembelajaran untuk meningkatkan ketahanan emosional (resiliensi) students karena mahasiswa yang memiliki resiliensi tinggi akan optimis dan mampu bertahan dalam situasi yang sulit.
Pandemi Covid-19 masih belum dapat dipastikan kapan berakhir, sehingga mahasiswa juga akan mengalami stress karena kondisi ini. Semakin lama students akan kehilangan pertahanan dengan mengeluh banyak tugas, kuota mahal, koneksi internet tidak stabil bahkan students sudah mulai bosan berada di rumah. Sehingga kemampuan resiliensi students akan menurun karena kondisi tersebut. Resiliensi mencakup regulasi emosi, impulse control, optimisme, causal analisys, reaching out, self efficacy dan empati.
Peran lecture sangat penting untuk meningkatkan resiliensi students dengan menerapkan beberapa metode seperti konseling rational emotive bahaviour yang dirancang untuk membantu meminimalisir gangguan emosi dan perilaku merusak diri serta mendorong untuk hidup lebih bermakna dan bahagia. Selain itu terapi yang berfokus pada solusi (brief solution focused) lebih efektif untuk meningkatkan resiliensi mahasiswa dengan pengalaman yang pernah mengalami kegagalan akademik.
Program konseling rational emotive bahaviour dan brief solution focused dalam institusi pendidikan merupakan intervensi untuk membantu mahasiswa agar mampu bertahan dalam situasi yang sulit seperti pandemi covid-19. Selain itu institusi akademik menyediakan lingkungan belajar yang positif, menerapkan metode pembelajaran yang sesuai, memfasilitasi keberhasilan akademik dan sosial mahasiswa. Oleh karena itu peran institusi pendidikan sangat penting dalam meningkatkan resiliensi mahasiswa di masa pandemi. (*)
Artikel ini telah tayang di TribunJateng.com dengan judul Peran Lecture Meningkatkan Resiliensi Students di Masa Pandemi Covid-19, https://jateng.tribunnews.com/2021/05/04/peran-lecture-meningkatkan-resiliensi-students-di-masa-pandemi-covid-19.
Editor: abduh imanulhaq
KECEPATAN DALAM KESEHATAN = “TIME IS BRAIN†F.A.S.T
Oleh Ns. Sri Puguh K, M.Kep.,Sp.MB , Dosen STIKES Telogorejo Semarang
Kata fast atau cepat tidak hanya digunakan bagi para pembalap, namun dalam dunia kesehatan juga diperlukan. Kecepatan dalam bidang kesehatan menitikberatkan pada pengenalan tanda-gejala dan penanganan. Selain cepat, tepat dan cermat perlu dipadu-padankan dalam mengenali masalah kesehatan karena berpacu dengan waktu untuk menyelamatkan jiwa seseorang. Hal ini tidak hanya tugas dari petugas kesehatan atau tim medis namun tugas semua orang demi menolong orang lain khususnya keluarga dan orang terdekat.
Salah satu penyakit yang membutuhkan waktu yang cepat dalam mengenali tanda gejala serta penanganannya yaitu stroke. Menurut American Heart Association (2007); Cool & Clemen (2012) stroke adalah suatu gangguan fungsi sistem saraf yang mendadak karena adanya penyumbatan atau pecahnya pembuluh darah di otak dengan tanda gejala stroke yang paling khas adalah kelumpuhan anggota gerak, wajah merot, dankesulitan bicara. Biasanya penderita stroke sudah dalam keadaan terjatuh atau tidak sadarkan diri baik di kamar tidur, kamar mandi maupun sedang beraktifitas.
Stroke dapat menyerang siapa saja, dimana saja dan kapan saja serta tidak memandang usia, jenis kelamin maupun status ekonomi. Apabila tidak ditangani, stroke dapat berakhir pada kelumpuhan menetap bahkan hingga kematian.
Oleh sebab itu, pengenalan tanda dan gejala serta penanganan stroke dibutuhkan kecepatan karena semakin cepat penanganan, maka semakin cepat pemulihan. Beberapa rumah sakit mencatat bahwa sebagian penderita stroke baru dibawa ke RS telah memasuki 48-72 jam setelah serangan. Padahal menurut Lestari (2007) penanganan stroke harus kurang dari 3 jam setelah serangan agar pemulihannya cepat dan optimal.
Untuk menghindari terjadinya kecacatan bahkan kematian akibat stroke, diperlukan penilaian suatu metode yang sangat mudah digunakan untuk menilai tanda dan gejala stroke yaitu menggunakan FAST (yang berarti cepat). FAST adalah akronim dari Face (Wajah), Arm (Tangan atau lengan), Speech (Bicara) dan Time (Waktu).
F huruf pertama dari FAST memiliki arti face yang dalam bahasa Indonesia adalah wajah. Wajah orang yang terserang stroke perlu diperhatikan, kita meminta penderita tersenyum dan perhatikan apakah wajahnya berubah menjadi tidak simetris atau “jatuh†ke satu sisi atau “perot/merotâ€Â.
Huruf kedua dari FAST adalah Ayang artinya Arm atau lengan dimana penderita stroke akan sulit mengangkat kedua tangan atau kelemahan salah satu maupun kedua anggota gerak. Kita meminta penderita untuk mengangkat kedua tangannya ke atas dan amati, apakah satu tangan jatuh atau tidak terangkat sepenuhnya. Hal ini dapat digunakan pula untuk menilai kedua kaki dengan cara yang sama.
Selanjutnya yaitu huruf S atau Speech yang berarti bicara, pada penderita stroke biasanya mengalami kesulitan berbicara. Kita meminta penderita untuk mengucapkan nama atau meminta menyebutkan kembali beberapa kata yang kita ucapkan. Perhatikan apakah penderita mampu berbicara seperti biasanya atau kesulitan untuk mengulangi.
Yang terakhir adalah T yang dimaksud adalah Time atau Waktu dimana dibutuhkan respons cepat untuk memanggil bantuan medis (118 atau 119) atau membawa penderita ke rumah sakit terdekat. Sehingga minimal kita perlu mengetahui nomor darurat rumah sakit terdekat, sebagai contoh daerah Semarang yang dekat dengan SMC RS Telogorejo dapat menghubungi nomor (024) 86466000. Semakin cepat memperoleh pertolongan, maka akan semakin banyak sel-sel otak yang diselamatkan sehingga tidak berujung pada kecacatan atau kematian.
FAST ini telah diuji dengan beberapa penelitiandan sudah terbukti efektif, sangat mudah digunakan serta mudah diingat khususnya bagi orang yang bukan di bidang kesehatan untuk mendeteksi stroke secara cepat. FAST dapat digunakan lingkup keluarga maupun masyarakat. Apabila kita mengenali salah satu tanda tersebut, kita harus curiga bahwa orang tersebut terkena stroke. Kita tidak boleh ragu untuk segera membawanya ke rumah sakit karena “time is brainâ€Â. Kecepatanlah yang menentukan sel-sel otak dapat pulih kembali.
