News
Surveilen BAN-PT dalam Rangka Penyesuaian Akreditasi Universitas Telogorejo Semarang
Semarang, 3 Desember 2025 — Universitas Telogorejo Semarang (UNTS) melaksanakan kegiatan Surveilen BAN-PT sebagai bagian dari proses penyesuaian akreditasi institusi. Kegiatan ini berlangsung dengan lancar dan dihadiri oleh pimpinan universitas, dekan, ketua program studi, dosen, tim penjaminan mutu serta tenaga pendidik.
Surveilen ini bertujuan untuk memastikan bahwa UNTS secara konsisten memenuhi standar mutu perguruan tinggi sesuai ketentuan BAN-PT, sekaligus meninjau pengembangan terbaru yang telah dilakukan universitas dalam bidang akademik, tata kelola, dan layanan kemahasiswaan.
Dalam kesempatan tersebut, tim asesor BAN-PT melakukan peninjauan terhadap dokumen-dokumen pendukung, pencapaian kinerja institusi, serta implementasi standar mutu di berbagai unit kerja. Selain itu, sesi diskusi bersama pimpinan universitas dan stakeholder internal dilakukan untuk memberikan klarifikasi dan memperkuat laporan kinerja UNTS.
Kegiatan ini juga menjadi wujud nyata keseriusan UNTS dalam memperkuat tata kelola dan mutu institusi, sejalan dengan visi Universitas Telogorejo Semarang Menjadi Perguruan Tinggi yang Unggul, Berintegritas, Responsif, Adaptif, dan Inovatif dalam Meningkatkan Kualitas Hidup Manusia.
Dengan terlaksananya surveilen BAN-PT ini, UNTS berharap dapat memperoleh hasil terbaik berupa penyesuaian akreditasi yang mendukung pengembangan institusi menuju kualitas pendidikan tinggi yang lebih maju dan berkelanjutan.
Surveilen ini bertujuan untuk memastikan bahwa UNTS secara konsisten memenuhi standar mutu perguruan tinggi sesuai ketentuan BAN-PT, sekaligus meninjau pengembangan terbaru yang telah dilakukan universitas dalam bidang akademik, tata kelola, dan layanan kemahasiswaan.
Dalam kesempatan tersebut, tim asesor BAN-PT melakukan peninjauan terhadap dokumen-dokumen pendukung, pencapaian kinerja institusi, serta implementasi standar mutu di berbagai unit kerja. Selain itu, sesi diskusi bersama pimpinan universitas dan stakeholder internal dilakukan untuk memberikan klarifikasi dan memperkuat laporan kinerja UNTS.
Kegiatan ini juga menjadi wujud nyata keseriusan UNTS dalam memperkuat tata kelola dan mutu institusi, sejalan dengan visi Universitas Telogorejo Semarang Menjadi Perguruan Tinggi yang Unggul, Berintegritas, Responsif, Adaptif, dan Inovatif dalam Meningkatkan Kualitas Hidup Manusia.
Dengan terlaksananya surveilen BAN-PT ini, UNTS berharap dapat memperoleh hasil terbaik berupa penyesuaian akreditasi yang mendukung pengembangan institusi menuju kualitas pendidikan tinggi yang lebih maju dan berkelanjutan.PRESIM 2025: Pengalaman Internasional Mahasiswa Farmasi UT di Trinity University of Asia, Filipina
Program Studi Farmasi Universitas Telogorejo Semarang mengikuti kegiatan PRESIM 2025 (Pharmacy Ready Student Immersion) yang diselenggarakan pada 25–27 November 2025 bertempat di Trinity University of Asia (TUA), Filipina. Kegiatan ini menjadi ruang pembelajaran internasional bagi mahasiswa untuk memperluas wawasan farmasi global, memahami keragaman budaya, hingga mengasah keterampilan praktis melalui kegiatan akademik dan non-akademik.
Selama tiga hari, kegiatan berlangsung dengan rangkaian acara yang padat dan interaktif, mulai dari upacara pembukaan, pertunjukan budaya, kelas memasak, praktikum animal handling, kuliah internasional, hingga city tour ke destinasi bersejarah di Filipina. Keikutsertaan delegasi UNTS memperkuat komitmen universitas dalam mencetak lulusan farmasi yang kompeten dan berdaya saing internasional.
Hari pertama diawali dengan upacara pembukaan yang berlangsung meriah pada 25 November. Delegasi Universitas Telogorejo Semarang disambut hangat oleh seluruh mahasiswa dan civitas Trinity University of Asia. Suasana semakin meriah dengan hadirnya drum band besar yang mengiringi kedatangan delegasi, menciptakan atmosfer penuh antusiasme. Setelah itu, seluruh peserta mengikuti parade keliling kampus, yang dipimpin tim protokol TUA. Parade ini memperkenalkan area kampus sekaligus menjadi momen interaksi awal antar peserta dari berbagai negara.
Acara kemudian dilanjutkan dengan sambutan resmi dari Ketua Yayasan Trinity University of Asia, diikuti penghormatan terhadap lagu kebangsaan Filipina dan menyanyikan Hymne Pharmacy bersama seluruh delegasi. Sesi pembukaan ditutup dengan foto bersama menggunakan pakaian adat, di mana delegasi UNTS tampil memukau dengan busana adat Indonesia yang kaya warna dan makna.
Culture Performance
Masih di hari pertama, delegasi Universitas Telogorejo Semarang tampil pada sesi pertunjukan budaya. Mahasiswa UNTS mempersembahkan medley lagu-lagu daerah Indonesia, seperti Ampar-Ampar Pisang, Sinanggar Tulo, Kampuang Nan Jauh di Mato, Nyok Kita Nonton Ondel-Ondel, Manuk Dadali, serta beberapa lagu tradisional lainnya.
Penampilan ini mendapat apresiasi besar dari peserta internasional karena memperlihatkan keragaman budaya Nusantara dalam satu sajian yang harmonis.
Sebelum memasuki rangkaian culture performance, kegiatan dilanjutkan dengan sesi ice breaking yang diadakan oleh panitia Trinity University of Asia. Sesi ini dirancang untuk mencairkan suasana sekaligus mempererat hubungan antar delegasi yang berasal dari tiga negara, yaitu Indonesia, Filipina, dan Vietnam. Ice breaking dilakukan dengan permainan “sambung kata”, sebuah permainan yang menguji kekompakan dan kreativitas tim. Peserta dari masing-masing negara dibagi secara acak dan diminta bekerja sama untuk menyambung kata-kata yang diberikan menjadi rangkaian kalimat yang bermakna.
Cooking Class: Memahami Tradisi Kuliner Filipina
ada 26 November, kegiatan berlanjut ke sesi cooking class, yaitu kelas memasak makanan tradisional Filipina. Mahasiswa diperkenalkan dengan tiga hidangan khas, yakni:
- Arroz Caldo – bubur ayam dengan cita rasa khas Filipina, memadukan jahe, bawang putih, dan kaldu yang gurih.
- Turon – camilan manis berupa irisan pisang yang dibungkus kulit lumpia kemudian digoreng hingga renyah dan diberi lapisan gula karamel.
- Halo-Halo – hidangan penutup berupa es serut dengan campuran buah, kacang-kacangan, jeli, susu, dan gula.
- mengambil darah dari berbagai rute,
- melakukan observasi tanda biologis, dan
- melakukan penyuntikan secara intraperitoneal.
Seminar Series Farmasi: Pendekatan Terpadu dalam Pharmaceutical Care Infeksi Cacing dan Inovasi Terapi Cacing Berbasis Bahan Alam
Program Studi Farmasi Universitas Telogorejo Semarang menyelenggarakan kegiatan Seminar Series Farmasi dengan tema “Pendekatan Terpadu dalam Pharmaceutical Care Infeksi Cacing dan Inovasi Terapi Cacing Berbasis Bahan Alam.” Kegiatan ini menjadi wadah ilmiah untuk memperkuat pemahaman mahasiswa dan tenaga kesehatan mengenai infeksi cacing, penatalaksanaan terapeutik yang rasional, serta pengembangan terapi berbasis bahan alam sebagai alternatif yang potensial.
Seminar ini dilaksanakan pada Sabtu, 29 November 2025. Kegiatan berlangsung dengan antusias dan diikuti oleh total 409 peserta, baik secara luring di Auditorium Universitas Telogorejo Semarang maupun daring melalui zoom meeting. Seminar tidak hanya dihadiri oleh sivitas akademika Universitas Telogorejo Semarang, tetapi juga peserta dari berbagai perguruan tinggi luar, seperti UNIKAL, UNIKA, STIFERA, dan STIFAR Yayasan Pharmasi Semarang. Kehadiran peserta lintas institusi ini mencerminkan tingginya perhatian terhadap isu infeksi cacing dan inovasi terapi antelmintik.
Untuk memperluas jangkauan publikasi dan manfaat kegiatan, panitia juga menjalin kerja sama dengan beberapa universitas, yaitu Universitas Diponegoro (UNDIP), Universitas Negeri Semarang (UNNES), dan Universitas Katolik Soegijapranata (UNIKA). Kolaborasi ini diharapkan dapat mendorong penyebaran informasi ilmiah yang lebih luas sekaligus mempererat jejaring akademik di bidang farmasi dan kesehatan.

Sambutan Pembuka
Pada sesi pembukaan, sambutan yang semula dijadwalkan disampaikan oleh Rektor Universitas Telogorejo Semarang tidak dapat terlaksana karena beliau berhalangan hadir. Sambutan kemudian digantikan oleh Dekan Universitas Telogorejo, yaitu Ibu Ns. Sri Puguh Kristiyawati, M.Kep., Sp.MB. Dalam sambutannya, beliau menyampaikan apresiasi atas terselenggaranya seminar ini dan menekankan pentingnya kolaborasi antara ilmu klinik, farmasi, dan penelitian bahan alam dalam menjawab persoalan infeksi cacing yang masih banyak dijumpai di masyarakat. Beliau juga berharap kegiatan ini mampu memperkaya wawasan peserta sekaligus mendorong kontribusi nyata farmasis dalam pelayanan kesehatan berbasis bukti.Sesi Pertama: Penguatan Pemahaman Klinis dan Farmakoterapi
Sesi pertama menghadirkan dua narasumber yang membahas aspek klinis serta pendekatan farmakoterapi dalam penanganan infeksi cacing.- Andre Damardana Tahitoe, Sp.PD, FINASIM, AIFO-K – Patofisiologi dan Manifestasi Klinis Infeksi Cacing pada Tubuh Manusia
- Yovita Dwi Arini, M.Sc – Pendekatan Farmakoterapi dalam Penatalaksanaan Infeksi Cacing: Kombinasi, Dosis Optimal, dan Resistensi Obat
Sesi Kedua: Farmakoepidemiologi dan Inovasi Berbasis Bahan Alam
Sesi kedua melanjutkan pembahasan dari perspektif populasi dan pengembangan terapi alternatif, dengan dua narasumber ahli.- Pramitha Esha Nirmala Dewi, M.Sc, Ph.D – Tinjauan Farmakoepidemiologi terhadap Penggunaan Obat Anthelmintik: Pola, Efektivitas, dan Tantangan Resistensi di Populasi
- Madyo Adrianto, M.Farm – Potensi Bahan Alam sebagai Alternatif atau Pendukung Terapi Anthelmintik: Bukti Ilmiah dan Arah Pengembangan
Penutup
Seminar Series Farmasi ini memberikan pemahaman yang menyeluruh mengenai infeksi cacing, mulai dari aspek klinis, farmakoterapi rasional, kajian populasi, hingga inovasi terapi berbahan alam. Diskusi yang berlangsung aktif menunjukkan tingginya perhatian peserta terhadap isu kesehatan tropis dan peran strategis farmasis dalam pelayanan kesehatan. Melalui seminar ini, Universitas Telogorejo Semarang berharap peserta tidak hanya memperoleh wawasan akademik, tetapi juga terdorong untuk menerapkan prinsip pelayanan pharmaceutical care yang tepat serta aktif mendukung riset pengembangan terapi antelmintik berbasis bahan alam di masa mendatang.

SEGER WARAS: Langkah HIMAFISIO UNTS Wujudkan Lansia Aktif dan Sehat
Himpunan Mahasiswa Fisioterapi (HIMAFISIO) yang bernaung di bawah program studi S-1 Fisioterapi, Universitas Telogorejo Semarang (UNTS) berhasil lolos pendanaan pada Program Peningkatan Kapasistas organisasi Mahasiswa (PPK Ormawa) dari 295 sub proposal yang lolos seleksi. Keberhasilan ini merupakan hasil dari kerja keras HIMAFISIO dalam mengikuti PPK Ormawa 2025 di bawah bimbingan Ibu Deasy Virka Sari, S.Fis., Ftr., M.Fis selaku Dosen Pembimbing.
Program Penguatan Kapasistas Organisasi Mahasiswa (PPK Ormawa) merupakan program penguatan kapasitas ormawa melalui serangkaian proses pembinaan ormawa oleh Perguruan Tinggi (PT) yang di implementasikan dalam program pengabdian dan pemberdayaan Masyarakat. Kegiatan ini dilaksanakan di Dusun Slamet, Desa Meteseh, Kecamatan Boja, Kabupaten Kendal.
Tim HIMAFISIO mengangkat topik bebas dengan judul “SEGER WARAS (Senam Geriatri Warga Sehat) Sport Geriatric sebagai Upaya Pemberdayaan Lansia dengan Mencegah Penyakit Degeneratif dan Meningkatkan Kebugaran Lansia”. Topik tersebut terinspirasi dari kondisi dusun Slamet yang memiliki lansia dengan keluahan penyakit degeneratif yang menyebabkan banyak lansia yang merasakan ketidaknyamanan saat bergerak dan masih banyak lansia di dusun tersebut yang masih tidak paham mengenai penyakit degeneratif ini. Berdasarkan permasalahan tersebut, Tim pelaksana PPK Ormawa HIMAFISIO akan mengupayakan inovasi pelatihan lansia dengan cara adanya program senam lansia, Jalan Sehat, Ultalaktif, Konsultasi dan intervensi fisioterapi. Program ini diharapkan mampu memberikan manfaat yang berkelanjutan bagi Masyarakat Dusun Slamet dan mampu mengurangi masalah penyakit degeneratif pada lansia
Sebagai wujud komitmen dalam meningkatkan kesehatan dan kualitas hidup lansia, tim PPK Ormawa HIMAFISIO Universitas Telogorejo Semarang melaksanakan rangkaian program kerja yang terdiri atas empat kegiatan utama, yaitu screening kesehatan, senam geriatri, permainan ULTALAKTIF, dan jalan sehat. Seluruh kegiatan dirancang untuk mendukung kebugaran fisik serta mengoptimalkan fungsi tubuh lansia, dimulai dengan pelaksanaan screening kesehatan sebagai tahap awal guna mengetahui kondisi masing-masing individu sehingga program dapat disesuaikan dengan kebutuhan mereka. Kegiatan kemudian dilanjutkan dengan senam geriatri yang rutin dilaksanakan untuk menjaga aktivitas fisik serta mengurangi risiko penurunan kekuatan otot, dan diakhiri dengan program jalan sehat yang mengajak para lansia bergerak aktif sambil menikmati suasana lingkungan dusun Slamet.
Salah satu program inovatif yang dijalankan adalah permainan ULTALAKTIF. Permainan ini merupakan modifikasi dari ular tangga yang disesuaikan dengan kondisi lansia. Setiap kotak permainan berisi instruksi latihan fisioterapi ringan, sehingga lansia dapat berolahraga sambil bermain dengan cara yang menyenangkan dan mudah dipahami. Melalui kegiatan ini, lansia didorong untuk tetap aktif dan menjaga mobilitas tubuh tanpa merasa terbebani.
Setelah dinyatakan lolos pendanaan PPK Ormawa, tim PPKO HIMAFISIO dari Universitas Telogorejo Semarang memulai rangkaian program kerja dengan melakukan screening kesehatan kepada para lansia. Kegiatan ini dilanjutkan dengan pelaksanaan senam lansia yang telah beberapa kali dilakukan selama program berlangsung. Senam tersebut sangat bermanfaat karena membantu lansia tetap aktif bergerak dan mengurangi penurunan kekuatan otot. Selain itu, tim juga mengadakan permainan ULTALAKTIF, yaitu inovasi dari permainan ular tangga yang dimodifikasi agar sesuai dan menarik bagi lansia, sekaligus memberikan efek latihan fisioterapi melalui beberapa kotak permainan yang berisi instruksi exercise. Dengan begitu, lansia dapat berolahraga sambil bermain dan bahkan melakukannya kembali di rumah. Program terakhir yang dilaksanakan adalah jalan sehat, di mana lansia diajak berjalan mengelilingi lingkungan Dusun Slamet. Untuk menambah semangat dan keseruan kegiatan, tim turut menyediakan doorprize kecil bagi warga dusun Slamet.
Dari kegiatan yang sudah dilaksanakan, terlihat hasil yang baik bagi kesehatan para lansia. Setelah rutin mengikuti senam, permainan ULTALAKTIF, dan jalan sehat, banyak lansia melaporkan bahwa keluhan seperti tekanan darah tinggi (hipertensi), nyeri sendi akibat osteoartritis, serta sakit pinggang (low back pain) mulai berkurang. Para lansia juga merasa tubuh mereka lebih bugar dan lebih nyaman untuk melakukan aktivitas sehari-hari. Hal ini menunjukkan bahwa program yang dijalankan benar-benar membantu meningkatkan kesehatan dan kesejahteraan mereka.
Dengan semangat Kolaborasi, HIMAFISIO UNTS terus berupaya memberikan kontribusi nyata bagi masyarakat melalui program yang dijalankan. Prestasi yang diraih HIMAFISIO Universitas Telogorejo Semarang dalam program PPK Ormawa menjadi langkah awal yang membanggakan untuk terus berinovasi dan memberikan kontribusi nyata bagi masyarakat. Dengan semangat kebersamaan dan dedikasi yang tinggi, HIMAFISIO UNTS diharapkan dapat mempertahankan capaian ini serta menjadi inspirasi bagi mahasiswa lain untuk ikut berperan aktif dalam mewujudkan perubahan positif di lingkungan sekitar.
Berikut nama-nama tim pelaksana program PPK Ormawa:
| 1. Evan Nazhir Nandana | (724024) |
| 2. Bernadeta Titis Heralsa | (723008) |
| 3. Maria Dinda Putri Artyanto | (723021) |
| 4. Tabitha Devi Sriyanto | (723038) |
| 5. Alloysia Dyah Ayu Ferdianti | (724007) |
| 6. Aulia Teza Kirani | (724014) |
| 7. Brigitta Laura Wallong | (724015) |
| 8. Erlangga Dika Kurniawan | (124061) |
| 9. Lintang Gendis Nulisandi | (724038) |
| 10. Misael Stevano Ryan Nugroho | (724044) |
| 11. Naila Cahya Safitri | (724051) |
| 12. Shafiq Ananda Firdaus | (724068) |
| 13. Zulfia Samiyyatunnadya | (724080) |
Ketika Penampilan Menentukan Pelayanan: Sebuah Pengalaman Membeli Laptop
Disusun Oleh : Dr. Nana Noviada K, SE, MM
Pernahkah Anda merasa dipandang sebelah mata hanya karena penampilan? Itulah pengalaman yang saya alami ketika membeli sebuah laptop di salah satu mall besar.
Hari itu saya sedang terburu-buru. Saya masuk ke sebuah toko laptop hanya dengan baju seadanya dan sandal biasa. Tidak ada yang istimewa. Namun, sejak awal saya sudah merasakan tatapan berbeda dari para penjaga toko.
Pertanyaan saya soal laptop hanya dijawab seadanya. Bahkan ada yang tidak berusaha menatap saya sama sekali. Rasanya seperti sedang diuji: “Benarkah orang dengan penampilan seperti ini mampu membeli laptop yang harganya fantastis?”
Puncaknya, seorang penjaga toko dengan enteng berkata, “Ibu kalau mau pakai pembayaran card harus punya plafon besar di kartunya, ya.” Saya hanya bisa tersenyum dalam hati dan berkata pelan pada diri sendiri, “Aman, Mbak.”
Namun begitu saya akhirnya memilih laptop yang saya inginkan, lengkap dengan perangkat pendukung seperti USB portabel dan program resmi Microsoft Word, semuanya berubah. Senyum yang tadinya hilang mendadak hadir. Pelayanan yang tadinya dingin, tiba-tiba jadi hangat. Ramah sekali, seakan lupa dengan sikap awal mereka.
Dari pengalaman ini, saya belajar satu hal: penampilan memang seringkali menentukan pelayanan. Namun, seharusnya tidak begitu. Karena pakaian sederhana tidak selalu berarti seseorang tidak mampu membeli barang mahal. Sebaliknya, pelanggan justru bisa merasa lebih dihargai jika dilayani dengan tulus, apa pun penampilannya.
Pesan saya sederhana: jangan menilai dompet orang lain dari sandal jepit atau baju yang dipakainya. Karena uang tidak punya seragam. Siapa tahu, justru di balik penampilan sederhana, tersimpan kemampuan yang luar biasa.
Dua Mahasiswa Universitas Telogorejo Semarang Ikuti Summer Program di Hungkuang University, Taiwan
Universitas Telogorejo Semarang kembali menunjukkan komitmennya dalam mendukung pengembangan wawasan global dan daya saing internasional mahasiswa. Kali ini, dua mahasiswa terpilih dari Universitas Telogorejo Semarang akan diberangkatkan ke Hungkuang University, Taiwan, untuk mengikuti kegiatan Summer Program selama dua minggu.
Program ini dijadwalkan berlangsung mulai 1 Agustus 2025, bertempat di kampus Hungkuang University yang berlokasi di Taichung City, Republik Tiongkok (Taiwan). Kegiatan ini merupakan hasil kerja sama internasional antara Universitas Telogorejo Semarang dan Hungkuang University, sebagai bagian dari upaya memperkuat jejaring akademik global, khususnya di bidang pendidikan kesehatan dan teknologi terapan.
Kedua mahasiswa yang mewakili Universitas Telogorejo Semarang telah melalui proses seleksi yang ketat, mempertimbangkan aspek akademik, kemampuan komunikasi internasional, serta motivasi dan kesiapan mereka dalam menghadapi tantangan global. Selama dua minggu di Taiwan, para mahasiswa akan mengikuti berbagai rangkaian kegiatan yang meliputi kuliah umum hingga diskusi budaya.
Rektor Universitas Telogorejo Semarang, dr. Swanny Trikajanti W., M.Kes., Ph.D, memberikan pesan khusus kepada para peserta program.
“Dua minggu mungkin waktu yang singkat, tetapi saya yakin itu cukup untuk belajar banyak hal baru. Gunakan waktu ini sebaik-baiknya untuk mencari pengalaman, memperluas pengetahuan, dan membangun koneksi internasional. Selamat mengikuti program dengan semangat. Nikmati setiap prosesnya, dan jangan ragu untuk saling bertukar budaya, seni, dan ilmu pengetahuan dengan peserta dari negara lain,” pesan Rektor.
Hungkuang University sendiri dikenal sebagai salah satu universitas terkemuka di Taiwan yang berfokus pada bidang kesehatan, ilmu terapan, dan teknologi inovatif. Kerja sama antara kedua institusi ini telah terjalin sejak beberapa tahun terakhir, dan summer program ini merupakan bentuk konkret dari pertukaran akademik yang terus diperluas.
Diharapkan setelah mengikuti program ini, mahasiswa tidak hanya memperoleh pengetahuan dan pengalaman baru, tetapi juga mampu menjadi duta budaya dan akademik yang memperkenalkan potensi Indonesia, khususnya dari Universitas Telogorejo Semarang, di kancah internasional.
Program summer ke Taiwan ini juga menjadi langkah strategis Universitas Telogorejo dalam membangun atmosfer internasionalisasi di lingkungan kampus serta mendukung program Merdeka Belajar Kampus Merdeka (MBKM) yang mendorong mobilitas mahasiswa ke luar negeri.
PEMBELAJARAN KEPERAWATAN MENGGUNAKAN AI “MANFAAT DAN TANTANGAN YANG DIHADAPI”
Disusun Oleh : Dwi Yogo Budi Prabowo ( Dosen Prodi S1 Keperawatan dan Ners Universitas Telogorejo Semarang )
Pembelajaran keperawatan merupakan bagian yang sangat penting dari pendidikan kesehatan yang mempunyai tujuan untuk membentuk perawat-perawat profesional yang kompeten dengan kemampuan berpikir dan kemampuan ketrampilan klinis yang baik. Pembelajaran keperawatan yang berkualitas akan menghasilkan luaran yang juga berkualiats. Untuk itu dalam pembelajaran keperawatan harus bersifat dinamis mengikuti perkembangan dan perubahan dalam ilmu pengetahuan dan teknologi dalam setiap tahunya agar mampu mempunyai eksistensi dalam Pembangunan Pendidikan di Indonesia. Seiring perkembangan teknologi saat ini juga terjadi perubahan signifikan dalam ilmu pengetahuan dan teknologi, terutama dengan hadirnya kecerdasan buatan (AI).
Kecerdasan buatan (AI) ialah suatu teknologi yang dapat memungkinkan mesin untuk meniru kemampuan manusia dalam berpikir, belajar, beradaptasi, dan penyelesaian tugas-tugas tertentu. Sebenarnya untuk perkembangan AI sudah muncul sekitar tahun 1950-an sebagai disiplin ilmu formal. Alan Turing seorang matematikawan Inggris, mengajukan pertanyaan tentang apakah mesin dapat berpikir seperti manusia dalam makalahnya yang terkenal "Computing Machinery and Intelligence." Pada tahun 1956, konferensi Dartmouth dianggap sebagai awal mula AI, di mana para peneliti berkumpul untuk melakukan diskusi tentang bagaiamana potensi mesin cerdas. Setelah masa optimisme awal, AI menghadapi suatu masa yang sulit pada tahun 1970-an yang dikenal sebagai "musim dingin AI" karena tantangan teknis dan kurangnya kemajuan. Namun pada tahun awal 2000-an AI mengalami kebangkitan karena adanya kemajuan teknologi komputer, seperti pemprosesan yang lebih cepat dan kapasitas penyimpanan yang lebih besar.
Perkembangan pembelajaran mesin dan akses ke big data mendorong kebangkitan AI. Saat ini AI telah menjadi suatu bidang penelitian dengan perkembangan yang pesat dalam beberapa dekade terakhir dan terus mengalami kemajuan yang signifikan. Teknologi ini telah menciptakan penemuan aplikasi di berbagai sektor termasuk Pendidikan, kesehatan, bisnis, transportasi, dan masih banyak lagi. Teknologi AI telah membawa peluang baru yang sangat menarik dalam pendidikan keperawatan karena dapat mempengaruhi bagaimana perawat masa depan belajar dan berlatih.
AI dalam pendidikan keperawatan dapat memberikan manfaat yang sangat penting seperti personalisasi dalam pembelajaran yang di mana materi dan metode pengajaran dapat dilakukan penyesuaian sesuai dengan kebutuhan dan kemampuan masing-masing mahasiswa. Hal lain yang bisa dilakuakn AI yaitu memungkinkan mahasiwa melakukan simulasi klinis yang realistis dan aman, sehingga mahasiswa mampu belajar dan berlatih dalam lingkungan yang terkendali yang akan meminimalisir suatu kesalahan fatal sebelum dihadapkan dalam kondisi nyata yang ada dilapangan, AI juga mempunyai manfaat dalam menyediakan akses cepat ke informasi medis dan keperawatan terbaru sehingga akan membantu mahasiswa tetap up-to-date dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi saat ini. AI juga dapat memeberikan feed back otomatis pada tugas-tugas dan latihan sehingga hal ini dapat memberikan kemudahan bagi mahasiswa untuk melakukan evaluasi terhadap kinerja mahasiswa secara efisien.
Hal tersebut akan membantu mahasiswa dalam melakukan perbaikan keterampilan dan pengetahuan secara cepat. Salah satu contoh penggunaan AI dalam pembelajaran keperawatan saat ini ialah simulasi pasien virtual. Institusi pendidikan keperawatan menggunakan simulasi pasien virtual berbasis AI dengan tujuan agar dapat memberikan pengalaman klinis nyata bagi mahasiswa. Pasien virtual ini mampu melakukan interaksi dengan mahasiswa , memperlihatkan kondisi tanda dan gejala penyakit, dan melakukan respon terhadap tindakan yang dilakukan mahasiswa sehingga hal ini dapat meningkatkan kemampuan ketrampilan klinis mahasiwa sebelum dihadapkan dengan pasien nyata. Penggunaan lain AI dalam keperawatan yaitu untuk menyediakan asisten pengajaran virtual yang dapat memberikan bantuan terhadap mahasiswa tentang pertanyaan medis, sumber referensi, dan informasi terkait tugas ataupun materi pembelajaran sehingga hal ini dapat meningkatkan efisiensi belajar mahasiswa dan memberikan akses cepat ke informasi medis.
Penggunaan kecerdasan buatan (AI) dalam pembelajaran keperawatan telah membuka peluang besar untuk dapat membantu dalam peningkatan kualitas pendidikan untuk menghasilkan perawat yang kompeten di masa depan. Namun, seperti halnya teknologi lainya, AI juga menghadirkan beberapa tantangan yang harus diatasi agar dalam pengunuaan dan perapan AI dalam pembelajaran keperawatan dapat memberikan manfaat. Tantangan prioritas dalam pembejalaran keperawatan menggunakan AI adalah ketergantungan yang berlebih pada teknologi. Mahasiswa keperawatan mungkin akan sangat terlalu bergantung pada AI untuk berlatih dan mempelajari keterampilan klinis, sehingga mereka kurang mendapatkan pengalaman penting dalam interaksi langsung dengan pasien. Oleh karena itu, sangat penting bagi institusi pendidikan keperawatan agar menjaga keseimbangan antara penggunaan AI dan pengalaman klinis nyata. Selain itu ketergantungan teknologi yang berlebih juga akan menimbulkan kekhawatiran terhadap kemampuan berpikir mahasiswa, untuk itu institusi Pendidikan perlu untuk menekankan kepada mahasiwa bahwa AI bukan jawaban utama dari permasalahan yang harus diterima mentah-mentah tetapi AI hanya sebagai alat bantu atau bisa dikatakan sebagai teman dalam melaksanakan diskusi untuk menemukan jawaban permasalahan yang dihadapi.
Kualitas data merupakan faktor penting lainnya. AI membutuhkan data yang mempunyai kualitas tinggi untuk dapat memberikan hasil yang valid dan akurat serta kredibel. Data yang kurang atau bahkan cenderung tidak lengkap ataupun tidak akurat akan menyebabkan kesalahan dalam simulasi atau analisis, yang berpengaruh terhadap pembelajaran mahasiswa karena pembacaan hasil yang salah oleh AI. Oleh karena hal itu, institusi harus memastikan bahwa data yang digunakan dalam sistem AI merupakan data yang valid dan representatif. Tantangan lain yang harus dihadapi yaitu penggunaan AI dalam pendidikan keperawatan sering kali membutuhkan akses ke data pasien dan mahasiswa, yang bisa memunculkan risiko privasi dan keamanan. Untuk menghindari hal tersebut Institusi harus mengambil langkah-langkah dalam perlindungan data sensitif agar tetap aman. Tantangan lain pastinya terkait dengan biaya, enggunaan AI dalam pembelajaran keperawatan memerlukan investasi untuk menyiapkan perangkat keras, perangkat lunak, dan pelatihan instruktur. Institusi harus mempertimbangkan apakah mempunyai sumber daya yang cukup untuk menerapkan AI secara efektif. Selain itu, kesiapan untuk instruktur menjadi faktor yang menentukan dalam keberhasilan penggunaan AI. Instruktur harus mempunyai keterampilan dan pengetahuan yang kompeten karena diperlukan untuk menggunakan AI dengan baik dalam pembelajaran. Ketidaksiapan instruktur dapat menjadikan hambatan dalam penerapan AI yang sukses. Salah satu tantangan yang lebih kompleksitas ialah bias algoritma. AI dapat mewarisi bias dari data pembelajaran dan pelatihan, yang memungkinkan terjadinya diskriminasi atau hasil yang tidak adil. Institusi perlu sadar terhadap resiko tersebut sehingga harus memastikan bahwa AI yang diguanakan sesuai dengan standar etis dan adil.
Pengurangan terhadap keterampilan praktis mungkin juga akan terjadi apabila mahasiswa terlalu bergantung pada simulasi AI. Mereka mungkin akan mengalami kesulitan beradaptasi dengan situasi medis yang aktual. Oleh karena itu, pengalaman klinis nyata tetap penting bagi mahasiswa keperawatan. Selain itu, kompleksitas etika muncul dalam penggunaan AI dalam pengambilan keputusan medis otomatis. Pertanyaan tentang siapa yang bertanggung jawab atas keputusan AI dapat menjadi sumber perdebatan. Terakhir, institusi perlu melakukan penyesuaian kurikulum mereka agar ada keselarasan dengan perkembangan AI dalam pembelajaran keperawatan. Hal ini juga mencakup pengembangan modul khusus mengenai AI dalam keperawatan untuk memastikan bahwa mahasiswa memahami peran dan tantangan teknologi ini. Meskipun tantangan dalam penggunaan AI cukup banyak, namun institusi sebaiknya tidak perlu khawatir dan takut untuk menggunakan AI dalam pembelajaran keperawatan karena dengan pendekatan yang bijaksana dan berimbang, institusi pendidikan keperawatan dapat memanfaatkan AI untuk meningkatkan pengalaman belajar mahasiswa dan mempersiapkan mahasiswa untuk menjadi perawat yang kompeten dan siap terjun dalam dunia kerja.
Pembelajaran keperawatan merupakan bagian yang sangat penting dari pendidikan kesehatan yang mempunyai tujuan untuk membentuk perawat-perawat profesional yang kompeten dengan kemampuan berpikir dan kemampuan ketrampilan klinis yang baik. Pembelajaran keperawatan yang berkualitas akan menghasilkan luaran yang juga berkualiats. Untuk itu dalam pembelajaran keperawatan harus bersifat dinamis mengikuti perkembangan dan perubahan dalam ilmu pengetahuan dan teknologi dalam setiap tahunya agar mampu mempunyai eksistensi dalam Pembangunan Pendidikan di Indonesia. Seiring perkembangan teknologi saat ini juga terjadi perubahan signifikan dalam ilmu pengetahuan dan teknologi, terutama dengan hadirnya kecerdasan buatan (AI).
Kecerdasan buatan (AI) ialah suatu teknologi yang dapat memungkinkan mesin untuk meniru kemampuan manusia dalam berpikir, belajar, beradaptasi, dan penyelesaian tugas-tugas tertentu. Sebenarnya untuk perkembangan AI sudah muncul sekitar tahun 1950-an sebagai disiplin ilmu formal. Alan Turing seorang matematikawan Inggris, mengajukan pertanyaan tentang apakah mesin dapat berpikir seperti manusia dalam makalahnya yang terkenal "Computing Machinery and Intelligence." Pada tahun 1956, konferensi Dartmouth dianggap sebagai awal mula AI, di mana para peneliti berkumpul untuk melakukan diskusi tentang bagaiamana potensi mesin cerdas. Setelah masa optimisme awal, AI menghadapi suatu masa yang sulit pada tahun 1970-an yang dikenal sebagai "musim dingin AI" karena tantangan teknis dan kurangnya kemajuan. Namun pada tahun awal 2000-an AI mengalami kebangkitan karena adanya kemajuan teknologi komputer, seperti pemprosesan yang lebih cepat dan kapasitas penyimpanan yang lebih besar.
Perkembangan pembelajaran mesin dan akses ke big data mendorong kebangkitan AI. Saat ini AI telah menjadi suatu bidang penelitian dengan perkembangan yang pesat dalam beberapa dekade terakhir dan terus mengalami kemajuan yang signifikan. Teknologi ini telah menciptakan penemuan aplikasi di berbagai sektor termasuk Pendidikan, kesehatan, bisnis, transportasi, dan masih banyak lagi. Teknologi AI telah membawa peluang baru yang sangat menarik dalam pendidikan keperawatan karena dapat mempengaruhi bagaimana perawat masa depan belajar dan berlatih.
AI dalam pendidikan keperawatan dapat memberikan manfaat yang sangat penting seperti personalisasi dalam pembelajaran yang di mana materi dan metode pengajaran dapat dilakukan penyesuaian sesuai dengan kebutuhan dan kemampuan masing-masing mahasiswa. Hal lain yang bisa dilakuakn AI yaitu memungkinkan mahasiwa melakukan simulasi klinis yang realistis dan aman, sehingga mahasiswa mampu belajar dan berlatih dalam lingkungan yang terkendali yang akan meminimalisir suatu kesalahan fatal sebelum dihadapkan dalam kondisi nyata yang ada dilapangan, AI juga mempunyai manfaat dalam menyediakan akses cepat ke informasi medis dan keperawatan terbaru sehingga akan membantu mahasiswa tetap up-to-date dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi saat ini. AI juga dapat memeberikan feed back otomatis pada tugas-tugas dan latihan sehingga hal ini dapat memberikan kemudahan bagi mahasiswa untuk melakukan evaluasi terhadap kinerja mahasiswa secara efisien.
Hal tersebut akan membantu mahasiswa dalam melakukan perbaikan keterampilan dan pengetahuan secara cepat. Salah satu contoh penggunaan AI dalam pembelajaran keperawatan saat ini ialah simulasi pasien virtual. Institusi pendidikan keperawatan menggunakan simulasi pasien virtual berbasis AI dengan tujuan agar dapat memberikan pengalaman klinis nyata bagi mahasiswa. Pasien virtual ini mampu melakukan interaksi dengan mahasiswa , memperlihatkan kondisi tanda dan gejala penyakit, dan melakukan respon terhadap tindakan yang dilakukan mahasiswa sehingga hal ini dapat meningkatkan kemampuan ketrampilan klinis mahasiwa sebelum dihadapkan dengan pasien nyata. Penggunaan lain AI dalam keperawatan yaitu untuk menyediakan asisten pengajaran virtual yang dapat memberikan bantuan terhadap mahasiswa tentang pertanyaan medis, sumber referensi, dan informasi terkait tugas ataupun materi pembelajaran sehingga hal ini dapat meningkatkan efisiensi belajar mahasiswa dan memberikan akses cepat ke informasi medis.
Penggunaan kecerdasan buatan (AI) dalam pembelajaran keperawatan telah membuka peluang besar untuk dapat membantu dalam peningkatan kualitas pendidikan untuk menghasilkan perawat yang kompeten di masa depan. Namun, seperti halnya teknologi lainya, AI juga menghadirkan beberapa tantangan yang harus diatasi agar dalam pengunuaan dan perapan AI dalam pembelajaran keperawatan dapat memberikan manfaat. Tantangan prioritas dalam pembejalaran keperawatan menggunakan AI adalah ketergantungan yang berlebih pada teknologi. Mahasiswa keperawatan mungkin akan sangat terlalu bergantung pada AI untuk berlatih dan mempelajari keterampilan klinis, sehingga mereka kurang mendapatkan pengalaman penting dalam interaksi langsung dengan pasien. Oleh karena itu, sangat penting bagi institusi pendidikan keperawatan agar menjaga keseimbangan antara penggunaan AI dan pengalaman klinis nyata. Selain itu ketergantungan teknologi yang berlebih juga akan menimbulkan kekhawatiran terhadap kemampuan berpikir mahasiswa, untuk itu institusi Pendidikan perlu untuk menekankan kepada mahasiwa bahwa AI bukan jawaban utama dari permasalahan yang harus diterima mentah-mentah tetapi AI hanya sebagai alat bantu atau bisa dikatakan sebagai teman dalam melaksanakan diskusi untuk menemukan jawaban permasalahan yang dihadapi.
Kualitas data merupakan faktor penting lainnya. AI membutuhkan data yang mempunyai kualitas tinggi untuk dapat memberikan hasil yang valid dan akurat serta kredibel. Data yang kurang atau bahkan cenderung tidak lengkap ataupun tidak akurat akan menyebabkan kesalahan dalam simulasi atau analisis, yang berpengaruh terhadap pembelajaran mahasiswa karena pembacaan hasil yang salah oleh AI. Oleh karena hal itu, institusi harus memastikan bahwa data yang digunakan dalam sistem AI merupakan data yang valid dan representatif. Tantangan lain yang harus dihadapi yaitu penggunaan AI dalam pendidikan keperawatan sering kali membutuhkan akses ke data pasien dan mahasiswa, yang bisa memunculkan risiko privasi dan keamanan. Untuk menghindari hal tersebut Institusi harus mengambil langkah-langkah dalam perlindungan data sensitif agar tetap aman. Tantangan lain pastinya terkait dengan biaya, enggunaan AI dalam pembelajaran keperawatan memerlukan investasi untuk menyiapkan perangkat keras, perangkat lunak, dan pelatihan instruktur. Institusi harus mempertimbangkan apakah mempunyai sumber daya yang cukup untuk menerapkan AI secara efektif. Selain itu, kesiapan untuk instruktur menjadi faktor yang menentukan dalam keberhasilan penggunaan AI. Instruktur harus mempunyai keterampilan dan pengetahuan yang kompeten karena diperlukan untuk menggunakan AI dengan baik dalam pembelajaran. Ketidaksiapan instruktur dapat menjadikan hambatan dalam penerapan AI yang sukses. Salah satu tantangan yang lebih kompleksitas ialah bias algoritma. AI dapat mewarisi bias dari data pembelajaran dan pelatihan, yang memungkinkan terjadinya diskriminasi atau hasil yang tidak adil. Institusi perlu sadar terhadap resiko tersebut sehingga harus memastikan bahwa AI yang diguanakan sesuai dengan standar etis dan adil.
Pengurangan terhadap keterampilan praktis mungkin juga akan terjadi apabila mahasiswa terlalu bergantung pada simulasi AI. Mereka mungkin akan mengalami kesulitan beradaptasi dengan situasi medis yang aktual. Oleh karena itu, pengalaman klinis nyata tetap penting bagi mahasiswa keperawatan. Selain itu, kompleksitas etika muncul dalam penggunaan AI dalam pengambilan keputusan medis otomatis. Pertanyaan tentang siapa yang bertanggung jawab atas keputusan AI dapat menjadi sumber perdebatan. Terakhir, institusi perlu melakukan penyesuaian kurikulum mereka agar ada keselarasan dengan perkembangan AI dalam pembelajaran keperawatan. Hal ini juga mencakup pengembangan modul khusus mengenai AI dalam keperawatan untuk memastikan bahwa mahasiswa memahami peran dan tantangan teknologi ini. Meskipun tantangan dalam penggunaan AI cukup banyak, namun institusi sebaiknya tidak perlu khawatir dan takut untuk menggunakan AI dalam pembelajaran keperawatan karena dengan pendekatan yang bijaksana dan berimbang, institusi pendidikan keperawatan dapat memanfaatkan AI untuk meningkatkan pengalaman belajar mahasiswa dan mempersiapkan mahasiswa untuk menjadi perawat yang kompeten dan siap terjun dalam dunia kerja.PENGARUH KECEMASAN DAN IMUNITAS DALAM TUBUH
Disusun Oleh : Ns. Ni Made Ayu Wulansari, M.Kep ( Dosen S-1 Keperawatan Universitas Telogorejo Semarang )
Semakin meningkatnya konsumsi makanan yang tidak sehat, menyebabkan meningkatkannya penyakit akibat pola hidup yang tidak baik. Selain itu, kondisi ekonomi yang sedang bergejolak menambah beban pemikiran sehingga semakin meningkatnya kecemasan yang dirasakan pada Masyarakat. Kecemasan masyarakat di Indonesia telah diteliti oleh Megatsari, et. all (2020), menemukan pada golongan usia 20-29 tahun dan 40-49 mengalami kecemasan lebih tinggi disbanding kelompok usia diatas 50 tahun. Selain itu, responden perempuan lebih merasa cemas dibandingkan laki-laki. Hasil penelitian ini menunjukkan, bahwa kecemasan merupakan kasus nyata yang dialami masyarakat dalam masa pandemi
Tidak hanya kecemasan psikologis yang dirasakan, menurut Mann, Krueger dan Vohas (2020) masyarakat juga mengalami kecemasan ekonomi atau dalam artikel ini disebut Economic anxiety. Kecemasan ekonomi merupakan distress psikososial, misal pada studi 2008 menemukan bahwa kesulitan ekonomi menyebabkan perceraian. Selain itu, kesulitan ekonomi juga meningkatkan gangguan mental dan percobaan bunuh diri. Hasil studi Mann, et. All ini menemukan bahwa kesulitan ekonomi berpotensi menyebabkan masyarakat kesullitan dalam menghadapi masa perholakan ekonomi.
Kecemasan Psikologis dan ekonomi menimbulkan dampak yang signifikan pada masyarakan di amsa pandemik. Terdapat banyak kabar bahwa kondisi psikologis merupakan faktor yang mempengaruhi system imun. System imun merupakan factor penting dalam menghadapi covid-19. Menurut penjelasan dalam penelitian Mazza, et all (2020), menjelskan bahawa kecemasan dan depresi berperan dalam predictor klinis dan inflamasi. Pada penelitian ini ditemukan bahwa semakin buruk inflamasi yang terjadi , semakin buruk pula depresi yang dialami.
Oleh karena itu, perlu adanya penanganan kecemasan agar imunitas tetap terjaga. Penanganan kecemasan paling sederhana adalah dengan relaksasi napas dalam. Menarik napas dan mengeluarkan secara perlahan dengan sikap duduk yang tenang serta dengan didampingi music yang menenangkan. Hal ini dapat membantu menangani kecemasan.
References:
Gambar: https://www.google.com/imgres?imgurl=https%3A%2F%2Fwww.apa.org%2Fimages%2Farticle-covid-19_tcm7-277085_w1024_n.jpg&imgrefurl=https%3A%2F%2Fwww.apa.org%2Fpubs%2Fhighlights%2Fcovid-19-articles&tbnid=4of8UrLd6vNH-M&vet=12ahUKEwirjejh4qHuAhVDNHIKHbKWAw0QMygTegUIARCIAQ..i&docid=iZSP-z4x5ELdHM&w=450&h=300&q=download%20free%20picture%20anxiety%20covid&safe=strict&ved=2ahUKEwirjejh4qHuAhVDNHIKHbKWAw0QMygTegUIARCIAQ
Gennaro Mazza, M., De Lorenzo, R., Conte, C., Poletti, S., Vai, B., Bollettini, I., … Benedetti, F. (2020). Anxiety and depression in COVID-19 survivors: role of inflammatory and clinical predictors. Brain, Behavior, and Immunity. doi:10.1016/j.bbi.2020.07.037
Mann, F. D., Krueger, R. F., & Vohs, K. D. (2020). Personal economic anxiety in response to COVID-19. Personality and Individual Differences, 110233. doi:10.1016/j.paid.2020.110233
Menzies, R. E., & Menzies, R. G. (2020). Death anxiety in the time of COVID-19: theoretical explanations and clinical implications. The Cognitive Behaviour Therapist, 1–24. doi:10.1017/s1754470x20000215
Kecemasan Psikologis dan ekonomi menimbulkan dampak yang signifikan pada masyarakan di amsa pandemik. Terdapat banyak kabar bahwa kondisi psikologis merupakan faktor yang mempengaruhi system imun. System imun merupakan factor penting dalam menghadapi covid-19. Menurut penjelasan dalam penelitian Mazza, et all (2020), menjelskan bahawa kecemasan dan depresi berperan dalam predictor klinis dan inflamasi. Pada penelitian ini ditemukan bahwa semakin buruk inflamasi yang terjadi , semakin buruk pula depresi yang dialami.
Oleh karena itu, perlu adanya penanganan kecemasan agar imunitas tetap terjaga. Penanganan kecemasan paling sederhana adalah dengan relaksasi napas dalam. Menarik napas dan mengeluarkan secara perlahan dengan sikap duduk yang tenang serta dengan didampingi music yang menenangkan. Hal ini dapat membantu menangani kecemasan.
References:
Gambar: https://www.google.com/imgres?imgurl=https%3A%2F%2Fwww.apa.org%2Fimages%2Farticle-covid-19_tcm7-277085_w1024_n.jpg&imgrefurl=https%3A%2F%2Fwww.apa.org%2Fpubs%2Fhighlights%2Fcovid-19-articles&tbnid=4of8UrLd6vNH-M&vet=12ahUKEwirjejh4qHuAhVDNHIKHbKWAw0QMygTegUIARCIAQ..i&docid=iZSP-z4x5ELdHM&w=450&h=300&q=download%20free%20picture%20anxiety%20covid&safe=strict&ved=2ahUKEwirjejh4qHuAhVDNHIKHbKWAw0QMygTegUIARCIAQ
Gennaro Mazza, M., De Lorenzo, R., Conte, C., Poletti, S., Vai, B., Bollettini, I., … Benedetti, F. (2020). Anxiety and depression in COVID-19 survivors: role of inflammatory and clinical predictors. Brain, Behavior, and Immunity. doi:10.1016/j.bbi.2020.07.037
Mann, F. D., Krueger, R. F., & Vohs, K. D. (2020). Personal economic anxiety in response to COVID-19. Personality and Individual Differences, 110233. doi:10.1016/j.paid.2020.110233
Menzies, R. E., & Menzies, R. G. (2020). Death anxiety in the time of COVID-19: theoretical explanations and clinical implications. The Cognitive Behaviour Therapist, 1–24. doi:10.1017/s1754470x20000215