News
Tips Perawatan tali pusat bayi baru lahir
Disusun Oleh : dr. Vira Ari Nindia Dewi, Sp.A ( Dosen S1 Kebidanan Unibersitas Telogorejo Semarang )
Perawatan tali pusat pada bayi baru lahir merupakan bagian penting dalam menjaga kesehatan dan mencegah terjadinya infeksi. Tali pusat yang belum lepas adalah area yang sensitif sehingga memerlukan penanganan yang tepat dan higienis. Prinsip utama dalam perawatan tali pusat adalah menjaga agar tetap bersih dan kering hingga akhirnya mengering dan terlepas dengan sendirinya.Ibu atau pengasuh harus selalu mencuci tangan dengan sabun sebelum dan sesudah menyentuh tali pusat. Hal ini bertujuan untuk mencegah masuknya kuman yang dapat menyebabkan infeksi. Tali pusat tidak perlu diberikan ramuan atau bahan tradisional, cukup dibersihkan jika kotor menggunakan air bersih dan dikeringkan dengan kain atau kasa steril.
Selain itu, penting untuk menjaga agar tali pusat tetap kering dengan cara tidak menutupinya terlalu rapat. Popok bayi sebaiknya dilipat di bawah tali pusat agar tidak terkena urin atau feses. Jika tali pusat terkena kotoran, segera bersihkan dan keringkan dengan lembut.
Bayi tetap boleh dimandikan, namun perlu diperhatikan agar tali pusat segera dikeringkan setelah terkena air. Hindari penggunaan alkohol atau antiseptik tanpa anjuran tenaga kesehatan karena dapat memperlambat proses pengeringan.
Orang tua juga perlu mengenali tanda-tanda infeksi pada tali pusat, seperti kemerahan di sekitar pangkal tali pusat, bau tidak sedap, keluar cairan bernanah, atau bayi tampak demam dan rewel. Jika ditemukan tanda-tanda tersebut, segera bawa bayi ke fasilitas kesehatan untuk mendapatkan penanganan yang tepat.
Dengan perawatan yang benar, tali pusat biasanya akan mengering dan lepas dengan sendirinya dalam waktu sekitar 5–14 hari setelah kelahiran. Perawatan yang baik akan membantu mencegah infeksi dan mendukung kesehatan bayi secara keseluruhan.
Cara Tepat Merawat Tali Pusat Bayi Baru Lahir
Perawatan tali pusat bayi baru lahir tidak boleh dilakukan sembarangan. Ada cara-cara tertentu agar anggota tubuh bayi yang satu ini tetap bersih dan kering. Cara-cara tersebut meliputi:
Menjaga tali pusat tetap bersih
Sebelum melakukan perawatan tali pusat bayi, jangan lupa untuk mencuci tangan Anda terlebih dahulu. Tali pusat tidak perlu dibersihkan dengan alkohol. Cukup bersihkan dengan air, jika memang tali pusat kotor. Tali pusat juga harus dikeringkan menggunakan kain yang lembut atau dengan mengipasinya hingga kering.
Penelitian terbaru menyebutkan bahwa tali pusat kemungkinan lebih cepat sembuh jika dibiarkan saja. Membasuhnya dengan alkohol, sabun, atau cairan antiseptik justru dapat mengiritasi kulit di sekitar tali pusat dan membuatnya sembuh lebih lama. Hindari juga memberikan minyak, bedak, jamu, atau obat herba tertentu di sekitar tali pusat
Menjaga tali pusat tetap kering
Biarkan tali pusat dalam kondisi terbuka tanpa ditutup dengan kasa kering maupun tertutup popok. Saat memakaikan popok bayi, usahakan tali pusat tidak tertutup popok. Hal ini bertujuan agar tali pusat tidak terkena air seni dan tinja bayi yang dapat menyebabkan infeksi.
Bayi juga perlu mengenakan pakaian berbahan lembut dan menyerap keringat, sehingga sirkulasi udara berjalan dengan baik di kulitnya. Hindari juga memakaikan baju model bodysuit (yang menutupi seluruh tubuh) pada Si Kecil.
Biarkan tali pusat terlepas secara alami
Membiarkan tali pusat terlepas dengan sendirinya adalah salah satu cara perawatan tali pusat yang benar. Jangan memaksa melepas tali pusat dengan menariknya karena dapat menyebabkan perdarahan dan infeksi.
Selama tali pusat masih menempel, mandikan bayi dengan cara membasuh badannya menggunakan washlap atau spons mandi. Hindari merendam bayi di dalam bak mandi hingga tali pusat puput.
Hal yang Perlu Diperhatikan Selama Perawatan Tali Pusat Bayi
Anda tak perlu khawatir jika melihat perubahan warna pada tali pusat bayi selama proses penyembuhannya.
Di masa awal setelah bayi dilahirkan, tali pusat biasanya berwarna kekuningan dan mengkilap. Seiring waktu, tali pusat akan mengering dan menyusut sampai akhirnya puput. Biasanya warna tali pusat akan menjadi cokelat, abu-abu, keunguan, kebiruan, lalu menjadi hitam.
Ketika tali pusar puput, mungkin akan ada sedikit darah di pusar Si Kecil. Jangan khawatir, hal ini juga normal. Selain itu, terkadang ada cairan bening atau kuning dan sisa jaringan di pusar yang disebut umbilical granulomas. Cairan ini dapat hilang dengan sendirinya.
Kondisi yang perlu diwaspadai dan perlu penanganan dokter adalah jika tali pusar bayi menunjukan tanda-tanda infeksi, seperti:
- Nanah di tali pusar
- Bayi demam
- Kulit di sekitar area tali pusat bengkak dan berwarna kemerahan
- Tali pusat berwarna kekuningan atau berbau tidak sedap
- Tali pusat mengalami perdarahan yang banyak dan terus-menerus
- Bayi menangis setiap kali tali pusat atau kulit di sekitarnya tersentuh
Perawatan tali pusat bayi baru lahir umumnya tidak terlalu sulit, hanya saja diperlukan kesabaran dalam merawatnya sampai tali pusat benar-benar puput. Jangan pernah memaksa melepasnya meski sudah tampak sembuh. Hal yang paling penting adalah merawat tali pusat bayi dengan benar, sehingga pelepasan tali pusat dan penyembuhannya bisa lebih cepat.
Namun, Si Kecil perlu diperiksa ke dokter anak jika tali pusatnya belum puput setelah 3–6 minggu. Pasalnya, hal ini bisa jadi pertanda adanya masalah kesehatan, seperti infeksi atau gangguan sistem kekebalan tubuh.
Kesimpulannya, perawatan tali pusat bayi baru lahir harus dilakukan dengan prinsip kebersihan dan menjaga kondisi tetap kering agar terhindar dari risiko infeksi. Langkah-langkah sederhana seperti mencuci tangan sebelum perawatan, menjaga tali pusat tetap bersih dan tidak lembap, serta menghindari penggunaan bahan atau ramuan tanpa anjuran tenaga kesehatan merupakan kunci utama dalam perawatan yang benar.
Selain itu, penting bagi orang tua untuk selalu memantau kondisi tali pusat dan mengenali tanda-tanda infeksi sejak dini agar dapat segera ditangani. Dengan perawatan yang tepat dan konsisten, tali pusat akan mengering dan lepas secara alami, sehingga kesehatan bayi tetap terjaga dengan optimal.
Anda tertarik lebih jauh mengenai pengetahuan di atas? Cukup satu langkah, klik pmb.universitastelogorejo.ac.id, daftarkan diri anda di jurusan Kebidanan Universitas Telogorejo Semarang, disana akan diajarkan ilmu kebidanan secara lengkap disertai praktik laboratorium dan praktik klinik yang detail, sehingga nantinya dapat mengembangkan jenis-jenis jasa yang berkaitan dengan kebidanan, dengan begitu masyarakat dengan mudah terfasilitasi dengan baik.
Universitas Telogorejo Semarang berkomitmen mendidik mahasiswa nya untuk menjadi tenaga kesehatan yang profesional dan berkarakter, sehingga dapat bersaing dan menyesuaikan diri dengan perkembangan yang terjadi di masyarakat.
Ditunjang dengan gedung megah yang terletak di jalan Arteri Yos Sudarso/ Puri Anjasmoro dan peralatan laboratorium yang lengkap, dosen yang berkualitas serta kurikulum pendidikan terkini, menjadikan bidan-bidan lulusan Universitas Telogorejo Semarang dapat mudah bersaing menjadi enterpreneur yang handal dan berkembang.
Mudik Lebaran dan Ancaman Penularan Campak pada Anak
Ns. Siti Lestari, M.Kep., Sp.Kep.An ( Dosen S-1 Keperawatan Universitas Telogorejo Semarang )
Menjelang musim mudik dan pertemuan keluarga pada perayaan Lebaran, kewaspadaan terhadap penyakit menular pada anak perlu kembali ditingkatkan. Mobilitas masyarakat yang meningkat selama periode tersebut berpotensi mempercepat penyebaran berbagai penyakit infeksi, salah satunya campak. Hingga saat ini, infeksi virus campak masih menjadi persoalan kesehatan anak di berbagai wilayah Indonesia dan bahkan menunjukkan kecenderungan peningkatan kasus dalam satu tahun terakhir.
Situasi epidemiologi campak di Indonesia menunjukkan perkembangan yang patut menjadi perhatian serius. Berdasarkan laporan Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, sepanjang tahun 2025 tercatat sekitar 63.769 kasus suspek campak, dengan 11.094 kasus terkonfirmasi melalui pemeriksaan laboratorium serta 69 kasus kematian. Memasuki awal tahun 2026, tren peningkatan kasus masih terus terjadi. Hingga minggu ke-7 tahun 2026 dilaporkan 8.224 kasus suspek campak, 572 kasus terkonfirmasi, serta 4 kematian, disertai penetapan 21 kejadian luar biasa (KLB) di berbagai daerah.
Data surveilans nasional menunjukkan bahwa hingga minggu ke-8 tahun 2026 jumlah kasus meningkat menjadi sekitar 10.453 kasus suspek dengan sedikitnya 6 kematian. Angka tersebut menandakan bahwa penularan campak masih aktif terjadi di masyarakat dan berpotensi meningkat apabila upaya pencegahan tidak segera diperkuat. Perkembangan kasus pada anak bahkan masih terus bertambah pada awal Maret 2026.
Peningkatan kasus ini tidak dapat dilepaskan dari menurunnya cakupan imunisasi campak-rubela dalam beberapa tahun terakhir. Ketika jumlah anak yang belum memperoleh kekebalan semakin besar, virus campak yang memiliki daya tular sangat tinggi akan dengan mudah menemukan kelompok anak yang rentan terinfeksi.
Dari Ruang Rawat Anak: Gambaran Kasus di Rumah Sakit Rujukan
Peningkatan kasus campak juga tercermin dalam praktik pelayanan kesehatan anak di berbagai rumah sakit rujukan. Di Rumah Sakit Umum Pusat Nasional Dr. Cipto Mangunkusumo, kasus campak pada anak masih rutin ditemukan baik pada layanan rawat jalan maupun rawat inap.
Fenomena serupa juga dilaporkan di RSUP Dr. Kariadi, RSUP Dr. Sardjito, serta RSUD Dr. Soetomo. Dalam praktik pelayanan pediatri di rumah sakit rujukan tersebut, sebagian besar anak yang dirawat karena campak diketahui memiliki riwayat imunisasi yang tidak lengkap atau bahkan belum pernah menerima vaksin campak.
Tidak sedikit anak yang datang ke rumah sakit dalam kondisi telah mengalami komplikasi. Komplikasi yang paling sering ditemukan adalah pneumonia atau radang paru, yang menjadi alasan utama anak memerlukan perawatan di rumah sakit. Selain itu, beberapa anak juga mengalami komplikasi lain seperti diare berat, dehidrasi, serta gangguan nutrisi.
Temuan klinis tersebut menunjukkan bahwa campak bukan sekadar penyakit ringan pada anak. Dalam kondisi tertentu, penyakit ini dapat berkembang menjadi infeksi serius yang membutuhkan perawatan intensif di rumah sakit.
Mengenali Tanda dan Gejala Campak pada Anak
Campak merupakan penyakit infeksi virus yang sangat menular dan menyebar melalui percikan droplet ketika penderita batuk, bersin, atau berbicara. Tingkat penularannya sangat tinggi; satu anak yang terinfeksi dapat menularkan penyakit kepada sekitar 8–12 anak lain yang belum memiliki kekebalan.
Gejala campak umumnya muncul 7–14 hari setelah anak terpapar virus. Pada tahap awal, keluhan sering menyerupai infeksi saluran napas biasa sehingga orang tua kerap terlambat mengenalinya.
Beberapa tanda dan gejala yang perlu diwaspadai antara lain:
- demam tinggi hingga lebih dari 39 °C
- batuk dan pilek yang menetap
- mata merah dan berair
- penurunan nafsu makan serta anak tampak lemas
- munculnya bintik putih kecil di dalam mulut yang dikenal sebagai Koplik spot
- Setelah beberapa hari demam, biasanya muncul ruam kemerahan pada kulit yang dimulai dari wajah dan belakang telinga, kemudian menyebar ke leher, badan, hingga seluruh tubuh. Ruam tersebut merupakan tanda khas campak dan umumnya masih disertai demam yang cukup tinggi.
Penanganan Awal Campak pada Anak
Hingga saat ini belum tersedia terapi antivirus khusus untuk menyembuhkan campak. Oleh karena itu, penanganan penyakit ini bersifat suportif, yaitu membantu tubuh anak melawan infeksi sekaligus mencegah terjadinya komplikasi.
Pada kasus campak ringan, anak umumnya dapat dirawat di rumah dengan beberapa langkah sederhana, antara lain:
- memastikan anak memperoleh istirahat yang cukup
- memenuhi kebutuhan cairan untuk mencegah dehidrasi
- memberikan makanan bergizi guna menunjang proses pemulihan
- menurunkan demam menggunakan obat penurun panas sesuai anjuran tenaga kesehatan
Dalam praktik pelayanan kesehatan anak, pemberian vitamin A juga sering dilakukan karena terbukti dapat membantu menurunkan risiko komplikasi pada anak dengan campak. Anak yang sedang mengalami campak sebaiknya tetap beristirahat di rumah dan tidak melakukan kontak dengan anak lain hingga sekitar empat hari setelah ruam muncul, guna mencegah penularan.
Peran Keluarga dalam Mencegah Komplikasi
Peran keluarga sangat penting dalam proses pemulihan anak yang mengalami campak. Orang tua perlu memastikan anak mendapatkan perawatan yang tepat, menjaga kebersihan lingkungan rumah, serta memantau perkembangan gejala setiap hari.
Perlu diketahui bahwa infeksi campak dapat menurunkan daya tahan tubuh anak selama beberapa minggu bahkan hingga beberapa bulan setelah sembuh. Pada masa tersebut, anak menjadi lebih rentan terhadap infeksi lain sehingga pemenuhan nutrisi yang baik serta pemantauan kondisi kesehatan tetap diperlukan.
Orang tua juga perlu segera membawa anak ke fasilitas kesehatan apabila muncul tanda bahaya seperti sesak napas, kejang, anak tidak mau minum atau makan, atau demam tinggi yang tidak kunjung turun.
Menjelang Lebaran 2026: Waspada Penularan Saat Mudik
Perayaan Lebaran selalu diikuti dengan meningkatnya mobilitas masyarakat melalui tradisi mudik dan pertemuan keluarga besar. Perjalanan jarak jauh, kepadatan di transportasi umum, serta interaksi antaranggota keluarga dapat meningkatkan risiko penularan penyakit infeksi, termasuk campak.
Oleh karena itu, kewaspadaan terhadap penyakit ini perlu ditingkatkan menjelang musim mudik. Orang tua perlu memastikan anak telah memperoleh imunisasi campak secara lengkap sebelum melakukan perjalanan, menjaga kebersihan tangan, serta menghindari kontak dengan individu yang sedang sakit.
Pemerintah melalui Kementerian Kesehatan Republik Indonesia juga menghimbau pelaksanaan Outbreak Response Immunization (ORI) campak di wilayah yang memiliki risiko tinggi. Dalam program tersebut, anak usia 9 hingga 59 bulan dianjurkan memperoleh vaksin campak booster guna meningkatkan kekebalan dan memutus rantai penularan di masyarakat.
Apabila anak mengalami demam yang disertai ruam kemerahan setelah perjalanan atau setelah menghadiri pertemuan keluarga, orang tua sebaiknya segera berkonsultasi dengan tenaga kesehatan untuk mendapatkan pemeriksaan lebih lanjut.
Menjelang Lebaran 2026, upaya pencegahan menjadi semakin penting. Melalui imunisasi lengkap, kewaspadaan orang tua terhadap gejala awal penyakit, serta penerapan perilaku hidup bersih dan sehat, risiko penularan campak dapat ditekan. Kolaborasi antara keluarga, tenaga kesehatan, dan pemerintah menjadi kunci penting untuk melindungi anak-anak Indonesia dari penyakit yang sebenarnya dapat dicegah ini.
Universitas Telogorejo Semarang Jajaki Kerja Sama dengan College of Nursing Kaohsiung Medical University Taiwan
Pertemuan yang berlangsung dalam suasana hangat dan produktif tersebut membahas berbagai peluang kerja sama yang dapat dikembangkan antara kedua institusi. Beberapa bentuk kolaborasi yang menjadi fokus pembahasan antara lain pertukaran mahasiswa dan dosen, kolaborasi penelitian, pengembangan kurikulum, serta kegiatan akademik internasional di bidang keperawatan.
Universitas Telogorejo Semarang memandang kerja sama internasional sebagai langkah strategis untuk memperluas wawasan akademik serta meningkatkan kualitas lulusan agar mampu bersaing di tingkat global. Dengan adanya kolaborasi ini, mahasiswa diharapkan dapat memperoleh pengalaman belajar yang lebih luas, termasuk kesempatan untuk terlibat dalam program akademik internasional.
College of Nursing, Kaohsiung Medical University sendiri merupakan salah satu institusi pendidikan kesehatan terkemuka di Taiwan yang memiliki reputasi kuat dalam pengembangan pendidikan keperawatan serta riset kesehatan. Oleh karena itu, penjajakan kerja sama ini diharapkan dapat membuka peluang kolaborasi yang berkelanjutan dan memberikan manfaat bagi kedua institusi.
Selain memperkuat kerja sama akademik, kolaborasi ini juga diharapkan mampu mendorong pengembangan inovasi di bidang kesehatan, khususnya dalam pendidikan dan praktik keperawatan yang semakin berkembang seiring dengan kemajuan teknologi dan kebutuhan layanan kesehatan global.
Sebagai perguruan tinggi yang fokus pada pengembangan pendidikan kesehatan, Universitas Telogorejo Semarang terus berupaya membangun jaringan kerja sama dengan berbagai institusi pendidikan, baik di dalam maupun luar negeri. Langkah ini merupakan bagian dari upaya universitas dalam meningkatkan kualitas pendidikan serta mencetak lulusan yang profesional, kompeten, dan siap menghadapi tantangan dunia kerja.
Melalui penjajakan kerja sama dengan College of Nursing Kaohsiung Medical University Taiwan ini, Universitas Telogorejo Semarang berharap dapat memperkuat kolaborasi internasional sekaligus memberikan pengalaman akademik global bagi mahasiswa dan dosen.

Universitas Telogorejo Semarang Jajaki Kolaborasi Internasional dengan College of Pharmacy Kaohsiung Medical University Taiwan
Pertemuan ini menjadi momentum penting bagi kedua institusi untuk membahas berbagai peluang kerja sama yang dapat dikembangkan di masa mendatang. Beberapa bidang yang menjadi fokus dalam penjajakan kolaborasi tersebut antara lain pertukaran mahasiswa dan dosen, kolaborasi penelitian, pengembangan kurikulum, serta kegiatan akademik internasional.
Universitas Telogorejo Semarang memandang kerja sama internasional sebagai salah satu upaya penting dalam meningkatkan kualitas pendidikan serta memperluas wawasan global bagi mahasiswa dan dosen. Dengan adanya jejaring akademik global, mahasiswa diharapkan dapat memperoleh pengalaman belajar yang lebih luas serta meningkatkan kompetensi yang relevan dengan kebutuhan dunia kerja internasional.
College of Pharmacy, Kaohsiung Medical University sendiri dikenal sebagai salah satu institusi pendidikan tinggi di Taiwan yang memiliki reputasi kuat dalam pengembangan pendidikan farmasi, riset kesehatan, dan inovasi di bidang ilmu farmasi.
Melalui penjajakan kerja sama ini, Universitas Telogorejo Semarang berharap dapat membangun kolaborasi yang berkelanjutan dalam pengembangan pendidikan dan penelitian, sehingga mampu memberikan kontribusi positif bagi kemajuan ilmu pengetahuan dan peningkatan kualitas lulusan.
Langkah ini juga sejalan dengan komitmen Universitas Telogorejo Semarang dalam mendukung program internasionalisasi perguruan tinggi, sekaligus mempersiapkan mahasiswa agar mampu bersaing di tingkat global.
Ke depan, Universitas Telogorejo Semarang akan terus membuka peluang kolaborasi dengan berbagai institusi pendidikan di dalam maupun luar negeri guna memperkuat kualitas akademik serta memperluas jaringan kerja sama global.

Universitas Telogorejo Semarang Jalin Kerja Sama Internasional dengan Wenzao Ursuline University Taiwan
Kerja sama tersebut mencakup berbagai bentuk kolaborasi strategis di bidang akademik, di antaranya pertukaran mahasiswa dan dosen, pengembangan penelitian bersama, hingga peluang penguatan kapasitas akademik dalam skala internasional.
Rektor Universitas Telogorejo Semarang menyampaikan bahwa kerja sama ini merupakan langkah penting dalam menghadirkan pengalaman pembelajaran global bagi sivitas akademika. Dengan adanya kolaborasi internasional ini, mahasiswa diharapkan memiliki kesempatan lebih luas untuk mengembangkan wawasan, keterampilan, serta pengalaman lintas budaya.
Wenzao Ursuline University sendiri dikenal sebagai salah satu perguruan tinggi di Taiwan yang memiliki reputasi kuat dalam pengembangan pendidikan internasional dan kolaborasi lintas negara.
Melalui kerja sama ini, Universitas Telogorejo Semarang menegaskan komitmennya dalam mendukung program internasionalisasi perguruan tinggi serta meningkatkan daya saing lulusan di tingkat global. Kehadiran kolaborasi ini juga diharapkan mampu memberikan pengalaman akademik yang lebih luas bagi mahasiswa dalam menghadapi tantangan dunia kerja yang semakin kompetitif.
Sebagai institusi pendidikan tinggi yang terus berkembang, Universitas Telogorejo Semarang aktif membuka peluang kerja sama dengan berbagai institusi pendidikan, baik di dalam maupun luar negeri, guna meningkatkan mutu pendidikan serta memperluas jaringan akademik global.
Dengan adanya kolaborasi ini, Universitas Telogorejo Semarang semakin mempertegas posisinya sebagai perguruan tinggi yang berkomitmen mencetak lulusan berkualitas, berdaya saing, dan siap menghadapi tantangan global.

Inovasi Model Bisnis: Kompas Strategis bagi UMKM di Arus Ekonomi Digital
Oleh: Ahmad Hafiyyan Shibghatalloh, S.E, M.M ( Dosen S-1 Kewirausahaan
Universitas Telogorejo Semarang )
Di tengah deru digitalisasi yang kian kencang, banyak pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) merasa bahwa cukup dengan memiliki akun media sosial atau terdaftar di pasar daring, mereka telah berhasil melakukan transformasi digital. Namun, realitas yang sering kali tersembunyi di balik layar gawai adalah fenomena stagnasi bisnis yang tetap terjadi meski infrastruktur teknologi telah tersedia. Masalah mendasarnya bukanlah pada ketidaktahuan menggunakan alat digital, melainkan pada ketidakmampuan untuk merombak arsitektur nilai dalam bisnis itu sendiri. Inilah titik kruisial di mana inovasi model bisnis menjadi penentu apakah sebuah usaha akan sekadar bertahan hidup atau justru melesat naik kelas.
Dalam perspektif akademik dan praktis, inovasi model bisnis merujuk pada cara sebuah organisasi menciptakan, memberikan, dan menangkap nilai tambah bagi konsumennya. Berbeda dengan inovasi produk yang hanya fokus pada barang fisik, inovasi model bisnis menuntut perubahan cara berpikir mengenai bagaimana seluruh elemen dalam bisnis saling terhubung—mulai dari kemitraan kunci hingga cara menjaring pendapatan. Bagi UMKM, tantangan terbesar bukanlah keterbatasan modal finansial, melainkan sering kali terjebak dalam model bisnis konvensional yang kaku. Padahal, ekonomi digital menawarkan ruang yang sangat luas bagi mereka yang berani mendobrak cara-cara lama yang kini mulai usang melalui pendekatan technopreneurship.
Pelaku UMKM masa kini perlu menyadari bahwa teknologi hanyalah sebuah pengungkit, sementara mesin penggeraknya adalah karakter wirausaha yang kuat dan cerdas secara bisnis. Karakter ini melibatkan kemampuan untuk melihat peluang di tengah krisis dan kesediaan untuk melakukan eksperimentasi secara terus-menerus. Di sinilah integrasi antara prinsip akuntansi untuk pengambilan keputusan dan insting kewirausahaan bertemu. Seorang pelaku usaha yang mumpuni tidak hanya melihat angka di atas kertas sebagai laporan beban, tetapi sebagai instrumen untuk memvalidasi apakah sebuah model bisnis baru layak dijalankan atau perlu segera diputar haluannya demi efisiensi jangka panjang.
Lebih jauh lagi, pemanfaatan matematika bisnis dalam pengambilan keputusan menjadi instrumen navigasi yang tidak boleh diabaikan. Seringkali, kegagalan UMKM dalam berinovasi disebabkan oleh keputusan yang hanya berdasar pada intuisi tanpa dukungan data yang presisi. Dengan mengombinasikan analisis kuantitatif dan pemahaman mendalam terhadap perilaku konsumen digital, pelaku usaha dapat merancang skenario bisnis yang lebih tangguh terhadap fluktuasi pasar. Kemampuan untuk menerjemahkan angka menjadi strategi adalah kompetensi inti yang harus dimiliki agar UMKM tidak hanya menjadi penonton di tengah masifnya arus modal asing di platform digital.
Keindahan dari era ekonomi digital saat ini adalah rendahnya hambatan masuk bagi inovasi-inovasi yang bersifat disruptif. Seorang pelaku UMKM kini dapat membangun ekosistem bisnis yang ramping dengan memaksimalkan kolaborasi digital, tanpa harus memiliki aset fisik yang membebani neraca keuangan. Yang dibutuhkan adalah entrepreneurial mindset: sebuah cara berpikir yang mampu mengubah keterbatasan sumber daya menjadi keunggulan kompetitif. Proses ini sejatinya adalah sebuah perjalanan pencarian jati diri bisnis yang otentik, di mana setiap kegagalan dalam uji coba pasar bukan dianggap sebagai akhir, melainkan sebagai data berharga untuk menyempurnakan strategi ke depan.
Dukungan ekosistem pendidikan tinggi juga memegang peranan vital melalui model pembelajaran seperti flipped classroom yang mendorong mahasiswa untuk tidak hanya menyerap teori, tetapi langsung mempraktikkan inovasi di lapangan. Sinergi antara dunia kampus dan pelaku usaha mikro diharapkan mampu melahirkan solusi kreatif atas problematika klasik seperti akses pasar dan rantai pasok. Ketika pengetahuan akademis tentang manajemen bisnis dan akuntansi diimplementasikan secara tepat guna, UMKM akan memiliki daya tahan yang jauh lebih tinggi terhadap guncangan ekonomi global.
Pada akhirnya, menaikkan kelas UMKM di Indonesia bukan sekadar memberikan bantuan modal atau pelatihan teknis secara sporadis. Diperlukan sinergi yang mendalam antara kebijakan pemerintah dan pendampingan akademis yang fokus pada penguatan fondasi model bisnis dan karakter wirausaha. Ketika pelaku UMKM sudah mampu merancang model bisnis yang adaptif dan inovatif, maka digitalisasi bukan lagi sekadar tren yang diikuti secara ikut-ikutan, melainkan menjadi senjata ampuh untuk memenangkan persaingan di pasar global yang semakin kompetitif.
Universitas Telogorejo Semarang Sukses Selenggarakan Lomba Bantuan Hidup Dasar dan Response Time Tingkat SMA/SMK Se-Jawa Tengah



UNIVERSITAS TELOGOREJO SEMARANG JALIN KERJA SAMA INTERNASIONAL DENGAN TZU CHI UNIVERSITY TAIWAN UNTUK PENGEMBANGAN PENDIDIKAN KEPERAWATAN
Universitas Telogorejo Semarang sebelumnya dikenal sebagai STIKES, sebuah institut ilmu kesehatan terkenal. Pada tahun 2025, institusi ini naik status menjadi universitas dan memiliki kerja sama yang erat dengan Rumah Sakit Telogorejo yang terkenal di daerah tersebut, kaya pengalaman dalam pendidikan klinis dan keperawatan, serta merupakan basis penting bagi pembinaan tenaga keperawatan di Indonesia.
Rektor Universitas Tzu Chi, Liu Yi-jun, menyatakan bahwa di masa depan, kerja sama kedua belah pihak akan memprioritaskan dimulai dari bidang keperawatan, melalui pertukaran akademik dan pengembangan sumber daya manusia, untuk bersama-sama melahirkan generasi baru tenaga keperawatan yang memiliki kemampuan profesional sekaligus kepedulian kemanusiaan.
Rektor Universitas Telogorejo Semarang, Swanny Trikajant Widyaatmadja, juga berharap kedua universitas dapat melalui kerja sama penelitian dan pertukaran akademik, membuka hubungan kerja sama jangka panjang yang bermakna. Saat ini ada alumni yang sedang melanjutkan studi di Universitas Tzu Chi, berharap di bawah bimbingan profesor Tzu Chi mendapatkan pengalaman akademik dan praktis yang kaya, untuk kemudian kembali dan membantu perkembangan jurusan keperawatan.
Abigail Sharon, yang memperoleh beasiswa dari Universitas Telogorejo Semarang untuk belajar di Tzu Chi, sedang menempuh program magister keperawatan. Dia berbagi bahwa di Tzu Chi dia belajar kemampuan pendidikan keperawatan seperti perancangan kurikulum dan pengajaran interaktif, serta belajar bagaimana menjadi pendidik keperawatan di masa depan. Dia juga berpartisipasi dalam layanan sukarela, merawat lansia dan mempromosikan pendidikan kesehatan. Dia mendorong adik-adiknya untuk memanfaatkan kesempatan bertukar belajar di Tzu Chi, dia berkata: "Tzu Chi tidak hanya mengajarkan pengetahuan, tetapi juga mengajarkan nilai-nilai kehidupan."
Saat ini, Universitas Tzu Chi bekerja sama dengan Yayasan Tzu Chi Indonesia dan berbagai perusahaan dalam mendorong program beasiswa, terus membina talenta Indonesia. Sekolah juga terus memperluas kesempatan bagi mahasiswa Indonesia untuk belajar di Taiwan. Saat ini, terdapat sekitar 118 mahasiswa Indonesia yang sedang menempuh pendidikan di kampus.
Kerja sama kali ini dengan Universitas Telogorejo Semarang tidak hanya memberikan lebih banyak kesempatan bagi mahasiswa Indonesia untuk kembali ke tanah air untuk pertukaran dan pelayanan, tetapi juga memungkinkan mahasiswa Taiwan untuk melalui pertukaran lintas budaya, mengembangkan wawasan internasional.

