stikes
Inovasi Model Bisnis: Kompas Strategis bagi UMKM di Arus Ekonomi Digital
Oleh: Ahmad Hafiyyan Shibghatalloh, S.E, M.M ( Dosen S-1 Kewirausahaan
Universitas Telogorejo Semarang )
Di tengah deru digitalisasi yang kian kencang, banyak pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) merasa bahwa cukup dengan memiliki akun media sosial atau terdaftar di pasar daring, mereka telah berhasil melakukan transformasi digital. Namun, realitas yang sering kali tersembunyi di balik layar gawai adalah fenomena stagnasi bisnis yang tetap terjadi meski infrastruktur teknologi telah tersedia. Masalah mendasarnya bukanlah pada ketidaktahuan menggunakan alat digital, melainkan pada ketidakmampuan untuk merombak arsitektur nilai dalam bisnis itu sendiri. Inilah titik kruisial di mana inovasi model bisnis menjadi penentu apakah sebuah usaha akan sekadar bertahan hidup atau justru melesat naik kelas.
Dalam perspektif akademik dan praktis, inovasi model bisnis merujuk pada cara sebuah organisasi menciptakan, memberikan, dan menangkap nilai tambah bagi konsumennya. Berbeda dengan inovasi produk yang hanya fokus pada barang fisik, inovasi model bisnis menuntut perubahan cara berpikir mengenai bagaimana seluruh elemen dalam bisnis saling terhubung—mulai dari kemitraan kunci hingga cara menjaring pendapatan. Bagi UMKM, tantangan terbesar bukanlah keterbatasan modal finansial, melainkan sering kali terjebak dalam model bisnis konvensional yang kaku. Padahal, ekonomi digital menawarkan ruang yang sangat luas bagi mereka yang berani mendobrak cara-cara lama yang kini mulai usang melalui pendekatan technopreneurship.
Pelaku UMKM masa kini perlu menyadari bahwa teknologi hanyalah sebuah pengungkit, sementara mesin penggeraknya adalah karakter wirausaha yang kuat dan cerdas secara bisnis. Karakter ini melibatkan kemampuan untuk melihat peluang di tengah krisis dan kesediaan untuk melakukan eksperimentasi secara terus-menerus. Di sinilah integrasi antara prinsip akuntansi untuk pengambilan keputusan dan insting kewirausahaan bertemu. Seorang pelaku usaha yang mumpuni tidak hanya melihat angka di atas kertas sebagai laporan beban, tetapi sebagai instrumen untuk memvalidasi apakah sebuah model bisnis baru layak dijalankan atau perlu segera diputar haluannya demi efisiensi jangka panjang.
Lebih jauh lagi, pemanfaatan matematika bisnis dalam pengambilan keputusan menjadi instrumen navigasi yang tidak boleh diabaikan. Seringkali, kegagalan UMKM dalam berinovasi disebabkan oleh keputusan yang hanya berdasar pada intuisi tanpa dukungan data yang presisi. Dengan mengombinasikan analisis kuantitatif dan pemahaman mendalam terhadap perilaku konsumen digital, pelaku usaha dapat merancang skenario bisnis yang lebih tangguh terhadap fluktuasi pasar. Kemampuan untuk menerjemahkan angka menjadi strategi adalah kompetensi inti yang harus dimiliki agar UMKM tidak hanya menjadi penonton di tengah masifnya arus modal asing di platform digital.
Keindahan dari era ekonomi digital saat ini adalah rendahnya hambatan masuk bagi inovasi-inovasi yang bersifat disruptif. Seorang pelaku UMKM kini dapat membangun ekosistem bisnis yang ramping dengan memaksimalkan kolaborasi digital, tanpa harus memiliki aset fisik yang membebani neraca keuangan. Yang dibutuhkan adalah entrepreneurial mindset: sebuah cara berpikir yang mampu mengubah keterbatasan sumber daya menjadi keunggulan kompetitif. Proses ini sejatinya adalah sebuah perjalanan pencarian jati diri bisnis yang otentik, di mana setiap kegagalan dalam uji coba pasar bukan dianggap sebagai akhir, melainkan sebagai data berharga untuk menyempurnakan strategi ke depan.
Dukungan ekosistem pendidikan tinggi juga memegang peranan vital melalui model pembelajaran seperti flipped classroom yang mendorong mahasiswa untuk tidak hanya menyerap teori, tetapi langsung mempraktikkan inovasi di lapangan. Sinergi antara dunia kampus dan pelaku usaha mikro diharapkan mampu melahirkan solusi kreatif atas problematika klasik seperti akses pasar dan rantai pasok. Ketika pengetahuan akademis tentang manajemen bisnis dan akuntansi diimplementasikan secara tepat guna, UMKM akan memiliki daya tahan yang jauh lebih tinggi terhadap guncangan ekonomi global.
Pada akhirnya, menaikkan kelas UMKM di Indonesia bukan sekadar memberikan bantuan modal atau pelatihan teknis secara sporadis. Diperlukan sinergi yang mendalam antara kebijakan pemerintah dan pendampingan akademis yang fokus pada penguatan fondasi model bisnis dan karakter wirausaha. Ketika pelaku UMKM sudah mampu merancang model bisnis yang adaptif dan inovatif, maka digitalisasi bukan lagi sekadar tren yang diikuti secara ikut-ikutan, melainkan menjadi senjata ampuh untuk memenangkan persaingan di pasar global yang semakin kompetitif.
Universitas Telogorejo Semarang Sukses Selenggarakan Lomba Bantuan Hidup Dasar dan Response Time Tingkat SMA/SMK Se-Jawa Tengah



UNIVERSITAS TELOGOREJO SEMARANG JALIN KERJA SAMA INTERNASIONAL DENGAN TZU CHI UNIVERSITY TAIWAN UNTUK PENGEMBANGAN PENDIDIKAN KEPERAWATAN
Universitas Telogorejo Semarang sebelumnya dikenal sebagai STIKES, sebuah institut ilmu kesehatan terkenal. Pada tahun 2025, institusi ini naik status menjadi universitas dan memiliki kerja sama yang erat dengan Rumah Sakit Telogorejo yang terkenal di daerah tersebut, kaya pengalaman dalam pendidikan klinis dan keperawatan, serta merupakan basis penting bagi pembinaan tenaga keperawatan di Indonesia.
Rektor Universitas Tzu Chi, Liu Yi-jun, menyatakan bahwa di masa depan, kerja sama kedua belah pihak akan memprioritaskan dimulai dari bidang keperawatan, melalui pertukaran akademik dan pengembangan sumber daya manusia, untuk bersama-sama melahirkan generasi baru tenaga keperawatan yang memiliki kemampuan profesional sekaligus kepedulian kemanusiaan.
Rektor Universitas Telogorejo Semarang, Swanny Trikajant Widyaatmadja, juga berharap kedua universitas dapat melalui kerja sama penelitian dan pertukaran akademik, membuka hubungan kerja sama jangka panjang yang bermakna. Saat ini ada alumni yang sedang melanjutkan studi di Universitas Tzu Chi, berharap di bawah bimbingan profesor Tzu Chi mendapatkan pengalaman akademik dan praktis yang kaya, untuk kemudian kembali dan membantu perkembangan jurusan keperawatan.
Abigail Sharon, yang memperoleh beasiswa dari Universitas Telogorejo Semarang untuk belajar di Tzu Chi, sedang menempuh program magister keperawatan. Dia berbagi bahwa di Tzu Chi dia belajar kemampuan pendidikan keperawatan seperti perancangan kurikulum dan pengajaran interaktif, serta belajar bagaimana menjadi pendidik keperawatan di masa depan. Dia juga berpartisipasi dalam layanan sukarela, merawat lansia dan mempromosikan pendidikan kesehatan. Dia mendorong adik-adiknya untuk memanfaatkan kesempatan bertukar belajar di Tzu Chi, dia berkata: "Tzu Chi tidak hanya mengajarkan pengetahuan, tetapi juga mengajarkan nilai-nilai kehidupan."
Saat ini, Universitas Tzu Chi bekerja sama dengan Yayasan Tzu Chi Indonesia dan berbagai perusahaan dalam mendorong program beasiswa, terus membina talenta Indonesia. Sekolah juga terus memperluas kesempatan bagi mahasiswa Indonesia untuk belajar di Taiwan. Saat ini, terdapat sekitar 118 mahasiswa Indonesia yang sedang menempuh pendidikan di kampus.
Kerja sama kali ini dengan Universitas Telogorejo Semarang tidak hanya memberikan lebih banyak kesempatan bagi mahasiswa Indonesia untuk kembali ke tanah air untuk pertukaran dan pelayanan, tetapi juga memungkinkan mahasiswa Taiwan untuk melalui pertukaran lintas budaya, mengembangkan wawasan internasional.

Mudik Lebaran dan Ancaman Penularan Campak pada Anak
Disusn Oleh : Ns. Siti Lestari, M.Kep., Sp.Kep.An ( Dosen S1 Keperawatan Universitas Telogorejo Semarang )

Menjelang musim mudik dan pertemuan keluarga pada perayaan Lebaran, kewaspadaan terhadap penyakit menular pada anak perlu kembali ditingkatkan. Mobilitas masyarakat yang meningkat selama periode tersebut berpotensi mempercepat penyebaran berbagai penyakit infeksi, salah satunya campak. Hingga saat ini, infeksi virus campak masih menjadi persoalan kesehatan anak di berbagai wilayah Indonesia dan bahkan menunjukkan kecenderungan peningkatan kasus dalam satu tahun terakhir.
Situasi epidemiologi campak di Indonesia menunjukkan perkembangan yang patut menjadi perhatian serius. Berdasarkan laporan Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, sepanjang tahun 2025 tercatat sekitar 63.769 kasus suspek campak, dengan 11.094 kasus terkonfirmasi melalui pemeriksaan laboratorium serta 69 kasus kematian. Memasuki awal tahun 2026, tren peningkatan kasus masih terus terjadi. Hingga minggu ke-7 tahun 2026 dilaporkan 8.224 kasus suspek campak, 572 kasus terkonfirmasi, serta 4 kematian, disertai penetapan 21 kejadian luar biasa (KLB) di berbagai daerah.
Data surveilans nasional menunjukkan bahwa hingga minggu ke-8 tahun 2026 jumlah kasus meningkat menjadi sekitar 10.453 kasus suspek dengan sedikitnya 6 kematian. Angka tersebut menandakan bahwa penularan campak masih aktif terjadi di masyarakat dan berpotensi meningkat apabila upaya pencegahan tidak segera diperkuat. Perkembangan kasus pada anak bahkan masih terus bertambah pada awal Maret 2026.
Peningkatan kasus ini tidak dapat dilepaskan dari menurunnya cakupan imunisasi campak-rubela dalam beberapa tahun terakhir. Ketika jumlah anak yang belum memperoleh kekebalan semakin besar, virus campak yang memiliki daya tular sangat tinggi akan dengan mudah menemukan kelompok anak yang rentan terinfeksi.
Dari Ruang Rawat Anak: Gambaran Kasus di Rumah Sakit Rujukan
Peningkatan kasus campak juga tercermin dalam praktik pelayanan kesehatan anak di berbagai rumah sakit rujukan. Di Rumah Sakit Umum Pusat Nasional Dr. Cipto Mangunkusumo, kasus campak pada anak masih rutin ditemukan baik pada layanan rawat jalan maupun rawat inap.
Fenomena serupa juga dilaporkan di RSUP Dr. Kariadi, RSUP Dr. Sardjito, serta RSUD Dr. Soetomo. Dalam praktik pelayanan pediatri di rumah sakit rujukan tersebut, sebagian besar anak yang dirawat karena campak diketahui memiliki riwayat imunisasi yang tidak lengkap atau bahkan belum pernah menerima vaksin campak.
Tidak sedikit anak yang datang ke rumah sakit dalam kondisi telah mengalami komplikasi. Komplikasi yang paling sering ditemukan adalah pneumonia atau radang paru, yang menjadi alasan utama anak memerlukan perawatan di rumah sakit. Selain itu, beberapa anak juga mengalami komplikasi lain seperti diare berat, dehidrasi, serta gangguan nutrisi.
Temuan klinis tersebut menunjukkan bahwa campak bukan sekadar penyakit ringan pada anak. Dalam kondisi tertentu, penyakit ini dapat berkembang menjadi infeksi serius yang membutuhkan perawatan intensif di rumah sakit.
Mengenali Tanda dan Gejala Campak pada Anak
Campak merupakan penyakit infeksi virus yang sangat menular dan menyebar melalui percikan droplet ketika penderita batuk, bersin, atau berbicara. Tingkat penularannya sangat tinggi; satu anak yang terinfeksi dapat menularkan penyakit kepada sekitar 8–12 anak lain yang belum memiliki kekebalan.
Gejala campak umumnya muncul 7–14 hari setelah anak terpapar virus. Pada tahap awal, keluhan sering menyerupai infeksi saluran napas biasa sehingga orang tua kerap terlambat mengenalinya.
Beberapa tanda dan gejala yang perlu diwaspadai antara lain:
- demam tinggi hingga lebih dari 39 °C
- batuk dan pilek yang menetap
- mata merah dan berair
- penurunan nafsu makan serta anak tampak lemas
- munculnya bintik putih kecil di dalam mulut yang dikenal sebagai Koplik spot
- Setelah beberapa hari demam, biasanya muncul ruam kemerahan pada kulit yang dimulai dari wajah dan belakang telinga, kemudian menyebar ke leher, badan, hingga seluruh tubuh. Ruam tersebut merupakan tanda khas campak dan umumnya masih disertai demam yang cukup tinggi.
Penanganan Awal Campak pada Anak
Hingga saat ini belum tersedia terapi antivirus khusus untuk menyembuhkan campak. Oleh karena itu, penanganan penyakit ini bersifat suportif, yaitu membantu tubuh anak melawan infeksi sekaligus mencegah terjadinya komplikasi.
Pada kasus campak ringan, anak umumnya dapat dirawat di rumah dengan beberapa langkah sederhana, antara lain:
- memastikan anak memperoleh istirahat yang cukup
- memenuhi kebutuhan cairan untuk mencegah dehidrasi
- memberikan makanan bergizi guna menunjang proses pemulihan
- menurunkan demam menggunakan obat penurun panas sesuai anjuran tenaga kesehatan
Dalam praktik pelayanan kesehatan anak, pemberian vitamin A juga sering dilakukan karena terbukti dapat membantu menurunkan risiko komplikasi pada anak dengan campak. Anak yang sedang mengalami campak sebaiknya tetap beristirahat di rumah dan tidak melakukan kontak dengan anak lain hingga sekitar empat hari setelah ruam muncul, guna mencegah penularan.
Peran Keluarga dalam Mencegah Komplikasi
Peran keluarga sangat penting dalam proses pemulihan anak yang mengalami campak. Orang tua perlu memastikan anak mendapatkan perawatan yang tepat, menjaga kebersihan lingkungan rumah, serta memantau perkembangan gejala setiap hari.
Perlu diketahui bahwa infeksi campak dapat menurunkan daya tahan tubuh anak selama beberapa minggu bahkan hingga beberapa bulan setelah sembuh. Pada masa tersebut, anak menjadi lebih rentan terhadap infeksi lain sehingga pemenuhan nutrisi yang baik serta pemantauan kondisi kesehatan tetap diperlukan.
Orang tua juga perlu segera membawa anak ke fasilitas kesehatan apabila muncul tanda bahaya seperti sesak napas, kejang, anak tidak mau minum atau makan, atau demam tinggi yang tidak kunjung turun.
Menjelang Lebaran 2026: Waspada Penularan Saat Mudik
Perayaan Lebaran selalu diikuti dengan meningkatnya mobilitas masyarakat melalui tradisi mudik dan pertemuan keluarga besar. Perjalanan jarak jauh, kepadatan di transportasi umum, serta interaksi antaranggota keluarga dapat meningkatkan risiko penularan penyakit infeksi, termasuk campak.
Oleh karena itu, kewaspadaan terhadap penyakit ini perlu ditingkatkan menjelang musim mudik. Orang tua perlu memastikan anak telah memperoleh imunisasi campak secara lengkap sebelum melakukan perjalanan, menjaga kebersihan tangan, serta menghindari kontak dengan individu yang sedang sakit.
Pemerintah melalui Kementerian Kesehatan Republik Indonesia juga menghimbau pelaksanaan Outbreak Response Immunization (ORI) campak di wilayah yang memiliki risiko tinggi. Dalam program tersebut, anak usia 9 hingga 59 bulan dianjurkan memperoleh vaksin campak booster guna meningkatkan kekebalan dan memutus rantai penularan di masyarakat.
Apabila anak mengalami demam yang disertai ruam kemerahan setelah perjalanan atau setelah menghadiri pertemuan keluarga, orang tua sebaiknya segera berkonsultasi dengan tenaga kesehatan untuk mendapatkan pemeriksaan lebih lanjut.
Menjelang Lebaran 2026, upaya pencegahan menjadi semakin penting. Melalui imunisasi lengkap, kewaspadaan orang tua terhadap gejala awal penyakit, serta penerapan perilaku hidup bersih dan sehat, risiko penularan campak dapat ditekan. Kolaborasi antara keluarga, tenaga kesehatan, dan pemerintah menjadi kunci penting untuk melindungi anak-anak Indonesia dari penyakit yang sebenarnya dapat dicegah ini.
Inovasi Pelayanan Farmasi: Kompas Dunia Digital Bidang Farmasi
Dalam sistem pelayanan kesehatan digital, proses registrasi dan verifikasi pasien memegang peranan krusial untuk menjamin integritas data, perlindungan privasi, serta kelancaran interaksi klinis. Transformasi digital mengharuskan sistem informasi kesehatan memiliki mekanisme identifikasi yang akurat dan efisien guna mendukung proses pelayanan yang tepat sasaran dan aman. Registrasi dan verifikasi menjadi fondasi dalam membangun kepercayaan antara pasien dan penyedia layanan. Registrasi pasien dilakukan melalui platform daring yang mengintegrasikan formulir identitas, riwayat medis, dan data demografis. Informasi yang dikumpulkan meliputi nama, tanggal lahir, alamat, serta nomor identitas resmi. Sistem ini memungkinkan pencatatan data awal secara sistematis yang dapat diakses oleh berbagai tenaga kesehatan untuk mendukung pelayanan lintas sektor. Kemudahan registrasi digital juga meningkatkan aksesibilitas layanan, terutama bagi populasi dengan keterbatasan mobilitas
Transformasi digital dalam sistem pelayanan farmasi turut mencakup mekanisme penyerahan obat kepada pasien secara daring. Melalui integrasi e-dispensing dan layanan logistik, proses ini dapat dilakukan secara efisien tanpa mengabaikan aspek keselamatan, edukasi, dan standar kualitas farmasi. Apoteker tetap memegang peran sentral dalam memastikan bahwa obat diserahkan secara tepat, sesuai dengan kebutuhan klinis pasien. Setelah konsultasi daring, resep yang diberikan oleh dokter akan diverifikasi oleh apoteker melalui sistem e-dispensing. Tahapan ini mencakup pemeriksaan keabsahan resep, kesesuaian dosis, kemungkinan interaksi obat, serta identifikasi pasien. Edispensing memungkinkan proses validasi resep dilakukan secara tersistem dan terekam, sehingga meningkatkan keamanan dan akuntabilitas pelayanan farmasi.
Dalam era digitalisasi layanan kesehatan, dokumentasi menjadi elemen penting yang tidak hanya merekam aktivitas pelayanan, tetapi juga menjamin kesinambungan terapi dan aspek legal. Dalam konteks telepharmacy, seluruh interaksi antara apoteker dan pasien, termasuk konsultasi daring, pemberian informasi obat, dan edukasi, harus dicatat secara sistematis dalam rekam medis elektronik kefarmasian. Teknik ini memperkuat akuntabilitas layanan serta memungkinkan pemantauan longitudinal terhadap efektivitas dan keamanan penggunaan obat Dokumentasi yang akurat juga menjadi dasar bagi evaluasi mutu layanan farmasi, penelusuran insiden medikasi, serta perencanaan intervensi farmakoterapi lanjutan. Di sisi lain, sertifikasi platform digital menjadi langkah krusial untuk memastikan bahwa aplikasi atau sistem yang digunakan telah memenuhi standar keamanan, validitas informasi, serta fitur yang mendukung pharmaceutical care. Sertifikasi ini juga memberikan kepercayaan lebih kepada pengguna dan apoteker dalam mengandalkan layanan daring secara profesional
Dua Dosen Universitas Telogorejo Semarang Terima SK Lektor Kepala dari LLDIKTI Wilayah VI

Universitas Telogorejo Semarang kembali mencatatkan prestasi membanggakan di bidang akademik. Dua dosen terbaiknya resmi menerima Surat Keputusan (SK) Jabatan Fungsional Lektor Kepala dari LLDIKTI Wilayah VI pada tahun 2026. Adapun dosen yang menerima SK Lektor Kepala tersebut adalah Assoc. Professor Qomariyah, S.S.T., M.Kes dan Assoc. Professor Ns. Iien Noer’aini, M.Kep. Penyerahan SK ini menjadi bentuk pengakuan atas dedikasi, kompetensi, serta kontribusi keduanya dalam pelaksanaan Tri Dharma Perguruan Tinggi, meliputi pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat.
Pencapaian jabatan akademik Lektor Kepala merupakan salah satu tahapan penting dalam jenjang karier dosen. Proses yang dilalui tidaklah singkat, karena harus memenuhi berbagai persyaratan administratif maupun akademik, termasuk publikasi ilmiah, karya penelitian, serta kontribusi profesional yang berkelanjutan. Diharapkan, peningkatan jabatan akademik ini dapat semakin memperkuat kualitas sumber daya manusia di lingkungan kampus serta mendorong peningkatan mutu pendidikan, khususnya di bidang kesehatan.
Dengan bertambahnya dosen bergelar Lektor Kepala, Universitas Telogorejo Semarang terus menunjukkan komitmennya dalam menghadirkan pendidikan tinggi yang unggul, profesional, dan berdampak bagi masyarakat. Prestasi ini diharapkan dapat menjadi inspirasi bagi seluruh sivitas akademika untuk terus berkarya, berinovasi, dan memberikan kontribusi terbaik bagi kemajuan institusi dan bangsa.
Penyebab Diare pada Anak dan Cara Mengatasinya dengan Langkah Lintas Diare
- Rehidrasi dengan Cairan Rehidrasi Oral Formula Baru
- Zinc Diberikan Selama 10 Hari Berturut-turut
- Pemberian ASI dan Makanan Tetap Diteruskan
- Antibiotik Selektif
- Edukasi Orang Tua
Seminar Kesehatan dengan tema “Guru BK di Era Tantangan Mental Health: Strategi Psikologis Mendampingi Siswa Masa Kini”
- Meningkatkan pemahaman Guru BK mengenai tantangan kesehatan mental yang dihadapi siswa di era saat ini.
- Membekali Guru BK dengan strategi dan pendekatan psikologis yang efektif dalam mendampingi siswa secara profesional.
- Menguatkan peran Guru BK sebagai pendamping utama dalam menciptakan lingkungan sekolah yang sehat secara mental dan emosional.
- Meningkatkan kesadaran akan pentingnya kolaborasi antara sekolah dan tenaga profesional dalam penanganan kesehatan mental siswa.
