PMB
Ketika Gunung Menulis Sejarah: Abu Vulkanik, Tubuh, Iklim, Budaya, dan Ketahanan Bangsa
Oleh: dr. Dito Anurogo, M.Sc., Ph.D.( Dosen S-1 Fisioterapi Universitas Telogorejo Semarang )
Alumnus PhD dari IPCTRM Taipei Medical University Taiwan, WWPO Peace Ambassador untuk Indonesia, Diploma in Project Management from International Business Management Institute Berlin Germany, dokter riset, dosen UNTS, peneliti IMI, penulis puluhan buku, kolumnis, reviewer jurnal internasional terindeks Scopus Q1, trainer berlisensi BNSP, komunikator sains, founder ILI, pelopor NiBTM.
Gunung api tidak pernah hanya berbicara kepada ahli geologi. Ketika ia erupsi, pesannya sampai ke paru-paru manusia, layanan pusat kesehatan masyarakat, langit penerbangan, sawah dan laut, pasar pangan, meja diplomasi, ingatan kolektif, bahkan ruang batin. Abu yang jatuh dari langit memang dapat diukur melalui ketebalan endapan, konsentrasi partikel, dan arah angin. Namun dampaknya tidak berhenti pada angka. Ia mengubah cara sebuah masyarakat bernapas, bergerak, bekerja, berdoa, mengingat masa lalu, dan membayangkan masa depan.
Aktivitas Anak Krakatau pada awal September 2026 kembali memperlihatkan bahwa erupsi di negara kepulauan seperti Indonesia dapat segera berkembang menjadi persoalan lintas sektor. Gangguan penerbangan, kekhawatiran kesehatan, pembatasan aktivitas masyarakat, dan pergerakan material vulkanik di atmosfer menunjukkan satu hal penting: gunung api adalah simpul yang mempertemukan proses alam dengan sistem sosial modern. Membaca erupsi hanya sebagai letusan magma berarti kehilangan sebagian besar ceritanya.

Tubuh menjadi garis depan pertama
Dalam perspektif kedokteran, abu vulkanik bukan sekadar debu yang mengotori halaman. Ia terdiri atas fragmen batuan, mineral, dan kaca vulkanik berdiameter kurang dari dua milimeter. Sebagian partikelnya cukup halus untuk terhirup dan mengiritasi hidung, tenggorokan, serta saluran pernapasan. Mata dapat terasa perih, merah, berair, atau seperti kemasukan benda asing. Pada orang dengan asma, penyakit paru obstruktif kronis, atau penyakit jantung dan paru, paparan dapat memperburuk keluhan yang sudah ada.
Namun sisi kesehatan erupsi jauh lebih luas daripada urusan paru. Abu dapat mencemari sumber air dan pangan, mengganggu pelayanan kesehatan, menghambat akses jalan, dan memaksa keluarga meninggalkan rumah. Pengungsian menghadirkan persoalan lain: kepadatan, sanitasi, kesinambungan ketersediaan dan penggunaan obat, kesehatan ibu dan anak, kebutuhan lansia, serta dukungan bagi orang dengan penyakit kronis. Dalam keadaan darurat, pasien hipertensi tetap membutuhkan obatnya, penderita diabetes tetap memerlukan terapi, bayi tetap perlu nutrisi, dan ibu hamil tetap membutuhkan pemeriksaan.
Ada pula luka yang tidak terlihat pada foto satelit: tekanan psikologis. Kehilangan rumah, ternak, pekerjaan, sekolah, atau rasa aman dapat menimbulkan tekanan mental dan emosional. Sebagian orang cepat pulih, sementara sebagian lainnya membutuhkan dukungan lebih panjang. Kesehatan jiwa dan dukungan psikososial tidak seharusnya datang belakangan setelah logistik fisik selesai dibagikan. Dalam bencana, rasa aman, informasi yang jernih, keberadaan keluarga, ruang untuk berduka, serta akses ke pertolongan psikologis merupakan bagian dari pelayanan kesehatan.
Di titik ini, kedokteran bertemu dengan kemanusiaan. Dokter dapat mengobati sesak, iritasi mata, atau luka bakar. Kesehatan masyarakat bertanya lebih jauh: siapa yang paling rentan, siapa yang tidak memiliki kendaraan untuk mengungsi, siapa yang kehilangan obat rutin, dan siapa yang hidup sendirian ketika peringatan bahaya berbunyi? Pertanyaan-pertanyaan itu menentukan apakah mitigasi benar-benar melindungi masyarakat atau hanya menyediakan prosedur di atas kertas.
Belerang, aerosol, dan suhu Bumi
Dalam klimatologi, gunung api mempunyai skala cerita yang berbeda. Tidak setiap erupsi akan mengubah iklim global. Ini penting ditegaskan agar masyarakat tidak mencampuradukkan hujan abu lokal dengan pendinginan planet. Efek iklim yang besar terutama dapat terjadi ketika erupsi eksplosif menyuntikkan gas sulfur dioksida dalam jumlah besar ke stratosfer. Di lapisan atmosfer tersebut, gas ini dapat membentuk aerosol sulfat, yaitu partikel sangat halus yang memantulkan sebagian energi Matahari kembali ke angkasa dan untuk sementara mengurangi pemanasan permukaan Bumi.
Indonesia menyimpan salah satu contoh paling dramatis dalam sejarah: letusan Tambora pada 1815. Letusan raksasa di Sumbawa menghasilkan dampak atmosfer yang terasa jauh dari Nusantara. Tahun berikutnya kemudian dikenal di Eropa dan Amerika Utara sebagai tahun tanpa musim panas. Anomali suhu, hujan, embun beku, dan gagal panen ikut memperberat kelangkaan pangan di berbagai tempat. Sebuah letusan di sebuah pulau di Indonesia ternyata dapat bergaung hingga pasar gandum, kesehatan masyarakat, migrasi, dan keresahan sosial ribuan kilometer jauhnya.
Kisah Tambora mengajarkan bahwa atmosfer tidak mengenal paspor. Gas sulfur dioksida dan aerosol sulfat yang mencapai stratosfer tidak berhenti pada batas provinsi, zona ekonomi eksklusif, atau garis diplomatik. Dalam pengertian itu, vulkanologi dan klimatologi memiliki dimensi geopolitik: suatu kejadian lokal dapat menciptakan konsekuensi regional bahkan global ketika bersentuhan dengan sistem pangan, perdagangan, transportasi, dan ketahanan ekonomi.
Geopolitik langit
Abu vulkanik juga memperlihatkan betapa rentannya infrastruktur global yang tampak sangat canggih. Pesawat jet modern dapat melintasi benua dalam hitungan jam, tetapi tetap harus menghormati partikel mineral yang dilepaskan gunung api. Abu dapat merusak mesin dan berbagai sistem pesawat. Karena itu, pergerakan awan abu dipantau melalui sistem pengawasan gunung api bagi penerbangan internasional serta jaringan pusat penasihat abu vulkanik.
Di kawasan kita, pusat penasihat abu vulkanik yang berkedudukan di Darwin, Australia, berperan mendeteksi, melacak, dan memprakirakan pergerakan awan abu di wilayah tanggung jawabnya, termasuk banyak kejadian vulkanik di Indonesia. Hal ini menarik secara geopolitik. Keselamatan penerbangan Indonesia bergantung pada ekosistem informasi yang melibatkan pengamatan nasional, satelit, pusat meteorologi, pengendali lalu lintas udara, maskapai, dan institusi lintas negara.
Kedaulatan pada zaman sekarang tidak berarti sebuah negara harus bekerja sendirian. Kedaulatan justru terlihat dari kemampuan menghasilkan data yang dapat dipercaya, membagikannya tepat waktu, dan menghubungkannya dengan sistem keselamatan regional maupun global. Abu vulkanik mengajarkan bahwa keamanan nasional modern juga dibangun melalui kerja sama ilmiah. Angin yang membawa awan abu tidak mengenal perbatasan negara.
Dampaknya menjalar pula ke ekonomi. Ketika penerbangan berubah rute atau berhenti, wisatawan tertunda, kargo terlambat, jadwal bisnis berubah, dan rantai pasok ikut menyesuaikan diri. Di wilayah pesisir, pembatasan melaut dapat memengaruhi pendapatan keluarga nelayan. Di daerah pertanian, endapan abu dapat menjadi beban pada fase awal. Dalam kondisi tertentu dan setelah mengalami pelapukan jangka panjang, material vulkanik dapat ikut menyumbang mineral bagi pembentukan tanah yang subur. Gunung api adalah paradoks: ia dapat menghancurkan penghidupan hari ini sekaligus ikut membentuk lanskap produktif untuk generasi berikutnya.
Ketika sejarah ditulis oleh teknologi komunikasi
Historiografi bencana menarik karena tidak hanya mempertanyakan apa yang terjadi, tetapi juga bagaimana suatu peristiwa diingat. Dalam ingatan populer global, Tambora lama tidak sekuat Krakatau, meskipun skala letusannya jauh lebih besar. Salah satu penjelasannya terletak pada teknologi komunikasi. Berita Tambora bergerak pada zaman ketika informasi masih bergantung pada kapal dan surat. Krakatau meletus pada 1883 ketika jaringan telegraf telah menghubungkan banyak wilayah dunia.
Krakatau kemudian menjadi peristiwa global bukan hanya karena dampak fisiknya, melainkan juga karena cara kabarnya menyebar. Laporan, pengamatan, dan kesaksian dapat beredar lebih cepat. Royal Society di Inggris membentuk komite untuk mengumpulkan catatan tentang erupsi Krakatau dan akibatnya. Fenomena langit kemerahan yang terlihat jauh dari Indonesia dicatat dan dilukis. Bencana berubah menjadi arsip ilmiah internasional.
Pelajarannya sangat kontemporer. Media ikut menentukan bagaimana sebuah bencana masuk ke dalam ingatan kolektif. Pada abad kesembilan belas, telegraf membantu menjadikan Krakatau peristiwa global. Pada abad kedua puluh satu, media sosial dapat mengubah erupsi menjadi video yang beredar luas dalam hitungan menit. Namun kecepatan informasi membawa risiko lain. Video lama dapat diunggah kembali seolah-olah kejadian baru. Suara letusan dapat dilebih-lebihkan. Narasi mistik dapat dipelintir menjadi klaim prediksi. Ketakutan kemudian bergerak lebih cepat daripada abu.
Literasi bencana karena itu tidak cukup berarti mampu membaca peta bahaya. Ia juga berarti mampu membedakan informasi resmi, interpretasi, rumor, pengalaman personal, dan konten yang sengaja dibuat untuk mengejar perhatian.
Gunung dalam kosmologi budaya
Jauh sebelum satelit, seismograf, dan kamera termal, masyarakat Nusantara telah hidup berdampingan dengan gunung api. Mereka mengembangkan cerita, ritual, larangan, penanda alam, dan tata hubungan sosial sebagai cara memberi makna pada lanskap yang tidak sepenuhnya dapat mereka kendalikan.
Di sekitar Merapi, misalnya, tradisi Labuhan menjadi bagian dari warisan budaya Yogyakarta. Tradisi tersebut berkaitan dengan rasa syukur, penghormatan terhadap alam, serta gagasan keselarasan hubungan manusia dengan Tuhan, alam, dan sesama. Kosmologi Merapi juga hidup dalam berbagai kisah tentang kekuatan dan penjaga gunung. Bagi antropologi, narasi semacam itu bukan data seismik, melainkan data budaya: cara suatu komunitas menata rasa takut, rasa hormat, identitas, dan keberlanjutan hidup di wilayah rawan.
Di sinilah sikap dewasa diperlukan. Mitos tidak perlu direndahkan, tetapi juga tidak boleh digunakan untuk menolak bukti ilmiah. Tradisi tidak harus dimatikan atas nama modernitas, tetapi keselamatan tidak boleh dipertaruhkan atas nama simbolisme. Ketika Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi menetapkan zona bahaya atau pemerintah memerintahkan evakuasi, keputusan keselamatan harus mengikuti pengetahuan kebencanaan yang terukur.
Justru adat dapat menjadi mitra mitigasi. Tokoh budaya, pemuka agama, tetua kampung, guru, dan pemimpin komunitas sering memiliki kepercayaan masyarakat yang kuat. Jika mereka memahami informasi risiko, pesan evakuasi dapat diterjemahkan ke dalam bahasa lokal yang lebih diterima. Budaya kemudian tidak menjadi lawan ilmu pengetahuan, melainkan jembatan sosial agar ilmu pengetahuan dapat benar-benar bekerja.
Belajar dari pepatah Nusantara
Paremiologi, ilmu yang mempelajari peribahasa dan ungkapan tradisional, menawarkan pintu lain untuk memahami hubungan manusia dan bencana. Minangkabau mengenal falsafah “alam takambang jadi guru”, alam yang terbentang menjadi guru. Ungkapan ini sangat relevan bagi negeri vulkanik. Gunung bukan hanya objek yang ditakuti atau dieksploitasi; ia adalah sumber pelajaran tentang batas, perubahan, siklus, dan konsekuensi.
Menjadikan alam sebagai guru tidak berarti menerima semua bencana secara pasif. Justru seorang murid yang baik belajar dari pola. Jika jalur lahar pernah melewati suatu lembah, pengetahuan itu harus masuk ke perencanaan ruang. Jika abu berulang kali bergerak mengikuti pola angin tertentu pada musim tertentu, sekolah dan fasilitas kesehatan harus menyiapkan skenario. Jika masyarakat berulang kali kehilangan obat rutin ketika mengungsi, tas siaga kesehatan harus menjadi kebiasaan rumah tangga.
Dari Bugis, kita mengenal ungkapan “Resopa temmangingngi, namalomo naletei pammase Dewata”, yang secara makna menempatkan kerja keras dan ketekunan sebagai jalan yang berjalan bersama rahmat Tuhan. Dalam konteks bencana, ungkapan ini menawarkan keseimbangan penting: doa tidak meniadakan kerja, dan kerja tidak menghapus kesadaran bahwa manusia memiliki keterbatasan.
Spiritualitas tanpa fatalisme
Bencana hampir selalu memunculkan pertanyaan religius. Mengapa ini terjadi? Apakah ini hukuman? Apakah ini ujian? Pertanyaan semacam itu sangat manusiawi, tetapi ilmu kedokteran dan vulkanologi tidak memiliki instrumen untuk menentukan maksud ilahi di balik sebuah erupsi. Mengklaim dengan pasti bahwa korban bencana sedang dihukum Tuhan bukan hanya tidak dapat dibuktikan secara ilmiah, tetapi juga berpotensi melukai mereka yang sedang kehilangan keluarga dan rumah.
Dalam tradisi Islam, alam dapat dibaca sebagai ayat kauniyah, yakni tanda-tanda kebesaran Tuhan yang terbentang di semesta dan mengundang manusia untuk berpikir. Tasawuf memperkaya respons itu melalui tafakur, muhasabah, sabar, tawaduk, ikhtiar, tawakal, dan kepedulian kepada sesama. Spiritualitas semacam ini tidak melahirkan kepasrahan tanpa tindakan. Tawakal berjalan bersama ikhtiar.
Seseorang dapat berdoa sambil mengenakan pelindung pernapasan. Ia dapat berzikir sambil mengungsi ke luar zona bahaya yang ditetapkan otoritas. Masjid dan tempat ibadah lainnya dapat menjadi ruang doa sekaligus simpul informasi, pelayanan kemanusiaan, distribusi obat, dapur umum, dan dukungan psikososial. Doa dan data tidak harus dipertentangkan. Yang satu memberi orientasi makna dan keteguhan batin; yang lain membantu menentukan tindakan yang paling aman.
Tasawuf juga mengingatkan tentang tawaduk, yakni kerendahan hati. Peradaban modern mudah merasa telah menaklukkan alam karena memiliki satelit, kecerdasan buatan, pesawat jet modern, dan kota berbasis teknologi cerdas. Gunung api mengoreksi kesombongan itu. Teknologi dapat memperkirakan, memantau, dan mengurangi risiko, tetapi tidak menjadikan manusia penguasa mutlak proses geologi Bumi.
Dari ritual menuju ketangguhan
Indonesia membutuhkan model mitigasi yang tidak memaksa masyarakat memilih antara laboratorium dan kebudayaan, antara sensor dan surau, antara dokter dan tokoh adat. Yang dibutuhkan adalah integrasi yang cerdas. Ilmu menentukan batas aman, budaya membantu membangun kepatuhan sosial, agama menguatkan solidaritas, dan pemerintah memastikan sistem bekerja sebelum krisis datang.
Dalam praktiknya, daerah rawan gunung api dapat mengembangkan pendidikan kebencanaan yang menggunakan peta modern sekaligus cerita lokal. Sekolah dapat mengajarkan bagaimana abu memengaruhi paru, bagaimana arah angin menentukan sebaran, mengapa pelindung pernapasan harus dipakai dengan benar, sekaligus bagaimana leluhur membaca lanskap dan menamai wilayah. Pusat kesehatan masyarakat dapat memasukkan kelompok rentan dalam rencana kesiapsiagaan darurat. Pengelola tempat ibadah dapat dilatih agar tempat ibadah berfungsi sebagai simpul komunikasi risiko. Festival budaya dapat menjadi ruang edukasi kesiapsiagaan, bukan sekadar atraksi wisata.
Pendekatan semacam ini membantu mencegah konflik pengetahuan. Dalam banyak bencana, kegagalan komunikasi bukan terjadi karena masyarakat sama sekali tidak tahu, tetapi karena pesan ilmiah tidak masuk ke dalam bahasa kepercayaan mereka. Jika petugas hanya datang dengan grafik tanpa memahami struktur sosial desa, pesan dapat berhenti di balai pertemuan. Sebaliknya, jika kearifan lokal digunakan tanpa verifikasi risiko modern, masyarakat dapat merasa aman ketika sebenarnya berada di zona berbahaya.
Negara cincin api membutuhkan kecakapan berlapis: kemampuan pemantauan untuk membaca perubahan aktivitas gunung api, kecakapan kesehatan untuk melindungi tubuh, pengetahuan iklim untuk memahami atmosfer, kemampuan diplomasi untuk menjaga konektivitas regional, kesadaran sejarah untuk belajar dari Tambora dan Krakatau, kecakapan budaya untuk memahami masyarakat, serta kedalaman spiritual untuk merawat makna tanpa jatuh pada fatalisme.
Gunung api mengingatkan bahwa manusia hidup di atas Bumi yang dinamis, bukan panggung yang diam. Abu dapat turun di sebuah desa lalu memasuki saluran napas seseorang; sulfur dioksida dapat mencapai stratosfer, membentuk aerosol sulfat, lalu memengaruhi suhu dan sirkulasi atmosfer jauh dari sumber erupsi; sebuah letusan dapat mengubah jalur penerbangan; sebuah ritual dapat menjaga ingatan kolektif; sebuah peribahasa dapat menyimpan etika ekologis; dan sebuah doa dapat menguatkan orang yang kehilangan rumah.
Jika “alam takambang jadi guru”, maka tugas manusia bukan sekadar mengagumi atau takut kepada gunung, melainkan belajar menjadi murid yang lebih cerdas: membaca tanda dengan ilmu, menjaga tubuh dengan kedokteran, mengelola risiko melalui kebijakan, menghormati warisan budaya tanpa mencampuradukkan mitos dengan fakta, bekerja keras tanpa kehilangan doa, serta menyadari bahwa di hadapan Bumi yang terus bergerak, kerendahan hati adalah bagian dari keselamatan. (Dokter Dito Anurogo, M.Sc., Ph.D., alumnus PhD dari IPCTRM Taipei Medical University Taiwan, WWPO Peace Ambassador untuk Indonesia, Diploma in Project Management from International Business Management Institute Berlin Germany, dokter riset, dosen UNTS, peneliti IMI, penulis puluhan buku, kolumnis, reviewer jurnal internasional terindeks Scopus Q1, trainer berlisensi BNSP, komunikator sains, founder ILI, pelopor NiBTM.)
REHABILITASI INTENSIF: KUNCI MENGEMBALIKAN KEMANDIRIAN PENYINTAS STROKE ISKEMIK DI USIA PRODUKTIF
Oleh: Ns. Sri Puguh Kristiyawati, M.Kep, Sp.MB ( Dosen S-1 Keperawatan Universitas Telogorejo Semarang )

Stroke Tidak Lagi Identik dengan Lansia
Ketika mendengar kata stroke, sebagian besar orang mungkin langsung membayangkan penyakit yang hanya menyerang usia lanjut. Faktanya, stroke kini semakin banyak terjadi pada kelompok usia produktif, yaitu mereka yang berusia 15–64 tahun. Kondisi ini menjadi perhatian serius karena bukan hanya kesehatan yang terganggu, tetapi juga produktivitas kerja, kondisi ekonomi keluarga, hingga kualitas hidup penyintas. Di Indonesia, hampir 70% pasien stroke yang menjalani rehabilitasi berada pada usia produktif. Jika pemulihan tidak berlangsung optimal, dampaknya dapat berlangsung seumur hidup, mulai dari kesulitan berjalan, kelemahan anggota gerak, hingga kehilangan kemampuan bekerja.
Mengapa Stroke Menyebabkan Kelumpuhan?
Stroke iskemik terjadi ketika aliran darah menuju otak tersumbat oleh bekuan darah. Akibatnya, sel-sel otak kekurangan oksigen dan nutrisi sehingga mengalami kerusakan dalam waktu singkat. Bagian otak yang mengatur gerakan tubuh menjadi salah satu area yang paling sering terdampak. Tidak heran apabila banyak penyintas stroke mengalami: kelemahan pada tangan atau kaki, gangguan keseimbangan, sulit berjalan, kesulitan melakukan aktivitas sehari-hari seperti makan, berpakaian, atau mandi sendiri. Namun, kerusakan tersebut bukan berarti tidak dapat diperbaiki. Otak memiliki kemampuan luar biasa yang disebut neuroplastisitas, yaitu kemampuan membentuk kembali jaringan saraf untuk menggantikan fungsi yang hilang melalui latihan yang tepat dan berulang.
Apa Itu Rehabilitasi Intensif?
Rehabilitasi intensif merupakan program latihan yang dilakukan dengan: frekuensi terapi lebih sering, durasi latihan lebih lama, latihan yang berulang dan berorientasi pada aktivitas sehari-hari, dimulai sedini mungkin setelah kondisi pasien stabil. Berbeda dengan rehabilitasi standar, pendekatan ini memberikan rangsangan motorik yang lebih banyak sehingga otak memperoleh kesempatan lebih besar untuk membangun jalur saraf baru. Ibarat seseorang yang sedang belajar memainkan alat musik, semakin sering berlatih maka kemampuan akan semakin cepat berkembang. Prinsip yang sama berlaku pada proses pemulihan setelah stroke.
Semakin Cepat Dimulai, Semakin Besar Peluang Pulih
Salah satu pesan terpenting dari penelitian ini adalah pentingnya memulai rehabilitasi sedini mungkin. Masa dua minggu pertama setelah stroke sering disebut sebagai golden period atau periode emas rehabilitasi. Pada fase ini, kemampuan otak untuk beradaptasi dan memperbaiki fungsi masih berada pada tingkat tertinggi. Penelitian menunjukkan bahwa pasien yang mulai menjalani rehabilitasi dalam periode ini memperoleh: peningkatan kemampuan berjalan lebih cepat, fungsi tangan dan kaki yang lebih baik, peningkatan kemampuan melakukan aktivitas sehari-hari, peluang kembali mandiri yang lebih besar dibandingkan pasien yang terlambat memulai rehabilitasi.
Bukti Ilmiah Mendukung Rehabilitasi Intensif
Berbagai penelitian yang dianalisis dalam artikel menunjukkan hasil yang konsisten. Pasien yang mengikuti rehabilitasi intensif mengalami peningkatan fungsi motorik yang lebih tinggi dibandingkan rehabilitasi standar. Bahkan, pada minggu ke-4 maupun minggu ke-12 setelah terapi, skor kemampuan gerak mereka jauh lebih baik. Grafik yang ditampilkan dalam artikel memperlihatkan bahwa rehabilitasi intensif tidak hanya mempercepat pemulihan, tetapi juga mempertahankan peningkatan fungsi motorik dalam jangka pendek.
Tidak Semua Pasien Memiliki Kecepatan Pemulihan yang Sama
Keberhasilan rehabilitasi dipengaruhi oleh berbagai faktor. Pasien usia produktif umumnya memiliki peluang pemulihan yang lebih baik karena: kemampuan neuroplastisitas otak masih tinggi, kondisi fisik relatif lebih baik, penyakit penyerta lebih sedikit, motivasi untuk kembali bekerja lebih besar. Sebaliknya, pasien dengan stroke berat, diabetes yang tidak terkontrol, hipertensi, atau penyakit jantung memerlukan program rehabilitasi yang lebih individual karena proses pemulihannya cenderung lebih lambat.
Mengapa Latihan Harus Dilakukan Berulang?
Setiap gerakan yang dilakukan secara berulang akan mengirimkan sinyal ke otak untuk membangun kembali koneksi antarsel saraf. Semakin sering latihan dilakukan, semakin kuat jalur saraf baru yang terbentuk. Oleh karena itu, latihan seperti: berjalan, berdiri, menggerakkan tangan, menggenggam benda, naik turun tangga, tidak sekadar meningkatkan kekuatan otot, tetapi juga membantu "mengajarkan kembali" otak bagaimana mengendalikan tubuh.
Rehabilitasi Tidak Berakhir Saat Pulang dari Rumah Sakit
Salah satu temuan penting dalam artikel ini adalah bahwa manfaat rehabilitasi intensif dapat berkurang apabila latihan tidak dilanjutkan setelah pasien pulang. Karena itu, kesinambungan terapi menjadi sangat penting melalui: latihan mandiri di rumah, pendampingan keluarga, kontrol rutin, fisioterapi berkelanjutan, pemanfaatan tele-rehabilitasi atau konsultasi daring. Pendekatan berkelanjutan inilah yang membantu mempertahankan kemampuan yang telah dicapai selama perawatan di rumah sakit.
Peran Keluarga Sangat Menentukan
Kesuksesan rehabilitasi bukan hanya bergantung pada tenaga kesehatan, tetapi juga dukungan keluarga. Keluarga dapat membantu dengan cara: memberikan motivasi kepada pasien, mendampingi latihan setiap hari, memastikan jadwal terapi dipatuhi, menciptakan lingkungan rumah yang aman, memberikan dukungan emosional selama proses pemulihan.
Banyak penelitian menunjukkan bahwa pasien yang memperoleh dukungan keluarga memiliki kepatuhan terapi yang lebih baik dan hasil rehabilitasi yang lebih optimal.
Harapan Baru bagi Penyintas Stroke
Dahulu, banyak orang menganggap kelumpuhan akibat stroke sebagai kondisi permanen. Kini, ilmu pengetahuan menunjukkan bahwa dengan penanganan yang cepat, rehabilitasi yang intensif, dan latihan yang dilakukan secara konsisten, banyak penyintas stroke mampu kembali berjalan, bekerja, bahkan menjalani kehidupan yang produktif. Pesan utama dari penelitian ini sangat jelas: waktu adalah otak. Semakin cepat rehabilitasi dimulai dan semakin baik kualitas latihan yang diberikan, semakin besar peluang pasien untuk kembali mandiri dan meningkatkan kualitas hidupnya.
Pesan untuk Masyarakat
Stroke bukanlah akhir dari segalanya. Pemulihan yang optimal membutuhkan kolaborasi antara tenaga kesehatan, pasien, keluarga, dan sistem pelayanan kesehatan. Jangan menunda rehabilitasi setelah stroke. Manfaatkan periode emas pemulihan dengan mengikuti program rehabilitasi yang terstruktur, intensif, dan berkesinambungan. Dengan langkah yang tepat, penyintas stroke memiliki kesempatan besar untuk kembali menjalani kehidupan yang aktif, produktif, dan bermakna.
Referensi
Kristiyawati, S. P., Dharmani, I. G. A. A. N., Ruhdiat, R., Siregar, H. K., & Montolalu, I. A. (2025). Effectiveness of Intensive Rehabilitation on Motor Recovery After Ischemic Stroke in Productive Age Patients. Journal of the American Institute, 2(9), 1340-1349. https://doi.org/10.71364/zyayxg61
Wei, X., Sun, S., Zhang, M., & Zhao, Z. (2024). A systematic review and meta-analysis of clinical efficacy of early and late rehabilitation interventions for ischemic stroke. BMC neurology, 24(1), 91. https://doi.org/10.1186/s12883-024-03565-8
Wu, W. X., Zhou, C. Y., Wang, Z. W., Chen, G. Q., Chen, X. L., Jin, H. M., & He, D. R. (2020). Effect of Early and Intensive Rehabilitation after Ischemic Stroke on Functional Recovery of the Lower Limbs: A Pilot, Randomized Trial. Journal of stroke and cerebrovascular diseases : the official journal of National Stroke Association, 29(5), 104649. https://doi.org/10.1016/j.jstrokecerebrovasdis.2020.104649
Universitas Telogorejo Semarang Raih Kaizen Legacy Award dan Tiga Medali di Kaizen Festival Nasional ke-9
Semarang, 18 Juli 2026 | Universitas Telogorejo Semarang kembali menorehkan prestasi membanggakan melalui partisipasinya dalam Kaizen Festival Nasional ke-9 yang diselenggarakan pada 16–17 Juli 2026. Dalam ajang tersebut, Universitas Telogorejo Semarang berhasil meraih Kaizen Legacy Award sekaligus membawa pulang tiga kategori medali melalui inovasi dari sejumlah tim.
Penghargaan tersebut menjadi bentuk apresiasi atas komitmen sivitas akademika Universitas Telogorejo Semarang dalam mengembangkan budaya inovasi, perbaikan berkelanjutan, serta peningkatan mutu di lingkungan institusi.
Pada kategori Platinum Medal, penghargaan berhasil diraih oleh Laboran Terpadu melalui inovasi berjudul “Optimalisasi E-Lab melalui Lock System.” Inovasi ini menjadi salah satu bentuk upaya dalam menghadirkan pengelolaan laboratorium yang lebih optimal melalui pemanfaatan sistem yang mendukung efektivitas dan tata kelola layanan.
Sementara itu, Gold Medal diraih oleh Classy Team melalui inovasi “Nursing Talk.” Prestasi ini menunjukkan kontribusi tim dalam menghadirkan gagasan inovatif yang relevan dengan pengembangan layanan dan pendidikan di bidang keperawatan.
Tidak berhenti di dua kategori tersebut, Universitas Telogorejo Semarang juga berhasil meraih dua Silver Medal. Penghargaan pertama diberikan kepada Leg Jamu melalui inovasi “Sistem Manajemen Risiko.” Penghargaan kedua diraih oleh Tim Cermat melalui inovasi “Simplifikasi Sistem Keuangan.”
Rangkaian pencapaian tersebut memperlihatkan keberagaman inovasi yang dikembangkan di Universitas Telogorejo Semarang, mulai dari optimalisasi laboratorium, pengembangan bidang keperawatan, manajemen risiko, hingga penyederhanaan sistem keuangan.
Perolehan Kaizen Legacy Award, Platinum Medal, Gold Medal, dan dua Silver Medal menjadi bukti bahwa budaya perbaikan berkelanjutan terus tumbuh di lingkungan Universitas Telogorejo Semarang. Prestasi ini sekaligus menjadi motivasi bagi seluruh sivitas akademika untuk terus menghasilkan inovasi yang memberikan dampak nyata bagi peningkatan mutu institusi.
Universitas Telogorejo Semarang menyampaikan apresiasi dan selamat kepada seluruh tim yang telah berkontribusi dalam ajang Kaizen Festival Nasional ke-9. Semoga pencapaian ini menjadi langkah berkelanjutan untuk terus berkarya, berinovasi, dan menghadirkan berbagai terobosan yang memberikan manfaat bagi institusi maupun masyarakat.
Selamat dan sukses untuk seluruh tim Universitas Telogorejo Semarang. Terus berinovasi, terus bertumbuh, dan terus menorehkan prestasi!

DISFAGIA PADA PASIEN STROKE: GANGGUAN MENELAN YANG SERING TERJADI TETAPI SERING TERABAIKAN
Oleh: Ns. Sri Puguh Kristiyawati, M.Kep, Sp.MB ( Dekan Fakultas Ilmu Kesehatan dan Teknologi Universitas Telogorejo Semarang )

Stroke masih menjadi salah satu penyebab utama kecacatan dan kematian di dunia. Banyak masyarakat mengenal stroke sebagai penyakit yang menyebabkan kelemahan anggota gerak, gangguan bicara, atau kelumpuhan. Namun, tidak banyak yang mengetahui bahwa lebih dari separuh pasien stroke juga mengalami disfagia, yaitu gangguan menelan makanan atau minuman. Kondisi ini justru dapat menimbulkan komplikasi serius apabila tidak dikenali sejak dini.
Apa itu Disfagia?
Disfagia adalah gangguan pada proses menelan sehingga makanan, minuman, bahkan air liur sulit berpindah dari mulut menuju lambung. Gangguan ini dapat terjadi karena kerusakan saraf dan otot yang mengatur proses menelan, salah satunya akibat stroke. Pada pasien stroke, bagian otak yang mengendalikan koordinasi menelan mengalami kerusakan sehingga refleks menelan menjadi lambat atau tidak efektif. Akibatnya, makanan dapat masuk ke saluran napas (aspirasi) tanpa disadari oleh pasien.
Mengapa Disfagia Sering Terjadi Setelah Stroke?
Gangguan menelan merupakan salah satu komplikasi paling sering ditemukan pada fase akut stroke. Berbagai penelitian menunjukkan bahwa lebih dari 50% pasien stroke mengalami disfagia pada awal kejadian stroke, bahkan angka kejadiannya dapat mencapai 65–78% apabila dilakukan pemeriksaan menggunakan alat diagnostik yang lebih sensitif. Sebagian besar pasien memang akan mengalami perbaikan dalam waktu satu minggu, namun sekitar 11–15% masih mengalami disfagia hingga enam bulan setelah stroke.
Apa Bahayanya?
Disfagia bukan sekadar kesulitan makan. Kondisi ini dapat menyebabkan berbagai komplikasi serius, antara lain: aspirasi (makanan atau minuman masuk ke paru-paru), pneumonia aspirasi, malnutrisi, dehidrasi, penurunan kualitas hidup, peningkatan lama perawatan di rumah sakit, meningkatnya angka kematian. Beberapa pasien bahkan mengalami silent aspiration, yaitu makanan masuk ke paru-paru tanpa batuk sehingga kondisi ini sering tidak disadari oleh pasien maupun keluarga.
Gejala yang Perlu Diwaspadai
Keluarga perlu segera berkonsultasi dengan tenaga kesehatan apabila pasien stroke menunjukkan gejala berikut: sering batuk saat makan atau minum, suara berubah menjadi serak setelah makan, makanan tertinggal di dalam mulut, waktu makan menjadi sangat lama, tersedak berulang, keluar air liur terus-menerus, penurunan berat badan, demam berulang tanpa penyebab yang jelas.
Pentingnya Skrining Dini
Salah satu langkah paling penting adalah melakukan skrining disfagia sebelum pasien diperbolehkan makan atau minum. Pemeriksaan awal ini dapat dilakukan oleh tenaga kesehatan yang telah mendapatkan pelatihan, kemudian dilanjutkan dengan pemeriksaan lebih lengkap oleh terapis wicara apabila ditemukan gangguan menelan. Penelitian menunjukkan bahwa skrining disfagia oleh perawat mampu menurunkan angka infeksi paru dan meningkatkan keselamatan pasien stroke. Adanya pedoman penanganan disfagia di rumah sakit juga terbukti menurunkan angka kematian pasien.
Bagaimana Penanganannya?
Penanganan disfagia harus dilakukan secara multidisiplin, melibatkan dokter, perawat, ahli gizi, dan terapis wicara. Beberapa upaya yang dapat dilakukan meliputi: modifikasi tekstur makanan dan kekentalan cairan; latihan menelan sesuai kondisi pasien; pengaturan posisi duduk tegak saat makan; pemberian makan secara perlahan dalam porsi kecil; menjaga kebersihan mulut untuk mencegah pneumonia aspirasi; pemantauan status gizi dan kecukupan cairan; rehabilitasi menelan secara bertahap. Pada kasus tertentu, pasien mungkin memerlukan bantuan nutrisi melalui selang makan hingga kemampuan menelannya membaik.
Peran Keluarga Sangat Penting
Keberhasilan rehabilitasi disfagia tidak hanya bergantung pada tenaga kesehatan, tetapi juga pada dukungan keluarga. Keluarga perlu memahami cara memberikan makanan yang aman, memperhatikan posisi pasien saat makan, serta mengenali tanda-tanda aspirasi. Pendampingan yang baik akan membantu pasien memperoleh nutrisi yang cukup, mencegah komplikasi, dan mempercepat proses pemulihan setelah stroke.
Kesimpulan
Disfagia merupakan komplikasi yang sangat sering terjadi setelah stroke, namun masih sering tidak dikenali. Padahal, gangguan menelan dapat menyebabkan pneumonia, malnutrisi, dehidrasi, hingga meningkatkan risiko kematian. Oleh karena itu, setiap pasien stroke sebaiknya menjalani skrining disfagia sedini mungkin. Penanganan yang tepat melalui kerja sama dokter, perawat, terapis wicara, ahli gizi, pasien, dan keluarga dapat meningkatkan keselamatan, kualitas hidup, serta keberhasilan rehabilitasi pasien stroke.
Referensi
All-Wales Special Interest Group in Special Care Dentistry. Dysphagia and Oral Health: A Clinical Guideline. 2025. https://www.sigwales.org/wp-content/uploads/Dysphagia-and-Oral-Health.-A-Clinical-Guideline-from-the-All-Wales-Special-Interst-Group-2025.final_.pdf
American Speech-Language-Hearing Association (ASHA). Adult Dysphagia Practice Portal. 2024. https://www.asha.org/practice-portal/clinical-topics/adult-dysphagia/?srsltid=AfmBOooZlzPvoO9TSrpBRaNUU64s5-tNJDsubrilHwb3TlqMeLx1c32k
Fang WJ, Zheng F, Zhang LZ, Wang WH, Yu CC, Shao J, Wu YJ. Research progress of clinical intervention and nursing for patients with post-stroke dysphagia. Neurol Sci. 2022 Oct;43(10):5875-5884. doi: 10.1007/s10072-022-06191-9. Epub 2022 Jun 4. PMID: 35661279; PMCID: PMC9166186.
Hines S, Kynoch K, Munday J. Nursing Interventions for Identifying and Managing Acute Dysphagia are Effective for Improving Patient Outcomes: A Systematic Review Update. J Neurosci Nurs. 2016 Jul-Aug;48(4):215-23. doi: 10.1097/JNN.0000000000000200. PMID: 27224683.
Palmer JL, Metheny NA. Preventing aspiration in older adults with dysphagia. Am J Nurs. 2008 Feb;108(2):40-8; quiz 49. doi: 10.1097/01.NAJ.0000308961.99857.33. PMID: 18227668.
Vose A, Nonnenmacher J, Singer ML, González-Fernández M. Dysphagia Management in Acute and Sub-acute Stroke. Curr Phys Med Rehabil Rep. 2014 Dec 1;2(4):197-206. doi: 10.1007/s40141-014-0061-2. PMID: 26484001; PMCID: PMC4608439.
Visi dan Misi Pendidikan Profesi Fisioterapis
Visi
Menjadi Program Studi Pendidikan Profesi Fisioterapi yang unggul, berintegritas, responsif, adaptif, dan inovatif dalam menghasilkan fisioterapis profesional dengan keunggulan geriatri untuk meningkatkan kualitas hidup manusia.
Misi
- Menyelenggarakan pendidikan profesi fisioterapi yang berkualitas untuk menghasilkan professional fisioterapi yang kompeten, berdaya saing global, dan berkarakter “I-CARE" dengan keunggulan geriatri.
- Melaksanakan penelitian yang kreatif, inovatif, dan transformatif di bidang fisioterapi geriatri yang berkontribusi pada kemajuan iptek serta peningkatan kualitas hidup manusia.
- Melaksanakan pengabdian kepada masyarakat di bidang fisioterapi geriatri yang berdampak nyata pada peningkatan kualitas hidup manusia.
- Mengembangkan kemitraan strategis dengan berbagai pemangku kepentingan guna memperkuat peran dan daya saing lulusan Program Studi Pendidikan Profesi Fisioterapi dengan keunggulan geriatri.
- Melaksanakan tata kelola Program Studi Pendidikan Profesi Fisioterapi yang baik dan berkelanjutan melalui penguatan sumber daya.
Pengabdian Masyarakat : “Inspiring Through Diaspora Action: Mahasiswa KKN International Universitas Telogorejo Spread the Spirit of PHBS in Malaysia”
Oleh : Nadya Mila Sari, Huberta Jeovana Permatasari, Narendra Reinald Saputra – S1 FARMASI, Sesilia Elsinakeisha, Marselinus Satria Dewananda – S1 FISIOTERAPI, Eva Mariana Nangsat – S1 KEBIDANAN, Setia Ningrum Rahmandani, Nur Rina Aulya Rachmadani – D3 KEPERAWATAN

Kegiatan Kuliah Kerja Nyata Internasional (KKNI) Universitas Telogorejo Semarang yang dilaksanakan di Selangor, Malaysia pada April 2026 lalu menjadi salah satu pengalaman berharga bagi mahasiswa dalam menjalankan pengabdian masyarakat di tingkat internasional. Program KKNI ini berlangsung selama 28 hari dan diisi dengan berbagai kegiatan edukatif serta sosial yang melibatkan anak – anak diaspora dan lingkungan sekolah secara langsung.
Selama menjalankan program di Malaysia, mahasiswa tidak hanya belajar tentang budaya dan kehidupan masyarakat setempat, tetapi juga membawa semangat pengabdian melalui berbagai kegiatan positif. Salah satu program yang dilaksanakan adalah kegiatan PHBS (Perilaku Hidup Bersih dan Sehat) yang bertujuan untuk meningkatkan kesadaran peserta didik mengenai pentingnya menjaga kebersihan diri dan lingkungan sejak dini. Kegiatan PHBS ini dilaksanakan dengan konsep yang santai, interaktif, dan menyenangkan sehingga peserta didik dapat mengikuti setiap rangkaian kegiatan dengan antusias. Mahasiswa KKNI berusaha menciptakan suasana belajar yang tidak membosankan agar pesan yang disampaikan lebih mudah dipahami dan diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.
Rangkaian kegiatan diawali dengan edukasi mengenai pemilahan sampah organik dan anorganik yang dikemas melalui tema “Sampah Baik dan Sampah Jahat”. Dalam sesi ini, mahasiswa menjelaskan tentang jenis-jenis sampah yang sering ditemukan di lingkungan sekitar serta dampaknya terhadap kebersihan dan kesehatan lingkungan. Salah satu kegiatan yang paling menarik perhatian peserta didik adalah menghias tong sampah dengan menggambar dan melukis tempah. Mahasiswa menyediakan alat gambar dan cat warna untuk digunakan bersama. Tong sampah yang sebelumnya polos berubah menjadi lebih menarik dengan berbagai gambar kreatif dan warna-warni hasil karya mahasiswa dan peserta didik.


Peserta didik dikenalkan dengan sampah organik seperti daun kering dan sisa makanan yang mudah terurai secara alami. Sementara itu, sampah anorganik seperti plastik, botol minuman, dan bungkus makanan dijelaskan sebagai sampah yang sulit terurai dan dapat mencemari lingkungan apabila dibuang sembarangan. Agar lebih menarik, mahasiswa mengajak peserta didik praktik langsung memilah sampah sesuai kategorinya. Kegiatan ini berlangsung dengan penuh semangat karena peserta didik terlihat aktif dan penasaran saat mencoba menentukan jenis sampah yang benar. Melalui kegiatan sederhana tersebut, mahasiswa berharap peserta didik dapat mulai membiasakan diri membuang dan memilah sampah dengan baik.
Selanjutnya, kegiatan dilanjutkan dengan aksi bersih-bersih ruang kelas bersama. Mahasiswa KKNI dan peserta didik bekerja sama membersihkan kelas agar suasana belajar menjadi lebih nyaman dan rapi. Kegiatan yang dilakukan meliputi menata buku-buku di rak kelas, menghias pojok literasi, menyapu dan mengepel lantai, hingga menata alat-alat sholat yang ada di kelas.




Suasana gotong royong dan kebersamaan sangat terasa selama kegiatan berlangsung. Mahasiswa dan peserta didik saling membantu satu sama lain sehingga kegiatan berjalan dengan lancar dan menyenangkan. Dari kegiatan tersebut, peserta didik belajar bahwa menjaga kebersihan lingkungan sekolah merupakan tanggung jawab bersama. Tidak hanya fokus di dalam kelas, kegiatan PHBS juga dilakukan di area lingkungan sekolah. Mahasiswa bersama peserta didik melakukan kerja bakti dengan menyapu halaman sekolah serta mencabuti rumput liar yang tumbuh di sekitar area sekolah. Lingkungan sekolah yang bersih tentunya akan membuat suasana belajar menjadi lebih nyaman dan sehat.


Melalui kegiatan-kegiatan tersebut, mahasiswa ingin menanamkan kebiasaan membuang sampah pada tempatnya dengan cara yang lebih menyenangkan dan kreatif. Selain menjadi media edukasi, kegiatan menghias tong sampah juga melatih kreativitas dan kerja sama peserta didik. Program PHBS yang dilaksanakan selama kegiatan KKNI ini mendapat respon positif dari peserta didik maupun pihak sekolah. Kehadiran mahasiswa Universitas Telogorejo Semarang di Selangor, Malaysia memberikan pengalaman baru sekaligus membawa semangat kepedulian terhadap kebersihan dan kesehatan lingkungan.
Melalui program yang berlangsung selama 28 hari tersebut, mahasiswa KKNI tidak hanya menjalankan pengabdian, tetapi juga membangun hubungan baik, berbagi pengalaman, dan memberikan dampak positif bagi lingkungan sekitar. Semangat diaspora yang dibawa mahasiswa Universitas Telogorejo menjadi bukti bahwa aksi kecil yang dilakukan bersama dapat memberikan manfaat besar dan menginspirasi banyak orang.
PROGRAM KKN INTERNASIONAL “MANGUNSARI GOES ABROAD”
- Pelaksanaan Program KKN Internasional Mangun Sari Goes Abroad dilaksanakan pada tanggal 1 April – 28 April 2026. Mahasiswa yang mengikuti program KKNI ini terdiri dari 2 mahasiswa prodi D-3 keperawatan, 2 mahasiswa prodi S-1 Fisioterapi, 3 mahasiswa prodi S-1 Farmasi, dan 1 mahasiswa prodi S-1 Kebidanan. Mahasiswa terbagi menjadi 4 kelompok yang tersebar di 4 Sanggar Belajar yaitu: SB Meru, SB Elshaddai, SB Kubu Gajah, dan SB Gumut. Mahasiswa selama melaksanakan KKNI didampingi oleh Penanggung Jawab SB, dan di Monitor oleh Dosen Pendamping Lapangan.
- Kegiatan mahasiswa selama melaksanakan KKNI adalah mengajar siswa dan melaksanakan proker tambahan seperti memberikan edukasi tentang PHBS (cuci tangan dan gosok gigi), dan memberikan edukasi gizi seimbang, mengajarkan ke siswa bahasa inggris yang sederhana, edukasi diare, dbd, pengenalan obat & vitamin, memberikan pertolongan pertama pd cidera. Kemudian gotong royong membersihkan lingkungan sekitar SB, dan setiap hari sabtu membuat mini kerajinan tangan. Semua proker mahasiswa berjalan lancar dan didampingi oleh DPL. DPL melakukan monitoring dan evaluasi via online (grup dan Zoom).
- Apresiasi yang diberikan kepada mahasiswa KKN Internasional ini adalah Pengakuan atau Konversi Nilai Mata Kuliah dan Mendapatkan Sertifikat.
- Pesan dan Kesan Mahasiwa KKN Internasional Mangun Sari Goes Abroad
Kesan saya selama mengikuti program KKNI di malaysia ini sangat berharga dan memberikan pengalaman baru dan berbeda bagi kami mahasiswa. Melalui program ini kami tidak hanya belajar tentang teori tatapi juga mendapatkan ksmpatan untuk terjun langsung, berinteraksi dan memahami situasi nyata dilapangan. Selama kami berada disini, kami tak merasakan satupun kekurangan. Seluruh kebutuhan kami telah terpenuhi dengan sangat baik, baik dari segi fasilitas (yg emmadai) maupun dukungan yang diberikan oleh pengelola sanggar bimbingan kami. Sejak hari kedatangan juga kami tak merasa asing berada di negara orang karena kami disambut dengan penuh kehangatan dan keramahan oleh seluruh pihak yang terlibat. Sikap perhatian, serta kepedulian yang diberikan membuat kami merasa nyaman dan diterima dengan baik, layaknya berada di lingkungan sendiri. Hal ini tentu memberikan kenyamanan bagi kami dalam menjalankan seluruh rangkaian kegiatan program. Begitupun dengan anak2 yang kami temui, kami diberikan feedback yang baik dari mereka yang antusias menerima pembelajaran dari kami. Kemudian, program ini sangat sangat membantu dalam kami mengembangkan kemampuan, baik secara akademik maupun non akademik. Disini juga kami belajar untuk lebih bertanggung jawab, beradaptasi dengan lingkungan baru, serta meningkatkan kemampuan komunikasi dan kerja sama tim. Selain itu, program ini juga membuka wawasan kami tentang realita yang ada di masyarakat.
Dan yang ketiga pesan saya untuk program KKN INTERNASIONAL ini Semoga program KKN Internasional ini terus berlanjut dan berkembang, serta menjangkau lebih banyak mahasiswa dari berbagai daerah jateng. Lalu, harapannya, mungkin kesempatan untuk mengikuti program ini bisa semakin terbuka dan merata, dengan pelaksanaan yang juga semakin baik dari segi persiapan, pendampingan, hingga evaluasi, sehingga pengalaman yang didapat mahasiswa bisa lebih maksimal, bermakna, dan juga memberi dampak jangka panjang bagi anak-anak WNI di sana
Keberangkatan

Dokumentasi Saat di Kantor KBRI Kuala Lumpur


Dokumentasi Penyerahan Mahasiswa Ke Sanggar Belajar Masing-Masing
SB Elshaddai

SB Meru

SB Kubu Gajah

SB Gumut

Dokumentasi Kegiatan:





