Back

stikes

Inovasi Model Bisnis: Kompas Strategis bagi UMKM di Arus Ekonomi Digital
ArtikelNews 09 Mar 2026

Inovasi Model Bisnis: Kompas Strategis bagi UMKM di Arus Ekonomi Digital

Oleh: Ahmad Hafiyyan Shibghatalloh, S.E, M.M ( Dosen S-1 Kewirausahaan
Universitas Telogorejo Semarang )

Di tengah deru digitalisasi yang kian kencang, banyak pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) merasa bahwa cukup dengan memiliki akun media sosial atau terdaftar di pasar daring, mereka telah berhasil melakukan transformasi digital. Namun, realitas yang sering kali tersembunyi di balik layar gawai adalah fenomena stagnasi bisnis yang tetap terjadi meski infrastruktur teknologi telah tersedia. Masalah mendasarnya bukanlah pada ketidaktahuan menggunakan alat digital, melainkan pada ketidakmampuan untuk merombak arsitektur nilai dalam bisnis itu sendiri. Inilah titik kruisial di mana inovasi model bisnis menjadi penentu apakah sebuah usaha akan sekadar bertahan hidup atau justru melesat naik kelas.

Dalam perspektif akademik dan praktis, inovasi model bisnis merujuk pada cara sebuah organisasi menciptakan, memberikan, dan menangkap nilai tambah bagi konsumennya. Berbeda dengan inovasi produk yang hanya fokus pada barang fisik, inovasi model bisnis menuntut perubahan cara berpikir mengenai bagaimana seluruh elemen dalam bisnis saling terhubung—mulai dari kemitraan kunci hingga cara menjaring pendapatan. Bagi UMKM, tantangan terbesar bukanlah keterbatasan modal finansial, melainkan sering kali terjebak dalam model bisnis konvensional yang kaku. Padahal, ekonomi digital menawarkan ruang yang sangat luas bagi mereka yang berani mendobrak cara-cara lama yang kini mulai usang melalui pendekatan technopreneurship.

Pelaku UMKM masa kini perlu menyadari bahwa teknologi hanyalah sebuah pengungkit, sementara mesin penggeraknya adalah karakter wirausaha yang kuat dan cerdas secara bisnis. Karakter ini melibatkan kemampuan untuk melihat peluang di tengah krisis dan kesediaan untuk melakukan eksperimentasi secara terus-menerus. Di sinilah integrasi antara prinsip akuntansi untuk pengambilan keputusan dan insting kewirausahaan bertemu. Seorang pelaku usaha yang mumpuni tidak hanya melihat angka di atas kertas sebagai laporan beban, tetapi sebagai instrumen untuk memvalidasi apakah sebuah model bisnis baru layak dijalankan atau perlu segera diputar haluannya demi efisiensi jangka panjang.

Lebih jauh lagi, pemanfaatan matematika bisnis dalam pengambilan keputusan menjadi instrumen navigasi yang tidak boleh diabaikan. Seringkali, kegagalan UMKM dalam berinovasi disebabkan oleh keputusan yang hanya berdasar pada intuisi tanpa dukungan data yang presisi. Dengan mengombinasikan analisis kuantitatif dan pemahaman mendalam terhadap perilaku konsumen digital, pelaku usaha dapat merancang skenario bisnis yang lebih tangguh terhadap fluktuasi pasar. Kemampuan untuk menerjemahkan angka menjadi strategi adalah kompetensi inti yang harus dimiliki agar UMKM tidak hanya menjadi penonton di tengah masifnya arus modal asing di platform digital.

Keindahan dari era ekonomi digital saat ini adalah rendahnya hambatan masuk bagi inovasi-inovasi yang bersifat disruptif. Seorang pelaku UMKM kini dapat membangun ekosistem bisnis yang ramping dengan memaksimalkan kolaborasi digital, tanpa harus memiliki aset fisik yang membebani neraca keuangan. Yang dibutuhkan adalah entrepreneurial mindset: sebuah cara berpikir yang mampu mengubah keterbatasan sumber daya menjadi keunggulan kompetitif. Proses ini sejatinya adalah sebuah perjalanan pencarian jati diri bisnis yang otentik, di mana setiap kegagalan dalam uji coba pasar bukan dianggap sebagai akhir, melainkan sebagai data berharga untuk menyempurnakan strategi ke depan.

Dukungan ekosistem pendidikan tinggi juga memegang peranan vital melalui model pembelajaran seperti flipped classroom yang mendorong mahasiswa untuk tidak hanya menyerap teori, tetapi langsung mempraktikkan inovasi di lapangan. Sinergi antara dunia kampus dan pelaku usaha mikro diharapkan mampu melahirkan solusi kreatif atas problematika klasik seperti akses pasar dan rantai pasok. Ketika pengetahuan akademis tentang manajemen bisnis dan akuntansi diimplementasikan secara tepat guna, UMKM akan memiliki daya tahan yang jauh lebih tinggi terhadap guncangan ekonomi global.

Pada akhirnya, menaikkan kelas UMKM di Indonesia bukan sekadar memberikan bantuan modal atau pelatihan teknis secara sporadis. Diperlukan sinergi yang mendalam antara kebijakan pemerintah dan pendampingan akademis yang fokus pada penguatan fondasi model bisnis dan karakter wirausaha. Ketika pelaku UMKM sudah mampu merancang model bisnis yang adaptif dan inovatif, maka digitalisasi bukan lagi sekadar tren yang diikuti secara ikut-ikutan, melainkan menjadi senjata ampuh untuk memenangkan persaingan di pasar global yang semakin kompetitif.

Universitas Telogorejo Semarang Sukses Selenggarakan Lomba Bantuan Hidup Dasar dan Response Time Tingkat SMA/SMK Se-Jawa Tengah
BeritaNews 09 Mar 2026

Universitas Telogorejo Semarang Sukses Selenggarakan Lomba Bantuan Hidup Dasar dan Response Time Tingkat SMA/SMK Se-Jawa Tengah

Universitas Telogorejo Semarang (UNTS) sukses menyelenggarakan Lomba Bantuan Hidup Dasar (BHD) dan Response Time tingkat SMA/SMK/MA sederajat se-Jawa Tengah pada Sabtu, 7 Maret 2026. Kegiatan ini dilaksanakan di Ruang teater Lantai 6 Universitas Telogorejo Semarang dan diikuti oleh berbagai tim siswa dari sekolah menengah di Jawa Tengah. Lomba ini menjadi ajang edukatif sekaligus kompetitif yang bertujuan meningkatkan pengetahuan dan keterampilan siswa dalam menghadapi kondisi kegawatdaruratan medis. Melalui kegiatan ini, para peserta dilatih untuk memahami dan mempraktikkan Bantuan Hidup Dasar (BHD) secara tepat dan cepat, serta mampu bekerja sama dalam tim saat menghadapi simulasi kasus darurat. Dalam kompetisi ini, setiap sekolah mengirimkan tim yang terdiri dari empat orang siswa, dengan satu orang bertugas sebagai team leader dan tiga orang sebagai anggota tim. Para peserta diuji melalui simulasi kasus kegawatdaruratan yang menilai berbagai aspek penting, seperti pemeriksaan keamanan (3A), pengecekan kesadaran korban, stabilisasi kepala dan leher, penghentian perdarahan, pemasangan neck collar, tindakan CPR tanpa AED, penanganan fraktur, hingga proses evakuasi korban. Selain ketepatan tindakan, kecepatan respon (response time) juga menjadi bagian penting dalam penilaian. Kegiatan ini diselenggarakan sebagai bentuk upaya meningkatkan kesiapsiagaan generasi muda dalam menghadapi situasi darurat. Remaja tingkat SMA/SMK dinilai memiliki potensi besar sebagai first responder di lingkungan sekolah maupun masyarakat. Dengan adanya lomba ini, diharapkan para siswa tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga memiliki kepedulian sosial dan kemampuan memberikan pertolongan pertama secara tepat. Sebagai bentuk apresiasi, panitia menetapkan 6 tim pemenang, yaitu Juara 1, Juara 2, Juara 3, serta Juara Harapan 1, 2, dan 3, dengan total hadiah sebesar Rp10.000.000. Selain uang pembinaan, para pemenang juga mendapatkan trophy, sertifikat, serta kesempatan beasiswa pendidikan apabila melanjutkan studi di Universitas Telogorejo Semarang. Pada akhir kompetisi, panitia menetapkan 6 tim pemenang dengan total hadiah uang pembinaan sebesar Rp10.000.000, disertai trophy dan sertifikat. Berikut daftar pemenang lomba: Juara 1 Tim WONG SUKSES – SMA Negeri 3 Surakarta Juara 2 Tim Gemilang – SMK 17 Temanggung Juara 3 Tim Tim GFG – SMA Krista Mitra Juara Harapan 1 Tim PMR WIRA SMANSAGU – SMA Negeri 1 Guntur Juara Harapan 2 Tim Tim Aksi Merah – SMA N 1 Toroh Juara Harapan 3 Tim Cicacuw – SMAN 1 Gubug Melalui kegiatan ini, Universitas Telogorejo Semarang berharap dapat terus berkontribusi dalam meningkatkan literasi kegawatdaruratan di kalangan pelajar serta membentuk generasi muda yang tanggap, sigap, dan peduli terhadap keselamatan sesama.
WhatsApp Image 2026-03-07 at 15.20.58 (1)
WhatsApp Image 2026-03-07 at 15.20.58
WhatsApp Image 2026-03-07 at 15.20.57 (1)
UNIVERSITAS TELOGOREJO SEMARANG JALIN KERJA SAMA INTERNASIONAL DENGAN TZU CHI UNIVERSITY TAIWAN UNTUK PENGEMBANGAN PENDIDIKAN KEPERAWATAN
BeritaNews 07 Mar 2026

UNIVERSITAS TELOGOREJO SEMARANG JALIN KERJA SAMA INTERNASIONAL DENGAN TZU CHI UNIVERSITY TAIWAN UNTUK PENGEMBANGAN PENDIDIKAN KEPERAWATAN

Universitas Tzu Chi telah menandatangani Nota Kesepahaman (MOU) dengan Universitas Telogorejo Semarang (UNTS) di Indonesia. Kedua universitas memiliki dasar pendidikan keperawatan yang kuat, dan berharap melalui pertukaran guru dan mahasiswa serta kerja sama akademik, secara bertahap mendorong berbagai rencana kerja sama, serta bersama-sama berupaya untuk pengembangan pendidikan keperawatan internasional. Universitas Telogorejo Semarang sebelumnya dikenal sebagai STIKES, sebuah institut ilmu kesehatan terkenal. Pada tahun 2025, institusi ini naik status menjadi universitas dan memiliki kerja sama yang erat dengan Rumah Sakit Telogorejo yang terkenal di daerah tersebut, kaya pengalaman dalam pendidikan klinis dan keperawatan, serta merupakan basis penting bagi pembinaan tenaga keperawatan di Indonesia. Rektor Universitas Tzu Chi, Liu Yi-jun, menyatakan bahwa di masa depan, kerja sama kedua belah pihak akan memprioritaskan dimulai dari bidang keperawatan, melalui pertukaran akademik dan pengembangan sumber daya manusia, untuk bersama-sama melahirkan generasi baru tenaga keperawatan yang memiliki kemampuan profesional sekaligus kepedulian kemanusiaan. Rektor Universitas Telogorejo Semarang, Swanny Trikajant Widyaatmadja, juga berharap kedua universitas dapat melalui kerja sama penelitian dan pertukaran akademik, membuka hubungan kerja sama jangka panjang yang bermakna. Saat ini ada alumni yang sedang melanjutkan studi di Universitas Tzu Chi, berharap di bawah bimbingan profesor Tzu Chi mendapatkan pengalaman akademik dan praktis yang kaya, untuk kemudian kembali dan membantu perkembangan jurusan keperawatan. Abigail Sharon, yang memperoleh beasiswa dari Universitas Telogorejo Semarang untuk belajar di Tzu Chi, sedang menempuh program magister keperawatan. Dia berbagi bahwa di Tzu Chi dia belajar kemampuan pendidikan keperawatan seperti perancangan kurikulum dan pengajaran interaktif, serta belajar bagaimana menjadi pendidik keperawatan di masa depan. Dia juga berpartisipasi dalam layanan sukarela, merawat lansia dan mempromosikan pendidikan kesehatan. Dia mendorong adik-adiknya untuk memanfaatkan kesempatan bertukar belajar di Tzu Chi, dia berkata: "Tzu Chi tidak hanya mengajarkan pengetahuan, tetapi juga mengajarkan nilai-nilai kehidupan." Saat ini, Universitas Tzu Chi bekerja sama dengan Yayasan Tzu Chi Indonesia dan berbagai perusahaan dalam mendorong program beasiswa, terus membina talenta Indonesia. Sekolah juga terus memperluas kesempatan bagi mahasiswa Indonesia untuk belajar di Taiwan. Saat ini, terdapat sekitar 118 mahasiswa Indonesia yang sedang menempuh pendidikan di kampus. Kerja sama kali ini dengan Universitas Telogorejo Semarang tidak hanya memberikan lebih banyak kesempatan bagi mahasiswa Indonesia untuk kembali ke tanah air untuk pertukaran dan pelayanan, tetapi juga memungkinkan mahasiswa Taiwan untuk melalui pertukaran lintas budaya, mengembangkan wawasan internasional.
Mudik Lebaran dan Ancaman Penularan Campak pada Anak
ArtikelNews 03 Mar 2026

Mudik Lebaran dan Ancaman Penularan Campak pada Anak

Disusn Oleh : Ns. Siti Lestari, M.Kep., Sp.Kep.An ( Dosen S1 Keperawatan Universitas Telogorejo Semarang )

Menjelang musim mudik dan pertemuan keluarga pada perayaan Lebaran, kewaspadaan terhadap penyakit menular pada anak perlu kembali ditingkatkan. Mobilitas masyarakat yang meningkat selama periode tersebut berpotensi mempercepat penyebaran berbagai penyakit infeksi, salah satunya campak. Hingga saat ini, infeksi virus campak masih menjadi persoalan kesehatan anak di berbagai wilayah Indonesia dan bahkan menunjukkan kecenderungan peningkatan kasus dalam satu tahun terakhir.

Situasi epidemiologi campak di Indonesia menunjukkan perkembangan yang patut menjadi perhatian serius. Berdasarkan laporan Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, sepanjang tahun 2025 tercatat sekitar 63.769 kasus suspek campak, dengan 11.094 kasus terkonfirmasi melalui pemeriksaan laboratorium serta 69 kasus kematian. Memasuki awal tahun 2026, tren peningkatan kasus masih terus terjadi. Hingga minggu ke-7 tahun 2026 dilaporkan 8.224 kasus suspek campak, 572 kasus terkonfirmasi, serta 4 kematian, disertai penetapan 21 kejadian luar biasa (KLB) di berbagai daerah.

Data surveilans nasional menunjukkan bahwa hingga minggu ke-8 tahun 2026 jumlah kasus meningkat menjadi sekitar 10.453 kasus suspek dengan sedikitnya 6 kematian. Angka tersebut menandakan bahwa penularan campak masih aktif terjadi di masyarakat dan berpotensi meningkat apabila upaya pencegahan tidak segera diperkuat. Perkembangan kasus pada anak bahkan masih terus bertambah pada awal Maret 2026.

Peningkatan kasus ini tidak dapat dilepaskan dari menurunnya cakupan imunisasi campak-rubela dalam beberapa tahun terakhir. Ketika jumlah anak yang belum memperoleh kekebalan semakin besar, virus campak yang memiliki daya tular sangat tinggi akan dengan mudah menemukan kelompok anak yang rentan terinfeksi.

Dari Ruang Rawat Anak: Gambaran Kasus di Rumah Sakit Rujukan

Peningkatan kasus campak juga tercermin dalam praktik pelayanan kesehatan anak di berbagai rumah sakit rujukan. Di Rumah Sakit Umum Pusat Nasional Dr. Cipto Mangunkusumo, kasus campak pada anak masih rutin ditemukan baik pada layanan rawat jalan maupun rawat inap.

Fenomena serupa juga dilaporkan di RSUP Dr. Kariadi, RSUP Dr. Sardjito, serta RSUD Dr. Soetomo. Dalam praktik pelayanan pediatri di rumah sakit rujukan tersebut, sebagian besar anak yang dirawat karena campak diketahui memiliki riwayat imunisasi yang tidak lengkap atau bahkan belum pernah menerima vaksin campak.

Tidak sedikit anak yang datang ke rumah sakit dalam kondisi telah mengalami komplikasi. Komplikasi yang paling sering ditemukan adalah pneumonia atau radang paru, yang menjadi alasan utama anak memerlukan perawatan di rumah sakit. Selain itu, beberapa anak juga mengalami komplikasi lain seperti diare berat, dehidrasi, serta gangguan nutrisi.

Temuan klinis tersebut menunjukkan bahwa campak bukan sekadar penyakit ringan pada anak. Dalam kondisi tertentu, penyakit ini dapat berkembang menjadi infeksi serius yang membutuhkan perawatan intensif di rumah sakit.

Mengenali Tanda dan Gejala Campak pada Anak

Campak merupakan penyakit infeksi virus yang sangat menular dan menyebar melalui percikan droplet ketika penderita batuk, bersin, atau berbicara. Tingkat penularannya sangat tinggi; satu anak yang terinfeksi dapat menularkan penyakit kepada sekitar 8–12 anak lain yang belum memiliki kekebalan.

Gejala campak umumnya muncul 7–14 hari setelah anak terpapar virus. Pada tahap awal, keluhan sering menyerupai infeksi saluran napas biasa sehingga orang tua kerap terlambat mengenalinya.

Beberapa tanda dan gejala yang perlu diwaspadai antara lain:

  • demam tinggi hingga lebih dari 39 °C
  • batuk dan pilek yang menetap
  • mata merah dan berair
  • penurunan nafsu makan serta anak tampak lemas
  • munculnya bintik putih kecil di dalam mulut yang dikenal sebagai Koplik spot
  • Setelah beberapa hari demam, biasanya muncul ruam kemerahan pada kulit yang dimulai dari wajah dan belakang telinga, kemudian menyebar ke leher, badan, hingga seluruh tubuh. Ruam tersebut merupakan tanda khas campak dan umumnya masih disertai demam yang cukup tinggi.

Penanganan Awal Campak pada Anak

Hingga saat ini belum tersedia terapi antivirus khusus untuk menyembuhkan campak. Oleh karena itu, penanganan penyakit ini bersifat suportif, yaitu membantu tubuh anak melawan infeksi sekaligus mencegah terjadinya komplikasi.

Pada kasus campak ringan, anak umumnya dapat dirawat di rumah dengan beberapa langkah sederhana, antara lain:

  • memastikan anak memperoleh istirahat yang cukup
  • memenuhi kebutuhan cairan untuk mencegah dehidrasi
  • memberikan makanan bergizi guna menunjang proses pemulihan
  • menurunkan demam menggunakan obat penurun panas sesuai anjuran tenaga kesehatan

Dalam praktik pelayanan kesehatan anak, pemberian vitamin A juga sering dilakukan karena terbukti dapat membantu menurunkan risiko komplikasi pada anak dengan campak. Anak yang sedang mengalami campak sebaiknya tetap beristirahat di rumah dan tidak melakukan kontak dengan anak lain hingga sekitar empat hari setelah ruam muncul, guna mencegah penularan.

Peran Keluarga dalam Mencegah Komplikasi

Peran keluarga sangat penting dalam proses pemulihan anak yang mengalami campak. Orang tua perlu memastikan anak mendapatkan perawatan yang tepat, menjaga kebersihan lingkungan rumah, serta memantau perkembangan gejala setiap hari.

Perlu diketahui bahwa infeksi campak dapat menurunkan daya tahan tubuh anak selama beberapa minggu bahkan hingga beberapa bulan setelah sembuh. Pada masa tersebut, anak menjadi lebih rentan terhadap infeksi lain sehingga pemenuhan nutrisi yang baik serta pemantauan kondisi kesehatan tetap diperlukan.

Orang tua juga perlu segera membawa anak ke fasilitas kesehatan apabila muncul tanda bahaya seperti sesak napas, kejang, anak tidak mau minum atau makan, atau demam tinggi yang tidak kunjung turun.

Menjelang Lebaran 2026: Waspada Penularan Saat Mudik

Perayaan Lebaran selalu diikuti dengan meningkatnya mobilitas masyarakat melalui tradisi mudik dan pertemuan keluarga besar. Perjalanan jarak jauh, kepadatan di transportasi umum, serta interaksi antaranggota keluarga dapat meningkatkan risiko penularan penyakit infeksi, termasuk campak.

Oleh karena itu, kewaspadaan terhadap penyakit ini perlu ditingkatkan menjelang musim mudik. Orang tua perlu memastikan anak telah memperoleh imunisasi campak secara lengkap sebelum melakukan perjalanan, menjaga kebersihan tangan, serta menghindari kontak dengan individu yang sedang sakit.

Pemerintah melalui Kementerian Kesehatan Republik Indonesia juga menghimbau pelaksanaan Outbreak Response Immunization (ORI) campak di wilayah yang memiliki risiko tinggi. Dalam program tersebut, anak usia 9 hingga 59 bulan dianjurkan memperoleh vaksin campak booster guna meningkatkan kekebalan dan memutus rantai penularan di masyarakat.

Apabila anak mengalami demam yang disertai ruam kemerahan setelah perjalanan atau setelah menghadiri pertemuan keluarga, orang tua sebaiknya segera berkonsultasi dengan tenaga kesehatan untuk mendapatkan pemeriksaan lebih lanjut.

Menjelang Lebaran 2026, upaya pencegahan menjadi semakin penting. Melalui imunisasi lengkap, kewaspadaan orang tua terhadap gejala awal penyakit, serta penerapan perilaku hidup bersih dan sehat, risiko penularan campak dapat ditekan. Kolaborasi antara keluarga, tenaga kesehatan, dan pemerintah menjadi kunci penting untuk melindungi anak-anak Indonesia dari penyakit yang sebenarnya dapat dicegah ini.

Inovasi Pelayanan Farmasi: Kompas Dunia Digital Bidang Farmasi
ArtikelNews 24 Feb 2026

Inovasi Pelayanan Farmasi: Kompas Dunia Digital Bidang Farmasi

Oleh: apt. Rizky Budi Santoso., M.Farm ( Dosen Farmasi Universitas Telogorejo Semarang ) Telekonsultasi pasien dalam pelayanan telefarmasi merupakan tahap awal yang sangat penting dalam memastikan akses dan kualitas layanan kefarmasian secara jarak jauh. Alur pelayanan ini dirancang untuk mereplikasi pengalaman konsultasi langsung di apotek melalui media digital, dengan tetap mempertahankan prinsip keamanan, akurasi informasi, dan interaksi profesional antara apoteker dan pasien. Telekonsultasi umumnya dilakukan melalui berbagai platform teknologi seperti aplikasi layanan kesehatan, video conferencing, atau fitur chat interaktif yang tersedia dalam sistem pelayanan digital. Tujuan utamanya adalah memberikan layanan yang cepat, efisien, dan berbasis kebutuhan pasien, tanpa mengorbankan mutu asuhan farmasi. Dalam sistem pelayanan kesehatan digital, proses registrasi dan verifikasi pasien memegang peranan krusial untuk menjamin integritas data, perlindungan privasi, serta kelancaran interaksi klinis. Transformasi digital mengharuskan sistem informasi kesehatan memiliki mekanisme identifikasi yang akurat dan efisien guna mendukung proses pelayanan yang tepat sasaran dan aman. Registrasi dan verifikasi menjadi fondasi dalam membangun kepercayaan antara pasien dan penyedia layanan. Registrasi pasien dilakukan melalui platform daring yang mengintegrasikan formulir identitas, riwayat medis, dan data demografis. Informasi yang dikumpulkan meliputi nama, tanggal lahir, alamat, serta nomor identitas resmi. Sistem ini memungkinkan pencatatan data awal secara sistematis yang dapat diakses oleh berbagai tenaga kesehatan untuk mendukung pelayanan lintas sektor. Kemudahan registrasi digital juga meningkatkan aksesibilitas layanan, terutama bagi populasi dengan keterbatasan mobilitas Transformasi digital dalam sistem pelayanan farmasi turut mencakup mekanisme penyerahan obat kepada pasien secara daring. Melalui integrasi e-dispensing dan layanan logistik, proses ini dapat dilakukan secara efisien tanpa mengabaikan aspek keselamatan, edukasi, dan standar kualitas farmasi. Apoteker tetap memegang peran sentral dalam memastikan bahwa obat diserahkan secara tepat, sesuai dengan kebutuhan klinis pasien. Setelah konsultasi daring, resep yang diberikan oleh dokter akan diverifikasi oleh apoteker melalui sistem e-dispensing. Tahapan ini mencakup pemeriksaan keabsahan resep, kesesuaian dosis, kemungkinan interaksi obat, serta identifikasi pasien. Edispensing memungkinkan proses validasi resep dilakukan secara tersistem dan terekam, sehingga meningkatkan keamanan dan akuntabilitas pelayanan farmasi. Dalam era digitalisasi layanan kesehatan, dokumentasi menjadi elemen penting yang tidak hanya merekam aktivitas pelayanan, tetapi juga menjamin kesinambungan terapi dan aspek legal. Dalam konteks telepharmacy, seluruh interaksi antara apoteker dan pasien, termasuk konsultasi daring, pemberian informasi obat, dan edukasi, harus dicatat secara sistematis dalam rekam medis elektronik kefarmasian. Teknik ini memperkuat akuntabilitas layanan serta memungkinkan pemantauan longitudinal terhadap efektivitas dan keamanan penggunaan obat Dokumentasi yang akurat juga menjadi dasar bagi evaluasi mutu layanan farmasi, penelusuran insiden medikasi, serta perencanaan intervensi farmakoterapi lanjutan. Di sisi lain, sertifikasi platform digital menjadi langkah krusial untuk memastikan bahwa aplikasi atau sistem yang digunakan telah memenuhi standar keamanan, validitas informasi, serta fitur yang mendukung pharmaceutical care. Sertifikasi ini juga memberikan kepercayaan lebih kepada pengguna dan apoteker dalam mengandalkan layanan daring secara profesional
Dua Dosen Universitas Telogorejo Semarang Terima SK Lektor Kepala dari LLDIKTI Wilayah VI
BeritaNews 24 Feb 2026

Dua Dosen Universitas Telogorejo Semarang Terima SK Lektor Kepala dari LLDIKTI Wilayah VI

Universitas Telogorejo Semarang kembali mencatatkan prestasi membanggakan di bidang akademik. Dua dosen terbaiknya resmi menerima Surat Keputusan (SK) Jabatan Fungsional Lektor Kepala dari LLDIKTI Wilayah VI pada tahun 2026. Adapun dosen yang menerima SK Lektor Kepala tersebut adalah Assoc. Professor Qomariyah, S.S.T., M.Kes dan Assoc. Professor Ns. Iien Noer’aini, M.Kep. Penyerahan SK ini menjadi bentuk pengakuan atas dedikasi, kompetensi, serta kontribusi keduanya dalam pelaksanaan Tri Dharma Perguruan Tinggi, meliputi pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat.

Pencapaian jabatan akademik Lektor Kepala merupakan salah satu tahapan penting dalam jenjang karier dosen. Proses yang dilalui tidaklah singkat, karena harus memenuhi berbagai persyaratan administratif maupun akademik, termasuk publikasi ilmiah, karya penelitian, serta kontribusi profesional yang berkelanjutan. Diharapkan, peningkatan jabatan akademik ini dapat semakin memperkuat kualitas sumber daya manusia di lingkungan kampus serta mendorong peningkatan mutu pendidikan, khususnya di bidang kesehatan.

Dengan bertambahnya dosen bergelar Lektor Kepala, Universitas Telogorejo Semarang terus menunjukkan komitmennya dalam menghadirkan pendidikan tinggi yang unggul, profesional, dan berdampak bagi masyarakat. Prestasi ini diharapkan dapat menjadi inspirasi bagi seluruh sivitas akademika untuk terus berkarya, berinovasi, dan memberikan kontribusi terbaik bagi kemajuan institusi dan bangsa.

Penyebab Diare pada Anak dan Cara Mengatasinya dengan Langkah Lintas Diare
Artikel 14 Feb 2026

Penyebab Diare pada Anak dan Cara Mengatasinya dengan Langkah Lintas Diare

 Diare merupakan kondisi buang air besar dengan tekstur cair dengan frekuensi lebih dari tiga kali dalam sehari. Diare bisa disebabkan oleh beberapa faktor. Penyebab diare yang sering dialami adalah adanya infeksi, baik karena virus, bakteri maupun parasit.  Selain itu, diare bisa disebabkan oleh alergi makanan, intoleransi laktosa, peradangan pada usus, efek samping obat hingga konsumsi makanan yang terkontaminasi.   Diare pada anak yang cukup sering terjadi adalah yang disebabkan oleh infeksi virus. Untuk kondisi diare yang disebabkan oleh infeksi virus, biasanya dapat membaik seiring dengan meningkatnya daya tahan tubuh untuk melawan virus tersebut.  Sedangkan untuk kasus yang disebabkan oleh infeksi bakteri akan diberikan antibiotik dan yang disebabkan oleh parasit akan diberikan anti parasit. Untuk kasus intoleransi laktosa dan efek samping obat, bisa mencari alternatif lain terkait obat maupun makanan dan minuman yang dikonsumsi. Penting juga untuk menjaga kebersihan makanan maupun minuman yang dikonsumsi.  Ciri-ciri Diare pada Anak Berikut merupakan ciri-ciri anak yang mengalami diare, antara lain: Tinja Encer dan Berair Salah satu ciri utama diare pada anak adalah tinja yang lebih encer dan berair dari biasanya. Tinja anak yang mengalami diare dapat tampak lebih cair dan kadang-kadang berwarna hijau atau berbusa. Frekuensi Buang Air Besar yang Meningkat Anak yang mengalami diare cenderung buang air besar lebih sering dari biasanya. Ini bisa berarti lebih dari tiga kali sehari dengan tinja yang encer. Kehilangan Cairan dan Dehidrasi Diare dapat menyebabkan anak kehilangan cairan tubuh dengan cepat. Tanda-tanda dehidrasi pada anak termasuk bibir kering, mulut kering, menangis tanpa air mata, atau fontanel (lubang di tengkorak anak) yang cekung.   Perubahan dalam Pola Makan dan Nafsu Makan Anak yang mengalami diare mungkin kurang tertarik pada makanan atau susu, atau bahkan menolak makanan sepenuhnya. Mereka juga mungkin terlihat lebih rewel atau tidak nyaman. Gejala Tambahan: Beberapa anak dengan diare juga dapat mengalami gejala tambahan seperti demam ringan, muntah, atau perut kembung. Gejala ini biasanya berkaitan dengan penyebab diare, seperti infeksi virus atau bakteri. Penanganan dan Cara Mengatasi Diare Pada Anak Kementerian Kesehatan Republik Indonesia dan WHO menetapkan Lintas Diare (Lima Langkah Tuntaskan Diare), yang terdiri dari:
  1. Rehidrasi dengan Cairan Rehidrasi Oral Formula Baru
Formula lama dibuat saat terjadinya kejadian luar biasa (KLB) disentri di Asia Selatan yang menyebabkan lebih banyak kehilangan elektrolit tubuh, terutama natrium. Seiring dengan perbaikan higienitas dan sanitasi masyarakat, maka diare yang seringkali dijumpai belakangan ini lebih banyak diakibatkan oleh virus yang tidak menyebabkan kehilangan elektrolit (kalsium, klorida, magnesium, fosfat, kalium, dan natrium) sebanyak diare akibat disentri.  Oleh karena itu, dikembangkanlah cairan rehidrasi baru yang dapat mengurangi risiko terjadinya hipernatremia (rasa haus, lemah, mual dan lain-lain), mengurangi secara signifikan pemberian cairan melalui intravena, mengurangi pengeluaran tinja, dan mengurangi kejadian muntah.
  1. Zinc Diberikan Selama 10 Hari Berturut-turut
Zinc merupakan salah satu zat gizi yang penting untuk kesehatan dan pertumbuhan anak. Kadar zinc dalam tubuh akan menurun dalam jumlah besar ketika anak mengalami diare. Pemberian zinc mampu menggantikan kandungan zinc alami tubuh yang hilang tersebut dan mempercepat penyembuhan diare.  Zinc juga meningkatkan sistem kekebalan tubuh sehingga dapat mencegah risiko terulangnya diare selama 2-3 bulan setelah anak sembuh dari diare.
  1. Pemberian ASI dan Makanan Tetap Diteruskan
Anak berusia kurang dari 6 bulan sebaiknya tetap mendapat ASI eksklusif selama diare. Apabila si kecil menginginkan lebih banyak ASI dan makanan daripada biasanya, itu akan lebih baik karena akan membantu mempercepat penyembuhan, pemulihan, dan mencegah malnutrisi. Lakukan hal ini sampai dua minggu setelah diare berhenti.  Bagi anak yang berusia kurang dari 2 tahun, dianjurkan untuk mengurangi konsumsi susu formula dan menggantinya dengan ASI. Sedangkan bagi anak yang berusia lebih dari 2 tahun, teruskan pemberian susu formula. Ingatkan ibu untuk memastikan anaknya mendapat oralit (yang mengandung air, garam, dan gula) dan air matang.
  1. Antibiotik Selektif
Antibiotik hanya diberikan jika ada indikasi, seperti diare berdarah atau diare karena infeksi bakteri kolera, yang dapat membuat diare berlangsung lama. Selain bahaya resistensi kuman, pemberian antibiotik yang tidak tepat bisa membunuh flora normal (bakteri baik) yang justru dibutuhkan tubuh. Efek samping dari penggunaan antibiotik yang tidak rasional adalah timbulnya gangguan fungsi ginjal, hati, dan pengulangan diare.
  1. Edukasi Orang Tua
Penting untuk para ibu untuk memiliki pemahaman mengenai cara pemberian oralit, zinc, ASI, atau makanan untuk si kecil. Waspadai tanda-tanda atau gejala untuk segera membawa si kecil ke fasilitas kesehatan, misalnya jika anak buang air besar cair lebih sering, muntah berulang, mengalami rasa haus yang nyata, makan dan minum yang jauh berkurang, demam, tinja berdarah, dan diare tidak membaik dalam 3 hari. 
Seminar Kesehatan dengan tema “Guru BK di Era Tantangan Mental Health: Strategi Psikologis Mendampingi Siswa Masa Kini”
BeritaNews 12 Feb 2026

Seminar Kesehatan dengan tema “Guru BK di Era Tantangan Mental Health: Strategi Psikologis Mendampingi Siswa Masa Kini”

Universitas Telogorejo Semarang menyelenggarakan Seminar Kesehatan dengan tema “Guru BK di Era Tantangan Mental Health: Strategi Psikologis Mendampingi Siswa Masa Kini” sebagai bentuk komitmen institusi dalam mendukung penguatan kesehatan mental di lingkungan pendidikan, khususnya di tingkat sekolah. Kegiatan ini menghadirkan narasumber nasional di bidang psikologi, Prof. Dr. Christin Wibhowo, M.Psi., Psikolog, yang dikenal luas atas kepakarannya dalam psikologi pendidikan dan kesehatan mental. Seminar ini diikuti oleh 88 Guru Bimbingan dan Konseling (BK) yang berasal dari berbagai wilayah, meliputi Kota Semarang, Kabupaten Semarang, Demak, Salatiga, Kudus, Grobogan, dan Kendal. Dalam paparannya, Prof. Dr. Christin Wibhowo menekankan bahwa tantangan kesehatan mental siswa di era saat ini semakin kompleks, dipengaruhi oleh faktor akademik, sosial, keluarga, hingga perkembangan teknologi digital. Guru BK memiliki peran strategis sebagai garda terdepan dalam mendampingi siswa agar mampu menghadapi tekanan psikologis secara sehat dan adaptif. Seminar kesehatan ini bertujuan untuk:
  1. Meningkatkan pemahaman Guru BK mengenai tantangan kesehatan mental yang dihadapi siswa di era saat ini.
  2. Membekali Guru BK dengan strategi dan pendekatan psikologis yang efektif dalam mendampingi siswa secara profesional.
  3. Menguatkan peran Guru BK sebagai pendamping utama dalam menciptakan lingkungan sekolah yang sehat secara mental dan emosional.
  4. Meningkatkan kesadaran akan pentingnya kolaborasi antara sekolah dan tenaga profesional dalam penanganan kesehatan mental siswa.
Melalui kegiatan ini, Universitas Telogorejo Semarang berharap Guru BK dapat semakin siap dan percaya diri dalam menjalankan perannya, tidak hanya sebagai konselor akademik, tetapi juga sebagai pendamping psikologis yang berkontribusi langsung pada kesejahteraan mental dan emosional peserta didik. Universitas Telogorejo Semarang berkomitmen untuk terus menghadirkan kegiatan edukatif dan kolaboratif sebagai bagian dari kontribusi nyata dalam peningkatan kualitas pendidikan dan kesehatan mental masyarakat.